I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 356 Dia yang Ada Dalam Gambar Sketsa


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Ketika Claudia datang ke kamar Isa, Isa sedang berkemas.


Cahaya matahari berwarna keemasan dari luar jendela menyinarinya, seorang diri, menghasilkan bayangan seperti siluet tipis.


Hello! Im an artic!


Dia mengambil pakaian dari atas ranjang dan memasukkannya satu per satu ke dalam koper, gerakannya lambat, sepertinya ia sengaja ingin mengulur waktu agar lebih lama.


Merasakan ada suara langkah kaki, Isa perlahan menoleh dan melihat cukup lama, ekspresinya bercampur antara bingung dan terkejut, “Aku sudah hampir selesai, tunggu sebentar lagi.”


Masih sambil berbicara, ia membereskan pakaian yang tersisa di atas ranjang dan langsung memasukkan semuanya ke dalam koper, kemudian menutup koper.


Gerakan Isa tampak buru-buru, ia khawatir jika ia berlambat-lambat akan membuat Claudia menjadi tidak senang.


Hello! Im an artic!


Claudia tak dapat membendung kesedihannya, air matanya pun perlahan mengalir.


“Claudia, mengapa kamu menangis? Apakah kamu tidak enak badan?” melihat Claudia yang tiba-tiba menangis, Isa langsung menaruh kopernya dan menghampiri Claudia, ia ingin memeluk Claudia tapi, dia tiba-tiba teringat akan sesuatu lalu berhenti sejenak dan pelan-pelan menurunkan tangannya, “Claudia, kamu jangan menangis ya, aku akan segera pergi, tidak akan muncul lagi di hadapanmu.”


Isa menatap Claudia dalam-dalam, lalu mengambil kopernya melewati Claudia berjalan ke arah pintu.


Dia baru berjalan dua langkah, dari belakang terdengar suara Claudia yang berkata, “Berhenti.”


Ia menyuruhku berhenti? Apa aku salah dengar?


Isa sempat bingung dan berhenti sejenak, tapi dia tidak menoleh karena pikirnya mungkin hanya salah dengar.


Melihat Isa yang sama sekali tidak menoleh, Claudia menatap punggungnya dengan putus asa dan tidak tahan ingin menghampirinya.


Isa menunggu lama, tanpa menunggu Claudia berbicara, rasa sakit menyelinap ke dalam hatinya.


Mungkin dia yang berpikir terlalu banyak? Ia menyuruhnya berhenti.


Isa menertawai dirinya sendiri, ia mencoba melangkah sekali lagi.


Claudia lihat Isa seperti tidak mendengar perkataannya, masih melangkah keluar, ia langsung berteriak, “Siapa yang menyuruhmu pergi? Kembalilah padaku.”


Kali ini, kata-kata Claudia terdengar jelas hingga ke telinga Isa.


Seluruh tubuh Isa gemetar setelah memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar. Lalu perlahan-lahan ia berbalik dan menatap Claudia, “Claudia… kamu mau aku tetap di sini?”

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Isa, wajah Claudia memerah.


Tentu saja ia tidak akan langsung mengatakan bahwa ia ingin Isa tetap tinggal.


Hanya sambil terengah-engah ia berkata, “Aku tidak mengatakan apa-apa.”


Kemudian tanpa memberikan kesempatan pada Isa untuk menjawab, ia berjalan melewati Isa dan meninggalkan kamar.


Berkali-kali Isa mengulangi perkataan Claudia dalam benaknya, ia semakin yakin kalau Claudia menginginkan dirinya untuk tetap tinggal.


Walaupun Claudia masih belum bisa memaafkannya, tapi mengijinkan ia untuk merawatnya sudah cukup bagi Isa.


Dengan senang Isa berbalik, lalu dengan suara keras dari belakang ia menjawab Claudia, “Claudia, aku akan menjagamu baik-baik.”


Claudia yang mendengar suara Isa dari belakang mengutuk dari dalam hatinya, “Dasar bodoh.”


Karena kejadian itu, Isa akhirnya memutuskan untuk tetap tinggal di rumah Ralphie.


Meski hubungan di antara keduanya tidak banyak berubah dari sebelumnya, tapi setidaknya bukankah Claudia sudah membiarkannya tetap tinggal bersamanya?


“Ralphie, terima kasih!” Isa tahu dengan jelas kalau bukan karena Ralphie yang memintanya untuk tinggal di rumahnya, sampai sekarang Claudia pasti masih menjauhinya.


