
Hello! Im an artic!
Serena sudah menyangka jika baju yang di dalam toko sudah pasti mahal, meskipun dia belum pernah datang ke Distrik Spaloom untuk membeli baju, tetapi setidaknya dia pernah mendengar kabar-kabar angin.
Hello! Im an artic!
Tidak memikirkan lagi pakaiannya itu mahal, tetapi yang dipikirin adalah super duper mahal.
Yang paling murah pun harganya harus 5 digit angka.
Serena sambil mengigit lidahnya, sambil melihat pakaian yang pajang di dalam toko.
Pelayan di dalam toko melihat Serena yang berpakaian biasa, bukan datang melayani, tetapi malah mencuekinnya dan mengalihkan perhatiannya kepada konsumen lain.
Hello! Im an artic!
Sampai saat Serena mengambil sebuah baju, pelayan yang tadinya langsung datang dengan melangkahkan kakinya dengan cepat.
“Nona, baju ini tidak cocok untukmu.”
Tidak cocok untuknya? Serena langsung termenung, dan menggantungkan kembali bajunya, lalu ambil lagi yang lain.
Alhasil pelayan tersebut langsung merebut bajunya dari tangan Serena, “Nona, lebih baik kamu pergi ke mall saja, pakaian disini semua tidak cocok dengan kamu.”
Kata-kata yang keluar dari mulut pelayan tersebut pun menarik perhatian orang-orang yang disekitarnya, pandangan mereka semua mengarahkan ke Serena, mulai berbincang dan menyalahkannya.
Sedangkan Serena langsung menyadari bahwa mereka merasa jika dia tidak sanggup membeli pakaian yang ada di sini.
Serena sangat marah, tetapi betul juga apa yang dikatakan oleh mereka.
Dia memang tidak sanggup membeli, meskipun dia itu orang kaya bermarga Luo, juga tidak sanggup membayarnya, apalagi sumber ekonominya sudah terlepas dari keluarganya.
“Maaf……” Serena baru saja mau meminta maaf, tetapi tiba-tiba ada suara terdengar dari belakang.
“Tidak cocok?”
Mendengar suara yang begitu familiar, Serena langsung membalikkan kepala, dia melihat Ralphie berdiri dibelakang badannya, “Bagaimana….. kamu bisa masuk kesini?”
“Datang lihat-lihat.” Muka Ralphie terlihat sangat dingin, saat ini ekspresi mukanya sangat menakutkan.
Rencana awal Ralphie itu dia mau menunggu Serena pilah-pilih pakaiannya dulu, baru datang untuk membayar.
__ADS_1
Rupanya saat sedang menunggu Serena di depan toko, kebetulan sekali dia mendengar kata-kata yang diucapkan oleh pelayan itu terhadap Serena.
Serena memperhatikan ekspresi Ralphie, dan berspekulasi bahwa Ralphie sudah dengar percakapan tadi, dia merasa malu sekalian berkata terhadap Ralphie: “Aku ke tempat lain saja”.
“Disini saja.” Pandangan dingin Ralphie menyapu ke pelayan tadi.
Pelayan wanita tersebut ketakutan sampai badannya ikut gemetar, nafas pun tidak berani menghembus dengan besar.
Ralphie hanya berkata dengan dingin: “Dalam lima menit, semua pakaian didalam toko ini yang cocok dengannya, dibungkus semua, ada berapa bungkus berapa, jika melebihi dari lima menit, maka semua itu aku tidak akan mau lagi.”
“Ralphie, jangan memboros.” Serena menarik lengan bajunya, ingin menghentikannya.
“Tidak boros kok.” Menghabiskan uang untuk beli harga dirinya, dia tidak merasa boros, malah merasa ini tidak cukup.
“Tapi……” Serena masih mau mengungkapkan sesuatu, Ralphie memegang tangannya, dan jalan ke sofa yang ada disamping lalu duduk, kemudian dia mengingatkan pelayan-pelayannya, “kalian masih ada waktu empat menit lima puluh detik.”
Ikuti dengan kata-kata Ralphie, pelayan-pelayan tersebut tiba-tiba linglung lalu sadar, kemudian mengerjakan dengan kecepatan maksimal, takut akan kurang jika gerakannya lambat.
Dalam waktu lima menit yang ditentukan oleh Ralphie tersebut, beberapa pelayan itu mempacking baju dan membuka invoice sampai tangan pun ikutan lemas.
Lima menit kemudian, Ralphie tidak merasa ragu sedikitpun untuk menandatangani invoice tersebut, hanya dengan menggunakan waktu yang tidak melebihi dari 30 detik.
Mengeluarkan duit itu satu namanya tangkas, satu lagi namanya tidak pelit……namun semua itu bukan poin terpenting, poin terpenting itu adalah pandangan orang-orang yang ada didalam toko itu terhadap Serena menjadi iri dan cemburu.
