
Hello! Im an artic!
Ralphie takut Serena tidak senang, jadi ia segera melepaskan tangannya setelah keluar dari teras.
Memandangi tangannya yang kosong, Serena merasa kehilangan.
Hello! Im an artic!
Ia mengenggam erat tangannya sendiri, membayangkan bahwa Ralphie masih mengenggam tangannya, tetapi itu tetap hanyalah khayalan….
Saat mereka keluar satu per satu dari villa, Felix telah menunggu mereka dimobil.
“Direktur Su, Nyonya” Felix menyapa dengan sopan.
Serena merasa canggung mendengar panggilan “Nyonya”. Felix adalah orang Ralphie, ia pasti sangat paham semua tentang Ralphie, tetapi mengapa ia masih memanggil dengan panggilan “Nyonya”?
Hello! Im an artic!
Ralphie melihat perubahan ekspresi wajah Serena, tetapi ia tidak Memperbaiki kesalahan Felix, ia bertanya kepada Felix “Apakah semuanya sudah diatur?”
“Koper nyonya belum diatur” jawab Felix.
Ralphie menoleh kearah Serena “Koper kamu masih di keluarga Luo?”
Setelah Ngeh Serena langsung menjawab, “Koperku ada di rumah yang aku sewa, dan masih ada satu tas lagi di ruang istrahat.”
Ralphie hanya menjawab “oo” dan menoleh ke arah Felix “Kamu pergi bantu dia untuk mengambil tasnya.”
“Baiklah” Felix menganggukkan kepala dan dengan cepat berjalan masuk ke villa.
Ralphie pun berkata “Tunggu saja di dalam mobil”.
“Ohhh” Serena menganggukkan kepala dan ikut masuk kedalam mobil.
Setelah menunggu sekitar 5 menit didalam mobil, Felix membawa tas Serena dan keluar dari Villa.
“Direktur Su, Nyonya, tasnya sudah diambil.”
“Terima kasih.” Serena mengucapkan terima kasih sambil mengulurkan tangan untk mengambil tas, tapi Ralphie lebih cepat, ia mengambil tas dari tangan Felix dan menyerahkannya ke Serena.
Serena mengambil tasnya dan berterima kasih kepada Ralphie, “Terima kasih”.
Pasangan suami istri yang mesra sama sekali tidak memerlukan kata “Terima kasih”, jadi saat Ralphie mendengar ucapan terima kasih dari Serena, ekspresi mukanya langsung berubah.
Serena menyadari perubahan ekspresi Ralphie, ia tahu bahwa dia sedang marah. Serena membuka mulut dan ingin menanyakan dia kenapa, tetapi ia teringat bahwa ia telah memakai status Flora untuk menikah dengannya, mungkin saja sekali ia bicara Ralphie akan tambah marah, jadi ia memilih diam saja.
Karena ia berpikir ia tidak pantas, jadi lebih baik menjaga jarak saja.
__ADS_1
Serena menundukan kepala dan bersandar ke pintu mobil.
Ekspresi Ralphie semakin memburuk melihat Serena bersandar dipintu seakan-akan menjauh darinya
Sehingga membuat dua orang yang mempunyai pikiran masing-masing merasa tidak nyaman selama di perjalanan.
Awalnya Serena mengira mereka akan pergi ke villa Shadewoods manor yang terletak di pusat kota, karena lebih dekat dengan Grup Su. Serena sudah memperhitungkan, disana tidak terlalu jauh dengan toko perhiasan Man Fook tempat ia bekerja, jadi masih termasuk nyaman.
Namun ia tidak menyangka bahwa Felix akan membawa mereka ke Villa asing yang terletak di arah timur.
“Betapa bagusnya kalau di Distrik Shadewoods manor…” Serena berbisik sambil menatapi Villa diluar dari jendela mobil.
Ralphie tidak mendengarnya dengan jelas dan menoleh ke arahnya “Hmm?”
Dia tidak pantas untuk memilih-milih tempat, hanya bisa menggelengkan kepala dan berkata, “Tidak ada apa-apa.”
Ralphie diam saja dan membuka pintu mobil, lalu ia masuk ke villa sendiri tanpa menghiraukan Serena.
Serena yang masih duduk didalam mobil memandangi bayangannya, ia tidak tahu harus ikut turun atau tetap duduk didalam mobil.