Ralphie menatap Isa dan dengan santai ia berkata, “Berterima kasihlah kepada Serena.”


Ralphie mengalihkan pandangannya dan kembali melihat dokumen yang ada di tangannya. Isa tidak mengganggunya, ia mengecek ponselnya.


Tidak tahu apa yang sedang dilihatnya di layar ponselnya, ia tiba-tiba bertanya kepada Ralphie, “Apakah Serena memang sengaja belajar menggambar?”


“Apa?” Ralphie tidak mengerti maksud pertanyaan Isa.


Isa menunjuk layar ponselnya dan bertanya, “Aku baru saja membaca sebuah berita, katanya melukis orang tidaklah mudah, hanya ingin tahu apakah Serena pernah kursus menggambar?”


“Tidak tahu.” Ralphie menjawab dengan santai.


Isa dengan heran bertanya, “Kamu tidak tahu? Apa kamu tidak pernah melihat lukisan wajahmu yang digambar oleh Serena?”


Pernah melukis wajahnya? Kenapa dia tidak tahu? Ralphie mengerutkan keningnya dan bertanya, “Dari mana kamu tahu?”


“Claudia yang bilang, dia berkata Serena menyukaimu, ia pernah melukis wajahmu.” Isa berhenti sejenak lalu bertanya, “Lukisan yang Serena buat, bagaimana menurutmu? Kapan-kapan aku ingin meminta Serena menggambarkan beberapa untukku.”


Ralphie tidak bilang kalau dia belum pernah melihat lukisan itu, dan bahkan baru tahu kalau Serena pernah menggambar untuknya.


Soal meminta Serena untuk menggambarkan Isa, jangan harap.

__ADS_1


“Jangan meminta dia menggambarkan untukmu.” Ralphie memperingatkan Isa.


“Tidak boleh, ya sudah.” Isa tampak menuruti perkataan Ralphie. Tapi dalam hatinya, ia berencana akan diam-diam meminta Serena menggambarkan untuknya.


Walaupun Ralphie agak sedikit menyesal tidak pernah melihat lukisan yang Serena gambarkan untuknya, tapi ia tidak terlalu peduli.


Sampai suatu ketika ia tidak sengaja melihat lukisan-lukisan itu, ia baru menyadari ia hampir kehilangan sesuatu.


Hari itu ketika Serena sedang buru-buru membuat desain gambar, ia meminta tolong pada Ralphie untuk mencari sebuah album gambar yang berjudul ‘Soul’ di lacinya.


Setelah Ralphie membuka loker dan mencari-cari, ia lalu bertanya, “Laci yang mana?”


“Di sebelah kanan bagian paling bawah.” Serena menjawab.


Ralphie membuka laci sebelah kanan di bagian paling bawah lalu ia ada melihat beberapa album gambar.


Dia mengeluarkan beberapa album dari laci itu, membukanya satu per satu, dan mencari album yang berjudul ‘Soul’.


Album pertama bukan yang Serena cari, lalu ia membuka lagi album yang berikutnya.


Ketika pertama kali membukanya, ia melihat sebuah lukisan.


Lukisan itu adalah gambar dirinya sedang berdiri di depan jendela sambil berbicara telepon. Di luar jendela adalah pemandangan halaman Vila Shadewoods Manor yang sangat dikenalnya.


Itu hanyalah lukisan sederhana, tapi dirinya dan sekelilingnya tergambar sangat jelas di dalamnya.


Sebelumnya Ralphie pernah mendengar Isa bilang Serena menggambar lukisan dirinya.


Hanya mendengar dari orang lain dan melihatnya secara langsung rasanya tentu berbeda.


Ralphie melihat lukisan itu cukup lama, kemudian pelan-pelan mengingat masa lalu.


Lukisan di belakang-belakangnya ada bermacam-macam, ada gambar sedang makan, duduk di meja membaca dokumen, mengemudi, berdiri di pinggir jalan, dan lain-lain.


Awalnya Ralphie tidak begitu memperhatikan, setelah dilihat-lihat lagi, dia menyadari ada sebuah pola.


Melukis dari awal hingga akhir adalah cara mengenang masa lalu.


Ada ratusan gambar, semuanya tentang dia, hanya dia.


Gambar terakhir yang paling menarik perhatian Ralphie. Dapat dikatakan, cincin yang digambarkan dalam lukisan itu menarik seluruh perhatian Ralphie.


Sejak dulu dia tidak pernah memakai cincin, tapi ternyata cincin ini cocok di tangannya.

__ADS_1


Dan juga cincin ini sepertinya…


__ADS_2