I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 46 Mengetahui kecelakaan Ralphie


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Setelah naik ke mobil, Serena bertanya pada Felix, “Dia tidak kerja hari ini?”


Hello! Im an artic!


“Presiden Su dia ter…” Felix teringat peringatan Ralphie dan buru-buru berkata, “Presiden Su cuti beberapa hari.”


“Oh.” Serena mengangguk tanpa curiga.


Melihat Serena percaya, Felix menghela nafas dan lanjut mengemudi.


Hello! Im an artic!


Di tengah jalan, ponsel Felix berdering.


Felix menyetir dengan satu tangan dan tangan lainnya menjawab telepon.


“Halo…ada apa? Klien ingin menemui Presiden Su? Tunda beberapa hari, benar…Presiden Su belum pulih…nanti akan di kabari…”


Serena kaget mendengar Felix berkata ‘Presiden Su belum pulih’.


Dia belum pulih? Ada apa dengannya?


Serena sangat ingin bertanya apa yang terjadi pada Ralphie. Tapi ia tahan karena tahu Felix sedang ada urusan.


Serena langsung bertanya dengan cemas ketika Felix selesai berbicara, “Ada apa dengannya? Dia terluka di mana?”


Felix tertegun. Ia baru sadar Serena mendengar pembicaraannya tadi di telepon.


Felix mengelus hidungnya dan berpura-pura tidak tahu, “Apa yang Nona Luo bicarakan? Aku tidak mengerti.”


“Kamu tidak tahu? Kalau begitu sebaiknya aku langsung bertanya pada Ralphie. “Serena mengeluarkan ponselnya ingin menghubungi Ralphie.


Mendengar omongan Serena, Felix langsung berkata: “Nona Luo, jangan menghubungi Presiden Su. Aku akan memberitahumu semuanya.”


Serena memegang teleponnya dan melihat Felix dengan ekspresi ‘Kamu bicara, aku dengar’.


Kening Felix berkeringat dingin. Tak di sangka Nona Luo yang lembut bisa mengancam orang.


Ia menarik nafas lalu berkata: “Presiden mengalami kecelakaan dan tengkuknya terluka.”

__ADS_1


Serena bertanya dengan kaget, “Kapan? Apa lukanya serius?”


“Satu minggu lalu…” Felix diam sejenak lalu berkata: “Sepertinya saat malam pemutaran perdana film Zero. Presiden Su mengalami kecelakaan di Drisker Mansion…”


Malam pemutaran perdana film Zero? Drisker Mansion?


Drisker Mansion berdekatan dengan Clover Plaza. Malam itu, mereka janjian untuk pergi melihat pemutaran perdana film Zero di Clover Plaza.


Ia mengalami kecelakaan dalam perjalanan ke Clover Plaza.


Seketika ia merasa sedih dan menangis.


Felix melihat Serena menangis dari kaca spion. Ia memberikan tisu padanya dan berkata: “Nona Luo, jangan menangis.”


“Aku tidak menangis, Kamu salah lihat.” Serena langsung menundukkan kepalanya.


Menangis namun tidak mengakuinya. Felix pun diam.


Setelah beberapa saat, Serena menghentikan air matanya dan bertanya dengan suara rendah, “Bagaimana kondisi tengkuknya?”


Felix menjawab, ” Sudah di lakukan perawatan traction. Masih butuh satu minggu untuk pulih sepenuhnya.”


Masih butuh satu minggu? Kenapa ia keluar dari rumah sakit? Serena mengerutkan alisnya dan bertanya, “Bukankah masih butuh satu minggu? Kenapa ia keluar dari rumah sakit?”


Mendengar hal itu, Serena menjadi tenang.


“Bagus kalau begitu.” Serena melirik Felix lalu berkata: “Aku tidak akan memberitahunya jika kamu memberitahukanku mengenai hal ini.”


