
Hello! Im an artic!
Pria ini tidak tahu ternyata Felix akan memberikannya sebanyak ini, ia sampai terdiam.
Felix sama sekali tidak peduli dengan responnya, ia hanya langsung memberikan uang padanya lalu memerintahnya untuk turun dari mobil.
Hello! Im an artic!
Setelah pria tersebut turun, Felix mengambil ponsel dari kantong lalu menelepon Ralphie.
Ternyata ponsel Ralphie tidak aktif, Felix hanya terdiam lalu meletakkan ponsel pada saku dan pergi.
Ralphie benar-benar kaget akan kesadarannya sendiri, jadi begitu keluar dari kafe, ia terus melaju jalan tanpa tujuan.
Ia tidak tahu sudah jalan berapa lama, ia juga tidak tahu berencana pergi kemana. Hanya sembarang berkeliling kota A.
Hello! Im an artic!
Dia dari matahari terbenam, hingga langit gelap, kemudian semakin larut.
Sampai akhirnya Ralphie mulai sadar, ia baru menghentikan mobil.
Ia pelan-pelan mengalihkan pandangannya dan menyadari ntah kapan dia mengendarai sampai ke Clover Plaza.
Terdiam sesaat, Ralphie membuka pintu mobil dan turun, kemudian jalan melewati Clover Plaza dan mengarah ke Danau Stady.
Suhu dimusim dingin memang sudah rendah, suhu didekat danau jelas lebih rendah lagi.
Karena Flora menyentuh mantelnya maka ia hanya memakai kemeja, angin kencang menghembus ke tubuhnya, tetapi ia malah tidak merasakan apapun dan tetap pelan-pelan berjalan di Danau Stady.
Setelah baikkan, ia akhirnya berhenti, kemudian melihat kearah depan danau mengembalikan pikirannya.
Tadi ketika ia mendengar Flora berkata Serena akan menikah dan tidak akan bersama dengannya, hatinya sangat sakit karena ia sangat peduli.
Dia kembali salah paham pada perasaannya lagi……
Serena di matanya tak hanya sebatas teman.
Pantas saja ketika melihat dia berdiri bersama dengan Alfred, dia sangat kesal dan bete.
Pantas saja ketika dia meminta bantuan untuk berpura-pura menjadi pacarnya, dia sangat marah, tetapi ia tetap membantunya.
Pantas saja ketika tahu dia difitnah oleh teman kantor, dia pasti akan meminta Felix untuk mengecek dan dirinya sendiri akan pergi menghampirinya, lalu membawanya pulang.
Pantas saja ketika Ia tahu dia melepaskannya pada Flora, dia bisa marah sampai tidak ingin memperdulikannya.
Pantas saja setiap kali dia datang ke rumah, hatinya akan sangat senang dan masak dengan tangannya sendiri.
__ADS_1
Pantas saja kepergiaannya, membuat dia tak rela.
Pantas saja ketika menyadari dia pergi, dia akan menggunakan seluruh kemampuannya untuk mencarinya.
Pantas saja ketika dia tidak senang, dia sangat tak berdaya. Ketika dia senang, ia juga ikut senang.
Pantas saja dia ada reaksi padanya, selama ini ia selalu tidak memberikan respon pada wanita manapun kecuali dia.
Pantas saja……begitu banyak pantas saja, sebenarnya sudah sejak awal memberitahu ia, dia menyukainya, tetapi ia tetap mengabaikan rasa suka padanya.
Suka sampai, dia berbicara terlewat bahagia dengan Isa dan Ryan, ia akan tidak senang.
Suka sampai, mendengar Isa ingin mencarikannya pacar, ia bisa marah.
Suka sampai, ketika tahu ia menghilang dari dunianya, ia memaksa diri bekerja seperti orang gila, menghindari dia……
Mereka baru saja mengenal selama empat bulan, tetapi dia sudah menyukainya sampai sedalam ini.
Bahkan rasa suka ini sudah berubah menjadi rasa cinta……
Sebelumnya ia mengira dia tidak akan pernah mencintai wanita manapun, sebelumnya ia berpikir wanita, cinta, pernikahan selamanya tidak akan pernah ada hubungan apapun dengan Ralphie.
Tetapi jikalau orang itu adalah Serena, dia merasa baik.
Dia hanya khawatir, apakah dia sadar terlalu lambat.
