I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 27 Tinggal Untuk Menjaganya


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Pada saat Serena kembali dari membeli barang, terlihat Ralphie sedang tertidur di kursi sofa.


Melihat Ralphie yang tidak ditutupi apa-apa, Serena mengernyitkan alis. Setelah menyimpan barang-barang belanjaannya, dia pergi mencari selimut buat Ralphie.


Hello! Im an artic!


Setelah mendapatkan selimut, dia dengan hati-hati dan perlahan menyelimutinya.


Setelah menyelimuti sampai di bahunya, dia tidak tahan dengan wajah Ralphie yang memikat orang itu.


Warna bibirnya terlihat sedikit pucat, alis lebat, wajahnya juga terlihat sungguh capek, meski dalam keadaan sakit, Ralphie tetap saja membuat terpesona melihatnya.


Saat melihatnya, Serena tidak tahan dan menjadi tercengang.


Hello! Im an artic!


Sampai terdengar suara notifikasi di handphonenya berbunyi, baru membuat dia tersadar dari lamunannya.


Menyadari dirinya lama tercengang menatap Ralphie, Serena dengan gugup membalikkan badan dan pergi.


Baru berjalan dua langkah, langkah kakinya terhenti, dengan hati-hati dan pelan-pelan menoleh, setelah melihat Ralphie tidak terbangun dari tidurnya, dengan pelan-pelan berjalan kembali dan mengambil barang belanjaannya dan di bawa ke dapur.


Ralphie masih belum bangun, demi menghindari makanan yang dipesan semakin kehilangan rasa, Serena menuangkan makanan itu ke piring, kemudian ditutupi dengan baik.


Setelah mengurus makanan itu dengan baik, Serena mengambil krisan dan kamperfuli dari kantong, dimasukkan ke dalam kulkas, dan baru meninggalkan dapur.


Serena berjalan ke ruang tamu, melihat selimut Ralphie tersingkat, dia pun menghampirinya dengan pelan-pelan, dan membantu dia memperbaiki posisi selimut itu.


Kemudian pergi dan duduk di kursi sofa samping, bermain handphone sambil menunggu Ralphie.


Ralphie tidur dari siang hari sampai matahari hampir terbenam.


Ralphie membuka matanya, dengan rasa malas menatap langit-langit ruangan dalam waktu yang lama, bola matanya berputar melihat sekeliling ruangan, kemudian pandangannya tertuju kepada Serena yang duduk menunduk bermain handphone tidak jauh disana.


Kapan dia kembali?


Ralphie bangun dan coba untuk duduk, baru sadar kalau dirinya di selimuti sebuah selimut.


Apakah Serena yang memakaikan dia selimut?


Pandangan Ralphie kembali tertuju ke arah Serena.


Terpancar cahaya matahari dari jendela dan mengenai badan Serena, bulu matanya yang panjang dan lentik, di matanya terlihat bayangan yang sungguh indah.


Kulitnya yang putih bersih, di bawah pancaran sinar matahari membentuk warna merah muda.

__ADS_1


Sepertinya merasakan pandangan Ralphie kepadanya, Serena mengangkat kepalanya, melihat ke arah sini.


“Kamu sudah bangun? Sudah baikan?” tanya Serena.


Ralphie menjawab “Iya”, kemudian menyingkapkan selimutnya, berdiri dari kursi sofa, memegang gelas teh, dan siap-siap untuk meminumnya.


Suara Serena menghentikannya, “Jangan minum yang ini.”


Gerakan Ralphie pun terhenti, mengangkat kepala melihat ke arah Serena.


“Saya seduh teh krisan untuk kamu saja.” kata Serena meletakkan handphonenya ke atas kursi sofa, kemudian dengan terburu-buru masuk ke dapur.


Beberapa menit kemudian, dia membawakan sebuah gelas berisi minuman kamperfuli dan krisan.


Di dalam gelas mengambang kamperfuli dan krisan, kelopak bunga terlihat mekar, cantik sekali.


“Saya……pertama kali menyeduhnya, kamu coba cicipi rasanya.” Serena memberikan gelas tehnya kepada Ralphie.


Ralphie tidak berkata apa-apa, hanya menerima gelas teh yang diberikan Ralphie kepadanya.


Serena mencubit jari tangan sendiri, kemudian seperti terpikir sesuatu dan menanyakan, “Kamu lapar tidak? Kalau lapar, saya panaskan makanannya dulu.”


Ralphie memang tidak nafsu makan, tapi terpikir Serena terus menunggu dia makan siang, lalu menganggukkan kepala, “Baiklah.”


Sambil melihat ke Ralphie, Serena tersenyum dan terlihat alisnya yang menekuk dengan indah, kemudian ke dapur untuk memanaskan makanannya.


