I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 183 Melepaskan Bajunya


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Serena yang berkata akan keluar membeli sesuatu, sebenarnya hanya beralasan saja untuk meniggalkan ruangan.


Setelah keluar dari gedung rumah sakit, Serena yang tanpa tujuan hanya berjalan-jalan di taman rumah sakit.


Hello! Im an artic!


Saat ini kebetulan adalah musim dingin, di taman, hanya berhembus angin dingin. Karena dia keluar dengan tergesa-gesa, sehingga tidak membawa jaket, tidak lama ia pun gemetar kedinginan.


Tetapi hal ini tidak membuatnya kembali ke ruangan Ralphie, dia masih berjalan-jalan di taman sebentar, kemudian pergi ke warung kecil dekat rumah sakit membeli sesuatu baru kembali ke dalam ruangan.


Saat dia masuk, Ralphie sedang membaca dokumen, sedangkan Isa sudah meninggalkan ruangan.


“Isa sudah pergi?”


Hello! Im an artic!


Ralphie masih memandangi muka Serena, setelah memastikan tidak ada yang aneh, dia baru mengangguk, “Baru saja pergi.”


“Kenapa buru-buru sekali?” Serena meletakan barang yang baru dibelinya kedalam laci, dan bertanya, “Kamu sudah duduk seharian, mau tiduran sebentar tidak?”


Sebenarnya Ralphie sedikit kelelahan, kalau bukan karena ingin menunggu Serena kembali, dia sudah berbaring dari awal .


“Oke.”


Setelah mendapatkan persetujuan Ralphie, Serena menahan pinggul Ralphie, dengan sangat hati-hati membantu Ralphie berbaring di atas kasur, dan menyelimutinya.


Saat Serena menarik selimut, Serena tidak sengaja menyentuh tangan Ralphie.


Dia merasa seperti ada aliran listrik yang mengalir, tangannya sempat gemetar, tetapi dengan cepat di tariknya kembali. Tetapi Ralphie dengan cepat menggenggam tanga Serena, “Tanganmu kenapa bisa sedingin ini?”


Ralphie yang selesai bertanya baru menyadari bahwa Serena hanya memakai sweeter tipis.


Dia tadi bilang mau kebawah membeli sesuatu, pasti berdiam diluar tidak sebentar.

__ADS_1


Reaksi pertama saat Ralphie menggenggam tangannya adalah menariknya kembali, tetapi Ralphie menggenggamnya sangat kuat, jadi dia takut membuat lukanya sakit, jadi dia hanya membiarkan Ralphie menggenggam tangannya, tetapi telinganya mulai memerah.


Serena tidak berani mengangkat kepalanya menatap Ralphie, tetapi harinya bergetar seakan ada sesuatu yang menggelitik, dan mulai kesemutan.


Ralphie menyadari bahwa Serena tidak memberikan penolakan, dalam hatinya terbesit sedikit senang, kemudian menggenggam tangan Serena yang satunya lagi, menggenggamnya dalam-dalam, kemudian memasukannya kedalam selimut.


Entah karena malu atau apa, mereka berdua meskipun saling menggenggam, tetapi tidak saling memandang, bahkan tanpa berkata apapun.


Mungkin karena seharian tidak istirahat, dan ditambah lagi karena pengaruh obat, sehingga membuat Ralphie dengan cepat terlelap.


Mendengar suara tidur pulas Ralphie, Serena mengangkat kepalanya.


Memandang ekspresi tidur Ralphie, dan kemudian memandang tangan Ralphie yang sedang menggenggam tangannya, kemudian dengan pelan-pelan melepaskan genggaman tangan Ralphie.


Tangannya basah karena keringat, genggaman Ralphhie yang sangat kuat lah yang membuat tangannya berkeringat begitu banyak.


Serena mengambil pakaian, dan mulai beres-beres.


Ralphie menginap di rumah sakit sudah seminggu, setiap hari ada Serena yang menjaganya, Felix hanya datang mengantar makanan saat waktu makan.


Keadaan Perumahan Pavilion Phoenix tidak sebagus Club Temptation, tetapi kalau di Perumahan Pavilion Phoenix ada orang yang akan menjaganya, jika Serena yang menjaga Ralphie pasti lebih gampang, apalagi Serena paling payah kalau di dapur, dia selalu makan diluar, dan itu kebiasaan yang tidak baik.