Selalu saja Felix yang mengingatkannya, “Nyonya, sudah sampai.”
“Ohhh, terima kasih.” Serena menarik kembali pandangannya.
Felix tertawa sambil menggelengkan kepala, “Nyonya, anda terlalu sungkan.”
Lagi-lagi nyonya… Serena bertanya, “Tuan Zhou, bolehkah kamu tidak memanggilku nyonya?”
Kalau ia berani tidak memanggil Serena dengan panggilan Nyonya, maka ia pasti akan dihabisi oleh Ralphie.
“Tuan Zhou…” Serena baru saja ingin lanjut berbicara, tetapi sudah dipotong oleh Felix.
“Nyonya, silahkan.” Felix masih berkata dengan serius dan mempersilahkannya.
Serena tidak berdaya, hanya bisa mengambil tasnya dan mengikuti Felix untuk masuk ke villa.
Pembantu di Villa melihat Felix masuk dan segera menyapanya, “Tuan Zhou.”
Felix sekilas melirik ke sekeliling ruang tamu dan tidak melihat Ralphie dan bertanya. “Mana Tuan Su?”
“Tuan muda pergi ke ruang buku.” jawab si pembantu.
Felix hanya menjawab “Ohh”, ia menoleh dan menunjuk Serena sambil berkata, “Ini adalah Nyonya muda kita.”
“Nyonya.” sapa si pembantu.
Serena terbengong sejenak lalu menggangukkan kepala, “Ehh, Halo.”
__ADS_1
Felix memandangi Serena dan berkata, “Nyonya, aku harus ke ruang buku, anda…”
“Pergi saja.” Jawab Serena sambil duduk di sofa.
Felix menganggukkan kepala dan berkata dengan si pelayan, “Layani nyonya dengan baik.” lalu ia bergegas ke ruang buku.
Setelah Felix pergi, si pelayan dengan hati-hati menemani Serena menunggu, ia takut Serena merasa tidak puas dengan pelayanannya.
Serena yang tidak terbiasa di tunggui orang memandangi beberapa pelayan yang ada disekitarnya, ia merasa hatinya sangat kacau, ia mengerutkan kening dan berdiri dari sofa.
“Dimana kamarku?”
“Kamar nyonya ada diatas.” jawab si pelayan.
“Kamu bawa aku naik.”
“Baik.”
Si pelayan membawa Serena menuju kamar pertama di lantai 2, ia membuka pintu dan dengan hormat berkata, “Nyonya, ini adalah kamar anda.”
“Ya.” Serena menganggukan kepala dan masuk kedalam kamar.
Si pelayan berdiri di luar pintu dan berkata, “Nyonya, bila ada apa-apa panggil saja saya, saya diluar.”
Serena mengerutkan kening mendengar perkataan si pelayan, “kamu tidak perlu menunggu diluar.”
“Baiklah Nyonya.” si pelayan menganggukan kepala dan dengan perlahan menutup pintu.
Dekorasi kamar sangat sederhana dan mewah, Serena melihat sekeliling dengan sangat puas, lalu mengeluarkan baju dari dalam tas dan masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai mandi, ia mengeluarkan buku gambarnya dan melihat buku sambil bersandar di kasur.
Mungkin karna terlalu lelah, ia tertidur.
Ralphie ke ruang tamu dan tidak melihat Serena.
Ia mengerutkan kening dan bertanya “Dimana nyonya muda?”
“Nyonya muda sudah masuk ke kamar.” jawab si pelayan.
Ralphie hanya menjawab “oo” dan naik keatas.
Ia memasuki kamar dan melihat Serena tertidur, ia bahkan masih memegang buku ditangannya.
Ia mengerutkan keningnya dan dengan perlahan mendekatinya, ia terlebih dulu mengambil buku yang ada ditangan Serena dan meletakkannya dilemari kasur, lalu ia membuka selimut dan dengan lembut ia memakaikan Serena selimut.
Ralphie menatapnya, wajahnya yang lembut, Ia dengan perlahan mengangkat jarinya dan membelai pipi Serena dengan penuh cinta.
__ADS_1
“Serena, apakah kamu tahu aku menyukaimu?”
“Serena, apakah kamu bisa menyukaiku?”