
Hello! Im an artic!
Mendengar Ralphie yang mengusirnya seperti ini, Kakek Su juga tidak marah, ia hanya menjerit bodyguarnya dan bertanya: “Theo, sekarang sudah jam berapa?”
“Kakek, sekarang sudah waktunya makan siang.” Theo menjawab.
Hello! Im an artic!
Kakek Su melihat ke bawah sebentar lalu mengangkat kepalanya dan berkata, “Kalau begitu kita makan siang bersama saja.”
“Tidak ada waktu.” Ralphie menjawabnya dengan tatapan yang sinis.
Kakek Su memberengi Ralphie lalu berkata: “Tidak ada waktu temenin aku makan? Emangnya kamu mau menemani orang lain?”
Seiring dengan pertanyaan yang dilontarkan Kakek Su, Ralphie melihatnya.
Hello! Im an artic!
“Kalau Kakek tidak ada kerjaan, kakek boleh pergi ke bagian pusat sana.” Nada bicaranya lumayan dingin dan sedikit mengancam.
Ini sama dengan mengancamnya! Benar-benar di ancam oleh cucunya! Kakek yang tampak menyedihkan pun menerima ancaman dari cucunya, ia juga tahu kalau ia benar-benar mempersulit cucunya ini, mungkin ia benar-benar akan menyuruhnya ke daerah pusat.
Tidak boleh banyak berbicara lagi, kalau beribcara lagi sudah melebihi batas.
Kakek pun mengalihkan topik, “Kemarin malam ada masalah apa, sampai-sampai kamu begitu gegabah dan menggunakan kekuatan keluarga Su?”
Akhirnya Kakek pun bertanya langsung ke topik permasalahan! Ralphie mengangkat kepalanya dan melihat kakeknya lalu dengan tenang mejawab, “Kalau kakek ingin tahu, kakek boleh mencarinya sendiri.”
Mencarinya sendiri? Dia bisa mencarinya? Kalau mencarinya bukannya ia akan dipindahkan ke daerah pusat? Kakek memonyongkan mulutnya lalu menjawab, “Aku tidak tertarik, cuman sekalian tanya saja.”
Ralphie melihat ke arah Kakek sebentar dan tidak mengatakan apa-apa.
Kakek pun merasa sedikit canggung lalu berkata: “Kakek jalan dulu.”
Ralphie manjawab ‘iya’ lalu berjalan mundur dua langkah.
Dia pun menunggu sampai mobil kakeknya tidak kelihatan lagi baru ia masuk ke dalam rumah.
Ketika ia baru masuk, ia sudah mendengar Serena yang sedang di dapur.
“Buahnya mau dimasukin ke dalam kulkas tidak?”
“Makanan kaleng ini mau disusun ke lemari makanan tidak?”
…………
__ADS_1
Ralphie langsung menjawabnya: “Biar aku saja.”
“Maaf, aku membuatnya berantakan.” Melihat barang belanjaan mereka yang berserakan, wajah Serena pun memerah dan sambil meminta maaf ia pun berjalan mundur.
“Tidak apa-apa.” Ralphie menggelengkan kepalanya lalu membereskan barang yang ada dimeja itu.
Setelah selesai membereskannyam Ralphie langsung mulai memasak. Walaupun Serena bermaskut untuk membantu, tetapi tenaga yang ia miliki tidak cukup.
Setelah ia membantu Ralphie mencuci piring, ia melihat Ralphie yang memasak dengan sangat mahir dan ia pun berbicara beberapa kata dengannya.
Ralphie juga tidak menyuruhnya pergi, dua orang itu sambil memasak smabil berbincang-bincang, kelihatannya sangat harmonis.
Setelah selesai makan siang, Ralphie pergi ke lantai dua untuk mengangkat teleponnya.
Serena pun duduk dan menonton televisi, setelah melihat beberapa saat, ia pun tertidur di atas sofa.
Ketika Ralphie turun ke bawah, ia melihat Serena yang sudah tertidur diatas sofa, lalu ia pun mengerutkan keningnya dan mengambilkan sebuah selimut dan menyelimutinya.
Ternyata ketika ia menyelimutinya, Serena pun terbangun.
“Kamu sudah selesai?” Serena melihat kearah Ralphie dan bertanya kepadanya.
Ralphie menunduukkan kepalanya dan melihat Serena yang setengah tertidur setengah terbangun dan mengira bahwa ia sangat lucu.
“Tidak.” Serena menjawab dan menutup matanya lagi.
