I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 310 Serena Merayu Ralphie


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Setelah Serena dengan cepat mengirim pesan ke Felix, dia menaruh kembali hpnya didalam tas.


Saat Ralphie selesai mencuci tangannya, dia sudah tertidur lagi di atas kasur.


Hello! Im an artic!


Melihat Serena yang tiduran, wajah Ralphie menjadi lembut, “Apakah kamu lapar? Aku pergi beli makan dulu.”


Serena takut Ralphie akan pergi, dia menjawab, “Tidak lapar.”


Tapi saat dia mengatakan itu, perutnya mengeluarkan suara yang menandakan dia lapar.


Ralphie mengerutkan keningnya tanpa berkata apa-apa, tapi melihat wajah kasian Serena, dia akhirnya mengeluarkan hpnya untuk memesan makanan.


Hello! Im an artic!


Saat Ralphie memesan makan, Serena memperhatikan tubuh dia, tidak memperhatikan makanan apa yang dia pesan.


Sampai makanan yang Ralphie pesan datang, dia baru sadar makanan dengan empat sayur dan satu porsi kuah semuanya adalah makanan kesukaan dia.


Memikirkan barusan dia sudah terbiasa menelpon untuk memesan makan, Serena merasa pahit.


Seseorang yang sangat peduli dengan orang yang satunya lagi, saat diluar negeri, bisakah dengan jelas tahu restoran dengan makanan yang dia sukai dimana?


Tidak bisa mendapat kesimpulan, Serena memanggil Namanya, “Ralphie.”


“Ya?” Ralphie mengangkat kepalanya.


Serena belum selesai berbicara, Serena hanya melihat dia dengan air mata di matanya.


Ralphie tidak tahu kenapa dia tiba-tiba menangis, dia mengambil tisu dari meja teh dan membantu dia menghapus air matanya.


Melihat Ralphie yang dengan hati-hati menghapus air matanya, Serena menaruh sumpitnya dan langsung memeluk dia.


Tubuh Ralphie kaku, lalu dia megangkat tangannya, menepuk pundak Serena untuk menenangkan dia……


Tidak berapa lama setelah selesai makan, Ralphie mengangkat telepon dari Felix.


“Direktur Su, maaf, sekarang aku ada urusan, tidak bisa kesana.”


Ralphie mengerutkan keningnya, tadinya dia mau Felix melepas urusannya, langsung kesini, tapi melihat Serena yang sedang memegang tangannya, dia akhirnya mengatakan kalimat ini, hanya bertanya, “Kapan bisa kesini?”


Tentu saja kapan anda dan nyonya baikkan, aku baru bisa kesana. Tentu saja dia tidak berani mengatakan itu, dia hanya menjawab, “Dalam dua hari, kalau urusanku sudah selesai aku akan ke sana……”


Ralphie hanya mengiyakan dia, lalu menutup teleponnya.


Dia melihat Serena, memikirkan Felix tidak bisa datang untuk dua hari kedepan dia harus bagaimana.

__ADS_1


Membiarkan Serena di rumah sakit sendirian, dia cemas, dia juga takut Serena tidak akan membiarkan dia pergi.


Dia menemani Serena di rumah sakit juga tidak bisa.


Demamnya juga sudah membaik, kakinya yang terkilir juga tidak memperlukan perawatan rumah sakit, kalau begitu keluar rumah sakit saja.


Saat dia memutuskan agar Serena keluar dari rumah sakit, Ralphie langsung bangun dari duduknya, lalu pergi mengurus prosedur untuk keluar dari rumah sakit.


Hasilnya Serena menarik baju dia, tidak membiarkan dia pergi.


Ralphie melihat tangannya yang menarik baju dia, lalu menjelaskan, “Aku pergi mengurus prosedur keluar rumah sakit.”


Prosedur keluar rumah sakit? Dia sudah mau membawa Serena keluar rumah sakit?


Mengira Serena tidak mengerti, Ralphie berkata lagi: “Untuk sekarang Felix tidak bisa datang, aku akan membawamu ke hotel.”


Mendengar Ralphie berkata Felix untuk sekarang tidak bisa datang, Ralphie akan membawa dia ke hotel. Serena tersenyum, matanya mengerut, wajahnya melembut, “Baiklah, kamu cepat kembali.”


Ralphie mendengar Serena berkata ‘kamu cepat kembali’, hatinya jadi berdetak kencang.


Dia dengan cepat menarik lepas tangan Serena yang menarik bajunya, dengan cepat meninggalkan ruangan.


Serena merasa senang, tidak menyadari ada yang aneh dari dia.


Setelah selesai mengurus prosedur untuk keluar rumah sakit, Ralphie membawa Serena ke hotel yang sudah dia pesan.


