
Hello! Im an artic!
Saat Serena pulang ke villa sudah jam 11 malam.
Awalnya ia pikir semua orang sudah tidur, tetapi tidak disangka saat mobil menuju ke halaman, pintu villa sudah terbuka.
Hello! Im an artic!
Orang yang datang untuk membuka pintu bukanlah pelayan, tetapi Ralphie, Ralphie yang terlihat muram?
Ralphie yang selalu terlihat dingin, bagaimana mungkin muram?
Serena berkedip, dan ketika ia menatapnya lagi, wajah Ralphie masih tetap sedingin dulu.
Apakah itu benar-benar ilusinya saja? Hatinya penuh dengan keraguan.
Hello! Im an artic!
“Di luar dingin, masuk.” kata Ralphie lalu ia berbalik dan masuk ke rumah.
Serena cuma menjawab ‘Ya’, dan ikut berjalan masuk, “Sudah begitu malam, kenapa kamu …”
Belum selesai berbicara, Serena tiba-tiba menyadari bahwa Ralphie tidak tidur karena sedang menunggunya.
Kalau bukan karena menunggunya, bagaimana mungkin ia bisa datang dan membukakan pintu? Jelas-jelas jam segini ia seharusnya sudah tidur.
Setelah mendengar perkataan Serena, Ralphie berhenti dan menatapnya, “Hah?”
Serena tidak berbicara dan langsung memeluk Ralphie.
Ralphie menjadi tegang, ia menelan ludah selema beberapa kali dan bertanya, “Ada apa?”
Serena menjawab “Maaf, aku pulang begitu malam.”
Muka muram Ralphie pun menghilang begitu saja setelah mendengar kata maaf dari Serena.
Ia menjawab dengan lembut “Tidak apa-apa.”
Serena mengangguk, dan kemudian ia baru ingat bahwa dia baru saja menyadari bahwa Ralphie sedang menunggunya, jadi ia dengan antusias memeluk Ralphie. Setelah itu ia segera mundur dua langkah dan melepaskan pelukkannya.
Ralphie sedih melihat Serena mundur, ia menyesal mengapa tidak memeluk Serena barusan.
Ia Mengigit bibir dan bertanya “Kamu belum minum obat maag kan?”
Serena awalnya sudah melupakan masalah obat lambungnya. Mendengar perkataan Ralphie ia baru ingat bahwa dia tidak membelinya. Dia menjulurkan lidahnya dan berkata “Tidak, aku lupa membelinya.”
Ralphie mengangkat tangannya dan mengelus rambut Serena sambil menjawab, “Aku sudah membelikannya untukmu, tetapi Dokter Chen bilang bahwa obat lambung tidak boleh sembarangan diminum. Dia akan datang besok malam untuk memeriksamu, setelah pemeriksaan baru dia akan memberitahu obat apa yang harus diminum. ”
Awalnya Serena ingin mengatakan bahwa tidak perlu merepotkan Dokter Chen, tetapi setelah melihat kekhawatiran Ralphie, dia hanya bisa nurut dan mengangguk “Baiklah.”
__ADS_1
Pada jam sebelas keesokan harinya, Serena menerima telepon dari Bibi Bella saat ia hendak pergi ke kantin perusahaan untuk makan siang.
“Serena, aku khusus membuatkan sarang burung ini dan membawanya untukmu. Kamu turun sebentar untuk mengambilnya.”
Serena terbengong sejenak lalu menolak: “Bibi, ini kamu simpan untuk dirimu sendiri saja.”
Bibi Bella membujuk di telepon: “Serena, Bibi tahu kamu tidak kekurangan apa pun di rumah Su, tetapi sarang burung ini adalah sedikit maksud dari Bibi. kamu tidak memiliki selera makan belakangan ini, makan sarang burung sebagai suplemen.”
Serena mendengar bujukan dari Bibi Bella dan tidak enak untuk menolak, dan juga ia telah menggantarkannya “Oke, terima kasih Bibi.”
“Dasar, kita kan keluarga buat apa berterima kasih? Jaga dirimu baik-baik, ingat untuk memakan sarang burungnya.”
“Aku akan memakannya” Serena dan Bibi Bella berbincang sebentar sebelum menutup telepon dan turun.
Saat turun, Serena melihat sekeliling, ia mencari orang yang Bibi Bella atur untuk mengantarkan sarang burungnya.
Ia melirik sekeliling dan tidak menemukannya, Ketika ia ingin menelpon Bibi Bella, ada seorang pria berbaju hitam datang dengan termos.
“Nona, Nyonya memerintahkan aku datang untuk mengantarkanmu sarang burung.”
Serena memandanginya, ternyata orang asing, tetapi membuatnya merasa akrab dan ia pun bertanya “Apakah kamu dari keluarga Luo? Kenapa aku tidak pernah melihatmu?”
Ia pun terdiam dan menjawab “Saya supir baru di keluarga Luo.”
