I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 24 Membuktikan Dirinya adalah Pacar Serena


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Di saat inilah, Ralphie yang dari tadi berdiri tanpa suara tiba-tiba berkata, “Kata siapa saya bukan pacar Serena?”


Serena kaget melihat Ralphie, tidak terduga dia bersuara membelanya, yang awalnya Serena mengira dia marah dan tidak perduli lagi kepadanya.


Hello! Im an artic!


Ralphie seperti tidak melihat pandangan Serena terhadapnya, matanya lurus menatao Maggie, dan bertanya dengan tajam, “Kamu kan yang tadi mengatakan saya bukan pacarnya Serena?”


Menerima tatapan dari Ralphie seperti itu, Maggie hanya merasa bergetar, dan memberanikan diri berkata kepada Ralphie: “Tidak mungkin kamu pacarnya, karena Serena dari dulu diam-diam menyukai pacar saya.”


“Laki-laki di samping kamu ini?” Ralphie berkata dengan nada ejek, kemudian melanjutkan: “Kalau begitu saya buktikan kepada kalian apakah saya memang pacar Rena atau bukan.”


Tangan besarnya sekali tarik, Serena langsung terjatuh ke dalam pelukannya, tanpa menunggu Serena merespon, Ralphie menundukkan kepala dan langsung mengecup bibirnya.


Hello! Im an artic!


Awalnya Ralphie hanya melakukan ini untuk membela dan melindungi Serena.


Tetapi saat bibirnya menyentuh bibir Serena yang lembut itu, dia seketika merasa tidak rela melepasnya, kemudian semakin menciuminya dengan mesra, semakin mesra dan semakin mesra.


Ralphie menciumi Serena dengan sangat dalam, hingga membuat Serena hampir tidak bisa mengatur nafasnya.


Jantung Serena berdebar dengan kencang, suatu perasaaan yang kuat, asing dan menggairahkan merasuk ke dalam badannya, dia merasa dirinya hampir tidak bisa bernafas lagi.


Saat Serena merasa hampir tidak bernafas itulah Ralphie melepaskan bibirnya.


Sekujur tubuh Serena lemas, bersandar di badan Ralphie, dia bernafas terengah-engah, dengan matanya yang sudah sayup dia melihat semua orang di sekeliling melihatnya dengan bengong.


Serena terkejut beberapa detik, kemudian baru sadar apa yang sedang mereka lihat.


Wajah Serena sontak memerah, kemudian membenamkan wajah ke dalam dada Ralphie, tidak berani melihat orang-orang disana.


Melihat respon Serena seperti itu, Ralphie tersenyum kecil. Dia mengangkat tangan dan membelai rambut Serena, kemudian mengangkat kepala dan saat itu ekspresinya sudah kembali dingin dan cuek.


Tatapan dingin melihat ke sekeliling, terakhir matanya tertuju pada Maggie, “Apakah ini sudah cukup membuktikan?”


Maggie hanya merasa ketajaman mata Ralphie yang hampir mencabik-cabik dirinya, kepikiran tindakan galak Ralphie saat itu, badan Maggie langsung lemas dan dia pun duduk di lantai tanpa tenaga.

__ADS_1


Maggie sembarang mengatai Serena membawa pacar palsu untuk membohongi orang, dan akhirnya dibuat tidak berdaya oleh Ralphie dan Serena, orang-orang di sekitar sana spontan menjadi illfeel dan menjauh darinya, yang terlihat sekarang adalah dia duduk lemas seorang diri tanpa ada yang membantunya.


Sebagai pacar Maggie, Alfred juga merasa malu, terutama saat Maggie ingin membuktikan bahwa yang dibawa Serena adalah pacar palsu, dia mengatakan Serena diam-diam menyukai pacarnya selama 4 tahun, tetapi bagaimanapun Alfred tidak bisa membuangnya begitu saja.


Alfred melihat Ralphie dan Serena yang sedang berpelukan itu, kemudian dengan cepat membawa Maggie meninggalkan tempat itu.


Setelah Maggie dan Alfred pergi, teman-teman yang kaget hingga mulutnya terbuka lebar langsung menghampiri, masing-masing membicarakan keburukan Maggie.


Ralphie mengerutkan kening, terlihat sungguh tidak senang. Serena tidak bisa membiarkan dirinya malu lagi, dengan cepat mengangkat kepala untuk melihat orang-orang itu.


Untunglah, tidak berapa lama, musik “Iringan Pernikahan” mulai terdengar.


Musik itu perlahan semakin nyaring, semuanya mulai berpencar dan kembali duduk ke kursi masing-masing, sambil menunggu pengantin tiba.


Saat semua orang sudah bubar, Serena baru meminta maaf kepada Ralphie: “Sungguh maaf, merepotkan kamu saja.”


