I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 91 Kelambutan Dalam Kemarahan


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Laki-laki yang menerobos masuk dari luar itu, melihat temannya yang sudah dihajar sampai babak belur dan terbaring di lantai itu sudah terkejut melihatnya.


Ia sudah tahu ia tidak bisa mengalahkan laki-laki ini dan berniat untuk melarikan diri.


Hello! Im an artic!


Tetapi sayangnya, ketika ia hendak melarikan diri, Ralphie tidah membiarkannya melarikan diri, setelah Ralphie membaringkan Serena diatas lanti, ia malah langsung berjalan kearahnya.


Ralphie pun menghajar dia dengan tongkat besi itu dengan sekuat tenaganya dan laki-laki tua itu sama sekali tidak bisa mengelaknya dan melawannya.


Pukulan pertamanya Ralphie langsung menghajar kakinya.


Walaupun tidak patah, tetapi ia juga mengeluarkan suara yang menunjukkan ia merasa kesakitan.


Hello! Im an artic!


Tetapi sayangnya ini bukan pukulan yang terakhir, ini hanyalah pukulan pertama.


Pukulan kedua, Ralphie pun memukul bahunya, seiring dengan jeritan rasa sakitnya, tongkat besi yang sedang dipegangnya itu pun jatuh ke lantai.


Ralphie langsung menndang kakinya dari belakang dan membuatnya berlutut.


Ralphie masih berencana untuk melanjutkan pukulannya, dari belakang terdengar suara langkah kaki orang lagi.


Ralphie pun menoleh dengan hati-hati dan ia melihat Felix yang menerobos masuk dari depan pintu dan melihat seorang laki-laki yang sudah pingsan diatas lantai dan seorang laki-laki yang sedang berlutut.


Wajah Felix tidak ada ekspresi apa-apa dan ia langsung melihat ke arah Ralphie dan berjerit: “Direktur Su.”


Ralphie hanya menjawabnya ‘En’, lalu ia berjalan kerarah polisi yang datang dengan Felix dan berkata: “Dua orang ini biar kalian yang urus dan masih ada satu orang lagi yang belum balik.”


“Direktur Su tenang saja, orang itu tidak akan terlepaskan.” Pak polisi itu menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


Ralphie pun menjawab: “Sudah merepotkan.”


“Tidak usah sungkan.” Polisi itu menjawab.


Ralphie tidak mengatakan apa-apa lagi lalu ia menedang laki-laki itu dan berjalan ke arah Serena yang masih terbaring diatas lantai.


Ketika ia berjalan ke arah Serena, sekujur tubuhnya dipenuhi dengan awrah amarah yang sangat besar dan semua orang bisa merasakan hal itu.

__ADS_1


Felix berjalan kearahnya dan berkata: “Direktur Su, Dokter Chen sudah ikut datang kesini, dia ada didepan.”


“Baik.” Ralphie dengan hati-hati mengangkat Serena dan berjalan keluar.


Setelah ia keluar dari sana, Dokter Chen dan beberapa susternya pun berjalan kearahnya.


“Direktur Su.”


Ralphie menjawab ‘En’ lalu membaringkan Serena diatas mobil ambulans dan membiarkan Dokter Chen mengecek kondisinya.


Ralphie terus berdiri dan menunggu didepan, kira-kira sudah ada sepuluh menit, lalu akhirnya Dokter Chen sudah selesai mengecek kondisi Serena dan ia sudah memberikan obat infus kepadanya dan melaporkannya kepada Ralphie.


“Direktur Su, kondisi Serena tidak parah, alasan kenapa ia masih belum siuman karena efek obat bius yang di gunakan mereka terlalu banyak dan ada racun Eter, tetapi aku sudah membantunya menyuntikkan obat untuk membersihkan racun itu.”


“Racun Eter?” Ralphie pun mulai merasa marah lagi.


Semua orang tahu Racun Eter itu sangat berbahaya dan bisa membuat seseorang mati.


Kalau saja tadi ia tidak menyadari kalau Serena menghilang, kalau saja ia tidak menemukan mobil yang membawa Serena………..Ralphie melihat ke arah Serena yang masih terbaring itu cukup lama dan akhirnya ia mengalihkan pandangannya.


“Kita balik ke kota.”


Diperjalanan kembali ke kota, Serena sama sekali belum ada reaksi.


Didalam kamar itu sangat sunyi, selain cahaya dari lampu tidur dan lampu jalan yang ada diluar jalanan yang terlihat dari jendela, sudah tidak ada apa-apa yang bisa dilihat olehnya.


Jendela itu tidak tertutup rapat, jadi ia bisa melihat lampu kelap kelip yang ada diluar sana.


