
Hello! Im an artic!
Ralphie bergegas ke kantor pusat di Kyoto semalam, setelah menangani keadaan darurat, dan kemudian kembali ke kota A itu sudah hari berikutnya.
Hello! Im an artic!
Setelah sibuk semalaman, dia kembali ke villa, mandi, dan beristirahat.
Sampai setelah telepon Isa memanggilnya untuk bangun.
Hello! Im an artic!
Mendengar Isa mengingatkan kembali lewat telepon untuk pergi ke The Waterfront Blossom untuk makan malam bersama mereka, Ralphie meminta Isa agar dapat membawa Ryan untuk bermain ke Royal Club.
Setelah menutup telepon, Ralphie bangun dari kasurnya pergi mandi dan gosok gigi, berganti pakaian, dan kemudian pergi ke Royal Club.
Ketika dia tiba di Royal Club, Ryan dengan Isa baru saja masuk pada waktu bersamaan.
Isa melihat Ralphie segera mendengkur, “Ralphie, kamu benar-benar tepat waktu hari ini.”
Ralphie menatap Isa dengan dingin, tanpa bicara.
Setelah menerima tatapan Ralphie, Isa dengan cepat bersembunyi di belakang Ryan. “Au auuu, Ryan, tolong, Ralphie membekukanku dengan pandangannya lagi.”
Anak ini masih takut pada Ralphie seperti biasa, tetapi dia suka memprovokasi. Ryan mengangkat tangannya dan menepuk jidatnya Isa lalu tersenyum dan berkata, “Kamu meminta lebih banyak kebahagiaan.”
“Ryan kamu terlalu membelanya.” wajah Isa kesal.
Ryan mengabaikannya, hanya menyapa dengan Ralphie, “Sudah lama tidak berjumpa.”
“Lama tidak bertemu.” Ralphie mengangguk ringan.
Ryan malah tidak peduli dengan ketidakpedulian Ralphie, terus bertanya sambil tersenyum, “Aku dengar Isa mengatakan bahwa kamu mengalami kecelakaan mobil yang buruk beberapa hari yang lalu, lukanya masih belum sembuh?”
“Sudah hampir mau sembuh” jawab Ralphie.
“Kamu …” Ryan masih ingin mengatakan sesuatu, Isa malah berbisik di sana: “Kalian mau mengobrol, ngobrol saja di kamar, ngapain kalian bicarakan di lobi?”
Mendengarkan Isa berkata gitu, Ryan tidak lanjut berbicara.
Ralphie melirik Isa, lalu menoleh dan melambaikan tangan pada pelayan yang tidak berdiri jauh, “Kamu beritahu manajer untuk membuka pintu ruang 999.”
“Siap.” Pelayan itu mendengar dia adalah tamu VVIP dan langsung segera mulai bekerja sesuai dengan instruksi Ralphie.
Isa berkata di sebelah: “Kamu tidak bawa kartu kamar? Kalau begitu pergi saja ke kamar aku.”
__ADS_1
Ralphie tidak berbicara dan langsung menuju lift.
Isa hanya memegang hidungnya dan bersama Ryan mengikuti di belakang Ralphie untuk memasuki lift.
Ketika mereka mencapai pintu kamar 999, manajer Royal Club buru-buru berlari dari arah sana.
Setelah dia menyapa mereka bertiga, baru dia mengeluarkan kartu pintu kamar dan membuka pintu tersebut.
Setelah Ralphie memasuki ke dalam kamar, manajer jalan ke depan Ralphie dan menyerahkan kartunya dengan hormat, “Tuan Su, ini kartu kamar Anda yang tertinggal.”
Ralphie melihat kartu kamar di tangan manajer namun tidak meraihnya untuk waktu yang lama.
Kemarin, dia memberi Serena kartu kamar untuk membuka pintu. Bagaimana mungkin di sini?
“Bagaimana di sini?” Ralphie bertanya dengan dingin.
“Kemarin, ada seorang wanita mengirimnya ke resepsionis lobi dan meminta kami untuk menyerahkannya kepada Tuan Su.”
Ralphie tidak perlu mikir juga sudah tahu siapa yang mengirim kartu pintu itu ke resepsionis.
Tetapi dia tidak mengerti mengapa Serena mau menitip kartu pintu ke resepsionis. Kalau dia memang mau mengembalikan, kan dia bisa dating ke villa.
Isa yang berada di sebelahnya mendekatkan kepalanya terus berkata: “Ralphie, kamu memberikan kartu pintumu itu kepada Serena kemarin?”
Ralphie hanya menjawab “Hmm”, terus mengambil kartu pintu dari tangan manajer.
