I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 125 Flora Mencari Kesempatan Mencium Ralphie


__ADS_3

Hello! Im an artic!


“Aku datang untuk memberitahumu, kamu Tidak perlu mikiran Serena lagi, Serena sudah dijodohkan, dia tidak mungkin bersama kamu.”


Ralphie mendengar perkataan Flora ini, hanya merasakan hatinya sakit seperti ditusuk-tusuk pisau.


Hello! Im an artic!


Kenapa bisa ada perasaan seperti ini?


Seakan hati ini ditusuk-tusuk oleh pisau, sakit tiada tandingnya dan terasa masam.


Perasaan ini sepertiya tak hanya terjadi sekali……


Perasaan ini juga muncul saat melihat Serena dan Alfred bersama.


Hello! Im an artic!


Mendengar Lacey berkata Serena memiliki orang yang ia sangat cintai, ia juga merasakan perasaan seperti ini.


Sekarang kembali mendengar dari Flora kabar pernikahan Serena……


Ralphie sepertinya menyadari sesuatu, sekejap membelalakan matanya.


Flora tahu dengan jelas kalau Ralphie menghindarinya, jadi ia tak menemukan cara untuk mendekatinya. Jadi ia sengaja mengatakan adanya pernikahan Serena ini pada Ralphie, justru untuk membiarkan Ralphie tahu lau marah karena Serena menyembunyikan darinya, disaat itu Ralphie pasti akan lebih santai dan disaat itulah dia akan mencari kesempatan dalam kesempitan.


Tetapi ia tak menyangka jikalau Ralphie saat mendengar kabar Serena ingin nikah ini sama sekali tidak marah malahan kaget.


Kenapa tidak marah dan malah kaget?


Wajahnya seketika menjadi sedikit canggung, tetapi reaksi dia sangat cepat, mumpung Ralphie sedang kaget dan lengah, ia mendekatinya untuk mengambil beberapa foto.


Matanya berbinar-binar kemudian mendekati Ralphie.


Ralphie yang sedang bengong ternyata memang tidak ada tindakan pencegahan, Flora berhasil memegang lehernya.


Hati dia sangat senang, kemudian dengan beraninya mendekati ralphie, mumpung ada kesempatan dan mencoba untuk mencium Ralphie.


Ketika bibirnya sudah mendekati bibir Ralpie, Ralphie tiba-tiba mendorongnya.


Dengan satu gerakan cepat ia mendorongnya seakan dia adalah sampah yang menjijikan.


Tenaganya yang kuat langsung membuat Flora terjatuh ke lantai.

__ADS_1


Kepala dia dengan kencang mengenai lantai, lalu terdengar suara ‘dong’.


Suara ini sama sekali tidak membuatnya simpati, sekalipun terjeduk hingga mati pun ia juga tidak akan peduli.


Bahkan sekalipun dia marah, dia juga tidak bersedia menghabiskan waktunya di Flora.


Setelah mendorongnya, ia berdiri, melepaskan pakaian luarnya, kemudian mengambil beberapa tisu, mengelap tangannya dengan kuat dan berjalan keluar dari kafe.


Orang yang berada didalam kafe, masih terkaget dengan kejadian yang baru saja terjadi secara tiba-tiba.


Karena semua orang sedang memperhatikan Flora dan Ralphie yang akan berciuman, semua orang diam-diam meratapi pasangan ini yang berani bermesraan ditempat umum, kenapa tiba-tiba saja pria tersebut memperlakukan wanita itu seperti itu?


Flora sama sekali tidak tahu Ralphie akan begitu kejam padanya, kepalanya terjeduk keras dil antai, ia kesakitan hingga air matanya pun keluar.


Yang paling kejam adalah Ralphie mendorongnya hingga jatuh didepan banyak orang membuat dia malu hingga tidak tahu harus taroh dimana wajahnya itu.


Flora semakin membencinya, terakhir ia pelan-pelan berdiri dengan badan bergetar.


Serena……Serena……


Serena yang membuatnya hanya bisa menjadi anak angkat Keluarga Luo.


Serena yang membuatnya tidak dapat menjadi penerus Grup Luo.


Ia pasti tidak akan membiarkan dia begitu saja!


