I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 59 Pacarmu aku yang menilai


__ADS_3

Hello! Im an artic!


 


Ralphie tidak membiarkan Serena membantu, secara natural dia memanggil dua orang itu untuk membantu.


Hello! Im an artic!


 


Ryan malah menggulungkan lengan bajunya untuk mengangkat piring.


 


Adapun Isa, setelah dia masuk dapur dan melihat Serena, dia lupa misinya.


Hello! Im an artic!


 


“Ser, kamu di sini juga?” Wajah Isa penuh kegembiraan.


 


Isa dengan sopan mengangguk padanya, “Tuan Lu.”


 


Mendengar kata-kata ‘Tuan Lu’, Isa tampak kesal dan berkata: “Hei, lihat aku, aku sudah memanggilmu ‘Ser’, kamu masih memanggil aku ‘Tuan Lu’, apa ini gak terlalu canggung?”


 


Serena ragu-ragu, dan kemudian mengubah panggilannya, “Isa.”


 


“Gitu dong” Isa merasa sangat puas.


 


Perubahan panggilan ini, Isa menjadi bahagia, namun ada orang yang menjadi tidak senang.


Baru bertemu dua kali, dia langsung memanggil namanya. Sebelumnya mereka kenal begitu lama, tapi masih etap dipanggil ‘Tuan Su’?


 


Bos besar Su, tidakkah kamu berpikir bahwa ini adalah menyusahkan orang? Jelas-jelas ini tanggung jawab kamu oke? Masa nyalahkan lagi ke Serena.


 


Alasan mengapa Serena memanggil kamu ‘Tuan Su’ terus begitu lama itu karena kamu tidak kasih tahu namamu siapa.


 


Tapi lelaki yang sedang cemburu itu benar-benar bermasalah, sama seperti Ralphie Su.


 


“Isa, aku menyuruhmu ke dapur untuk ngapain?” Suara Ralphie sama seperti biasanya, itu membuat Isa merasa menyeramkan.


 


“Membantu.” Isa sambil mengambil piring dari atas meja, dan pergi ke ruang makan.


 


Setelah membuat Isa keluar dari dapur, Ralphie lekat-lekat melirik Serena, lalu mengambil semangkok sup dan berjalan keluar dari dapur.


 


Datang dengan ingin membantu, tetapi hasilnya tidak membantu sama sekali. Serena agak canggung ikut berjalan di belakang Ralphie.


 


Setelah sup Ralphie ditaruh ke atas meja, semua hidangan sudah siap.


 


Semua orang duduk.


 

__ADS_1


Tidak tahu apakah itu disengaja atau tidak disengaja. Isa dan Ryan duduk berdampingan, meninggalkan dua posisi berdampingan di seberang untuk Ralphie dan Serena.


 


Ralphie tidak merasakan apa-apa seperti biasanya. Tetapi Serena belum pernah sedekat ini dengan Ralphie, dia merasa tidak nyaman.


Isa menghela nafas sambil mengambil sayuran, “Ralphie, setelah sekian lama, akhirnya aku dapat makan dari masakanmu. Makanan hari ini memang benar-benar istimewa.”


 


Ralphie tidak berbicara, malah Ryan yang membuka suara , “Ralphie jarang-jarang mau masak. Kamu harus cepat habiskan.”


 


Ketika mereka mendengar percakapan mereka, Serena merasa terkejut.


 


Bukannya Ralphie sering memasak? Dia sudah makan beberapa kali. Serena ingin mengatakannya, tetapi dia tidak melakukannya karena Ralphie tidak mengatakan ini.


 


Sebaliknya Isa bertanya kepada Serena: “Ser, pertama kali menyicipi masakan dari master koki Su, bagaimana perasaanmu?”


“Ehmm …” Serena memandang Ralphie, namun dia melihat bahwa Ralphie sedang makan dengan elegan. Sepertinya dia tidak memperhatikan kata-kata Isa.


 


Serena menjilat mulutnya dan kemudian mengingat pertama kali dia melihat Ralphie memasak. Kemudian dia menjawab dengan jujur: “Aku terkejut. Rupanya dia bisa memasak, sangat terkesan. Aku bahkan tidak bisa memanasi sayur.” Pada akhirnya, muka Serena menjadi asam.


 


Isa tertawa sampai kehilangan image, dan bahkan Ralphie pun tersenyum.


 


Ryan melihat Serena dan berkata sambil tersenyum, “Ini adalah kecemburuan terhadap Ralphie kan.”