Badan yang baru kena racun Eter akan terasa sangat sakit, Serena melihat ke arah luar jendela itu sebentar dan lalu ia mengingat kembali kejadian yang terjadi tadi.


Ketika ia mendapat telepon dari Ralphie untuk menunggunya di tempat biasa, lalu ada seorang laki-laki yang memakai baju hitam dan memakai masker berjalan ke arahnya dan menanyakan jalan, lalu orang ini menutup mulutnya dan selelah itu ia tidak mengingat apa-apa lagi……..dan sekarang ia ada dimana?


Serena pun membuka matanya lebar dan berusaha untuk duduk, lalu ia melihat Ralphie yang sedang tertidur diatas kursi yang ada disampingnya.


Dibawah cahaya lampu tidur, ia bisa melihat wajah Ralphie yang sedang tertidur pulas.


Lalu Serena melihat ke sekeliling kamarnya dan menyadari kalau ini adalah kamar Ralphie.


Bukannya ia sudah pingsan karena laki-laki itu? Kenapa ia bisa ada di kamar Ralphie?


Serena mengerutkan dahinya lalu membuka selimutnya dan berusaha untuk turun dari kasur.

__ADS_1


Ketika ia baru berdiri, seluruh tubuhnya terasa lemas dan ia pun langsung terjatuh ke atas lantai.


Seiring dengan suara ia terjatuh dan suara ia kesakitan, Ralphie pun terbangun.


“Kamu kenapa?” Ralphie membuka matanya lalu melihat Serena yang sedang terjatuh di atas lantai dan ia langsung berdiri dan menopangnya untuk berdiri.


Lalu Serena berkata: “Aku sama sekali tidak ada tenaga.”


“Ini adalah efek samping dari racun Eter, kamu banyak istirahat saja nanti akan baik sendiri.” Sambil berbiara Ralphie sambil mendudukan Serena diatas kasurnya.


“Oh.” Serena menganggukkan kepalanya dan membiarkan Ralphie membaringkannya diatas kasur.


Ketika Ralphie membantunya untuk menyelimutinya, Serena tiba-tiba berkata, “Aku bagaimana bisa ada disini? Aku ingat ketika laki-laki itu menutupi mulutku, aku sudah kehilangan kesadaran.”


Ralphie melanjutkan gerakannya dan berkata: “Aku menemukan gantungan kamu yang pecah diatas lantai, lalu aku bertanya kepada orang yang ada disekitaran sana, ada orang yang melihat kamu dibawa pergi oleh mobil yang tidak ada platnya, lalu aku lapor polisi dan polisi pun menemukanmu.”


Ralphie tidak mau bilang kalau ia yang menyelamati Serena, tetapi ia malah bilang polisi yang sudah menyelamatinya. Karena kalau ia bilang ia sendiri yang menyelamatinya ada banyak hal yang ia sendiri juga masih belum terlalu jelas, ini juga adalah salah satu alasan kenapa ia menyuruh Felix membawa polisi kesana.


Serena tidak menyangka setelah ia kehilangan kesadarannya ternyata ada begitu banyak hal yang terjadi, mukanya pun penuh dengan ketakutan dan badannya pun mulai bergetar karena ketakutan.


Ralphie menyadari kalau tubuhnya mulai bergetar lalu ia pun menjulurkan tangannya dan memeluknya, “Sekarang sudah tidak apa-apa.”


Serena seperti sudah menemukan tempat untuk bersandar dan ia pun bersembunyi didalam pelukannya, dan seperti seorang anak kecil yang sudah dimarahi orang lain dan menangis.


Ralphie tidak mengatakan kata-kata untuk menenangkannya, tetapi ia hanya memeluknya dengan lebih erat lagi.


Serena menangis didalam pelukannya dan ia membiarkannya dan terus menemaninya.


Tunggu sampai setelah ia menangis sampai lelah, Ralphie mangambil tissue dan mengelap air matanya dengan lembut.


Gerakan ia mengelap air matanya yang lembut itu membuat Serena yang sedang menangis pun merasa sungkan.


“Biar aku sendiri.”


Ralphie menjawab ‘En’ lalu mengambil beberapa lembar tissue lagi dan memberikan kepadanya.


Ralphie bertanya dengan lembut: “Tidak apa-apa, kamu lapar tidak? Mau makan sedikit makanan tidak?”


“Tidak lapar.” Serena menggelengkan kepalanya.


Ralphie manjawab ‘Baik’ lalu berkata: “Kalau begitu kamu istirahat dulu, besok polisi akan pergi kesana dan mencari informasi.”

__ADS_1


“Baik.” Serena manganggukkan kepalanya lalu berbaring diatas kasur.


Ralphie membantunya untuk membenarkan selimtunya dan keluar dair kamar itu.


__ADS_2