
Hello! Im an artic!
Maggie menutup mata hitamnya dengan pelan, kemudian menggandeng lengan Alfred, berkata kepada Serena: “Aiyo, Serena kenapa datang sendirian? Bukannya sudah dibilangin harus membawa pacar?”
Perempuan lain yang duduk di sana tiba-tiba kepikiran sesuatu dan langsung melihat sekeliling badan Serena, “Iya tuh, Rena, di mana pacarmu?”
Hello! Im an artic!
Serena belum sempat berbicara, seorang perempuan lain langsung berkata, “Rena tidak membawa pacar karena tidak memilikinya kan?”
“Rena adalah bunga di fakultas kami, mana mungkin tidak punya pacar?”
……
Perdebatan tentang apakah Serena memiki pacar terus mengelilinginya.
Hello! Im an artic!
Serena melihat dengan datar Maggie yang sedang duduk disana sambil menyaksikan, apakah Maggie sengaja melakukan ini kepadanya?
Maggie dengan sikap yang berpura-pura baik membantu Serena menjawabnya, “Biarkan Rena mengatakannya sendiri.”
Mendengar perkataan Maggie, semua mata orang-orang tertuju pada badan Serena.
Serena tersenyum kepada semuanya, dan berkata: “Dia lagi angkat telepon dulu, nanti akan kemari.”
“Ternyata pergi telepon ya…..” Semua orang kaget dan seperti tidak percaya dengan keadaan itu.
Serena tidak berkata apa-apa, hanya mengangguk sambil tersenyum ringan.
Maggie melihat wajah senyum milik Serena, tangannya mengepal dengan sangat kuat
Memangnya Serena punya pacar baru? Tidak mungkin secepat ini! Dia pasti membohongi orang-orang disana! Dan sekalipun memang punya pacar baru memangnya bisa apa? Apakah bisa mengalahkan laki-laki di sampingnya?
Maggie melihat Alfred sekilas, dan merasa lega.
Dia malah tidak tahu, dia sudah pasti kalah hari ini!
Serena tidak tahu apa yang dipikirkan disana, sambil menunggu kedatangan Ralphie.
Tidak berapa lama, terdengar suara teriakan dari sekeliling.
“Astaga, tampan sekali!”
“Lebih tampan dari idola saya!”
“Ini pasti artis yang di undang orang-orang ya?”
……
__ADS_1
Serena tidak melihatnya karena handphone dalam tas lagi-lagi berdering.
Dia mengambil handphone keluar dari tas dan melihat nomor Ralphie memanggil, dengan segera telepon itu diangkatnya.
“Kamu dimana?” Terdengar suara cuek dan dingin milik Ralphie.
“Saya di depan sebelah kanan.” Serena berdiri disana dan melihat kerumunan di depannya, dan yang pertama kali terlihat olehnya adalah Ralphie berada di dalam sana.
Serena baru sadar, semua teriakan itu bermula dari Ralphie.
Saat Serena melihat Ralphie, kebetulan Ralphie juga melihatnya, sungguh pas!
Ralphie meletakkan handphone, kemudian berjalan lurus ke arah Serena.
“Wah…. Ralphie berjalan ke arah kita! Mendatangi kita tuh…..” Perempuan di samping Serena terus berbisik…
Serena terheran selama beberapa detik, kemudian pun berjalan ke arah Ralphie.
“Sudah selesai teleponnya?” Selesai menanyakan ini, Serena hampir saja menggigit putus lidahnya sendiri.
Untuk apa dia menanyakan pertanyaan bodoh seperti ini? Apakah dia akan kemari jika belum selesai menelepon
Dan ternyata Ralphie juga menjawab dengan serius, “Sudah selesai.”
Serena menjawab “Ya” dengan canggung, kemudian tiba-tiba kepikiran Ralphie menelepon lumayan lama, mungkin ada masalah penting, dia pun berkata: “Kamu ada urusan ya? Jika ada urusan, kamu boleh pergi duluan…”
“Baiklah.” Serena mengangguk, kemudian menunjuk arah tempat duduk yang baru dia duduki, “Teman-teman saya disana.”
