I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 19 Ralphie Meminta Serena Tinggal


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Mendengar Ralphie berkata iya, lagi-lagi rasa sakit menyerang hati Serena. Dia menggigit bibir dengan kuat, dengan nada redam dia berkata dengan cepat: “Sampai jumpa!” Kemudian berbalik dan akan segera pergi.


Hanya saja Serena baru melangkah 2 langkah, tiba-tiba Ralphie menghampirinya dan menjulurkan tangan, dengan cepat dan akurat mendapatkan lengan tangannya yang putih, dan menghentikan langkah kakinya.


Hello! Im an artic!


Tangan Ralphie tidak dingin seperti penampilannya, tangannya sangat kering dan hangat, Serena merasakan badannya bergetar, kemudian menunduk melihat tangan yang masih ditahan oleh Ralphie.


Serena merapatkan bibir, berbalik badan dan melihat Ralphie, kemudian langsung bertanya: “Ada apa?”


Ralphie perlahan membalikkan badan, pandangan matanya yang tenang tertuju pada badan Serena, “Masuk dan duduklah sebentar.”


Tanpa menunggu jawaban Serena, Ralphie menarik kembali tangannya dan berbalik, kemudian berjalan hingga ke pintu utama villa, kemudian menekan nomor pada kunci di samping pintu.


Hello! Im an artic!


Saat pintu dibuka, Ralphie langsung melangkahkah kaki masuk ke daam.


Serena terbengong sejenak, kemudian baru mengikuti jejak kaki Ralphie


Saat Serena masuk, Ralphie duduk di sofa sambil bersandar, dengan perlahan dia mengangkat alisnya dan kelihatan jelas rasa capek itu.


Serena meringankan langkah kakinya, tidak ingin menganggu Ralphie. Tetapi tidak berhasil, Ralphie membuka matanya yang hitam dan melihat ke arahnya, pandangan matanya terhenti sejenak, kemudian menunjuk sofa di samping Serena dan memberi petunjuk memintanya duduk.


Serena terbengong, dia pun berjalan menghampiri sofa itu.


“Ingin minum apa?” Ralphie berdiri dari duduknya dan bertanya.


Serena dengan segera berdiri dan mencegatnya, “Tidak, tidak perlu.”


Tangannya dilapisi sebuah tangan yang lembut dan peka, membuat Ralphie terbengong beberapa saat.


Serena hanya diam dan melihatnya, selama beberapa detik, dan kemudian baru sadar dia masih mencegat tangan Ralphie.


Wajahnya memerah, dan dengan segera dia menarik kembali tangannya.

__ADS_1


Ralphie pun menggenggam tangan itu pelan-pelan, kemudian memasukkan tangan sendiri ke saku celana dan kembali ambil posisi duduk.


Serena tahu Ralphie memang pendiam, selama masa pendekatan mereka, Ralphie sangat jarang memulai sebuah pembicaraan, dan lebih banyak diam tanpa berkata-kata.


Serena sudah terbiasa dengan diri Ralphie seperti itu, tetapi tidak mungkin terus membiarkan komunikasi mereka berdua kurang.


Suasana ini terasa sedikit bikin canggung…


Setelah berdiam diri beberapa saat, Serena berkata, “Kamu tinggal sendiri?”


“Iya. ” Ralphie menganggukkan kepala dengan pelan.


Selain Ibu yang membantu menyapu disana, dalam villa itu sungguh hanya dia sendiri, karena dia tidak suka ada orang asing dalam rumahnya, juga tidak tahan jika ada orang luar disana.


Dari awal Ralphie tidak berencana mengajak Serena masuk ke dalam villa, tetapi saat melihat Serena pergi, dalam hatinya terasa sedikit tidak rela…


Makanya Ralphie dengan cepat mencegatnya dan memintanya tetap tinggal.


Saat memasuki pintu rumah, Ralphie merasa kesal dengan kecerobohannya sendiri, saat ini melihat Serena duduk di samping, entah mengapa, dia sama sekali tidak merasa kesal, dan rasa ini sungguh enak di hati.


