I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 73 Sebenarnya Siapa Yang Bikin Situasi Menjadi Canggung Seperti Ini


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Perjalanan keluar dari bandara kira-kira ada dua puluh menitan, mobil baru memasuki kota.


Disini adalah daerah barat, jarak ke timur membutuhkan waktu kurang lebih satu jam, sedangkan jarak Ralphie kedaerah pusat juga satu jam, dua arah yang berbeda……


Hello! Im an artic!


Makanya hati Serena berpikir tetapi mulutnya juga berkata, “Tuan Zhou, kamu drop aku dipinggir jalan aja biar nanti aku panggil taksi ppulang.”


Felix melirik sebentar kearah kaca dan melihat wajah masam Ralphie, sama sekali tidak merespon perkataan Serena.


Bercanda, mana mungkin dia berani meninggalkan Nona Serena dipinggie jalan? Cari mati emangnya?


Serena melihat Felix tidak berbicara, ia berpikir bahwa dia tidak kedengaran makanya ia mengulang sekali kali, “Tuan Zhou, mohon kamu……”


Hello! Im an artic!


Serena belum selesai berbicara, Ralphie yang duduk dibelakang tiba-tiba dengan dingin berkata, “Berhenti.”


Ralphie sudah memerintah, Felix dengan otomatisnya mendengar perintahnya.


Dia mengerem lalu dengan stabil memberhentikan mobilnya dipinggir jalan


Wajah Serena cemberut, setelah berkata ‘Terima Kasih’, ia membuka pintu dan turun.


Melihat kearah luar mobil, Serena sedang berdiri dengan bayangan tubuhnya yang kurus, Ralphie melihatnya dengan tatapan mata yang berantakan. Tenggorokan yang seakan tersangkut, dada seperti ada sesuatu yang mengganjal, sungguh menyebalkan.


Setelah keluar dari clubhouse, Serena bahkan tidak bersedia berbicara dengannya sama sekali, menjauhi dirinya, dan sekarang malah dengan sendirinya ingin turun dari mobil.


Ralphie benar-benar lupa kalau ini semua karena dia yang sendiri yang membuat situasi canggung, Serena berpikir dia sedang marah padanya makanya seperti ini.


Dia dengan sekuat tenaga membengkam bibirnya lalu dengan perintah dingin, “Jalan.”


Felix melihat Serena yang ada diluar mobil, lalu melihat sekilas Ralphie yang sedang duduk dibelakang, ingin mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya satu kata pun tidak ada yang terucap, mobil berjalan semakin menjauh.


Tatapan mata Ralphie yang gelap terus memandang ke arah spion.


Bayangan Serena dari spion semakin lama semakin kecil, lalu hilang, dia pun tidak mengahlikan kembali pandangannya.


Felix melihat dari spion tengah ekspresi wajah Ralphie, menghela nafas dalam hati.


Jelas-jelas direktur mereka tidak menginginkan Nona Serena turun dari mobil, tapi malah sok berpura-pura tidak peduli dengan kepergiannya……


Tiba-tiba Ralphie buka suara, “Pergi ke hotel yang paling dekat disini.”

__ADS_1


Setelah terdiam sebentar, Ralphie kembali menambahkan, “Aku mau istirahat.”


Istirahat dihotel? Felix terdiam sebentar.


Penting untuk diketahui bahwa Direktur mereka yang satu ini sangat memperhatikan kebersihan, kalau bukan karena terpaksa, dia sama sekali tidak akan tinggal diluar.


Felix terdiam sejenak dan kemudian berkata: “Paling bagus hanya hotel bintang empat, dan untuk kebersihan kemungkinan tidak bisa sesuai dengan keinginan Anda……”


Belum selesai Felix berbicara, Ralphie memotong pembicaraannya, “Ya sudah pergi saja kesana.”


Felix yang sama sekali tidak mengerti apa yang ingin dilakukan atasannya itupun hanya membalasnya satu kata ‘Baik’.”


Dua menit kemudian, mobilpun berhenti didepan hotel bintang empat yang dikatakan oleh Felix.


Ralphie pun berkata satu kalimat, “Antar dia pulang.”, tanpa menunggu respon Felix, dia membuka pintu, keluar dari mobil dan berjalan ke arah ruang utama hotel.


Felix melihat belakang punggung Ralphie yang berjalan ke dalam hotel dan menghela nafas.