Ralphie terbangun dari lamunan, memegang gelas, dan didekatkan ke hidung.


Dia mencicipi teh dengan kepala tertunduk, terasa manis, rasanya juga enak.


Ralphie baru saja mau siap-siap untuk minum yang kedua kalinya, langsung terdengar suara Serena memasak di dapur. Dia sempat kaget dan bengong, menyimpan gelas teh ke tempatnya, kemudian segera masuk ke dapur.


Begitu memasuki dapur, terlihat Serena di depan kompor, dengan sibuknya membalik-balikkan sayur di dalam kuali.


Gerakan yang terlihat sangat kaku dan asing, sekali dilihat langsung ketahuan kalau dia tidak pernah masuk dapur dan tidak pernah memasak.


Melihat Ralphie masuk, wajah Serena memerah, “Eh……maaf, saya kurang pandai.”


“Saya saja.” Raut wajah Ralphie tidak terlihat banyak berekspresi.


Serena menganggukkan kepala, dan berdiri di samping.


Melihat Ralphie dengan cekatan dan mahirnya membalikkan sayur, gerakannya sangat lincah, Serena tidak tahan lagi dan segera bertanya, “Kamu bisa memasak?”


“Bisa.” Ralphie menganggukkan kepala.


Serena mengerutkan wajahnya dan berkata: “Hebat sekali, saya malah tidak bisa memasak, setiap hari makan masakan siap saji.”

__ADS_1


Ralphie menoleh ke arahnya, kemudian berkata: “Karena terpaksa, baru mau belajar. Pada saat kuliah di luar negeri, setiap hari makan masakan barat, benar-benar tidak tahan makanya belajar masak sendiri. Setelah kembali ke tanah air, juga jarang masak kok.”


“Karena setelah pulang sudah sangat sibuk, makanya tidak sempat memasak?” kata Serena sambil tersenyum.


Ralphie hanya menjawab “Iya”.


Serena juga tidak berkata apa-apa lagi, terus melihat dia memanaskan sayur.


Sesudah sayur dipanaskan, keduanya duduk berhadapan di meja makan, makan bersama.


Tidak terdengar pembicaraan keduanya di meja makan, masing-masing menikmati masakan yang sudah dihidangkan, tapi terlihat keduanya diam-diam saling melihat.


Hanya saja saat Ralphie memandangnya, Serena sedang makan dalam keadaan kepala tertunduk, giliran Serena melihatnya, Ralphie juga sedang tertunduk mencicipi kuahnya.


Selain suara gesekan sumpit menyentuh mangkok, seisi apartemen sunyi senyap.


Selesai makan, Serena berdiri dan membereskan semuanya.


“Kamu simpan saja di situ, nanti tukang bersih-bersih akan datang untuk membereskannya.” terdengar Ralphie menghalanginya.


“Saya bisa cuci mangkok kok.” Serena khawatir Ralphie tidak mempercayainya, berusaha menambahkan lagi, “Pada saat saya bersama teman sekamar, saya juga selalu mencuci mangkok.”


Mendengar Serena membahas tentang teman sekamar, respon pertama Ralphie adalah, teman sekamar Serena itu laki-laki atau perempuan?


Tentu saja dia tidak langsung menanyakan kepadanya, jadi hanya bisa diam tanpa berkata apa-apa.


Serena tidak tahu pemikirannya, membawa piring dan masuk ke dapur.


Setelah sibuk cukup lama di dapur, Serena baru keluar.


Pada saat keluar, Ralphie sedang duduk di kursi sofa menonton berita perekonomian dan terlihat keadaannya sudah membaik.


Langkah Serena terhenti-henti saat melangkah menghampiri Ralphie.


Sebenarnya dia datang hanya untuk membawakan obat untuknya, tapi akhirnya harus menetap lama di sana, dan juga makan malam bersamanya.


Sekarang Ralphie sudah membaik, sudah seharusnya juga Serena pamit pulang.


“Waktu sudah tidak awal lagi, saya pulang dulu.”


Ralphie sempat bengong, kemudian menganggukkan kepala dan berkata, “Terima kasih untuk hari ini.”


“Tidak masalah.” Serena tersenyum, kemudian mengambil tasnya dari kursi sofa.


Ralphie juga ikut berdiri, mengantar Serena sampai ke depan pintu.


“Ingat harus banyak minum, krisan dan kamperfuli saya simpan di kulkas.” Pada saat mau pergi, Serena berpesan satu kali lagi.

__ADS_1


“Oke, sudah tahu.” Ralphie menganggukkan kepala.


Serena melambaikan tangan ke dia, kemudian pergi meninggalkan villa Ralphie.


__ADS_2