I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 116 Diikuti


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Setelah Ralphie menandatangani berkas yang ditangannya, secara kebiasaan dia mengarahkan tangannya ke arah kiri mengambil berkas lain, tapi yang ada malah kosong.


Dia tertegun, pelan-pelan dia mengangkat kepalanya, melihat kearah samping, di sana kosong tidak ada apa-apa, sudah tidak setengah berkas, sedangkan di sebelah kanan penuh tumpukan yang tebal, semuanya ternyata sudah di tanda tangani.


Hello! Im an artic!


Kenapa sudah tidak ada berkas lagi? Ralphie mengerutkan alisnya, ke arah, melihat ke arah kantor.


Kenapa belakang pekerjaan semakin sedikit?


Awalnya begitu dingin, Ralphie sangat kebingungan berpikir.


Tidak ada pekerjaan, ia merasa sangat tidak nyaman, kenapa bisa tidak ada pekerjaan?


Hello! Im an artic!


Dia langsung menelepon kantor, memanggil Felix, “Felix, masih ada berkas yang belum di uruskan?”


Felix hampir saja ingin menangis, masih ada berkas apa? Anda sudah mengurusi semuanya.


“Direktur Su, pekerjaan waktu terdekat ini semuanya sudah selesai dikerjakan.”


Ralphie mengusap-usap matanya, bertanya, “Kalau begitu kegiatanku selanjutnya, ada jadwal apa?”


“…… dalam waktu terdekat ini tidak ada kegiatan yang begitu penting.” Felix dengan rasa sangat terpaksa menjawabnya.


Mendengar jawaban Felix, raut wajah Ralphie berubah menjadi sedih, “Apa yang penting? Apa yang tidak penting? Jadi kamu di sampingku bekerja seperti itu?”


Felix menundukkan kepala dimarahi, tidak berkata apapun.


Lima detik kemudian, Ralphie dengan nada bicara yang dingin berkata, “Laporkan seluruh kegiatanku dalam satu minggu ini! Termasuk yang kamu tolak itu.”


“Baik.” Felix dengan sangat tidak enak hati mulai melaporkan jadwal kegiatan, beberapa hal yang awalnya rapat yang pastinya diseleksi karena sangat menghabiskan waktu dan tidak bermanfaat, didalam salah satunya bahkan ada proyek survey, atau perkumpulan apapun, atau dinas yang keluar kota yang tidak begitu terburu-buru, dan lain-lain. “Direktur Su, semua ini tidak perlu pergi, aku sudah menyuruh Elizabeth langsung seleksi.”


“Pergi, kenapa tidak pergi?” Ralphie langsung mengetuk papan memutuskan untuk pergi. “Ada lagi… mengenai rencana resort, semua ada yang dibutuhkan sudah disiapkan, besok pagi aku sudah harus melihatnya. Beritahu orang bawah, bersiap-siap untuk mulai mempersiapkan proyek ini.”


“Direktur…” Felix langsung terdiam.

__ADS_1


Proyek resort termasuk proyek yang sangat besar dan berat, awalnya selalu berkata tunggu setahun atau 2 tahun lagi baru mulai bergerak, sekarang…


Setelah memberi pelajaran kepada Felix, Ralphie duduk di depan meja kantor yang kosong melompong, dalam hatinya merasa sangat kesal gundah, tidak peduli dia melakukan apapun, sama sekali tidak membuat hatinya tenang.


Merasa tidak nyaman, sangat merasa tidak nyaman, seperti memenuhui seluruh hatinya.


Pada akhirnya Ralphie langsung berdiri, menendang kursi yang di belakangnya, lalu mengambil jaket yang berada di rak baju, lalu meninggalkan kantor.


Felix melihat Ralphie keluar dari kantor, segera menanyainya. “Direktur Su, anda mau kemana?”


Ralphie tidak menjawab, hanya langsung lurus jalan keluar.


Felix langsung memberitahu ke Elizabeth, terburu-buru mengejarnya.


Ralphie lebih cepat, sampai diparkiran Felix baru berhasil mengejarnya, melihat Ralphie yang bersiap untuk naik mobil, Felix sangat cepat berlari kecil mengejarnya. “Direktur Su, saya bantu anda setir mobil ya.”


Ralphie dengan kepala yang menyamping melihat dia sekilas, lalu melempar kunci kepadanya.


Felix menerima kunci, seolah secara baik, membuka pintu mobil untuk Ralphie, lalu dia sendiri naik mobil, mulai menyalakan mobil.


“Direktur Su, anda ingin pergi kemana?” Felix sambil meninggalkan parkir, sambil bertanya.


Ralphie sangat dingin menjawab, “PT. Antarts.”


Felix melihat melalui spion kaca belakang melihat sekilas Ralphie, lalu langsung memutar mobil, ke arah PT. Antars.


