I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 395 Kelahiran Anak Claudia


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Setelah Serena menolak ajakan Elliot, ia tidak lagi tinggal di kantor Karina dan membawa Elizabeth balik ke mobil.


Ralphie sama sekali belum selesai rapat. Setelah Serena dan Elizabeth berbicang, ia merasa lelah dan tertidur di kursi.


Hello! Im an artic!


Elizabeth takut Serena tidak nyaman tidur seperti itu, lalu membantunya untuk mengatur kursinya.


Setelah Serena belum tertidur lama, Ralphie kembali.


“Direktur…” Suara Elizabeth sangat kecil.


Ralphie mengangguk pelan. Pandangan matanya terjatuh pada Serena yang sedang tertidur.


Hello! Im an artic!


Ralphie memandang Serena untuk beberapa detik, lalu menyuruh Elizabeth. “Kamu keluarlah dulu.”


“Baik, Direktur.” Elizabeth mengangguk dan membuka pintu mobil.


Sebelum Elizabeth turun dari mobil, tiba-tiba Ralphie memanggilnya. “Tunggu sebentar.”


Elizabeth berbalik badan.


Ralphie merendahkan suaranya dan berkata, “Atur mundur semua jadwal soreku sampai besok.”


Nyonya tertidur, mungkin Direktur ingin membawa Nyonya pulang. Pandangan mata Elizabeth terjatuh pada Serena yang sedang tertidur. Ia mengangguk. “Baik, Direktur Su.”


Ralphie tidak lagi berbicara. Ia melepaskan jaketnya dan menutup tubuh Serena.


Saat Elizabeth mau menutup pintu mobil, ia memandang kembali kedalam mobil. Ia menemukan Ralphie sedang membenarkan posisi tidur Serena, agar ia bisa tidur lebih baik.


Wajah yang begitu perhatian bagai dunianya itu hanya Serena seorang.


Elizabeth melihat pemandangan ini dalam waktu yang lama, baru menutup pintu mobil.


Hari-hari berlalu, Serena makin suka tidur, sehingga ia jadi jarang keluar rumah.


Dua bulan kemudian, Isa menghubungi mereka untuk sampaikan kalau Claudia melahirkan anak laki-laki.


Setelah mendengar berita ini, Serena tidak tahan, ia ingin segera pergi ke Kyoto untuk menjenguk Claudia dan anaknya.


Ralphie sangat tahu hubungan Serena denga Claudia, jadi ia segera menelpon kantor untuk mengurus semua pekerjaan, lalu membereskan barang dan membawa Serena pergi ke Kyoto.

__ADS_1


Claudia kaget memandang Serena yang muncul dari pintu kamar. “Serena, mengapa kamu datang?”


Ia mengira Ralphie sangat mementingkan Serena, jadi Ralphie tidak akan membiarkan Serena datang dari Kota A ke Kyoto.


Serena tertawa membalas, “Aku datang melihat anak angkatku, tidak boleh?”


“Boleh pastinya. Hanya saja suamimu membiarkanmu datang?” tanya Claudia.


“Ia juga datang kok.” balas Serena langsung.


“Sudah benar tebakanku” Claudia memasang ekspresi kaget. “Pantas. Aku kira ia kasih kamu datang kesini sendirian.”


Serena membalaikan matanya dan berkata, “Kalau kamu tidak menyambutku, kalau begitu aku pulang saja.”


“Aku sangat menyambut kok.” ucap Claudia buru-buru.


Serena mencibir, “Aku membeli beberapa barang untuk anak angkatku, besok akan di kirim kesini.”


“Kamu beli apa saja? Sampai harus di kirim?” tanya Claudia.


Serena memikir lama lalu berkata, “Harusnya hampir semuanya sudah terbeli.”


“Aduh temanku, memang Nyonya Grup Su itu kaya. Anakku beruntung sekali.” kata Claudia.


Serena memanyunkan bibirnya. “Kamu berucap seperti kamu sangat miskin sebagai Nyonya Keluarga Lu.”


“Kasih aku lihat anak angkatku, aku baru mau memaafkanmu.” ucap Serena dengan sombong.