Felix melihatnya dengan tidak mengerti, “Nona Luo, Kamu…”


“Dia tidak ingin Kamu memberitahuku kan?” Ralphie yang memotong omongan Felix tadi dan barusan ia berpura-pura tidak tahu, Serena dapat menebaknya jika Ralphie melarang Felix memberitahukannya mengenai kecelakaan itu.


“Baik.” Felix tertegun lalu mengangguk.


“Jadi aku akan berpura-pura tidak mengetahui apapun, Kamu pun berpura-pura tidak pernah mengatakan apapun.”


Felix ragu sejenak lalu mengangguk .”Baik.”


Serena bergumam ‘Ng’ lalu melihat ke luar jendela, rasa sakit dapat terlihat dari matanya.


Karena ia tidak ingin Serena mengetahui hal itu, maka ia akan berpura-pura tidak tahu apapun…

__ADS_1


Setelah 10 menit, Felix memberhentikan mobil di pinggir jalan, “Nona Luo, sudah sampai.”


“Ng, terima kasih Felix.” Serena mengangguk lalu turun dari mobil.


Setelah melihat Serena masuk ke PT.Antarts, Felix pun pergi.


Saat jam pulang kerja tiba, Serena segera memberekan barang-barangnya dan meninggalkan kantor. Ia bergegas pergi ke bioskop The Big untuk memberikan tiket film pada Claudia.


Benar, dia pergi untuk memberikan tiket, bukan untuk menonton film.


Sebelumnya, ia tidak terlalu tertarik untuk pergi karena Ralphie tidak pergi. Sekarang, mengetahui Ralphie sedang sakit, ia lebih tidak ingin pergi nonton.


Jika bukan karena tempat kerja Claudia yang jauh dari PT.Antarts dan akan menghabiskan waktu untuk bolak balik, Serena tidak akan mau ke DongCheng untuk memberikan tiket film pada Claudia, lebih baik ia segera pergi ke Shadewoods Manor untuk bertemu Ralphie.


Saat baru keluar dari kantor, ponselnya berbunyi.


Serena mengeluarkan ponselnya dari tas dan melihat nama Flora. Ia tersenyum dan menjawabnya.


“Halo, Kak.”


Beberapa hari ini Flora menghubunginya. Hubungan mereka tidak dekat.


“Serena, aku di seberang jalan.” Flora berkata di ujung telepon.


Serena mendongakkan kepalanya dan melihat Flora yang sedang melambaikan tangan ke arahnya.


Serena meletakkan kembali ponselnya ke dalam tas lalu menyebarang jalan menghampiri Flora, “Kak, Kamu di sini.”


“Ng, aku ada urusan di dekat sini dan ingat ini jam Kamu pulang kerja jadi aku kesini untuk makan bersamamu.” Flora tersenyum lembut seperti seorang kakak yang perhatian terhadap adiknya.


Tapi Serena sama sekali tidak mengetahui jika Flora sengaja datang untuk menemuinya.


Setiap hari ia sengaja menghubungi Serena ingin tahu apakah teleponnya kemarin mempunyai pengaruh terhadap hubungan Serena dengan pria itu dan mengetahui Serena tidak berhubungan dengan pria itu, ia tahu ia telah berhasil memisahkan mereka. Tapi, dia masih tetap tidak tenang jadi ia sengaja datang hari ini.


Serena ragu sejenak lalu berkata: “Kak, hari ini tidak bisa. Aku harus segera pergi ke bioskop.”


Nonton film? Flora mengerutkan alisnya lalu bertanya, “Nonton film dengan Tuan Su?”


“Bukan, dengan Claudia…” Tiba-tiba Serena seperti teringat sesuatu: “Kak, aku harus segera pergi.”


Tampaknya pria itu benar-benar memutus hubungan dengan Serena, terbesit senyum kemenangan di mata Flora namun dengan cepat di tutupinya.

__ADS_1


Ia segera berkata: “Pergilah, lain kali kita makan bersama.”


“Makasih kak.” Serena melambaikan tangan pada Flora lalu menghentikan taksi.


__ADS_2