
Hello! Im an artic!
Ketika Ralphie dan Serena masuk kedalam ruangan, Isa dan Ryan telah tiba.
Didalam ruangan selain mereka, masih ada gadis muda duduk bersama.
Hello! Im an artic!
Tidak tahu kenapa, Serena merasa kenal dengan gadis ini, tetapi tidak ingat dimana dia bertemu dengannya.
“Ralphie, Serena, kalian sudah datang?” melihat Ralphie dan Serena masuk, Isa dan Ryan segera meletakan gelas dan berdiri menyapa.
Gadis itu juga menyapa Ralphie, “Kakak Su.”
Ralphie dengan dingin menjawab ’em’ dan duduk disebrang Isa.
Hello! Im an artic!
“Tuan Lu, tuan Shen.” Serena menyapa Isa dan Ryan, kemudian mengangguk kepada gadis yang duduk disebelah mereka.
Gadis itu sedikit terkejut dan berkata: “Eh, kamu?”
“Eh…apakah kita pernah bertemu denganmu?” Serena sedikit malu bertanya.
Gadis itu bertanya sambil tersenyum, “Goresan ditangan mu sudah membaik bukan?”
Setelah diingatkan olehnya, Serena segera teringat, “Apakah anda adalah dokter yang di rumah sakit kota waktu itu?”
“Ya, bukankah itu sangat kebetulan?” Gadis itu bertanya dengan mengedipkan mata.
Serena menganggukkan kepala, “Sangat kebetulan.”
Ketiga pria itu memandang Serena dan gadis itu bersamaan, “Apakah kalian saling kenal?”
“Pada waktu itu ada luka ditangannya, kebetulan dia ke rumah sakit kami, kemudian aku yang mengobatinya.” Gadis itu menjawab dengan menaikkan bahu.
“Tangan mu ter luka? Apakah pada waktu kita bertemu pertama kali?” Ryan mengerutkan kening dan bertanya pada Serena.
“Hm…sepertinya begitu.” Serena terlalu malu untuk memikirkan kejadian itu.
Isa seolah-olah seperti menemukan sesuatu hal yang luar biasa menyela dan bertanya, “Kalian berdua sebelumnya pernah ketemu?”
“Kak, bagaimana saling ketemu?” gadis itu menatap Serena dan Ryan dengan penuh penasaran.
Serena sangat malu pada mereka sehingga dia mengambil gelas air didepannya untuk menutupi ketidaknyamanannya.
Dia tidak memperhatikan Ralphie yang disebelahnya tidak senang.
__ADS_1
Benar, dia tidak senang, ternyata Serena tidak memberitahu dia, mengenai dia dan Ryan.
Ryan melihat kearah Serena kemudia menjawab dengan tersenyum, “Pada sewaktu aku kembali dan pergi mencari mu kerumah sakit, kemudian waktu dijalan tidak berhati-hati dan saling bertabrakan dengan Serena, setelah dua hari dirumah Ralphie bertemu dengannya, aku benar-benar terkejut.”
Mendengar Ryan menyebut nama Ralphie, Serena pelan-pelan membalikkan kepala dan melihat Ralphie yang berada disebelahnya.
Dia sama sekali tidak peduli dengan topik pembicaraan mereka, dia duduk bersandar dan melihat ponselnya, menghadap punggungnya lurus dan dingin.
Cahaya mata Serena hilang seketika tetapi dengan cepat disembunyikan dengan senyuman.
Dia memalingkan matanya, tersenyum dengan Ryan dan berkata, “Pada waktu itu aku juga terkejut.”
“Kamu dan kita berdua saudara benar-benar memiliki jodoh.” Gadis itu mengulurkan tangan kepada Serena, “Namaku Lacey Shen, adiknya Ryan.”
Serena juga mengulurkan tangannya, “Halo dokter Shen, nama saya Serena Luo.”
“Jangan panggil aku dokter Shen, terlalu sopan, kamu adalah temannya abang ku, panggil saja nama ku.” Lacey mengatakan dengan tersenyum.
“Itu…” Serena agak ragu.
Dia dan Ryan tidak begitu akrab dan Lacey adiknya Ryan, dia menyuruh untuk memanggil namanya saja, Serena merasa tidak terlalu baik.
Lacey mengatakan kepada dirinya: “Sudah dipastikan, aku panggil kamu Serena, kamu panggil aku Lacey.”
