I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 390 Perasaan Felix Terhadap Molly


__ADS_3

Hello! Im an artic!


“Kamu kesal kepadaku.” Molly yang mabuk sedikit tidak jelas.


Felix memegang dahinya. “Nona, aku antar kamu balik ya?”


Hello! Im an artic!


“Tidak.” Molly langsung menolak.


Felix segera bertanya kepadanya. “Kalau begitu kamu mau apa?”


“Aku mau kamu cium aku.” ucap Molly.


Mendengar ucapan Molly, ekspresi Felix langaung berubah. “Tidak boleh.”


Hello! Im an artic!


Setelah mendengar ucapan Felix, Molly dengan sedih memandang Felix. “Kamu tidak mau? Kamu benci aku…”


Felix merasa dirinya benar-benar bodoh, karena berbicara dengan orang mabuk.


Orangnya mabuk, merasa diri sendiri yang benar, apakah ia bisa berbicara jelas dengan orangnya?


Salah satu caranya adalah segera mengantar Molly balik, tapi Molly tidak ingin balik, terus dia tidak tahu Molly tinggal dimana.


Awalnya ingin menelpon Ralphie, tapi Felix menyerah.


Akhirnya, Felix memutuskan untuk membawa Molly ke hotel.


Felix memanggil sebuah taksi dan membawa Molly naik.


Awalnya Molly tidak mau sambil berusaha untuk tidak naik. “Aku tidak ingin pulang.”


Felix menggunakan satu tangan menahannya. “Aku tidak mengantarmu balik. Kita pergi ke hotel.”


“Kamu jangan menipuku. Aku sama sekali tidak mabuk.” Molly berhenti berusaha. Ia memandang Felix dengan serius seperti dirinya tidak mabuk.


Dan pasti, kalau tatapan matanya tidak begitu kosong, mungkin Felix akan lebih percaya.


Sayangnya…


Felix berbohong, “Kamu tidak mabuk. Aku tidak berani menipumu.”


Molly dengan senang memegang wajah Felix dan menciuminya saat ia tidak sadar. “Ini Hadiahmu.”


Felix tercengang, tidak tahu apa yang harus ia lakukan.


Supir taksi tertawa dan berkata, “Pacarmu baik juga.”


Ia…bukan pacarku.” Balas Felix.

__ADS_1


Reaksi Molly sangat cepat, baru saja Felix selesai mengatakan, ia kembali memasang muka sedih lagi sambil memandang Felix. “Kamu tidak mau aku?”


Felix bingung. “Hmm…”


“Anak muda, wanita itu sangat menyukaimu. kamu jangan menolaknya seperti itu.” Supir taksi itu membantu Molly.


Menolak apa! Felix dengan kesal dan berkata, “Aku bukan tidak mau kamu.”


Molly dengan senang melingkarkan tangannya pada leher Felix. “Aku sudah tahu kalau kamu menyukaiku.”


Sekarang tidak perlu banyak penjelasan, posisinya sebagai pacar Molly sudah pasti.


Felix memegang dahinya, sedangkan supir itu menyetir dengan cepat dan tiba di sebuah hotel.


Supir berkata, “Ini adalah hotel terdekat. Aku lihat kalian sangat terburu-buru. Kalau begitu hotel ini saja.”


Terburu-buru apa!


Felix dengan kesal mengeluarkan uang, lalu sambil memeluk Molly turun dari mobil.


“Aku tidak mau pulang.” Molly mengira Felix mengantarnya pulang dan tidak ingin turun dari mobil.


“Bukan pulang, kita pergi ke hotel.” Balasan Felix membuat Molly terdiam dan tenang dibawa Felix ke dalam hotel.


Felix memesan kamar terbaik di hotel itu, lalu membawa Molly ke kamar.


Ia menidurkannya di ranjang, lalu menutupinya dengan selimut dan segera pergi.


Tidak hanya mengotorkan ranjang, ia juga mengotorkan dirinya.


Felix hanya bisa menyuruh pelayan datang untuk membersihkannya dan membereskan ranjangnya.


Setelah pelayannya selesai, waktunya sudah jam dua pagi.