Flora mendongakan kepala dan melihat orang sekitar sedang melihatnya, ia kesal hingga melemparkan seluruh yang ada diatas meja jatuh berserakan dilantai, kemudian berteriak-teriak: “Lihat apaan?”


Orang sekitar terkejut melihat perilaku Flora, kemudian semua tak ada lagi yang berani melihat.


Flora dengan dingin melihat ke sekitar, setelah memastikan tidak ada yang melihat, ia berjalan ke sebelah kiri lalu duduk, disana ada seorang pria memakai topi sedang duduk.


Ia duduk didepan pria tersebut, kemudian dengan suara dingin bertanya, “Dapat fotonya ngga?”


“Sudah Nona Luo.” Pria tersebut mendongakan kepala, ternyata orang yang mengikuti Ralphie tetapi tangan bahunya malah di patahkan oleh Felix.


Flora dengan suara dingin berkata: “Sini aku lihat.”


Pria itu terdiam, kemudian mengambil kamera yang ada dibawah meja dan memberikannya pada Flora.


Flora mengambil kamera, dilihat satu per satu, ia merasa puas dengan hasil fotonya karena sesuatu dengan keinginan dia.


“Aku sangat puas dengan fotonya, kameranya aku bawa pulang.”

__ADS_1


Pria tersebut tak menyangka Flora akan langsung membawa kameranya pergi, jadi ia terdiam sebentar, kemudia berkata: “Nona Luo, kamera ini adalah sumber penghasilanku, aku tidak bisa kasih Anda, tunggu foto ini dicuci keluar, aku akan menghubungimu lagi gimana?”


Bercanda, foto-foto ini aku masih harus bawa untuk laporan, kalau kamera ini diberikan kepada Flora dia mau laporan pakai apa?


“Cuma satu kamera doang, paling berapaan doang.” Flora mengambil sebuah cek dari dalam tas kemudian menaruhnya diatas meja.


Pria ini melihat Flora melempar cek nya hampir saja ingin menghantamnya.


Anak ini, sombong banget mentang-mentang punya banyak duit, tidak tahukah dia kalau orang disana maunya nyawa!


Setelah pria tersebut maki-maki didalam hati, ia tetap tersenyum lalu berkata pada Flora: “Nona Flora, Anda lihat ya kamera ini masih ada foto customer lain, kalau aku kasih kameranya, aku gimana laporan sama customer yang lain. Gini saja, Anda lihat seperti ini gimana, setelah aku balik, aku pindahkan ke laptop lalu kirim ke Anda?”


Awalnya Flora merasa repot makanya ingin mengambil langsung saja kameranya.


Tetapi didalam masih banyak foto milik customer lain.


“Kamu jangan lupa kirim foto nya ke aku.”


Pria tersebut berjanji: “Aku pulang akan langsung kirimkan ke Anda.”


“En.” Flora menganggukan kepala dengan puas, kemudian mengambil kembali cek yang ada diatas meja, berdiri, dan pergi meninggalkan kafe.


Pria itu setelah melihat Flora pergi, ia juga membereskan barang dan pergi keluar dari cafe.


Lebih tepatnya bukan pergi melainkan pergi ke seberang menuju mobil Audi A6 yang berhenti.


Dia baru saja berjalan ke samping mobil, jendela mobil terbuka dan muncullah Felix dengan wajah dinginnya.


“Tuan Zhou.” Sapa hormat pria tersebut.


Felix tidak berbicara, hanya memberikan kode untuk menyuruhnya naik.


Setela pria tersebut masuk kedalam mobil, ia memperlihatkan hasil foto kepada Felix sambil berkata: “Tadi Flora berencana langsung mengambil kameraku.”


Felix dengan sikap dingin membalas ‘En’, kemudian menundukan kepala melihat foto yang ada didalam kamera.


Pria tersebut melihat Felix tak berbicara, ia pun akhirnya diam.


Felix melihat kembali foto yang ada di kamera, kemudian menyimpan kameranya, “Nanti malam aku akan meminta orang untuk mengirimkan kamera dan fotonya padamu, aku tidak peduli gimana caranya kamu bicara sama Flora, yang penting jangan sampai ketahuan Flora.”


“Baik, aku mengerti.” Pria tersebut menganggukan kepala.


Felix melihatnya sekilas, kemudian dari dalam tas mengambil sebuah cek kepada pria ini, “Ini gaji kamu.”

__ADS_1


__ADS_2