
Hello! Im an artic!
Dia sudah memutuskan untuk tidak mencari dia lagi, mulai belajar melupakan dia.
Kenapa dia yang tadinya menolak dia, masih mau datang mencari dia?
Hello! Im an artic!
Ralphie sekuat tenaga menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran di kepalanya.
Lalu dia berdiri, membuka hpnya yang satu lagi, menelpon sebuah nomor,
“Selina, aku ada urusan mau pergi, urusan kerja sama, aku akan mengatur orang untuk membahasnya denganmu……”
Setelah dia menjelaskan ke Selina dengan jelas, Ralphie menggunakan hpnya membeli tiket pesawat ke Swiss, lalu mulai merapikan barang-barangnya.
Hello! Im an artic!
Serena setelah di dorong keluar dari kamar Ralphie, penjaga keamanan yang dipanggil Ralphie juga datang.
Demi menghindari diusir keluar dari hotel oleh penjaga keamanan, di waktu yang sama demi melanjutkan mengejar Ralphie, Serena memesan kamar di seberang kamar Ralphie.
Demi bisa memperhatikan kamar di seberang kamar Ralphie, Serena membuka lebar pintu kamarnya dan berdiri di depan pintu.
Hingga akhirnya, kakinya yang terkilir sakit sekali, dia kembali masuk ke dalam kamarnya.
Duduk di sofa, Serena memegangi kaki kanannya, baru mengetahui kaki kirinya sudah membengkak.
Takut Ralphie akan diam-diam pergi, Serena tidak berani pergi ke rumah sakit, jadi dia meminta meja resepsionis untuk membantu dia membelikan obat.
Saat dia baru membuka obat itu dan ingin memakai obat itu di kakinya, tiba-tiba terdengar suara membuka pintu dari seberang kamar.
Dia pertamanya terkejut, lalu dengan cepat bangun, lalu berjalan dengan pincang ke arah pintu. Karena terburu-buru, bahkan sepatu saja tidak dia kenakan, celana di kaki kanannya saja tidak dia turunkan.
Saat melihat Ralphie menarik koper, saat keluar dari kamarnya, Serena lanngsung bertanya dengan panik.
“Ralphie, kamu mau kemana?”
Ralphie tidak menghiraukan dia, hanya melihat dia berjalan pincang-pincang dengan kakinya yang merah bengkak, lalu dia dengan cepat menarik kopernya, berjalan ke arah lift.
Serena memaksa mengikuti dia, berjalan dua langkah, baru sadar dia tidak mengenakan sepatu.
Dia dengan cepat kembali ke kamarnya, mengenakan sepatu, mengambil tas dan hpnya, lalu berlari keluar.
Saat dia keluar, Ralphie sudah oergi.
__ADS_1
Serena sambil menekan tombol lift, sambil mengeluarkan handphone dari kantong celananya menelpom Felix.
Saat panggilannya terhubung, dia dengan terburu-buru berkata: “Felix, apakah kamu bisa memeriksa Ralphie mau kemana?
“Kenapa?” Felix bertanya dengan terkejut.
“Dia membawa koper, seperti ingin menghindari aku lagi, aku tidak tahu dia akan kemana? Dia juga tidak mempedulikan aku……” karena terlalu cemas, Serena tidak bisa mengutarakan kata-kata dengan baik.
Felix tetap tenang dan mencoba untuk memenangkan Serena, “Nyonya anda jangan cemas, aku akan segera memeriksa.”
“Baiklah……”
Saat Serena naik lift untuk turun ke bawah, Ralpgie sudah berada di meja resepsionis unutk membayar kamarnya dan membawa kopernya keluar hotel.
Disaat itu Serena juga tidak peduli untuk mengurus check-out kamarnya lagi, dia berjalan pincang keluar dari lift dan mengejar Ralphie.
Setelah Ralphie keluar dari hotel, dia langsung naik ke taksi.
Serena tadinya tidak secepat Ralphie, apalagi kakinya terkilir, membuat dia semakin lambat, Saat dia sudah keluar, Ralphie sudah pergi.
Untungnya, saat dia memanggil taksi, Felix menelpon.
“Nyonya, Direktur Su memesan tiket pesawat ke Swiss.”
“Sama-sama……”
Karena dia langsung buru-buru memesan tiket pesawat, Serena tidak berbicara banyak dengan Felix.