Serena juga tidak bisa menolak dan juga memutuskan begitu saja.
Semua nya sambil makan sambil mengobrol, hanya Ralphie sendiri dari awal sampai akhir tidak berbicara.
Bahkan sampai Isa mengajak dia ngobrol dia juga tidak mempedulikannya.
Tampaknya semua orang sudah terbiasa dengan sikap Ralphie, dia tidak mempedulikan dan mengubah tujuan nya diSerena.
Terutama ketika bir datang, dan menyerahkan bir itu kepada Serena.
“Serena, kita saling kenal waktu nya juga tidak pendek tetapi kita belum pernah minum bersama, kita perlu minum-minum hari ini.”
Serena melihat gelas yang diserahkan oleh Isa dengan sedikit canggung, “Aku tidak pandai minum.”
Isa berkata dengan tertawa: “Serena kami juga tidak akan menyusahkanmu, hanya segelas.”
Dia sudah mengatakan begitu, Serena juga merasa tidak nyaman jika menolak, “Kalau begitu baiklah.”
Serena sedang bersiap mengambil gelas bir dari tangan Isa, tetapi dari belakangnya ada orang lain yang mengambilnya.
Serena melihat kebelakang tanpa sadar, dan melihat Ralphie memegang gelas itu.
Ralphie tidak melihatnya, hanya berkata: “Aku menggantikan dia minum.”
__ADS_1
Dia berkata bahwa dia akan menggantikan dia minum…Serena terkejut dan melompat.
Ketika terlambat untuk berkata, Isa dengan tertawa berkata: “Ralphie kalau kamu membantu Serena minum kamu tidak bisa hanya minum satu gelas.”
Mendengar Isa mengatakan Ralphie tidak bisa hanya minum satu gelas, Serena dengan segera mengatakan: “Itu…lebih baik saya minum sendiri saja.”
Ralphie perlahan menurunkan matanya, melihatnya kemudian bertanya, “Berapa gelas?”
Isa dan Ryan saling menatap kemudian sama-sama mengatakan: “Setidaknya 3 gelas.”
“Baik.” Ralphie menganggukan kepala kemudian mengangkat lehernya dan meminum birnya.
Gelas besar seperti itu, kurang dari 4 atau 2 gelas begitu, langsung diminum sekaligus, Serena benar-benar khawatir tubuh Ralphie tidak bisa menerimanya.
Dia tidak merasakan hal yang sama, mengambil 2 gelas kemudian baru duduk.
Mungkin terkejut melihat Ralphie minum tanpa terkendali, setelah itu Isa dan Shen mo tidak melanjutkan menuang anggur lagi.
Setelah selesai makan, pada awalnya Isa mengajak untuk pergi ke Royal club tetapi Ralphie menolak.
“Aku masih ada urusan aku pergi dulu.”
Mendengar Ralphie masih ada urusan, Isa dan Ryan tidak menahannya dan mengatakan, “Kamu pergi saja nanti Serena kami yang akan mengantarnya.”
Ralphie melirik Serena yang sedang berbicara kepada Lacey kemudian menganggukan kepala dan pergi.
Serena mengangkat kepala, dan melihat Ralphie keluar dari ruangan, dengan rasa aneh bertanya, “Dia pergi kemana?”
“Dia masih ada urusan, kita lanjut pergi ke Royal club.” Isa menjawab.
Dia duluan pergi? Minum bir mengemudi? Ketika pikiran ini muncul diotakknya, dia sudah bangkit dari kursinya, “Dia sudah minum bir, aku akan menyusulnya.”
Mendengar Serena berkata, Isa juga tidak mengatakan apa-apa.
Serena keluar dari ruangan, dia tidak melihat Ralphie dan terburu-buru.
Dia berlair keluar dari Waterfront Blossom, menuju keparkiran, dan melihat Ralphie sedang menyalakan mobil.
Dia juga tidak berpikir berlari menghalanginya.
Serena yang tiba-tiba lari, membuat Ralphie terkejut dan bergegas menginjakkan rem.
Untung saja dia baru saja menyalakan mobil, tidak berjalan cepat, mobil berhenti didepan Serena.
“Apa yang kamu lakukan? Ralphie keluar dari mobil dengan wajah yang kesal.
Serena juga marah, dan berteriak, “Apa yang kamu lakukan? Sudah meminum bir begitu banyak, kamu masih mau mengemudi mobil?”
__ADS_1