I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 202 Aku Tidak Ingin Kembali Ke Keluarga Luo


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Sebenarnya serena meminta pembantu untuk memanggil Ralphie kemari adalah tindakan yang terlalu tergesah gesah.


Karena tahu Ralphie tidak marah, dan malah perhatian kepadanya, langsung membuatnya bersemangat.


Hello! Im an artic!


Serena merasa dia melakukan hal ini terlalu lemah, tapi dia sungguh tak punya ide.


Hal seperti ini sudah berapa kali? Sampai dia sendiripun tak ingat……


Begitu Ralphie masuk ke pintu, sambil melihat Serena terdiam menatap sarapan di atas meja, tidak tahu sedang memikirkan apa.


Dari luar jendela masuk sinar matahari menyilaukan pandangannya, menyinari wajahnya, menampakkan sekilas wajah kecil yang cantik.


Hello! Im an artic!


Membuat Ralphie seketika terpesona.


Setelah Serena bangun dari lamunannya, merasa ada sorot mata yang memandangnya, dia sadar kemudian mengangkat kepalanya, sambil melihat Ralphie yang berdiri di samping pintu.


Dia kapan datangnya? Bagaimana aku tak tahu?


Serena tertegun sejenak, kemudian bersuara, “Kamu sudah datang?”


Ralphie mengangguk menimpali ‘Ya’, melangkah berjalan masuk ke dalam, duduk di depan Serena.


Tahu Ralphie tak begitu suka bicara, tapi tidak mungkin hanya duduk berdua tanpa mengobrol, Serena mulai memutar otak mencari topik percakapan, “Kamu sudah sarapan? ”


Ralphine bertegun sejenak, menggelengkan kepala, “Belum. ”


Pagi betul pergi ke rumah keluarga Shen, akhirnya belum sarapan? Serena menatap Ralphie sejenak, kemudian bangkit berdiri, meninggalkan ruangan.


Ralphie memandang tampak belakang Serena pergi, matanya bergerak kaget.


Dia menyuruh memanggil pembantu kemari, dan lagi bertanya dia sudah sarapan atau belum……sekarang tak berkata sepatah katapun lalu pergi, dia ini melakukan apa?


Di tengah Ralphie merasa aneh, Serena kembali, tangannya memegang sebuah mangkuk kosong dan sepasang sumpit.


Dia menaruh mangkuk dan sumpit di hadapan Ralphie, “Mari makan bersama. ”


Ternyata membantunya mengambil mangkuk, bukankah berarti dia tidak marah karena dia telah melukainya?


Mata Ralphie berkedip seakan surprise sekali, mengangguk dan merespon sedikit ‘Ya’.

__ADS_1


Mereka berdua mulai makan, selain suara sumpit yang terketuk ke mangkuk, ruangan itu tak ada suara lain, sangat tenang.


Terdiam sejenak, Ralphie membuka suara, “Aku membuat tanganmu menjadi seperti itu……Maaf……”


Tiba-tiba mendengar Ralphie meminta maaf, Serena tertegun sejenak, baru menjawab, “Tak apa, hanya sedikit merah saja.”


Ralphie perlahan mengangkat sudut bibirnya tersenyum, kemudian bertanya, “Tanganmu sudah lebih baikankah? ”


Serena mengangkat memperlihatkan pergelangan tangannya sejenak dan berkata: “Dokter Chen sudah memberiku salep, sebentar aku oleskan. ”


Mendengar Serena belum mengoleskan salep tersebut, seketika muka Ralphie menjadi muram, “Salepnya ada dimana? ”


Tiba tiba ekspresi muka Ralphie berubah, membuat Serena tertegun sejenak, kemudian merespon menjawab, “Meja teh di ruang tamu……”


Serena belum selesai bicara, Ralphie bangkit berdiri pergi ke ruang tamu.


Tidak sampai satu menit, dia sambil membawa salep keluar dari ruang tamu.


Kemudian duduk di sebelah Serena, membuka tutup salep, menekannya sedikit keluar sampai melebihi permukaan tutupnya, kemudian meletakan saleb ke sebelah, tangan kirinya dengan hati hati memegang tangan sebelah kanan Serena.


“Mungkin agak sedikit sakit, kamu tahan sebentar. ” Selesai bicara, Ralphie bergerak selembut mungkin memencet bagian tengah salep sampai keluar sedikit ke permukaan kemudian mengoleskannya ke tangan kanan Serena yang berbekas merah tanda jari tangan.


Ketika salep di oleskan ke pergelangan tangannya, Serena merasaa sedikit kesakitan, akhirnya merasa dingin, nyaman, maka ketika Ralphie mengoleskan salep, dia dari awal sampai akhir tidak bergerak.


