I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 247 Memilih Untuk Percaya Padanya


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Namun wanita itu berkata, “Nona Serena, untuk apa saya membohongi Anda. Jika kamu tidak percaya, aku dapat menunjukkan buktinya.”


Serena terdiam sejenak dan bertanya, “Sebenarnya apa tujuanmu?”


Hello! Im an artic!


“Aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya kasihan kepada Anda.” Wanita itu sempat terdiam lalu lanjut berbicara, “Nona Serena, berikan aku nomor HPmu, aku akan mengirimkan bukti operasinya kepada Anda.”


Serena menggigit bibir bawahnya, mereka berdua saling memandang dengan tajam.


Sebenarnya dia tidak terlalu percaya dengan wanita itu, tetapi perkataan wanita itu terdengar sangat tegas dan meyakinkan sehingga dia pun terguncang.


Setelah mempertimbangkan cukup lama, Serena akhirnya memberikan nomor HP-nya kepada wanita itu.


Hello! Im an artic!


Setelah menyimpan nomor HP Serena, wanita itu mengucapkan ‘selamat tinggal’ kepada Serena, lalu pergi.


Serena duduk terdiam dengan wajah murung.


Setelah wanita itu keluar dari kafe, ia mengambil ponselnya dan memasukkan sebuah nomor.


“Nyonya Luo, dia benar-benar tidak percaya pada perkataanku. Tapi aku sudah meminta nomor HPnya dan mengatakan kepadanya akan mengirimkan bukti operasi itu kepadanya.”


“Uangmu, sudah aku transfer ke rekeningmu. Sekarang kamu sudah bisa menghilang.” Di penghujung telepon terdengar suara yang mirip dengan suara Bibi Bella.


“Terima kasih, Nyonya Luo.” Setelah mengucapkan terima kasih kepada Bibi Bella, wanita itu memeriksa rekening banknya melalui ponselnya, lalu membuka ponsel itu dan melemparkannya ke tempat sampah.


Setelah kejadian ini, wanita itu membungkam mulutnya dan menghilang ke dalam kerumunan orang banyak.


Di sebuah ruangan di The Waterfront Blossom tidak jauh dari sini, Bibi Bella menutup telepon sambil tertawa dalam hati.


Skenario ini sudah direncanakan olehnya. Dia sengaja mengajak Serena makan malam di The Waterfront Blossom, dan mengatur agar wanita ini bertemu dengan Serena.

__ADS_1


Meminta wanita itu untuk berperan sebagai perawat di rumah sakit kota dan memberi tahu Serena bahwa Ralphie menyuruh dokter untuk melakukan operasi aborsi terhadap kandungan Serena.


Tentu saja dia sudah menebak bahwa Serena tidak akan dengan mudahnya percaya terhadap perkataan wanita itu, tapi dia yakin setidaknya Serena mulai meragukan dalam hatinya apakah dia pernah menjalani operasi aborsi atau tidak.


Tapi selama Serena sudah mulai curiga, sambil menunggu langkah selanjutnya, Serena akan percaya dan merasa sangat terpukul.


Bibi Bella melihat ke arah meja.


Di sana ada sebuah dokumen bukti operasi aborsi, yang dengan jelas tertulis nama Serena di bagian atas, serta tanda tangan Ralphie di kolom bagian bawah.


Awalnya dia berencana untuk memberikan kepada Serena dokumen operasi aborsi yang asli.


Sayangnya, dokumen yang asli itu terkunci di kantor kepala di rumah sakit kota. Bibi Bella sebelumnya sudah tahu kalau kepala rumah sakit berpihak kepada Ralphie. Demi agar tidak diketahui oleh Ralphie, ia harus mundur dan membayar mahal untuk salinan kasus itu.


Karena yang dia miliki hanyalah dokumen yang disalin, dan khawatir Serena akan merasa curiga, maka Bibi Bella mengatur agar wanita muda itu menghubungi Serena dan mengirimkan foto dokumennya saja.


Haha! Tunggu tiba saatnya, apakah kalian masih bisa terus bersama seperti sekarang ini….


Setelah keluar dari kafe, Serena sama sekali tidak ingin pulang ke rumah, dia berjalan sendirian seperti orang tanpa arah dan tujuan.


Tapi dia juga mulai ragu apakah dia pernah menjalani operasi aborsi atau tidak.


Dia memang sering menderita dismenore, dan setiap kali mengalami itu dia merasa sangat tidak nyaman. Tapi rasanya tidak pernah sesakit seperti yang terakhir kali, bahkan saking sakitnya dia bahkan tidak sanggup untuk berdiri.


Mungkinkah bukan karena dismenore, tapi karena aborsi? Ada dorongan di hati Serena, dia lalu segera menelpon Ralphie.


Mungkin terkesan terlalu terburu-buru, tapi dia tetap melakukannya.


“Serena?” terdengar dari telepon suara Ralphie yang rendah, membuat Serena seketika bereaksi.


Sekilas terdengar seperti tidak biasa, apakah ini Ralphie?


Serena kemudian kembali tersadar, ia menarik napas dalam-dalam dan menjawab di telepon, “Yah, ini aku.”


“Apakah kamu sudah makan?” tanya Ralphie dengan lembut.

__ADS_1


Serena jujur menjawab, “Belum.”


“Sudah begitu larut kenapa belum makan? Pelayan di rumah masak makanan apa?” Nada bicara Ralphie agak tinggi.


Serena buru-buru menjelaskan, “Ini bukan salah pelayan, aku yang memang belum pulang.”


“Apakah kamu masih sibuk? Kenapa tidak makan?” nada bicara Ralphie kali ini lebih baik.


“Ada sedikit urusan, nanti aku akan makan di rumah.” Serena menjawab.


“Makan dulu sedikit, nanti bisa sakit perut.”


“Yah, aku tahu. Aku akan makan sesuatu nanti.”


Ralphie berkata ‘um’ dan kemudian bertanya, “Malam hari agak dingin, apakah kamu mengenakan mantel?”


Mendengar pria itu jauh di Swiss, tidak hanya peduli apakah dia makan, tetapi juga apakah baju yang digunakan cukup, Serena agak sedih dan dengan lembut bertanya, “Ralphie?”


“Ya.” sahut pria itu.


Serena berkata, “Apakah kamu bisa kembali besok?”


“Bisa.” pria itu langsung menjawab tanpa berpikir.


Mendengar pria itu berkata ‘Oke’, Serena tidak dapat menahan air matanya, ia berbisik, “Aku hanya bercanda, apakah kamu menganggapnya serius? Kamu bilang, masih tiga hari lagi baru pulang. Aku menunggumu di rumah.”


“Iya, tiga hari lagi aku pulang.” Pria itu mengulangi perkataannya seperti menepati sebuah janji.


“Oke.” meski pria itu tidak bisa melihatnya dari telepon, tapi Serena masih tersenyum.


Setelah menutup telepon Ralphie, Serena menghubungi Supir Li.


Setelah 10 menit berlalu, Supir Li datang dan membukakan pintu mobil untuk Serena, lalu Serena masuk ke mobil dan kembali ke vila.


Sampai saat ini, seperti yang dipikirkan Bibi Bella, Serena memilih untuk mempercayai Ralphie.

__ADS_1


Jadi saat ia melihat tanda tangan Ralphie pada surat keputusan aborsinya, Serena merasa sangat terpukul.


__ADS_2