
Hello! Im an artic!
Serena menatapi laki-laki Perancis separuh baya yang berdiri di hadapannya di depan jendela, wajahnya penuh dengan rasa bingung.
Jangan salahkan dia karena dia kebingungan, karena semenjak Manajer Utama membawa dia kesini, laki-laki itu selain menjawab ‘En’, sudah setengah jam tidak mengatakan apa-apa lagi.
Hello! Im an artic!
Tidak tahu sudah lewat berapa lama, laki-laki itu akhirnya membalikkan badan.
“Kamu pasti merasa bingung akan kenapa aku mencari dan membawa kamu kesini?”
Serena menggerakkan mulutnya dan bertanya, “Mencari? Bukannya membohongiku?”
Laki-laki itu terungkap kebohongannya, tapi tidak marah sedikitpun, malahan dia tersenyum dan berkata: “Kamu sangat mirip dengan dia.”
Hello! Im an artic!
“Mirip siapa?” Serena mengangkat alisnya.
Laki-laki itu menghampiri ke depan Serena yang sedang duduk di sofa, lalu berkata: “Gurumu.”
Serena terdiam sesaat, lalu bertanya, “Guru Kitty?”
“Betul, Kitty.” Laki-laki itu menganggukkan kepalanya.
Tidak tahu kenapa, saat laki-laki itu menyebutkan nama “Kitty” Serena merasa dia sangat lembut.
Pandangannya mengembun, lalu bertanya, “Kamu kenal guru Kitty?”
“Aku sudah mengenal dia cukup lama……” Laki-laki itu tidak tahu terpikir apa, matanya terpancar kabut tipis.
Momen itu hanya bertahan beberapa detik, lalu dia tersadar kembali.
“Aku ingin bertemu dengan gurumu.”
Serena tidak tahu apakah sebenarnya laki-laki paruh baya ini benar-benar mengenal Guru Kitty, tapi memikirkan cara laki-laki itu mencari dia, dia sudah memutuskan untuk tidak akan mempertemukan dia dengan Guru Kitty, “Maaf, aku tidak bisa mempertemukan kamu dengan dia.”
Mendengar perkataan Serena, wajah laki-laki itu menjadi murung, “Kamu sekarang ada di genggamanku, kamu pikir kamu ada hak untuk memilih?”
Serena sedikit pun tidak takut dengan tatapan laki-laki itu, “Anggap saja aku memang tidak punya pilihan, aku juga tidak bisa mempertemukanmu dengan Guru Kitty.”
“Kamu……Kamu……” Laki-laki itu berdiri, menunjuk serena sambil mengatakan ‘Kamu’ dua kali, pada akhirnya, dia berkata dengan marah ke kedua bodyguard yang berdiri di depan pintu: “Bawa dia keluar.”
Kedua bodyguard itu langsung datang dan menarik Serena.
“Aku akan jalan sendiri.” Serena menahan gerakan mereka, beridri, lalu berjalan keluar.
Dengan lokasi sinyal handphone Serena yang diberikan oleh Felix ke Ralphie, ditambah bantuan dari Malcolm, Ralphie dan yang lain dapat dengan cepat menemukan lokasi Serena.
__ADS_1
Ralphie menahan keinginannya yang ingin langsung menerobos masuk, lalu menyuruh Elliot menelpon Manajer Utama.
Handphone-nya berdering selama kurang lebih sepuluh detik, lalu terdengar suara Manajer Utama.
“Halo?”
“Manajer Utama, ini aku Elliot.” Jawab Elliot.
Manajer menjawab ‘oh’, lalu bertanya, “Ada apa Manajer Ye?”
Elliot berpura-pura cemas dan bertanya, “Manajer Utama, apakah kamu tahu Nona Luo dimana?”
Manajer menahan jawabannya beberapa detik, baru bertanya, “Nona Luo? Aku tidak tahu.”
Elliot bertanya dengan kecewa, “Manajer Utama, kamu juga tidak tahu? Kalau begitu lebih baik aku meminta suami Nona Luo melaporkan ke polisi.”
“Melapor ke polisi……” Ada sedikit rasa panik di suara Manajer Utama.
Elliot bertanya dengan bingung, “Melaporkan ke polisi, kenapa memangnya?”
“Yang aku maksud……Dia belum menghilang lebih dari dua puluh empat jam, kalau lapor ke polisi. Polisi juga tidak akan mengurusnya.” Manajer Utama menjawab dengan terpatah-patah.
“Aku tahu, tapi suami Nona Luo ada orang dalam, jadi kalau lapor ke polisi pasti akan diurus……” Elliot belum selesai berbicara, terdengar suara hantaman di sisi Manajer Utama.
