
Hello! Im an artic!
Setelah bangun langit sudah cerah. Ralphie mengambil hpnya dan melihat jam, jam 6 pagi
Jam 7:30 ada sebuah meeting yang harus ia pimpin, jadi ia harus pergi ke kantor lebih awal.
Hello! Im an artic!
Ralphie membuka selimut dan pergi ke kamar mandi untuk memcuci muka, lalu ia membuka lemari dan mengambil sebuah jas hitam untuk dipakai, Ia berjalan keluar sambil mengenakan dasi.
Saat ia membuka pintu untuk keluar, pintu kamar Serena juga terbuka.
Mendengar suara pintu terbuka, Ralphie langsung berhenti memakai dasi dan menoleh ke belakang.
Serena tampaknya kurang tidur, mukanya terlihat pucat.
Hello! Im an artic!
Ralphie menarik kembali pandangan matanya dan kembali memakai dasi, tetapi ia tetap tidak berhasil juga.
Ralphie membalikkan badan tanpa sadar dan menuju arah tangga.
Kebetulan Serena datang dan berhenti di depannya.
Saat Ralphie kebinggungan dengan apa yang ingin dilakukan Serena, Serena mengangkat tangan dan memegang dasinya yang belum terikat.
Beda dari sebelumnya, karena Ralphie tidak membungkukkan badannya jadi Serena harus menjinjitkan kakinya baru bisa mengikatkan dasi Ralphie.
Serena mengangkat kepalanya dan ekspresi mukanya yang serius, ia bahkan tidak mengkedipkan mata, seakan-akan ia melakukan sesuatu hal yang sangat penting.
Ralphie menatapi alis Serena dengan muka tak berekspresi, sangat hening, sebenarnya hanya ia sendiri yang tahu betapa cepatnya detak jantungnya. Ini pertama kalinya mereka begitu dekat setelah menikah.
Saat Ralphie tengah terbengong, Serena baru ingat bahwa Ralphie tidak terlalu suka dekat dengannya
Serena menggigit bibir dan segera menyelesaikan ikatannya, lalu ia bergegas mundur dan menjaga jarak.
“Aku… bukan sengaja…” maksud Serena adalah ia bukan sengaja begitu dekat dengannya.
Tetapi yang terdengar oleh Ralphie adalah ia bukan sengaja mengikat dasinya.
Tatapan mata Ralphie menjadi dingin.
“Lain kali….”
Terlihat tatapan dingin dari matanya yang indah, membuat ia yang tidak bisa dijangkau tampak semakin dingin dan jauh.
“Aku tahu.” Serena menundukan kepalanya dan melihat kebawah untuk menyembunyikan kesedihannya.
__ADS_1
Ralphie hanya diam saja dan membalikkan badan untuk turun tangga, terlihat bayangan yang dingin dan membuat Serena merasa sedih.
Ia mengambil nafas dalam-dalam dan menahan kesedihannya, kemudian berpura-pura tidak terjadi apa-apa dan berjalan ke tangga.
Ia baru sampai di tangga dan mendengar suara pelayan, “Tuan muda, sarapan pagi sudah siap, anda ingin makan sekarang?”
Ralphie hanya diam dan tidak menjawab.
Pelayan bertanya lagi, “Atau tuan ingin menunggu nyonya untuk makan bersama?”
Sebelum kata-kata pelayan selesai diucapkan, Ralphie langsung menjawab dengan dingin, “Tidak mau makan.”
Tidak mau makan… mungkin tidak mau makan bersamanya.
Kesedihannya tidak bisa di tahan lagi, dan air matanya langsung jatuh…
Setelah selesai menangis, Serena menghapus air mata, ia turun seakan-akan tidak terjadi apa.
Sarapan pagi dan berangkat kerja.
Setelah tiba di kantor ia menyerahkan desain kemarin kepada Dottie dan melanjutkan sisanya.
Ia sehari paling banyak mendesain 3 gambar, dan masih tersisa banyak, ia sendiri tidak mengerti ia harus menggambar berapa lama baru bisa selesai.
Tetapi tidak peduli sesibuk apapun dia, ia tetap pergi dan pulang dengan tepat waktu dan tidak pernah lembur.
Serena tahu bahwa Ralphie sedang bersembunyi darinya, jadi ia berpura-pura tidak mendengar apapun.