Serena tidak banyak pikir dan mengangguk ‘oh’, lalu mengulurkan tangan untuk mengambil termos lalu berbalik masuk ke perusahaan.
Setelah melihat Serena masuk ke kantor, pria berbaju hitam itu mengeluarkan hpnya.
Meskipun Bibi Bella berulang kali menekankan Serena harus ingat untuk memakan sarang burungnya, tapi Serena malah tidak memiliki selera makan, dan tidak ingin pergi ke kantin untuk makan siang, jadi dia mencari tempat yang tidak ada orang dan membuka termosnya.
Sarang burung putih yang terisi penuh dengan botol.
Serena mencicipinya dan rasanya enak, terasa lembut dan halus juga sedikit asam, yang membuat nafsu makannya tumbuh dan membuatnya minum dengan puas.
Setelah memakan sarang burung itu, Serena pergi ke ruang teh untuk membilas termosnya, dan kemudian kembali ke kelas pelatihan khususnya.
Selama kelas, Serena merasakan sakit di perut bagian bawahnya, sangat mirip dengan menstruasi.
Ya, Serena menderita dismenore sejak kecil, dan dismenore yang sangat parah.
Tiap kali ia beristirahat dan menahannya.
Oleh karena itu, Serena juga pergi meminta izin kepada Kak Karina hari ini.
Setelah keluar dari perusahaan, Serena pergi ke supermarket terdekat untuk membeli pembalut, kemudian ia memangil taksi dan kembali ke vila.
Serena memasuki villa dengan wajahnya yang sangat pucat sehingga membuat pelayan terkejut.
“Nyonya muda, ada apa denganmu?”
__ADS_1
Serena menjawab “Dismenore.”
“Bagaimana bisa separah ini? Aku akan memberi tahu tuan muda.” kata pelayan sambil pergi menelpon Ralphie .
Serena segera menghentikannya, “Jangan, aku baik-baik saja, aku berbaring di tempat tidur pasti akan baik-baik saja.”
“Nyonya muda …” masih ada yang ingin dikatakan pelayan, Serena lanjut berkata: “Dia sangat sibuk, jangan ganggu dia.”
Pelayan mengangguk dan kemudian bertanya “kalau begitu aku bikinkan gula merah untuk Nyonya minum?”
Serena mengucapkan ‘Oke’ dan naik ke atas.
Ketika Serena kembali ke kamar, ia langsung berbaring di tempat tidur.
Setelah berbaring, rasa sakit di perut bagian bawah tidak berkurang, tetapi malah semakin parah.
“Apakah dismenore menjadi semakin parah?” Serena menyipitkan matanya dan menghela nafas.
Setelah beberapa menit, pelayan membawakannya secangkir air gula merah yang masih panas.
Setelah Serena minum, ia merasa perut bagian bawahnya sedikit lebih nyaman, dan ia menutup matanya dengan pelan …
Ralphie merasa gelisah sore ini.
Saat melihat dokumen, tidak ada sepatah kata pun yang masuk ke otaknya.
Selama pertemuan, ia merasa gelisah.
Kelopak mata kiri melonjak seolah-olah telah terjadi sesuatu.
Ralphie sangat pusing sehingga ia melemparkan pekerjaannya kepada Felix dan meninggalkan perusahaan dengan mobil.
Setelah keluar dari perusahaan, ia mengemudi tanpa tujuan. Pertama ia pergi ke Keluarga Su. Setelah melihat bahwa wajah kakek Su tampak cerah, dan tidak ada yang buruk, lalu ia pergi ke PT. Antarts .
Ia memarkir mobil di seberang jalan PT. Antarts, dan menelpon Serena, tetapi Ralphie menelpon nomornya beberapa kali, dan tidak ada yang menjawab.
Ralphie tiba-tiba merasa gelisah, ia segera menelepon dan meminta Felix untuk mencari tahu apa yang sedang dilakukan Serena kepada Elliot.
Lebih dari sepuluh menit Ralphie menunggu telepon dari Felix, ia merasa seperti telah menghabiskan satu abad.
Akhirnya Felix menelponnya, ia diberitahu bahwa Serena tidak enak badan sore ini, dan meminta izin untuk pulang.
Tidak enak badan … detak jantung Ralphie semakin cepat tanpa alasan, hampir membuatnya sesak nafas.
Ia menutupi hatinya dengan satu tangan dan menelepon pulang ke vila dengan satu tangan.
Setelah panggilan tersambung, Ralphie bertanya dengan cemas tanpa menunggu ada yang berbicara, “Apakah Serena baik-baik saja?”
Pelayan tidak berani bersembunyikannya dari Ralphie, dan berkata dengan jujur : “Tuan, Nyonya dismenore, ia sedang berbaring di tempat tidur.”
__ADS_1
Setelah mendengar pelayan berkata bahwa hanya dismenore, Ralphie menghela nafas lega dan berkata, “Aku akan segera kembali.” Kemudian dia menutup telepon.