Setelah berisik selama beberapa lama, suaranya menghilang.
“Direktur Su, teleponnya terputus, jadi bagaimana?” Elliot bertanya sambil menggenggam handphone-nya.
Elliot tadinya ingin bertanya kenapa harus menunggu, tapi melihat ekspresi di wajah Ralphie membuat dia tidak berani bertanya.
Setelah kurang lebih sepuluh menit berlalu, pintu utama vila itu terbuka, Manajer Utama terburu-buru keluar dari vila, berjalan ke garasi untuk membawa mobil.
Saat itu, Ralphie langsung bertindak.
Melihat dia membuka pintu mobil, lalu melompati tembok vila, berjalan terus mengarah ke garasi dimana Manajer Utama tertuju, lalu saat Manajer Utama itu belum sadar keberadaannya, Ralphie menendang Manajer Utama hingga terjatuh ke lantai.
Dari awal hingga akhir, kejadian itu tidak sampai satu menit.
Kalau tidak dilihat dengan jelas, Elliot pasti mengira itu adalah pertunjukkan.
“Wow, Direktur Su sungguh keren.”
Malcolm yang duduk didepannya menggerakkan mulutnya, lalu memarahi bodyguard-nya: “Masih berdiam untuk apa? Bukannya pergi membantu?”
“Baiklah……” bodyguard itu langsung naik ke mobil, memanjat tembok masuk ke dalam vila.
Walaupun Teknik yang dia miliki tidak sebagus Ralphie, tapi masih terhitung lumayan, dia dengan cepat sudah ada di samping Ralphie.
“Direktur Su……”
__ADS_1
Ralphie mengiyakan dia dengan datar, lalu berkata: “Bangukan dia.”
Saat itu semuanya baru tahu, tendangan Ralphie barusan, membuat Manajer pingsan.
Direktur Su ini memang mengerikan! Bodyguard itu menghela napas dalam hati, lalu menuruti perintah orang itu dan membangunkan Manajer.
“Ah……” Manajer Utama kesakitan dan terbangun.
Saat melihat ada beberapa bodyguard, dia langsung bertanya, “Kalian siapa? Mau apa kalian?”
Bodyguard itu tidak menjawab dia, tapi berkata ke Ralphie: “Direktur Su, dia sudah sadar.”
Saat itu, Manajer baru sadar orang yang berdiri tidak jauh dari dia adalah Direktur Su.
Bagaimana Direktur Su bisa ada disini?
“……Direktur Su, kenapa Anda ada disini?”.
Ralphie tidak menjawab pertanyaan Manajer, dia langsung bertanya, “Serena dimana?”
Serena? Serena Luo? Direktur kenal dengan Serena? Mata Manajer Utama bersinar, lalu berkata: “Direktur Su, anda salah tanya orang, aku tidak tahu Serena ada dimana.”
“Tidak tahu?” Wajah Ralphie terlihat sangat turun, kemudian, tinjunya terjatuh di wajah Manajer Utama.
Dengan suara teriakan, rahang Manajer pun di pukulnya.
Tapi teriakannya tidak satu kali itu saja, dilanjutkan dengan tinjuan kedua, tinjuan ketiga, tinjuan keempat…….
Mendengar teriakan kesakitan Manajer Utama, orang-orang disekitar merinding.
Tadinya melihat Ralphie menendang orang sangat mengerikan, sekarang dilihat lagi, masih lebih mending tendangannya, setidaknya rasa sakitnya tidak separah ini.
Ralphie setelah meninju Manajer itu sepuluh kali lebih, dia menarik kerah baju Manajer dan melempar dia keluar.
Setelah terdengar suara sentakan, Manajer terjatuh ke lantai.
Ralphie langkah demi langkah menghampiri, lalu menginjak dada Manajer, dia bertanya dengan dingin, “Serena dimana?”
Manajer Utama benar-benar sudah ketakutan, dia membalas dengan suara gemetar, “Di……Di……Guruku……Bersama guruku……”
Ralphie mengerutkan matanya terlihat berbahaya, lalu bertanya, “Siapa gurumu?”
“Ab……Abbott……” Seiring dengan suara Manajer Utama yang mengecil, Malcolm mengeluarkan suara ‘eh’.
Ralphie membalikkan kepala, lalu lanjut bertanya, “Alamat.”
“Te……Teluk Blue Wave……Vila……Nomor dua belas……”
Ralphie melepas injakannya di dada Manajer, lalu membalikkan badan dan berjalan keluar vila.
__ADS_1
Malcolm setelah mengatakan satu kalimat ini ke bodyguard, “Tinggalkan satu orang bersama dia, yang lain ikut aku”, dia berlari pelan untuk mengejar Ralphie…