Sebenarnya Direktur Su ingin tinggal di hotel karena ingin menyuruhnya mengantar Nona Serena pulang.


Setelah Serena turun dari mobil, ia membelakangi mobil, sama sekali tidak berbalik badan karena ia takut ia akan tak tahan untuk bertanya, bertanya padanya apakah dia sebegitu bencinya jika disalahpahami berpacaran dengannya…


Sebenarnya, bukankah ia sudah tahu sejak awal?


Serena hanya tersenyum menyakitkan, ujung bibirnya sedikit terangkat. Tetapi matanya terlihat gelap.


Tetapi hari ini sudah terlalu larut ditambah lagi sedang turun salju. Jalanan hampir tidak ada orang yang lewat bahkan mobil yang lewat saja hanya beberapa.


Taksi yang dimaksud Serena sangat sulit dicari.


Angin dan salju pun terus terasa, Serena sambil berjalan sambil mencari taksi.


Setelah berjalan kira-kira sepuluh menit, tiba-tiba terdengar sebuah klason mobil dan mobil tersebut berhenti disebelah dirinya.


Serena terkejut hingga termundur kebelakang. Kemudian melihat kedepan mobil Felix yang tak lagi asing.


Serena mengira ia salah melihat, ia bahkan sampai mengedipkan mata, kemudian mengucek matanya dan memastikan bahwa ini mobil Ralphie yang dibawa oleh Felix.


Bukankah dia mengantar Ralphie pulang? Kenapa dia disini?


Pintu mobil depan terbuka dan Felix pun keluar dari mobil.


“Nona Serena, silahkan masuk mobil.” Felix berbicara sambil membukakan pintu untuk Serena.


Serena terbengong dan terbata-bata bertanya padanya, “Felix, bukankah kamu……Kamu kenapa datang?”

__ADS_1


“Direktur Su yang memintaku datang.” Jawab Felix.


Ralphie? Pandangan Serena mengarah kedalam mobil belakang.


Dan menyadari bahwa orang yang seharusnya duduk disana malah tidak ada.


Dia kemana? Kenapa tidak ada dimobil?


Felix yang melihat Serena tidak bergerak, berkata mengingatkannya: “Nona Serena, sudah malam, segera masuk mobil.”


Serena dengan suara kecil berkata ‘Oh’, lalu masuk kedalam mobil.


Mungkin karena Ralphie ada duduk disini, Serena terus merasa ada wangi tubuh Ralphie disini.


Harumnya masih ada tetapi orangnya malah tidak ada disini……


Serena menarik nafas dalam-dalam, akhirnya berbicara karena tidak tahan.


“Dia……dia kemana?”


Felix otomatis mengerti siapa yang dimaksud Serena dengan kata ‘Dia’, jadi Felix langsung menjawab, “Direktur Su istirahat di hotel.”


Serena awalnya ingin bertanya kenapa Ralphie tidak kembali ke rumah dan malah pergi ke hotel. Pertanyaan sudah diujung mulut, tetapi pada akhirnya ia tidak bertanya dan hanya menjawab ‘Oh’ satu kata.”


Ketika Serena kembali ketempat tinggal Claudia Xu, waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi.


Badan dia terlalu lelah, tetapi tak hentinya bolak balik ditempat tidur dan akhirnya tertidur ketika jam lima pagi.


Jam tujuh, alarm pun sudah mulai berbunyi.


Serena dengan mata lembamnya terbangun dari kasur seperti seorang tidak ada tenang yang berjalan ke toilet untuk cuci muka baru keluar dari kamar.


Claudia yang sedang menyiapkan sarapan didapur, kaget melihat Serena.


“Serena, kamu kapan pulang?”


Serena menjawab sambil menguap, “Jam dua pagi.”


“Jam dua pagi? Kamu ngapain?” Claudia bertanya karena merasa aneh.


“Pergi jalan sampai lupa waktu.” Serena hanya sembarang menjawab Claudia.


Claudiapun tidak berpikir banyak dan hanya bertanya, “Mau sarapan?”


“Ngga mau.” Dia sekarang hanya ingin tidur, sama sekali tidak ada nafsu makan.

__ADS_1


Claudia yang melihat Serena seperti ini juga tak lagi berbicara apapun, “Oke.”


“En, aku pergi dulu.” Serena hanya melambaikan tangan ke Claudia lalu keluar.


__ADS_2