Kalau bukan karena mobil Serena menabrak mobil lain, mereka tidak tahu kapan akan bertemu.
Hari itu setelah pulang kerja, Serena seperti biasa diantar pulang oleh Supir.
Ditengah jalan menabrak sebuah mobil Maserati.
Jam 7 malam memang banyak mobil dijalan, supir juga tidak membawa mobil dengan cepat, saat di persimpangan, tiba-tiba sebuah mobil datang dari sebelah kanan, supir segera menginjak rem.
Meski begitu, mobilnya tetap saja menabrak bagian belakang mobil tersebut.
Tubuhnya terhantam kedepan dan untungnya ia memakai sabuk pengaman, kalau tidak ia sudah terluka.
“Nyonya muda, apakah anda baik-baik saja?” supir segera menoleh kebelakang dan bertanya.
Serena menggelengkan kepala dan berkat,a “Aku tidak apa-apa, kamu tidak terluka kan?”
“Nyonya muda, aku tidak apa-apa, hanya saja menabrak mobil didepan, aku akan turun untuk memeriksanya.” supir membuka pintu dan turun.
“Aku ikut denganmu.” Serena pun membuka pintu dan ikut turun.
__ADS_1
Saat mereka turun dari mobil, pemilik mobil yang tertabrak juga turun.
“Dasar, kamu tidak punya mata? Maserati yang baru ku beli, plat nomor pun belum ada.” ia memakai gelang emas dikedua tangannya, juga memakai kalung emas, terlihat berkilauan.
“Tuan, mobil kamu tiba-tiba keluar dari sana.” supir berkata dengan muka pucat.
“Apanya yang mobilku tiba-tiba keluar? Jelas-jelas mobilmu yang menabrak mobilku.” pemilik mobil berkata dengan emosi.
Supir tiba-tiba ikut emosi dan berkata, “Tuan, kamu jangan memutar balikkan fakta, yang salah kamu, bukan saya.”
Mendengar perkataan supir pemilik mobil Maserati semakin emosi, “Brengsek, kamu yang menabrak mobilku, kamu harus ganti rugi.”
Serena mengerutkan keningnya dan berkata, “Sudah, tidak perlu berdebat dengannya lagi, telpon polisi dan proses secara hukum saja.”
Muka pria gendut itu menjadi pucat mendengar Serena berkata diproses secara hukum.
Ia sendiri tahu bahwa ialah yang melanggar peraturan, jika diproses secara hukum, bagaimana ia bisa memeras uangnya?
“Kamu ingin menuntutku?” tanya Pemilik Maserati yang gemuk itu sambil tertawa, ia mengangkat kakinya dan menaikkan kakinya pintu mobil.
Menurutnya mobilnya tidak mahal, ia menendangnya untuk memperingatkan Serena.
Mungkin karena berat badannya, pria gendut yang pendek itu menendang pintu mobil hingga masuk kedalam.
Setelah menendangnya, ia memelototi Serena dan berkata dengan kasar, “Hei, lebih baik kamu ganti rugi, kalau tidak kamu akan seperti pintu ini.”
Serena ketakutan dan menjadi pucat karena tampangnya yang galak.
Supir langsung menghalangi Serena didepannya dan berkata kepada pria gendut itu, “Apa yang ingin kamu lakukan?”
“Apa yang ingin aku lakukan? Aku ingin mengancam kalian untuk ganti rugi. Kenapa?” jawab si gendut dengan arogan.
Mengancam ? Orang keluarga Su di ancam di kota A?
Supir melirik si gendut itu dan menoleh kebelakang dan bertanya kepada Serena, “Nyonya muda, apakah anda baik-baik saja?”
Serena menggelengkan kepala dan berkata, “Aku tidak apa-apa.”
Supir merasa lega mendengar Serena berkata bahwa ia tidak apa-apa.
Ancaman adalah hal kecil, kalau nyonya muda sampai kenapa-kenapa, tidak ada yang mampu menanggung akibatnya.
“Nyonya muda, aku akan menelpon Asisten Zhou untuk menyuruh orang mengurusnya.”
Serena setuju karena ia juga tahu bahwa keadaan seperti supir juga tidak bisa mengatasinya.
Supir segera menelpon Felix setelah mendapat persetujuan dari Serena.
__ADS_1