Pandangan Ralphie tertuju pada tempat yang ditunjuk Serena, kemudian menganggukkan kepala.
“Kalau begitu kita kesana saja yuk!” Serena berkata dengan nada pelan.
Ralphie mengikuti langkah kaki Serena tanpa keberatan.
Awalnya, saat melihat Serena kenal dengan laki-laki tampan itu, teman-temannya yang duduk disana semua terkejut.
Dan sekarang Serena membawanya kemari, semua dibuat bengong olehnya.
“Astaga! Rena, dia bukan pacarmu kan?”
Mendengar pertanyaan teman, Serena baru sadar, secara tidak langsung dia telah menganggap Ralphie sebagai pacarnya dan membawanya kemari.
Sekarang jika dia tidak mengatakan bahwa itu pacarnya, dia pasti akan menanggung malu.
Tetapi jika dia mengatakan bahwa laki-laki itu memang pacarnya, apakah Ralphie akan marah?
Serena berpikir lama, terakhir memberanikan diri berkata: “Benar, dia pacar saya.”
Kalimat ini diucapkan dengan nada seru dan bangga.
__ADS_1
“Wah… Rena, pacar kamu sungguh tampan!”
“Astaga! Rena, kamu cari pacar setampan ini darimana? Cepat kenalin…”
Ralphie tadinya mengira dirinya datang sebagai pendamping Serena, tetapi ternyata malah menjadi “Pacar” nya.
Awalnya Ralphie terbengong, dan merasa sekujur tubuhnya tidak nyaman.
Sial, perempuan ini malah mengenalkannya sebagai pacar ke orang-orang?
Direktur Ralphie yang mulia sungguh tidak kepikiran, semua pemikirannya salah.
Mendengar perkataan orang-orang disana, Serena mempertahankan senyum di mulut, sebenarnya dia sangat takut apakah laki-laki di sampingnya akan meledak.
Dengan hati-hati dia melihat laki-laki itu, saat melihat ekspresi wajahnya tidak enak dipandang, hatinya terasa bergetar.
Mampus! Dia benaran marah! Bagaimana ini? Harus bagaimana ini!
Maggie tadinya membawa dan memamerkan kemesraannya dengan Alfred, menghina dan menyindir Serena tidak punya pacar.
Sungguh tidak terduga Serena tidak hanya mendapatkan pacar tampan, tetapi juga sangat berwibawa.
Wajahnya seolah-olah marah hingga berubah bentuk.
Saat Serena dan Ralphie datang, dia baru sadar laki-laki itu yang membantu Serena saat di Royal Club.
Dia masih ingat waktu itu Serena tidak mengatakan laki-laki ini adalah pacarnya, jika saat itu laki-laki ini adalah pacar Serena, maka Serena tidak akan dihina habis-habisan oleh dia dan Alfred.
Laki-laki ini pasti bukan pacarnya, paling-paling hanya teman biasa saja.
Jika langsung membongkarnya di tempat, apakah Serena akan marah besar?
Maggie tertawa dingin, kemudian menarik Alfred berdiri dan berjalan ke arah kedua orang itu.
“Rena, apakah dia memang pacar kamu?” Maggie melihat Serena seolah ingin tertawa, ekspresi itu seperti mengatakan, Serena, apakah kamu pikir bisa membohongi saya?
Mendengar perkataan Maggie, wajah Serena langsung pucat.
Bagaimana dia bisa lupa, hari itu di Royal Club, Maggie dan Alfred pernah melihat laki-laki ini.
Melihat Serena tidak berkata apa-apa, Maggie langsung yakin dengan dugaannya, “Rena, kalau tidak punya pacar ya sudahlah, kenapa membawa seorang pacar palsu untuk dikenalkan ke kita semua?”
Saat perkataan Maggie terucap, semua orang tertuju kepadanya dan saling berbisik.
“Ternyata pacar palsu yang dibawanya, kita semua dibohongi…”
Seiring dengan hujatan itu, orang-orang semakin mengelilinginya, wajah Serena semakin tidak enak dipandang.
Maggie sangat bangga dan puas, Serena, lihat saja kamu akan bagaimana.
__ADS_1