I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 181 Menjaganya Dirumah Sakit


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Karena Ralphie sudah menyusun rencana yang matang, jadi malam itu juga Felix pergi ke hotel yang ditinggali Serena, saat ini Serena berada di kamarnya.


“Nyonya, malam itu apakah anda pergi keluar?” Felix melihat raut muka Serena yang kurang baik dan bertanya.


Hello! Im an artic!


Mata Serena berkedip-kedip dan kemudian kembali bertanya, “Iya, pergi mengurus sesuatu, apa kamu kebetulan mencariku?”


Felix terdiam, kemudian menjawab, “Iya saya datang mencari nyonya.”


“Ooo.” Serena menganggukan kepalanya bertanya, “Ada masalah apa memangnya?”


Felix tentunya tidak dapat memberitahu Serena kejadian sebenarnya, bahwa dia saat itu mencari Serena untuk membawanya pergi melihat Ralphie, dia hanya berkata: “Saya hanya datang untuk menyampaikan bahwa saya besok akan memerintahkan seseorang untuk mengantar nyonya kembali ke Royal Club.”


Hello! Im an artic!


Mengantarnya kembali ke Royal Club? Serena dengan kaget mengangkat kepalanya menatap Felix yang kemudian segera menolaknya, “Ralphie masih dirawat di rumah sakit, aku nggak mungkin kembali ke Royal Club.”


Felix menatap sekilas Serena, kemudian ragu-ragu menjawab, “Direktur besok keluar dari rumah sakit.”


Mendengar Felix berkata bahwa Ralphie besok sudah keluar dari rumah sakit, Serena dengan kaget bertanya, “Besok keluar dari rumah sakit? Dia baru selesai menjalani operasi, bagaimana bisa keluar dari rumah sakit? Apakah dokter mengizinkan?”


“Bukan, Direktur sendiri yang ingin keluar dari rumah sakit.” Felix menjawab dengan tak berdaya.


Mendengar perkataan Felix, ekspresi wajah Serena seketika berubah suram, “Tidak boleh, dia tidak boleh keluar dari rumah sakit.”


“Tetapi nyonya, jika Direktur sudah memutuskan, tidak ada seorang pun yang dapat merubahnya.” Sesuatu yang sudah diputuskan oleh Direktur, entah bagaimanapun juga tidak ada yang bisa mengubahnya! Felix menghela napas dalam hatinya.


“Aku yang akan berbicara dengannya.” Serena berkata sambil melangkah pergi.


Kalau nyonya sudah turun tangan, Direktur pasti akan tetap tinggal dirumah sakit.


Felix merasa sangat senang dengan keputusannya hari ini untuk berkunjung ke tempat Serena.


Didalam kamar pasien, karena luka di puggungnya yang terasa sangat sakit, Ralphie tidak bisa berbaring, hanya bisa duduk bersandar diatas tempat tidur.

__ADS_1


Kemudian dari arah pintu terdengar suara, Ralphie mengangkat pandangannya, dan melihat ekspresi tidak mengenakan dari wajah Serena yang sedang membuka pintu kamar.


Bagaimana dia bisa datang?


Pandangan mata Ralphie mengisyaratkan suatu tanda tanya, pandangan matanya mengarah pada Felix yang berada di belakang Serena.


Felix mengerutkan matanya merasa sedikit bersalah, tidak berani menatap langsung mata Direkturnya itu.


Apa Felix yang memintanya datang kemari? Hal ini sempat terbesit dalam pikiran Ralphie, Serena dengan langkah cepat berjalan mendekati Ralphie.


“Dengar-dengar kamu akan keluar dari rumah sakit?”


Ralphie dengan tatapan yang tajam menatap Felix, lalu melihat Serena menggangguk dan berkata, “Iya.”


“Tidak boleh, kamu tidak boleh keluar dari rumah sakit.” Serena berkata dengan lantang.


“Aku sudah tidak apa-apa…” Ralphie belum menyelesaikan kalimatnya, Serena langsung menyela, “Sudah tidak apa-apa juga tidak boleh keluar dari rumah sakit.”


Ralphie tidak menjawab perkataan Serena lagi, hanya menghela napas dan berkata pada Felix yang berdiri disamping pintu, “Kamu kenapa semalam ini masih memanggilnya kemari? dan kenapa masih tidak mengantarnya pulang?”


