
Hello! Im an artic!
Tujuan Flora menghubungin Ralphie adalah untuk merusak hubungannya dengan Serena.
Hello! Im an artic!
Dan kenyataannya hal ini benar-benar berhasil.
Ralphie sedang di tengah perjalanan menuju Clover Plaza saat menerima telepon dari Flora.
Hello! Im an artic!
Mendengar kata-kata Flora yang mengatakan Serena lah yang memberikan nomornya pada Flora dan bahkan Serena memperkenalkannya pada Flora.
Ia melempar ponselnya dengan marah dan mengerem dengan keras tidak peduli ia berada di tengah jalan.
Dengan suara rem yang melengking dari mobil dan jalan, mobil Ralphie berhenti.
Mobil di belakang yang melihat Ralphie mengerem mendadak tidak keburu mengerem dan langsung menabrak.
Pukul 8.30 Serena tiba di Clover Plaza, Claudia sudah di sana menunggunya saat ia berangkat.
“Claudia, apa Kamu menunggu lama?” Serena tersenyum dan bertanya.
Claudia berkata dengan senang: “Demi menemuimu, menunggu lama pun tidak masalah!”
Wajah Serena memerah. Ia pun berkata: “Kamu tidak boleh mengatakan itu saat bertemu dengannya nanti.”
“Oke oke, aku berjanji.” Claudia menjawab sambil tersenyum.
Mereka berdua membicarakan Ralphie hingga pukul 8.45. Ralphie belum juga datang.
“Kenapa belum datang?” Serena melihat ke arah pintu masuk.
Claudia yang ada di sampingnya berkata: “Coba Kamu hubungi dia.”
Serena mengiyakan lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Ralphie. Ponselnya sibuk.
Serena mencoba menghubunginya beberapa nomor namun tetap tidak ada jawaban.
Serena juga mengirimkannya pesan namun tetap tidak ada jawaban.
Ia mengerutkan alisnya, terus menghubunginya namun tidak ada respon.
Melihat ekspresi Serena, Claudia bertanya, “Kenapa?”
“Ng, teleponnya tidak bisa di hubungi, pesan pun tidak di balas.” Serena menjawab sambil mengerutkan alisnya.
Claudia menepuk pundak Serena menenangkannya dan berkata: “Mungkin dia ada urusan, sebentar lagi dia akan datang.”
__ADS_1
“Ng.” Serena mengangguk.
Sudah pukul 8.50, sudah waktunya premier film dan Ralphie tetap tidak datang.
Serena meminta maaf pada Claudia: “Claudia, dia tidak datang dan aku tidak punya tiket jadi tidak bisa menonton premier filmnya.”
“Tak apa, traktir aku makan.” Claudia menjawab sambil tersenyum.
Serena tersenyum dan berkata: “Pasti.”
“Setuju.” Kemudian Claudia berkata: “Pergi sekarang?”
Serena diam lalu berkata: “Claudia, pulanglah duluan, nanti aku menyusul.”
Claudia langsung mengerti maksud Serena, “Kamu ingin menunggunya?”
“Ng, aku ingin menunggunya.” Serena mengangguk.
Claudia mengerutkan keningnya lalu berkata: “Serena, sebaiknya kita pergi dulu. Jika dia sudah tidak sibuk pasti akan menghubungimu.”
Serena menggeleng, “Mungkin ponselnya kehabisan baterai atau hilang sehingga tidak bisa menghubungiku atau mengirim pesan. Lebih baik aku menunggunya di sini.”
Claudia tau dia tidak bisa menasehati Serena. Ia pun menghela nafas dan berkata: “Aku temani Kamu.”
Serena langsung menggeleng, “Tidak, Kamu tidak perlu menemaniku. Aku bisa menunggu sendiri.”
“Apanya yang tidak perlu? Serena, kita teman. Jangan menganggapku orang lain.” Claudia memutar matanya.
“Sudah di bilang kita adalah teman, untuk apa terima kasih?” Claudia menepuk kepala Serena dengan tidak puas.