Ekspresi Ralphie terkejut, lanjut berkata: “Bukan, pekerjaan di Negara M sudah diselesaikan dengan awal, jadi bisa pulang awal.”


Felix yang sedang sibuk-sibuknya di Negara M terlihat marah, Direktur Ralphie, Apakah menurut kamu sungguh baik? Pekerjaan ini biar saya yang lanjutkan, saya yang lanjutkan!!


“Oh.” Serena mengganggukkan kepala dan berkata dengan tenang, “Baguslah kalau begitu.”


Ralphie menjawah “Iya”, kemudian lanjut: “Katakan saja”.


Selanjutnya mereka berdua berbincang mengenai keseharian lagi, hingga pada saat hanphone Serena berdering, barulah semuanya diputuskan.


Serena tersenyum dengan isyarat minta maaf kepalada Ralphie, kemudian mengeluarkan handphonenya.


Itu ada telepon dari teman kuliahnya, tujuan telpon adalah mengundang Serena menghadiri acara pernikahannya.


Teman kuliah yang satu ini sungguh baik, hubungannya dengan Serena pun lumayan baik.


“Rena, kamu harus datang ya.”

__ADS_1


Serena tertawa dengan datar: “Jika kamu yang menikah, saya pasti pergi kok.”


“Baguslah kalau begitu, teman-teman yang lain pasti datang, dan semuanya sudah berjanji, harus membawa pacar sendiri, kamu juga ingat ya.”


Serena tercengang, berkata: “Saya kan tidak punya pacar, bagaimana membawanya?”


Selesai berkata, Serena merasakan sebuah pandangan tertuju pada dirinya.


Dia mengangkat kepala dan yang terlihat adalah pandangan dingin Ralphie tertuju kepadanya.


Wajahnya merasa malu dan seketika menjadi sangat merah.


Untung saja tatapan Ralphie hanya berlangsung beberapa detik dan kemudian di alihkan. Jika tidak, Serena sungguh merasa tidak kuat melanjutkan pembicaraan di telepon itu.


“Tidak peduli, semua orang harus membawanya, kamu harus ingat ya, saya masih harus memberitahu yang lain, saya tutup dulu ya, bye…”


“Kalau begitu besok lusa saya pergi…..” Serena seperti masih ingin mengatakan sesuatu, malah menyadari telepon itu sudah ditutup.


Tak berdaya, dia meletakkan ponselnya, menoleh dan saling menatap dengan Ralphie lagi.


Memikirkan kalimat “Saya tidak punya pacar, bagaimana membawanya” yang dia ucapkan barusan, Serena tidak kuat menahan dan wajahnya seperti terbakar.


Dengan canggung dia berdiri, dan berkata kepada Ralphie: “Waktu sudah malam, saya pulang dulu.”


Ralphie hanya mengangguk, ikut berdiri dan berkata, “Saya antar kamu.”


“Tidak, tidak perlu.” Serena menggelengkan kepala dengan cepat, “Itu.. kamu sudah capek, istirahat saja yang cukup….”


Ralphie tidak berkata apapun, langsung berjalan lurus ke pintu utama.


Serena mengejar dan mencegatnya, “Sungguh tidak perlu kamu antar, bolak balik saja sudah memakan waktu 2 jam, nanti akan membuat saya semakin cemas….” Berbicara sampai disini, Serena berhenti sejenak, dan lanjut berkata: “Saya naik taksi saja.”


Tanpa menunggu Ralphie menjawab, Serena menambahkan dengan panik, “Saya akan memberitahu kamu kalau sudah sampai di rumah”, setelah itu dengan cepat dia keluar dari villa.


Ralphie menatap bayangan Serena yang buru-buru, bibirnya terlihat sedikit terangkat.


Tadi dia bilang cemas? Cemas dengan dirinya?

__ADS_1


__ADS_2