Ralphie dengan galaknya menatap Felix, ketika akan menyuruh dia untuk segera mengantar Serena kembali, tiba-tiba Serena berjalan mendekati Ralphie, dan berkata: “Aku tidak akan kembali, aku tidak akan kemana-mana sampai dokter memperbolehkan kamu pulang.”


Felix yang berdiri didepan pintu pun sorot matanya bergetar kagum, tidak disangka ada yang berani menentang Direktur keluarga Su, orang itu tidak lain adalah Serena.


Ralphie seketika terdiam dan tidak menyangka Serena akan berkata seperti ini.


Tidak lama kemudian dia baru kembali bereaksi, “Tidak bisa.”


“Tidak ada sesuatu yang tidak bisa.” Serena menyaut kemudian membalikan badan dan berkata kepada Felix: “Felix, tolong siapkan satu kasur, mulai hari ini aku akan tinggal disini.”


“Baik, nyonya.” Felix mengangguk dan bergegas pergi keluar untuk menyiapkan apa yang diperintahkan Serena.


“Felix…” Ralphie yang berniat menghentikan Felix pun tidak mampu berbuat apa-apa, dan kemudian Serena mulai menjelaskan.


“Felix pergilah, jika membutuhkan sesuatu, kamu bisa menyuruhku sebagai gantinya.” Serena dengan mengedip-ngedipkan bulu matanya seakan tidak bersalah.


Melihatnya membuat jantung Ralphie berdegup tak beraturan, dengan segera mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


Serena yang mendapati Ralphie mengalihkan pandangannya langsung menarik kursi ke samping ranjang Ralphie dan segera duduk.


Kedua orang ini, yang satunya diatas ranjang pasien, satunya lagi terduduk di kursi, terdiam tanpa sepatah katapun.


Entah sudah berlalu berapa lama, dari luar terdengar suara seseorang mengetuk pintu.


Serena bangun dari kursinya dan pergi melihat, semenit kemudian dia kembali dengan membawa selimut tebal.


Serena menaruh selimut itu di atas sofa, kemudian berjalan ke arah Ralphie, dan ingin berdiskusi dan bertanya dengan lembut, “Sudah malam, mau aku siapkan air buat cuci muka dan sikat gigi?”


Ralphie dengan tidak tega berteriak kepada Serena, “Buruan panggil Felix kembali kesini.”


“Felix sudah kembali kerumah.” Serena dengan lantang menjawab.


Serena sudah memutuskan akan tinggal di ruang pasien bersamanya, Ralphie menghela nafas berkata: “Aku tidak akan keluar rumah sakit, kamu lebih baik kembali ke hotel, dan segera panggil Felix kemari.”


“Aku yang akan menjagamu.” Serena menatap mata Ralphie menjawab dengan tegas.


Terkejut dengan tatapan Serena, Ralphie entah kenapa langsung berkata “Oke” dengan nada lembut yang dari tadi tidak ditunjukannya.


Serena yang menyadari bahwa dia mengiyakan, alis matanya mengembang dan tersenyum, kemudian menuju kamar mandi mengambil sebaskom air untuk Ralphie cuci muka dan sikat gigi.


Setelah Ralphie cuci muka dan sikat gigi, Serena membantu Ralphie berbaring, mematikan lampu dan duduk disamping ranjang Ralphie.


Melihat perlakuan Serena, Ralphie mengerutkan alis berkata: “Kamu tidurlah.”


“Aku belum ngantuk, masih mau main hp, kamu tidur dulu saja.” Serena menjawab sambil mengeluarkan hp dari kantong.


Ujung bibir ralphie bergetar seakan ingin mengatakan sesuatu, tetapi malah dia tidak berkata apapun, kemudian pelan-pelan menutup matanya.


Serena duduk di kursi samping ranjang Ralphie selama sejam lebih, kemudian beranjak ke sofa untuk istirahat.


Hari ini banyak sekali hal yang terjadi, sangat menguras tenaga dan pikiran, tidak heran, begitu berbaring di sofa, Serena bisa terlelap begitu saja.


Serena tidak mengetahui bahwa tidak lama setelah dia tertidur, Ralphie yang pada dasarnya sudah tertidur kembali membuka matanya.


Lampu kamar yang redup membuat mata gelap Ralphie terlihat bersinar.

__ADS_1


__ADS_2