Serena tersenyum dan berkata pada Claudia: “Aku yang salah, aku tidak akan mengatakannya lagi.”
“Bagus.” Selesai berbicara, Claudia menunjuk bangku panjang yang tidak jauh dan berkata: “Ayo duduk di sana sambil menunggu.”
Serena mengangguk setelah melihat dari sana ia bisa melihat seluruh pintu masuk bioskop dengan jelas.
Setelah duduk di kursi panjang, mereka menunggu Ralphie sambil mengobrol.
Setelah premier selesai, Ralphie belum juga datang.
Serena dan Claudia sudah tidak mengobrol lagi, mereka hanya duduk diam dan menunggu.
Setelah malam semakin larut dan orang yang datang ke bioskop semakin sedikit, Serena memaksakan senyumnya dan meminta maaf pada Claudia sambil menariknya ke taksi.
Setelah kembali, Serena kembali menghubungi Ralphie dan ia tetap tidak bisa di hubungi.
Ia telah lama mengenalnya dan tidak pernah terjadi hal seperti ini.
Dia terus menghubungi nomor Ralphie dengan khawatir, tetap tidak terhubung…
__ADS_1
Keesokan harinya, Serena bangun pagi-pagi sekali.
Ia pergi ke mansion Ralphie dengan taksi untuk mencarinya.
Tapi Ralphie tidak ada di rumah.
Akhirnya ia pergi ke penjaga dan bertanya. Setelah mengetahui Ralphie tidak pulang tadi malam, ia meninggalkan mansion Ralphie.
Pukul 8 pagi Serena sampai di kantor dengan taksi. Ia menunggu di pintu masuk, sambil menelpon Ralphie, ia menunggu Ralphie atau Felix.
Tapi, dia tidak melihat Ralphie ataupun Felix hingga jam masuk kerja.
Ia terus memikirkan Ralphie, bahkan tidak makan siang. Ia pergi mencari Ralphie ke lantai terakhir kali mereka bertemu.
Tapi ia tetap kembali dengan tangan kosong.
Ia kembali ke kantor dan ia kembali menghubungi Ralphie untuk kesekian kalinya.
Masih tetap sibuk…
Ralphie mengerem mendadak sehingga mobil di belakangnya menabrak mobilnya.
Dalam kecepatan normal, Ralphie akan baik-baik saja. Namun kecepatan mobil di belakangnya lumayan cepat menyebabkan Ralphie terluka.
Di kamar VIP di rumah sakit kota A, Ralphie duduk di tempat tidur mendengarkan laporan Felix.
“Presiden Su, berita mengenai kecelakaan sudah di tarik.”
Ralphie berkata ‘Ng’ dengan dingin.
Felix menunduk sedikit dan berkata: “Ayah anda sudah mengetahuinya, ia berkata akan kembali untuk menjenguk anda.”
“Katakan tidak perlu.” Ralphie berkata dengan datar.
“Baik.” Felix mengangguk lalu mengeluarkan ponsel baru dari tas kantornya dan menyerahkannya pada Ralphie, “Presiden Su, ponsel anda rusak. Ini ponsel baru anda.”
Ralphie melihat ponsel yang ada di tangan Felix dan diam untuk waktu yang lama.
Melihat Ralphie tidak menjawab, ia meletakkan ponsel itu di cabinet samping tempat tidur.
Setelah diam beberapa saat, Ralphie bertanya, “Kapan aku bisa keluar dari rumah sakit?”
“Tulang belakang leher anda sedikit terluka dan perlu traction. Dokter mempekirakan akan memakan waktu satu minggu…”
Ralphie memotong omongan Felix, “Segera persiapkan untuk keluar dari rumah sakit.”
“Itu…” Felix ragu-ragu mengenai masalah rubuh Ralphie.
Ralphie berkata dengan dingin: “Bawa Dr.Chen untuk pengobatan.”
__ADS_1
“Baik, aku akan segera mempersiapkannya.” Felix mengangguk kemudian pergi meninggalkan kamar untuk mempersiapkannya.