Setelah menandatangani, Ralphie membiarkan Serena untuk menggantikan pakaian yang tadinya dia pegang itu, lalu menyerahkan kartu namanya kepada pelayan, dan menyuruh mereka agar mengantarkan pakaian-pakaian itu ke alamat yang tertera di atas, sambil membawa Serena keluar dari toko tersebut.
Setelah keluar dari toko pakaian itu, Serena menjadi seperti ingin berkata namun tidak bisa mengungkapkannya, dia berkata: “Ralphie, baju yang tadi bisa dikembalikan tidak? Mahal sekali harganya aku tidak sanggup membayarnya.”
Mendengar kata-kata Serena, kemarahannya pun menembus dari dada Ralphie, yang diberikan untuk Serena itu tidak pernah terpikir olehnya bahwa suatu saat akan dikembalikan.
“Tidak ada yang bilang……” ketika dia membalikkan kepalanya dan melihat mata Serena yang seharusnya hitam pekat dan jernih rupanya dipenuhi oleh penyesalan, kemarahannya langsung hilang total.
Dia langsung mengalihkan perhatiannya dengan berkata: “Semua ini untuk adikku, kecuali yang kamu kenakan ini.”
Rupanya buat adiknya! Serena merasa menjadi lebih santai setelah mendengarkannya.
Harga bajunya itu kalau dihitung-hitung sudah bisa dapat sebuah rumah.
Syukurlah……syukurlah……
Kalau tidak, meskipun sudah jual diri pun tidak dapat menutupi biayanya.
__ADS_1
Serena sambil berpikir sambil senyum mengatakan kepada Ralphie, “Baguslah kalau begitu.”
Melihat segala kecemasan hilang dari muka Serena, Ralphie mindahkan pandangannya.
“Ke Royal Club”
“Iya.” Serena mengangguk-anggukan kepalanya.
Hari ini agak macet, perjalanan dari Distrik Spaloom ke Royal Club itu biasanya hanya butuh waktu 20 menit, tetapi sekarang harus menggunakan waktu selama 1 jam.
Saat Ralphie dan Serena tiba disana, melihat orang yang mau mengumpul sudah hadir semua.
“Ralphie, bangsat akhirnya kamu datang juga.” Isa melihat Ralphie masuk, langsung mengabaikan orang lain, dan jalan kemari untuk menyapa.
Ralphie berbicara dengan pelan: “Ada masalah lain yang buat tertunda.”
“Ah…. Kamu selalu ada masalah” Baru bicara setengah Isa tiba-tiba melihat Serena yang ada di belakang Ralphie, dan dia langsung membatu.
“Kamu……kamu……bukannya……” Isa memandang Serena dengan penuh kaget, ini bukannya wanita yang keluar dari ruang privasi Ralphie? Dia khusus datang untuk menanyakannya lagi di hari kedua. Sepertinya pernah nampak dimana? Isa mengingat-ingat kembali……
Oh iya, kemarin di villa acara gangnam, orang yang dikejar Ralphie itu kan dia.
Iya tidak salah lagi, waktu itu Isa merasa wanita itu sedikit familiar.
“Halo.” Serena juga mengenali Isa adalah pria yang kemarin berdiri disamping Ralpie, tetapi karena tidak begitu kenal, maka dengan ini mereka hanya saling menyapa tanda sopan, dan tidak lanjut bicara lagi.
“Halo, Aku Isa.” Isa linglung, terus mengulurkan tangannya ke Serena.
Serena tersenyum tipis, kemudian ulurkan tangannya terus genggam tangan Isa, “Aku Serena.”
Serena? Itu bukannya wanita yang asik-asik menelpon ke Ralphie pada malam acara Gangnam? Isa langsung tercegang, terus mengenggam tangan Serena, juga lupa melepaskannya.
Secara naluri Serena ingin menarik kembali tangannya, namun Isa tidak melepaskan tangan, dia juga tidak bisa menarik secara maksa, lagian dia adalah temannya Ralphie, Serena tidak ingin mempermalukan Ralphie.
Ralphie merasa tangan Isa yang terus memegang Serena itu tidak enak dipandang, langsung ada suatu impuls yang ada diotaknya yaitu memisahkan mereka.
Dan kenyataanya, dia sudah melakukannya.
Cuma lihat dia mengulurkan tangannya terus menarik tangan kedua orang tersebut dengan menggunakan tenaga kuat, kemudian tarik Serena kebelakang dirinya, memisahkan Serena dan Isa dengan menggunakan badannya.
Tindakan Ralphie yang tiba-tiba, langsung menarik perhatian Serena dan Isa.
__ADS_1
“Ralphie, kamu ngapain?” Isa menanyakan dengan menyalahkan.
Dia ngapain? Didalam pikiran Ralphie juga terdapat pertanyaan yang sama.