Serena tahu Ralphie masih berpikir ingin mengantar dia ke Felix, jadi setelah sampai di hotel, dia terus menatap Ralphie.


Kalau Ralphie ingin keluar, dia pasti mengikuti Ralphie dari belakang.


Ralphie menjadi besar kepala, jadi dia tidak mengabaikannya.


Malam pukul sepuluh, Ralphie yang menemani Serena sambil menonton televisi selama beberapa jam akhirnya bangun dan berjalan ke kamar sebelah.


Serena langsung bangun, dengan satu kaki mengikuti dia.


“Aku tidak akan pergi, aku mau tidur, aku tidur di dalam kamar utama.” Ralphie menghentikan langkahnya dan mengelus keningnya.


Serena langsung menggelengkan kepalanya dan menolak, “Tidak boleh, aku mau tidur denganmu……”


Kalau dulu, Serena berkata seperti itu, Ralphie pasti sangat senang, tapi sekarang, Ralphie hanya merasa malu.


Untuk sesaat matanya dipenuhi dengan kebingungan, dia menyela perkataan Serena, “Kembali ke kamarmu.”


Serena terkena amarah dia, dia ketakutan hingga jarinya gemetaran, dia jadi langsung berhenti berbicara hingga tidak berani melihat matanya, dia juga langsung menundukkan kepalanya.


Ralphie menatap dia, lalu membalikkan badan masuk ke dalam kamarnya.


Setelah menutup pintu, dia bersandar di belakang pintu, diam-diam menguping.

__ADS_1


Tadinya dia berpikir, setelah dia marah seperti itu, Serena akan menuruti dia kembali ke kamarnya untuk istirahat.


Akhirnya dia menunggu selama hampir setengah jam, menunggu suara dari kamar sebelah.


Dia mengerutkan keningnya lalu membuka pintu kamarnya.


Melihat Serena yang masih menurunkan wajahnya, duduk di sofa.


Mendengar suara pintu terbuka, Serena mengangkat kepalanya.


Melihat wajah Serena yang begitu kasian, rasa marah Ralphie mereda.


Dia menghela napas lega, lalu menghampiri Serena dan memeluk dia.


Serena melihat dia dan menyadari ekspresi wajahnya sudah tidak semenakutkan tadi, Serena baru dengan hati-hati merangkul leher dia.


Ralphie menundukkan kepala untuk melihat dia, lalu membawa dia masuk ke kamar utama.


“Aku mandi dulu, kamu tiduran saja.”


Serena melihat Ralphie, lalu dengan suara kecil berkata: “Aku juga mau mandi……”


“Tunggu aku selesai mandi baru kamu mandi.” Ralphie menjawab dengan wajah dingin.


Serena hanya menjawab ‘oh’, tidak berkata apa-apa lagi.


Ralphie didalam hatinya merasa lega, lalu membuka koper untuk mengambil baju dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi.


Mendengar suara air dari dalam kamar mandi, Serena mulai berpikir, apakah dia mau ada yang terjadi diantara mereka.


Karena yang dia tahu tentang Ralphie, dia pasti akan bertangung jawab terhadap dia, dengan begitu Ralphie tidak akan pergi lagi……


Setelah Ralphie keluar dari kamar mandi setelah selesai mandi, dia langsung melihat Serena yang sedang memandangi dia.


Dia tidak tahu Serena sedang berpikir apa, dia hanya berkata: “Kenapa belum tidur?”


“Sebentar lagi tidur.” Kata serena, tiduran didalam selimut.


Ralphie mengiyakan dia, lalu mematikan lampu dan tiduran di sisi lain kasur.


Dalam kegelapan, Serena menggigit bibir bawahnya, mencubit ujung jari tangannya, lalu menjulurkan tangan untuk menyentuh Ralphie.


Ralphie sangat peka, saat tangan Serena menyentuh dia, dia dengan cepat menggenggam pergelangan tangan Serena.


Kenapa bisa ketahuan? Serena didalam hati merasa kesal, dia langsung menekan tubuh Ralphie dari atas.


Terdengar suara kecil di telinganya, lalu Serena dikembalikan oleh Ralphie ke posisi semulanya.


Lampunya sangat redup, Serena tidak bisa melihat jelas ekspresi wajah Ralphie, hanya mendengar peringatan dari Ralphie: “Bergerak lagi, aku akan mengusirmu keluar.”

__ADS_1


Tidak bisa merayu Ralphie, diperingati juga oleh dia, seberapa keras kepala Serena pun, dia tidak berani bergerak lagi, dia baik-baik menutup matanya.


Hari ini sudah melihat Ralphie seharian, Serena juga sudah lelah, dia langsung tertidur dalam beberapa menit.


__ADS_2