Ralphie tidak berbicara, dia tidak berpikir itu adalah alasan mengapa Serena melakukan seperti ini, dia juga tidak tahu mengapa dia begitu yakin.
Isa berkata lagi di samping: “Apa yang sedang kamu lakukan kemarin, Ralphie? Dia datang untuk menemuimu, tetapi tidak menemukan kamu, dia kelihatan sangat cemas.”
“Dia sangat cemas?” Ralphie menoleh untuk melihat Isa.
Isa menganggukkan kepalanya. “Ya, tak lama setelah kamu pergi, Serena datang berlari untuk bertanya ke mana kamu pergi. Aku kasih tahu bahwa kamu sudah pulang. Dia terlihat sangat kaget.” Isa berhenti sebentar lalu lanjut bertanya, “Ralphie bukannya aku mau bilang kamu ya, kamu pulang tapi tidak memberitahu Serena…”
Sangat cemas? Sangat terkejut, kamu memberitahu padanya?
Kata-kata Isa membuat wajah Ralphie terlihat gelisah.
Bahkan Isa pun tahu bahwa ketika dia pergi, dia harus memberitahukan dulu padanya.
Namun dia tidak melakukannya.
Ketika Serena mencari dia dengan sangat cemas, apa yang sedang dia pikirkan?
Kemudian dia teringat lagi bahwa dia ingin pergi mencarinya, namun dia tertunda karena ada urusan mendadak di kantor pusat.
__ADS_1
Jika bukan karena manajer mengirimkan kartu kepadanya, dia juga sudah lupa hal ini…
Melihat ekspresi wajah Ralphie tidak seperti biasanya, Ryan menoleh ke Isa, “Siapa itu Serena?”
Isa melirik Ralphie dan kemudian berbisik: “Dia gadis yang baru-baru ini dekat dengan Ralphie…”
Ralphie duduk terdiam selama beberapa menit dan kemudian bangkit dari sofa, “Aku cabut dulu.”
Isa bertanya dengan tak jelas, “Pergi? Ralphie, bukankah kamu akan makan malam bersama kami?”
“Lain waktu.” Ralphie menjatuhkan dua kata ini dan meninggalkan kamar itu.
Setelah keluar dari kamar, dia berjalan menuju ke arah club sambil menelepon Serena.
Rupanya ponsel Serena sama dengan kemarin, tidak dapat dihubungi.
Kepanikannya tiba-tiba menyebar ke seluruh jantung Ralphie.
Dia buru-buru berlari keluar dari Royal Club, dan kemudian pergi ke Gallowen Manor untuk menemui Serena…
Setelah tiba di Gallowen Manor, Ralphie teringat kembali bahwa dia tidak tahu Serena tinggal di gedung mana, lantai berapa dan kamar berapa.
Ralphie bersandar di sandaran kursi dengan sedikit frustrasi, dia siap menunggu Serena di depan pintu komplek.
Tidak lama kemudian, teleponnya tiba-tiba berdering.
Jangan-jangan itu Serena? Ralphie merasa kejutan terus mengambil telepon dari sakunya.
Rupanya, nomor yang muncul pada ponselnya adalah nomor Flora. Penantian itu perlahan-lahan surut dari mata Ralphie, yang digantikan menjadi hawa dingin.
Awalnya, Ralphie bermaksud untuk menutup telepon secara langsung. Saat ujung jari sudah mau menekan, ia berhenti dan kemudian menekan tombol jawab.
Flora sangat kaget, “Tuan Su.”
Ralphie hanya menjawab “Um”, lalu bertanya, “Apakah kamu tahu dimana Serena tinggal?”
Ketika dia mendengar Ralphie bertanya tentang Serena, suara Flora langsung naik oktaf. “Ngapain kamu menanyakannya? Apakah kamu masih berhubungan dengannya?”
Ralphie tidak menjawab pertanyaan Flora, hanya mengulangi pertanyaan tadi, “Di mana dia tinggal?”
Setelah Flora diam selama beberapa menit lalu dia menjawab, “Aku bisa memberi tahu kamu di mana Serena tinggal, tetapi ada satu syarat.”
Ralphie mengerutkan alisnya dan mengeluarkan sepatah kata, “Katakan.”
“Aku akan memberitahumu secara face to face.” Flora berkata di ujung telepon.
__ADS_1
Ralphie mengerutkan alisnya dengan merasa jijik, dan akhirnya berkata dengan samar, “Setengah jam kemudian, di depan Disker Mansion.” Setelah itu, Ralphie tidak menunggu Flora untuk menjawab, dan segera memutuskan teleponnya.
Pandangannya menatap gerbang Gallowen Manor untuk waktu yang lumayan lama, kemudian menghidupkan mobilnya dan menuju ke Disker Mansion untuk menemui Flora.