Isa berkata dengan tidak setuju: “Kecemburuan apa? Hei, kamu bisa langsung melatih keterampilan memasak pacarmu lebih dari Ralphie.”


“Tidak ada…” Sekarang tidak ada, nantinya juga tidak akan ada, dan mata Serena terlihat gelisah.


 


 


Kata-katanya belum selesai diucap, sumpit di tangan Ralphie tiba-tiba jatuh di atas meja.


 


Meliihat ke arah dia.


 


Raut wajahnya diselimuti es dingin, dan kecemerlangan di antara alisnya terlihat sangat dingin.


 


Isa memandang Ralphie sebentar, lalu membuka mulut tanpa memikirkannya, “Ralphie, apa yang kamu lakukan…”


 


Dia hanya mengucapkan beberapa patah kata, dan Ryan menendang kakinya di bawah meja.


 


Isa merasa sakit dan merenung dalam hati: “Sialan, Ryan, mengapa kamu menendangku …”


 


Ryan tidak menjawab pertanyaan Isa, tetapi mengatakan: “Tidak apa-apa, makanlah.”


 


Isa melirik Ryan dan kemudian melanjutkan topik sebelumnya dengan Serena, “Ser, mari kita bicara tentang standar pacarmu, aku akan memberimu …”


 


Kata-kata Isa belum selesai, Ryan menendangnya lagi di kolong meja. Kali ini, dia tidak menunggu lagi. Ralphie bangkit dari kursi dan menendang kursi di belakangnya, dia memucat wajahnya dan pergi.


 

__ADS_1


Melihat Ralphie pergi, Isa merasa dia membuat masalah besar, “Apa yang terjadi?”


 


Ryan melihat wajahnya dan memandang Serena yang merasa ‘apa yang terjadi’, lalu bergegas ke Isa: “Cepat makan, habis makan pergi.”


 


“Hah?” Isa tidak menanggapi arti dari Ryan.


 


Ryan mengangkat tangannya dan memukuli belakang kepala Isa, “Apaan hah hah hah? makan cepat.”


 


Kali ini, Isa menjadi diam, dia mendengarkan Ryan dan makan dengan diam.


 


Kedua pria itu makan terus menerus. Pas mau pulang mereka tidak menyapa Ralphie. Mereka hanya mengatakan kepada Serena dan bergegas pergi.


 


Setelah Isa dan Ryan pergi, Serena bangkit dan bersiap untuk membersihkan sisa-sisa makanan di meja besar, saat ini Ralphie keluar, masih terpasang dengan wajah dingin.


 


Dia merebut piring dari tangan Serena dan berbalik ke dapur, Dia mengambil dua langkah dan dia berhenti.


 


“Kamu mencari pacar?”


 


“Ah …” Serena tidak menanggapi.


 


Ralphie balik badan dan menatapnya, “Isa tidak bisa diandalkan. Orang-orang yang dikenalnya adalah type yang sama dengannya. Jangan terima orang yang dia perkenalkan.”


 


(Ralphie, kamu berulang kali merusak nama orang, apakah ini benar-benar bagus?)


 


Serena menggelengkan kepalanya dengan cepat, “Tidak, aku tidak ada rencana.”


 


Mendengar bahwa Serena mengatakan demikian, Ralphie tiba-tiba menjadi senang.


“Yah, jangan mencarinya dengan asalan, aku akan memperhatikan untukmu.”


 


Hidung Serena menjadi tidak enak dan tenggorokannya tersumbat.


 


Dia benar-benar ingin mengatakan kepada Ralphie, aku tidak ingin kamu membantuku memperhatikan pria lain, yang aku inginkan hanyalah kamu.


 


Hanya kamu.


 


Tapi dia tidak bisa, dia tidak bisa.


 


Serena menarik napas dalam-dalam dan kemudian dengan lembut mengucapkan kata ‘baik’.


 


Setelah mendengar jawaban dari Serena, Ralphie merasa sangat puas.


“Kamu pergi nonton TV, sini aku yang beresin.” Setelah itu, Ralphie mengangkat piring-piringnya dan memasuki dapur.

__ADS_1


 


Melihat kesibukan Ralphie, Serena tidak bisa mengontrol diri air matanya mengalir keluar dari sudut matanya. Dia mengangkat tangannya dan dengan lembut menyeka, kemudian melangkah keluar dari ruang makan langkah demi langkah.


__ADS_2