Setelah dia menutup telepon, Serena mengunakan hpnya untuk memesan tiket pesawat ke Swiss.
Karena sudah tidak ada tiket first-class, Serena akhirnya memesan tiket kelas ekonomi.
Saat itu jam tujuh malam, jam sibuk jalanan.
Sepanjang jalan macet sampai ke bandara, tersisa lima belas menit hingga pesawatnya terbang.
Serena dengan cepat check-in, mengambil tiket pesawat, lalu melewati bea cukai, pemeriksaan, dan naik ke pesawat.
Dia adalah orang terakhir yang masuk ke dalam pesawat, setelah masuk, kabin pesawatnya ditutup.
Serena menghela napas lega, lalu mencari tempat duduk dia dan duduk disana.
Dari siang hari bertemu dengan Ralphie hingga sekarang, dia terus mengejar Ralphie tanpa beristirahat, sekarang duduk dia bisa bersantai, bisa dibilang sudah lelah, lapar juga.
Tadinya dia berencana untuk makan malam di pesawat, tapi dia duduk sebentar, di langsung tertidur.
__ADS_1
Dia tertidur hingga sampai ke Swiss, saat kru kabin memberikan pengumuman, dia terbangun.”
“Nyonya, Tuan sekalian, pesawat ini akan segera sampai……”
Serena hanya bisa merasakan kupingnya berdenging dan tubuhnya yang sangat lelah.
Dia mengerutkan keningnya, dia mengambil tas dan bersiap turun dari pesawat.
Sepuluh menit kemudian, pesawatnya mendarat di bandara Swiss.
Setelah Serena mendengar pengumuman, dia cepat-cepat bangun, walaupun kaki bengkaknya menganggu, tapi dia tetap lebih cepat mengambil koper dan sebagainya.
Tapi tidak disangka saat dia di pintu keluar dari pesawat, dia dihadang oleh seorang nona pramugari.
“Nona, tunggu sebentar.”
Serena terkejut lalu menghentikan langkahnya, “Ada apa?”
“Nona, tolong tunggu penumpang first-class turun dahulu.” Walaupun nada bicara pragumari itu sangat sopam, di depan publik seperti itu, di hadang seperti itu sangat memalukan.
Penumpang first-class berbaris untuk turun dari pesawat, semuanya sambil melihat ke arah dia, sambil berbicara dengan suara kecil.
Ralphie tadinya tidak sadar, setelah mendengar pembicaraan orang, dia baru melihat.
Langsung melihat wajah Serena yang sedang malu, menundukkan kepalanya dan berjalan pincang kembali ke kabin kelas ekonomi.
Dia mengerutkan keningnya dengan marah, tapi saat Serena melihat ke arah dia, dia langsung mengembalikan ekspresi wajahnya menjadi seperti semula, lalu seperti dengan orang asing, dia dengan dingin memalingkan pandangannya, menarik koper, berbaris untuk turun pesawat.
Melihat Ralphie yang bersikap seperti orang asing, tubuh Serena gemetaran, hampir membuat dia jatuh.
“Baiklah.” Menunggu penumpang first-class turun, Pramugari dengan sopan berkata kepada Serena: “Nona, kamu boleh turun sekarang.”
“Baiklah.” Serena menganggukkan kepalanya, berjalan pincang keluar dari pesawat.
Tidak tahu apakah karena kakinya yang sedang terkilir, atau karena tubuhnya yang sedang tidak fit, Serena baru berjalan satu langkah, sekujur tubuhnya serasa ingin terjatuh ke depan.
Untungnya ada pramugari yang berdiri di sebelahnya dan dengan cepat menahan tubuhnya, “Nona, kamu kenapa?”
“Aku tidak apa-apa, terima kasih.” Takut kalau dia lambat bisa kehilangan Ralphie, Serena dengan cepat berterima kasih ke pramugari itu, lalu dengan buru-buru turun pesawat mengejar Ralphie.
Setelah keluar dari pintu keluar keamanan, Serena melihat sekitar untuk mencari Ralphie.
Dia sangat beruntung, baru melihat sekali, dia langsung melihat Ralphie yang sedang membawa kopernya, bayangan yang sedang berjalan ke gerbang utama bandara.
Dia merasa lega, dia berjalan pincang berjalan kearah itu.
__ADS_1