Ralphie tidak masuk ke PT. Antars, hanya menyuruh Felix memberhentikan mobil di tepi jalan tepat di depan PT. Antars, lalu duduk di dalam mobil, melihat pintu utama PT. Antars melamun, melihat sangat-sangat lama, Ralphie baru berkata, “Pergi ke danau Shady.”


“Baik.” Felix menganggukkan kepalanya, menyalakan mobil, lurus ke arah danau Shady.


Kira-kira berjalan puluhan menit, Felix sambil melihat kaca spion, sambil berkata, ” Direktur Su, mobil Jetta itu terus mengikuti kita, dari kantor sampai ke PT. Antars, sekarang masih mengikuti kita.”


Ralphie melihat sekilas Felix sekilas, lalu menjawab dengan datar, “Pergi ke daerah sekitar distrik.”


Felix sudah lama bersama Ralphie begitu lama, tentu saja mengerti bahwa Ralphie ingin mendapatkan penguntit itu.


Dia dengan tenang menyetir mobil, berpura-pura seolah tidak tahu dibelakang ada mobil yang mengikuti, menyetir ke daerah sekitar distrik.


Mobil Jetta itu, dari awal sampai akhir terus mengikuti dengan jarak yang tidak begitu dekat ataupun jauh, menjaga jarak 200 meter.

__ADS_1


Kira-kira setengah menyetir ke arah daerah distrik terdekat, Felix berpura-pura seolah mobil rusak, lalu pelan-pelan berhenti di tepi jalan, orang juga pergi menghampiri, sambil mengenggam ponsel, di jalan sambil menyipitkan mata melihat.


Orang yang di mobil Jetta, melihat orang yang diikuti mobilnya rusak di jalan, langsung memutuskan untuk tidak membuntutinya, lalu menaruh kameranya ke kursi di sebelah kursi supir, lalu lurus berjalan pergi.


Sedangkan saat mobil hampir mendekati Felix, dia justru langsung tiba-tiba menjulurkan tangan untuk menahannya.


Demi agar orang tersebut tidak curiga, lalu dia memberhentikan mobilnya.


Felix dengan wajahnya menciut berkata, “Permisi, bro mobilku rusak, lalu teleponku juga sudah tidak ada baterai tidak dapat memanggil taksi, boleh tidak menumpang ditempat kalian?”


Orang dalam mobil tidak berpikir lagi, langsung menggelengkan kepala menolak, “Mohon maaf, aku tidak searah.”


“Bro, jangan begitulah, jika saya berikan kamu uang bagaimana?” Felix dari tasnya mengeluarkan setumpuk uang keluar.


“Aku tidak searah, kalian cari mobil yang lain saja.” Orang yang dalam mobil sekali lagi menolak.


“Teman, di sini tidak ada mobil yang lewat, kamu lihat sudah begitu lama, juga hanya kamu saja satu mobil.” Felix terhenti sejenak, lalu terus berkata, “Kalau begitu, saya pinjam ponselmu, saya telepon taksi.”


Orang dalam melihat Felix, sepertinya sedang memeriksa sesuatu.


Lewat beberapa detik, dia menganggukkan kepala, mengeluarkan ponsel lalu diberikannya ke Felix melewati jendela mobil.


“Terima kasih bro…” Felix sambil berterima kasih, sambil menjulurkan tangan menerima pinjaman ponsel, tangannya dia tiba-tiba berputar, langsung menggenggam pergelangan tangannya, langsung setengah tangan orang itu ditarik keluar, membiarkan orang itu tertahan di dalam jendela mobil, tidak bisa bertolak.


“Kamu… ngapain?” Orang yang di dalam panik, memberontak.


Felix tersenyum menyipit menjawab, “Bukan aku yang ngapain, hanya ingin bertanya kamu ingin ngapain?”


Orang itu mendengar kata Felix dengan panik berkata, “Aku… aku tidak ingin ngapain-ngapain.”


“Kamu yakin?” Felix tersenyum secara sopan, jika orang yang tidak tahu, akan mengira dia sedang membahas kerja sama dengan seseorang.


Orang itu menggertakkan gigi berkata, “Yakin.”


Kata terakhir ‘kin’ terakhir selesai bersamaan bunyi jepretan suara, orang langsung berteriak keras kesakitan meringis.


Ternyata tangan orang itu yang ditarik setengah keluar dari jendela mobil dipatahkan oleh Felix.


Orang itu sambil berteriak kesakitan sambil berkata, “Aku bilang… aku bilang…”

__ADS_1


“Siapa yang menyuruh kamu untuk membuntuti kami?” Felix dengan sangat bertanya.


Badan orang itu gemetar sejenak, lalu menelan ludah menjawab, “Baik… Flora yang menyuruhku… dia menyuruh aku untuk membuntuti Tuan Su dan… Serena.”


__ADS_2