Ini bukan pertama kalinya Ralphie melihat Serena tertidur, hanya saja tidak tahu kenapa hari ini Serena yang tertidur terlihat begitu menarik.
Sampai ketika ia meraba wajah Serena dan menyadari apa yang sedang ia lakukan, ia baru menyimpan tangannya.
Serena ini pasti sudah tidur sampai malam, jadi akhirnya Ralphie yang membangunkannya.
Hari ini adalah ulang tahun Lacey, Ralphie mau membawa Serena ke acara itu.
Tetapi Ralphie tidak memberitahukannya kalau itu adalah acara ulang tahun Lacey, ia hanya menyuruhnya menemaninya ke sebuah acara.
“Aku boleh menemanimu tidak?” Serena bertanya dengan sedikit ragu-ragu.
“Cuman pergi setor muka saja, tidak ada, bukan sesuatu yang sangat penting.” Ralphie mengambil sebuah dasi dan menjawabnya.
Serena menjawab ‘oh’ lalu melihat kearah Ralphie dan berkata, “Biar aku bantuin kamu pakai dasi.”
Sebenarnya setelah Serena selesai mengatakan kalimat ini, ia pun menyesal.
Biasanya dasi laki-laki itu dipakai sendiri olehnya atau dipakaiankan pacarnya atau istrinya.
__ADS_1
Masih ada satu keadaan, ketika wanita mengenakan dasi kepada seorang laki-laki, itu menandakan ia mengutarakan perasaannya kepada laki-laki itu.
Serena bukan bermasksud untuk mengutarakan cinta, hanya saja ia melihat tangan Ralphie sedikit kaku jadi ia pun membantunya mengenakannya.
Ralphie pun tidak berpikir banyak dan menjawab ‘baik’ lalu memberikan dasi itu kepada Serena.
Karena Ralphie lumayan tinggi, jadi Ralphie harus sedikit menunduk untuk memasangkan dasinya.
Ketika mengenakan dasi itu, jarak kedua orang itu sangat dekat.
Jadi ketika disaat Serena memasangkan dasinya, ia sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya.
Dia menundukkan kepalanya, lalu dengan perlahan-lahan memasangkan dasinya lalu berkata, “Aku pergi ke toiletnya dulu” lalu membalikkan badannya dan pergi.
Pupil matanya yang hitam itu melihat ke arah wanita itu, lalu ia mengerutkan dahinya lalu menundukkan kepalanya dan melihat dasinys, lalu ia membuka dasi itu lagi.
Kedudukan keluarga Shen di kota A sangat tinggi, Lacey sebagai putri keluarga Shen pun merayakan ulang tahunnya dengan sangat meriah.
Ralphie sebenarnya tidak suka hadir di pesta seperti ini, tetapi karena hubungan mereka lumayan dekat, jadi Ralphie pun hadir ke pestanya.
Tetapi ia juga awalnya berencana untuk hadir sebentar saja, pertama karena ia tidak suka berada dikeramaian orang, kedua karena Serena masih belum pulih total.
Acara ulang tahunnya pun diadakan di Peninsula Hotel di kota A, buat Ralphie dan Serena tempat ini punya kenangan yang sangat mendalam.
Ini adalah tempat mereka bertemu pertama kali, dan juga adalah tempat mereka melarikan diri dari pernikahan. Baiklah, hanya saja Ralphie tahu mereka berdua meikah di tempat dan waktu yang sama, tetapi kalau bicara soal Serena, ia masih belum pasti kalau dia adalah pengantin yang mau dinikahkan dengannya.
Melihat banner yang ada didepan, Serena pun terkejut, “Ulang tahun Lacey?”
“Iya.” Ralphie menganggukkan kepalanya.
“Kenapa tidak bilang dari awal? Aku masih belum menyiapkan hadiah apa-apa.” Serena megerutkan keningnya.
Ralphie tidak mengatakan apa-apa, lalu ia langsung menyodorkan tas belanjaan LV waktu itu kepada Serena.
Walaupun Ralphie tidak mengatakan apa-apa, tetapi Serena tahu maksud dari apa yang dilakukan Ralphie.
Tetapi hadiah ini dibeli oleh Ralphie!
Serena pun berkata, “Ini hadiah dari kamu.”
Ralphie tidak mengatakan apa-apa dan langsung mendorong tas itu kedalam pelukan Serena, lalu mengambil sesuatu dari kantongnya dan berjalan masuk ke dalam hotel.
Serena terbengong beberapa saat melihatnya lalu mengejarnya.
Mendengar suara sepatu Serena yang mengejarnya, Ralphie pun tersenyum secara diam-diam.
__ADS_1