“Tadi suster baru saja membawanya pergi mandi, harus tunggu sebentar.” Baru saja Claudia selesai berbicara, suster mendorong ranjang bayi masuk.


Serena segera berjalan menuju bayinya. Ia kaget saat melihat manusia kecil yang sedang baring di ranjang.


Apakah anaknya juga sekecil ini setelah dilahirkan?


“Serena, apakah kamu ingin menggendongnya?” tanya Claudia sambil tertawa.


Serena memandang manusia kecil di ranjang itu. “Mau.”


Suster memberitahu hal-hal yang harus diperhatikan dalam menggednong bayi, lalu memberi Serena menggendong bayinya.


Mungkin karena Serena juga mau menjadi ibu, ia tersenyum sambil memandang bayi didalam pelukannya.


Saat ini pintu kamar terbuka dan seorang lelaki muda masuk.


Lelaki muda ini terlihat mirip dengan Isa, hanya saja lebih muda beberapa tahun dari Isa.

__ADS_1


Ia melihat Serena yang sedang memeluk bayi, sangat cantik.


Ia pernah bertemu dengan banyak wanita cantik, contoh kakak iparnya yang baru saja melahirkan. Tetapi wanita ini sangat cantik seperti lukisan sehingga membuatnya kehilangan kesadaran.


Serena sedang bermain dengan bayi sehingga tidak sadar dengan tatapan lelaki muda itu, tapi Claudia sadar.


Meskipun ia merasa mata adik iparnya ini bagus, tapi juga sangat disayangkan karena adik iparnya sama sekali tidak memiliki kesempatan lagi.


Bercanda, siapa yang tidak tahu suami Serena? Itu adalah Ralphie yang dikagumi banyak orang.


Claudia batuk pelan untuk mengingat seseorang yang melihat hingga hilang kesadaran.


Gilmore kembali sadar dan menyadari tatapan mata Claudia. “Kak, Ibu menyuruh untuk membawa sup untukmu.”


“Terima kasih.” Claudia mengangguk dan berkata kepada Serena. “Serena, aku perkenalkan kepadamu. Ini Adik Isa, Gilmore Lu.”


Serena mengangguk kepada Gilmore, “Halo.”


“Ha…halo…” ucap Gilmore semangat.


Claudia menghela nafas didalam hati, lalu berata. “Gilmore, ini adalah istri Kak Ralphie. Kamu boleh memanggilnya Kak Serena.”


Mendengar ucapan Claudia, Gilmore langsung terdiam.


Beberapa detik kemudian, ia baru dengan sopan menyapa, “Halo Kak Serena.”


Serena tertawa dan membalasnya, lalu bermain dengan bayi Claudia sambil berbicara dengan Claudia.


Beberapa waktu kemudia, Ralphie dan Isa masuk kedalam ruangan.


Serena melihat kedatangan Ralphie, lalu menyuruhnya mendekat. “Ralphie, kamu lihat anaknya lucu sekali.”


Ralphie mengiyakannya dan berjalan ke samping Serena. Meskipun ia tidak ikut bermain dengan bayinya, tapi ia sudah pergi kesana, sudah sangat memberi muka.


Setelah Gilmore mengetahui Serena adalah istri Ralphie, meskipun tahu dirinya sama sekali tidak memiliki harapan, tapi ia sama sekali tidak dapat menghapuskan niatnya.


Ia hanya berdiri disamping diam-diam melihat Serena. Bahkan Ralphie dan Isa yang baru saja masuk, dia tidak mengetahuinya.


Mata Ralphie sangat tajam sehingga dengan cepat ia menyadari arah tatapan mata Gilmore.


Tapi ia hanya melihatnya sekejap, tidak begitu mempedulikannya.


Bukankah ia masih terlalu muda? Tidak perlu dipedulikan.


Kasihan sekali Gilmore, bagaimana perasaannya jika mengetahui ketidakpedulian Ralphie kepadanya? Tidak ada seorang pun yang akan tahu.

__ADS_1


Bahkan Claudia seorang merasa kasihan kepada Gilmore.


Bagaimana tidak kasihan? Bahkan menjadi musuh seorang Ralphie saja tidak bisa. Siapa lagi yang lebih kasihan dari Gilmore.


__ADS_2