Serena tersenyum dan segera berkata: “Berikan padaku saja. ”


Ralphie menunduk melihat sebentar ke arah salep di tangannya, kemudian perlahan menaruhnya ke tangan Serena.


Serena sembarang menaruh salep ke dalam kantongnya, kemudian berkata pada Ralphie: “Kamu bisa menolongku satu hal?”


Ralphie menanggapi sepatah kata ‘Ya’, kemudian merasa menjawab seperti ini terlalu singkat, kemudian menambah sekalimat, “katakana saja.”


“Itu……barangku tertinggal di rumah keluarga Shen, bisakah kamu menelepon Molly, minta tolong dia bawakan pulang sekalian barangku? ” Kata Serena.


Mendengar perkataan Serena, Ralphie teringat, sebelumnya dia terburu buru membawa pulang Serena dari rumah keluarga Shen, benar benar tidak ingat Serena masih ada barang di rumah keluarga Shen.


Tapi masalah Serena memintanya menelepon Molly hal ini……


“Aku tak dapat menelepon Molly.”


Mendengar Ralphie berkata tak dapat menelepon Molly, respon pertama Serena adalah Ralphie tak ingin Molly membantunya.


Akhirnya hanya berkata: “Lupakan, aku pergi mencari kakek……”


Serena belum selesai bicara, suara Raalphie terdengar kembali, “Aku tak punya nomor telepon Molly.”

__ADS_1


Serena tak menyangka Ralphie mengatakan tak dapat menelepon Molly, adalah karena dia tidak memiliki nomor telepon Molly, tiba tiba tertegun, “Ha…….”


“Ryan pasti masih di rumah, minta dia mengantarkan barangmu kemari. ” Ralphie berkata dengan datar.


Barangnya yang hanya sedikit itu, masih mau merepotkan Ryan untuk mengantarnya kemari, Serena merasa merepotkan orang penting untuk hal sekecil ini, “Meminta orang lain khusus datang kesini, ini tidak terlalu baik.”


Ralphie menolehkan pandangan ke arah Serena, “Tidak apa. ”


Kalau Ralphie berkata tidak apa, Serena juga tidak dapat berkata apa, lagipula Ryan dan Ralphie seperti saudara kandung, maka dia menganggukan kepala menanggapi sekata ‘Ya.’


Bola mata Ralphie mengarah ke bawah, kemudah dari kantongnya mengambil Hpnya langsung menelepon Ryan.


Setelah selesai menelepon, Ralphie bangkit dari sofa, “Ayo pergi.”


“Pergi kemana? ” Serena tertegun sejenak.


“Rumahmu. ” Ralphie berkata, melangkah ke arah luar.


Mendengar Ralphie berkata ‘rumahmu’, Serena teringat, sebelumnya kakek pernah berkata, tunggu Ralphie pulang dari luar negeri, pergi ke rumahnya.


Teringat kondisi waktu lalu saat Ralphie pergi ke rumahnya, sorot mata Serena mendingin, kemudian dengan cepat bangkit berditi, mengejar keluar.


“Ralphie boleh nggak kita tak usah pergi?”


Karena Ryan mau datang, jadi dia tidak pergi?


Sorot mata Ralphie mendingin……


Hanya dia mana bisa menolaknya!


Dia memejamkan matanya, kemudian berkata: “Ya, besok pergi.”


“Tidak pergi. ” Serena selesai bicara, kemudian menambahkan satu kalimat lagi, “Aku tak ingin pulang ke keluarga Luo.”


Terkaget di siang bolong, suara Serena terdengar sangat pelan, tapi benar benar dapat membuat Ralphie gemetar.


Tidak pergi ke rumah keluarga Luo, adalah karena dia tidak mau pulang…… bukan karena Ryan mau datang……


Ralphie terbelalak membuka matanya, menoleh, membawa ekspresi tidak dapat percaya, bertanya: “Kamu bilang apa? ”


“Aku bilang, aku tidak ingin pulang ke keluarga Luo……” Serena sepatah demi kata mengulang perkataanya kepada Ralphie, kemudian dia kembali teringat perasaannya pada Flora, pasti bersedia melakukan segala sesuatu untuk keluarga Luo, merasa dirinya banyak bicara, sama seperti hal waktu itu ayahnya meminta Ralphie menolong perkembangan perusahaan di luar negeri.


Menggigit gigit bibir bagian bawahnya, Serena kembali menambahkan, “Aku tidak bisa pergi, kalau kamu mau pergi, kamu pergi saja.”


Selesai berkata kalimat ini, Serena takut Ralphie merespon yang sama, dengan cepat memutar badannya melangkah ke dalam kamar.

__ADS_1


__ADS_2