“Tidak kok….” Ralphie menoleh dan secara kebetulan pandangan mata tertuju pada bibir merah milik Serena, tatapannya seketika terhenti beberapa saat, kemudian dengan cepat mengalihkan pandangannya.


Serena menjawab “Ya”, kemudian 1 tangan menunjuk tempat duduk di pojokan, 1 tangan lagi menarik Ralphie dan berkata: “Kita duduk disana saja yuk.”


Ralphie melihat sekilas tempat yang ditunjuk Serena, kemudian membiarkan dia menariknya kemanapun.


Setelah mereka ambil posisi duduk, pengantin naik ke atas panggung untuk memulai acara itu.


“Pengantin perempuan sangat cantik, pengantin laki-laki sangat tampan, bahagia selalu…”


Ralphie memotong perkataannya dengan suara dingin, “Tutup mulutmu.”


Sebenarnya Ralphie sangat senang saat Serena tidak berhenti berbicara, dia ingin mendengarnya dengan tenang.


Hanya saja Ralphie tau suasana hati Serena hari ini sungguh tidak baik, tetapi dia malah mengatakan kalimat seperti itu. Ralphie tidak kuat mendengarnya, makanya memintanya tutup mulut saja.


Karena dibentak Ralphie, Serena tidak lagi kuat menahan air matanya, dan akhirnya pun mengalir keluar.


Ralphie menghela nafas, kemudian mengambil tisu di atas meja dan menghapuskan air mata Serena.


Setelah Serena puas menangis, tisu-tisu basah juga sudah menumpuk di atas meja.


Terakhir Serena dengan suara tersedu-sedu meminta maaf kepada Ralphie, “Maaf…..”

__ADS_1


Ralphie tidak menerima permintaan maafnya, hanya berkata dengan nada datar: “Sudah selesai nangisnya? Ayo pergi.”


“Pergi? Bagaimana dengan acara pernikahan? Tidak ikut lagi?” Serena bertanya dengan bisik.


“Acara pernikahannya sudah berakhir saat kamu masih menangis, semua sudah selesai.” Ralphie menjawabnya dengan wajah tak berekspresi.


“Sudah berakhir?” Serena tercengang dan mengangkat kepala melihat sekeliling, dan ternyata tersisa beberapa orang saja disana. Dia canggung dan menggosong hidung, kemudian berdiri bersamaan dengan Ralphie.


Setelah keluar dari ruang tempat acara pernikahan itu, Ralphie dan Serena langsung masuk ke restoran dalam hotel untuk makan malam.


Selesai makan malam dan keluar dari hotel, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.


Hujan juga sudah reda, sepanjang jalan masih terlihat basah.


Dua orang berjalan menuju parkiran, satu di depan, satu di belakang, sesampainya di jarak 1 meter dari mobil Ralphie, Serena yang berjalan di belakang tiba-tiba menghentikan langkahnya, “Hati-hati bawa mobilnya, saya pulang dulu.”


Selesai berkata, Serena langsung berbalik dan meninggalkan tempat itu, tetapi malah dipanggil oleh Ralphie, “Saya antar kamu!”


Tidak menunggunya menjawab, Ralphie lanjut berkata: “Naik taksi malam-malam gini tidak aman.”


Mobil melaju cepat, hingga di tengah perjalanan, handphone Ralphie berdering.


Panggilan dari Isa.


“Hallo, Direktur Ralphie, apakah Anda masih mau datang kesini? Meski saya yang mengundang Anda, tetapi Anda juga menyetujuinya, dan saya sudah menunggu 3 jam, sebenarnya apa maunya Anda….” Isa terus meledak-ledak kepada Ralphie lewat telepon.


Ralphie menunggu sampai Isa selesai berbicara dan hanya menjawab, “Saya ada urusan.”


“Ada urusan apa kamu? Sudah tengah malam masih sibuk?” Isa seperti tidak semudah itu menerima alasannya.


Ralphie menjawabnya dengan 2 kata, “Urusan pribadi.”


Mendengar Ralphie mengatakan urusan pribadi, Isa langsung bersemangat, “Urusan pribadi? Wah, Ralphie pun ada urusan pribadi sekarang! Urusan apa? Perlu bantuan saya?”


Ralphie mengangkat alis, kemudian menjawabnya dengan nada dingin, “Pergi jauh-jauh”.


Serena mengira Ralphie marah, dengan segera dia berkata: “Kalau kamu ada urusan, saya turun di tepi jalan saja….”


Ralphie belum lanjut berbicara, Isa sudah mendengar suara Serena dari ujung telepon, suaranya langsung meledak, “Wah! Wah! Ralphie, kamu sedang bersama seorang perempuan ya? Siapa dia? Urusan pribadi yang di maksud itu dia?”

__ADS_1


Ralphie tidak menjawab perkataan Isa, hanya berkata: “Saya agak malam baru kesana.”


“Agak malam? Seberapa malam….” Isa belum selesai berkata, Ralphie sudah memotongnya.


__ADS_2