Ia tidak sadar sama sekali saat ia memandang Molly yang sedang terbaring dan tidur dengan nyenyak di ranjang. Saat ia sudah sadar, tangannya ia sudah letakkan pada wajah Molly.


Ia langsung menarik tangannya dan tergesa-gesa untuk bersiap pergi.


Tiba-tiba Molly nangis kencang, awalnya Felix terdiam, lalu ia bingung apa yang harus ia lakukan.


Akhirnya ia menggunakan cara yang biasa di lakukan Tuan Su untuk membujuk Nyonya. “Jangan nangis, tenang…” ucapnya sambil menepuk punggung Molly.


Awalnya Felix hanya ingin mencoba, tapi ternyata caranya berguna.


Molly benar-benar tidak menangis lagi, hanya saja ia berbisik-bisik dengan suara rendah sehingga tidak dapat mengerti apa yang diucapkannya.


Felix mendekatkan diri ke Molly.


Ia mendengar Molly berkata, “Mengapa tidak menyukainya? Mengapa tidak sedikitpun melihatku?”


Hatinya berdenyut pelan dan membuat Felix bingung.

__ADS_1


Setelah beberapa saat kemudian, ia akhirnya menyadarinya.


Tatapan mata sedikit susah di mengerti saat ia sedang memandang ke arah Molly. Tetapi akhirnya ia hanya menepuk pelan punggungnya.


Molly terbangun dari kepalanya yang pusing. Ia memijat pelan kepalanya, lalu terbangung dari ranjang.


Tiba-tiba ia merasa tubuhnya sedikit kedinginan, lalu ia melihat dirinya hanya memakai sebuah gaun tidur.


Ini bukan gaun tidurnya…


Seketika Molly langsung teriak.


Lalu seseorang muncul dari balkon.


Molly memandang dulu orang itu lalu terdiam sesaat dan memeluk tubuhnya sendiri. “Ka…kamu mengapa berada disini?”


Felix sama sekali tidak bodoh. Dilihat dari gerakannya, ia sangat tahu apa yang dipikirkannya.


Ia mengedipkan matanya lalu berkata dengan datar, “Kemarin nona muntah, aku menyuruh pelayan mengganti pakaianmu.”


Setelah mendengar ucapan Felix, Molly baru dapar tenang. Ia menghela nafasnya. “Baiklah.”


Felix menghindari tatapannya dan lanjut berkata, “Baju barunya sudah disiapkan diatas sofa. Sarapan juga sudah disiapkan oleh hotel. Kamu tinggal menelpon, pelayan akan membawakannya.”


Pantas ia menjadi asisten pribadi Ralphie, semua di persiapkan amat terperinci.


Molly menghel nafas dalam hati lalu mengangguk. “Oh, baik.”


Aku masih ada urusan, tidak dapat mengantar Nona pulang.” Felix dengan sopan menghormatinya, lalu pergi keluar.


Entah mengapa saat melihatnya keluar, Molly ingin memanggilnya.


Dan ia melakukannya. “Tunggu sebentar.”


Felix menghentikan langkahnya dan berbalik badan dan bertanya dengan datar. “Ada masalah apa lagi, Nona?”


Molly mendengar ucapan Felix, dalam hatinya merasa tidak enak. Lalu ia menghindari terjadinya kontak mata dan berkata, “Tolong bantu aku bilang terima kasih kepada Kak Ralphie.”


“Baik, Nona.” Felix mengangguk dan pergi meninggalkan ruangan.


Molly duduk terdiam diatas ranjang dan bertahan seperti itu selama sepuluh menit, lalu baru mengangkat selimut bangun.


Ia langsung berjalan menuju sofa dan melihat pakaian yang disiapakan Felix untuk beberapa waktu, Lalu menggantinya.


Harus dipuji kalau Felix hebat memilih, bajunya sangat cocok di tubuh Molly.


Molly melihat dirinya dari pantulan cermin beberapa saat, lalu keluar dari ruang ganti dengan menaikkan sedikit dagu.


Terlihat dirinya tidak berubah sama sekali, masih saja putri Keluarga Su, Molly.


Tapi apakah benar jika ia sama sekali tidak berubah? Tapi itu hanya dirinya sendiri yang mengetahuinya.

__ADS_1


__ADS_2