Setelah Ralphie keluar rumah sakit, Felix setiap hari datang membawa dokumen yang begitu banyak.


Serena melihat Felix datang, tanpa petunjuk apapun langsung meninggalkan mereka berdua, saat Felix datang, dia baru pergi samping Ralphie.


Sampai ketika dia tidak segaja melihat Ralphie menggaruk punggungnya, dia kembali dan selangkah pun tidak akan meninggalkan Ralphie untuk tetap mengawasinya.


Saat itu Serena membawakan segelas susu ke ruang kerja Ralphie, karena pintunya tidak ditutup, dia terus masuk begitu saja.


Begitu masuk, dia melihat Ralphie sedang penggaruk punggungnya yang luka itu.


Seseorang berkelas seperti Ralphie ternyata juga bisa menggaruk tubuhnya yang gatal.


Pada awalnya dia merasa aneh, tetapi kemudian tersadar mungkin karena luka Ralphie yang mulai menutup dan menimbulkan rasa gatal.

__ADS_1


Segera menghampirinya, diletakannyalah segelas susu itu, kemudian menghentikan tangan Ralphie untuk tidak menggaruk lagi.


Menyadari tangannya tertahan, Ralphie dalam sekejap terdiam menatap Serena.


Serena mengira Ralphie akan bertanya mengapa dia menahan tangannya, sehingga dia berkata, “Tidak boleh digaruk, kalau digaruk nanti bisa infeksi.


Ralphie hanya mengiyakan dan segera menarik tangannya.


Mata Serena tertegun melihat bahwa di jari kukunya ada sedikit darah, pandangannya seketika terbelalak.


“Berdarah kan! cepat buka bajunya, biar aku liat lukanya.” Tanpa menunggu persetujuan Ralphie, Serena langsung membuka kancing kemeja yang Ralphie kenakan.


Ralphie memelototi tingkah Serena, ekspresi mukanya datar, dalam seketika mukanya yang putih bersih berubah jadi kemerahan.


Serena sama sekali tidak menyadari betapa merahnya muka Ralphie, setelah memeriksa punggungnya yang luka, dia menemukan bahwa bekas garukan Ralphie membuat lukanya memerah, ada beberapa bagian yang sedikit berdarah, ada beberapa bagian juga yang membengkak, seketika Serena mengerutkan kedua alisnya.


“Bekas garukannya sedikit parah, lebih baik panggil dokter untuk periksa saja?”


Ralphie menjawab dengan batuk, “Tidak perlu, saat keluar rumah sakit dokter ada kasih salep, di oles sedikit juga sudah baikan.”


“Yasudah aku pergi ambil salep.” Setelah menjawab, Serena bergegas keluar mengambil salep.


Tidak sampai satu menit dia sudah kembali dengan membawa salep ditangannya.


Sampai saat dia sampai tepat didepan Ralphie, melihat Ralphie yang memakai bajunya dengan longgar, Serena baru menyadari bahwa dia tadi terburu-buru melepas kemeja Ralphie.


Muka Serena seketika memerah, dia ingin segera meninggalkan ruang kerja Ralphie, tetapi dia masih harus mengoleskan salem kedalam lukanya.


Akhirnya Serena dengan mukanya yang merah memaksakan diri mengoleskan salep untuk Ralphie.


Setelah mngoleskan salep, tanpa membantu Ralphie memakaikan kembali bajunya, Serena bergegas berkata, “Aku ada sedikit urusan, pergi dulu.” kemudian Serena tanpa menghentikan langkahnya berlari meninggalkan ruang kerja Ralphie.


Ralphie melihat punggung Serena yang menghilang, membuat rona merah di wajahnya semakin memerah.


Tidak lama kemudian, mukanya kembali seperti semula, Kemejanya pun sudah dipakainya, dan keadaan pun kembali tenang, duduk dengan baik diatas kursinya, mengambil susu yang dia tidak suka, meminumnya seteguk demi seteguk hingga habis.

__ADS_1


Rencana awal dua hari setelah keluar dari rumah sakit, Ralphie dan Serena akan kembali ke kota A, tetapi sehari sebelum kembali ke kota A, Tokyo dilanda badai salju, dan menghambar kepulangannya ke kota A.


__ADS_2