Lacey juga pernah berkata bahwa Serena seharusnya sudah ada laki-laki yang sangat dia cintai……
Kedua mata Ralphie hanya bengong, kemudian ia ingin mengambil ponsel dari mantelnya, tetapi dia menyadari kalau dia tidak menggunakan mantel.
Dia terdiam sebentar, kemudian sedikit berlari meninggalkan Danau Stady dan kembali ke mobil. Setelah itu ia mengambil ponsel dari dalam saku mantel dan ingin menelepon Felix.
Kemudian menyadari bahwa ponselnya tidak ada baterai.
Ralphie mengerutkan alis, kemudian melajukan mobil meninggalkan Clover Plaza dan kembali ke rumah.
Ketika kembali ke rumah,waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi.
Ralphie tidak peduli jika sekarang menelepon orang apakah akan menganggu orang lain, jadi langsung menggunakan telepon di kamar buku untuk menelepon Felix.
Dering telepon tidak terlalu lama, Felix langsung mengangkat telepon.
“Direktur Su.”
Ralphie juga tanpa berbasa basi langsung berbicara: “Kamu suruh orang untuk melakukan pelacakan di mana lokasi Serena sekarang.”
Felix yang mendengar terdiam sebentar baru berbicara: “Baik, Direktur Su.”
__ADS_1
“Kalau sudah dapat jawaban langsung kasih tahu aku.” Selesai Ralphie berbicara dan ingin memutuskan telepon, Felix tiba-tiba memanggilnya.
“Direktur Su, ada satu hal lagi……”
Ralphie mengerutkan kening dan kembali meletakkan ponselnya ditelinga, “Masalah apa?”
“Orang itu memotret banyak foto mesra antara Anda dan Flora sesuai dengan permintaan Flora. Aku sudah mengambil seluruh fotonya dan melenyapkannya. Yang perlu dikirim ke Flora, sudah meminta bagian teknis untuk mengeditnya, jadi kelihatannya seperti asli tetapi begitu dilakukan pengecekan maka hasilnya adalah karena editan.
“En, aku mengerti.”
……
Setelah mematikan telepon Felix, Ralphie pelan-pelan menarik sebuah laci dari meja sebelah kanan.
Dari dalam mengambil sebuah kotak, kemudian pelan-pelan membukanya.
Ternyata adalah cinci hasil design Serena.
Ruby memang tidak secemerlang berlian, tetapi daya tarik tak dapat dibandingkan dengan berlian.
Ralphie pelan-pelan bersender dikursi, melihat cincin ruby yang ada ditangannya, raut wajahnya terlihat tertegun dan misterius.
Flora menerima foto saat malam hari, setelah mendapatkan foto, ia dengan cepat menjalankan rencananya dan mengirimkannya pada Leonard Luo.
“Pa, huh huh……” Flora masuk keruangan baca Leonard sambil menangis.
Leonard melihat putrinya yang baik itu menangis langsung simpati dan bertanya, “Flora, kenapa? Siapa yang ganggu kamu, cepatan kasih tahu papa.”
“huh huh……pa, Serena dia……dia……” Flora menangis tak berhenti.
Leonard mengerutkan keningnya, kemudian bertanya, “Kenapa? Serena mengganggumu?”
Flora hanya cemberut, tidak berkata apapun, lebih tepatnya tidak menghiraukan perkataan Leonard.
Leonard hanya mengerutkan keningnya kemudian bertanya, “Flora, cepetan kasih tahu papa, sebenarnya apa yang terjadi?”
Flora mendongakan kepala, belum saja berbicara, ia sudah menangis: “Pa, Serena suka pacar aku dan dia mau aku mengalah dan menyerahkan pacarku padanya, huh huh……tapi pa, aku sangat suka Ralphie, aku…….”
Mendengar Flora berkata Serena ingin merebut pacarnya, raut wajah Leonard mulai bete.
“Dia berani.”
Mendengar perkataan Leonard, Flora menangis semakin menjadi-jadi.
“Pa, Serena baru benar-benar anak kandung dikeluarga Luo, penerus Grup Luo, sedangkan aku bukan apa-apa, jadi aku harus melepaskan Ralphie untuknya……”
“Dia apaan sih? Berani-beraninya ngomong perkataan seperti itu padamu.” Wajah Leonard kesal dan menyeramkan.
__ADS_1
Flora memasang wajah yang khawatir dan takut, “Tapi……”