I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 12 Perang Dingin Yang Tidak Terkatakan


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Awalnya Felix mengira Ralphie sengaja menyuruhnya untuk menjemput Serena, dan bertanya kepadanya tentang laki-laki yang tadi menarik tangannya, tentunya tidak langsung bertaya tentang laki-laki itu, tapi paling tidak ada bicara sedikit.


Tetapi ketika sepuluh menit sudah berlalu, dia baru sadar ternyata ia salah.


Hello! Im an artic!


Dari sejak Direktur Su mereka berkata ‘ Masuk’ ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Dan Nona Luo melihat keluar jendela dan tidak tahu sedang memikirkan apa.


Merasakan suasana didalm mobil yang sangat tidak bersahabat, hati Felix sangat kacau.


Direktur Su, kamu bicaralah sama Nona Luo.


Walaupun Ralphie tidak bisa mendengar kata hatinya, dan walaupun dia mendengarnya, ia juga tidak pasti bisa mulai ngobrol dengannya, karena ia memang terkenal dingin dan sombong.


Hello! Im an artic!


Demi untuk meramaikan suasana, Felix akhirnya mulai berbicara, “Nona kamu hari keluar untuk jalan-jalan yah?”


Serena yang sedang melihat keluar jendela pun menoleh dan menjawab: “Jangan panggil aku nona, panggil saja aku Serena Luo, kamu boleh langsung memanggil namaku.”


Felix tidak berani memanggil namanya langsung, jadi dia memilih untuk memanggilnya ‘ Nona Luo’.


Mendengar kata ‘ Nona Luo’, Serena pun menggelengkan kepalanya dan dia juga tidak berencana untuk membenarkannya lagi, dan menjawab pertanyaan yang ditanyakan Felix tadi, “Iya saya keluar jalan-jalan.”


Felix melihat barang yang dibawa Serena lalu berkata: “Nona Luo barang yang kamu beli sedikit sekali.”


“Benarkah?” Serena menundukkan kepalanya dan melihat barang yang dibawanya.


Felix menganggukkan kepalanya, “Iya, aku ada kakak ipar, tiap kali kalau dia keluar belanja baju, tas, sepatu dan peralatan make-upnya, kalau belum ada sepuluh bungkus lebih, dia tidak akan pulang.”


Serena tertawa lalu menjawab, “Semua wanita memang begitu.”


Serena berbincang santai dengan Felix, walaupun Ralphie tidak membuka mulut, tetapi ia terus mendengarkan pembicaraan mereka.


Dia mendengar suara Serena yang lembut, perasaan hatinya yang tadinya marah sekarang dengan perlahan sudah mulai reda.

__ADS_1


Setelah berbincang beberapa saat, handphone Serena pun berdering.


Dia minta maaf kepada Felix dan mengambil handphonennya keluar dari tasnya.


Dia meraba-raba kedalam tasnya dan menaruk plastik yang dibawanya ke samping kakinya, lalu ia menggunakan kedua tangannya untuk mencari handphonenya.


Setelah menemukan handphonenya, dia pun menjawabnya.


“Iya, sudah selesai. Makan? Makan dimana…..”


Ralphie melihat ke arah Serena yang menundukkan kepalanya, dan mengunci tasnya, dengan nada bicara yang lembut dia berbincang dengan orang yang meneleponnya, sampai Ralphie sendiri tidak sadar kalau dia sedang mengerutkan keningnya.


Orang yang meneleponnya itu siapa? Dekat sekali? Sampai mau makan bareng?


Ralphie sendiri tidak sadar, rasa penasaran yang ada didalam hatinya, sangat pekat.


Serena sendiri tidak sadar dia sudah berbicang dengan orang yang meneleponnya selama sepuluh menit lebih, dan Ralphie juga sudah mendengarnya selama sepuluh menit lebih.


Setelah Serena menutup teleponnya, ia menyadari Ralphie yang sedang melihatnya, lalu ia pun bertanya kepadnya, “Ada apa?”


Melihat tindakan Ralphie, Serena pun langsung tercengang.


Dia merasa sedikit kecewa lalu ia pun dengan perlahan melihat kearah luar jendela.


Menyadari perbuatan yang ia perbuat tadi membuat Serena merasa sedikit tidak enak, sekarang ketika ia melihat tindakan dan pandangan Serena, didalam hatinya ia merasakan sebuah perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumya.


Ralphie pun menekan bibirnya dan terus melihat ke arah luar jendela.


Sepuluh menit pun sudah berlalu, dan ketika melewati Drisker Mansion, tiba-tiba Serena membuka mulut dan berkata, “Boleh tolong berhenti disini.”


Mendengar kata-kata ini, Felix langsung menghentikan mobilnya


Tidak menunggu sampai mobil itu benar-benar berhenti, Serena sudah terburu-buru turun dari mobil,, “Terima kasih kalian sudah mengantarkanku.” Setelah Serena berterima kasih, ia pun langsung menutup pintu mobil itu dan pergi.


Setelah mendengar suara pintu itu ditutup, Ralphie baru menoleh dan melihat Serena yang hilang di tengah keramaian.


Dengan perlahan ia melihat kearah lain dan pas sekali ia melihat bungkusan Serena yang tertinggal.

__ADS_1


Tadi Serena turun dengan terburu-buru, dan ia pun lupa dengan bungkusan yang ia taruh di bawah.


Ralphie memandang bungkusan itu sebentar lalu mengambilnya.


Dari kaca spion, Felix melihat Ralphie yang sedang mengambil bungkusan Serena, lalu berkata: “Direktur Su, itu adalah barang Nona Luo, tadi dia pergi dengan tergesa-gesa dan melupakannya.”


Ralphie melihat jalanan yang ramai itu lalu melihat bungkusan yang ada ditangannya dan tidak mengatakan apa-apa.


“Direktur Su, ini…..” Felix baru saja mau bertanya, barang Serena ini bagaimana, tetapi perkataannya malah sudah dipotong oleh Ralphie, “Balik ke rumah.”


Felix sebenarnya tidak mengerti kenapa Ralphie tiba-tiba berpikir untuk kembali ke rumahnya dan bukannya balik ke kantor, tetapi ia tidak berani banyak bertanya.


Hari masih siang, tetapi jalanan sudah sangat macet, jadi sudah hampir jam 5, mereka baru sampai ke tempat tinggal Ralphie di Shadewoods Manor.


Mobil itu memasuki gerbang yang berlapis-lapis dan akhirnya sampai ke depan rumah Ralphie.


“Besok pagi jam 7.30 datang kesini.” Setelah selesai berbicara, Ralphie tidak menunggu balasan dari Felix dan mengambil bungkusan Serena lalu masuk turun dari mobil dan masuk kedalam rumahnya.


Felix berbegong beberapa detik dan tidak mengerti apa yang yang dikatakan Ralphie.


Setelah Ralphie masuk kedalam rumahnya, awalnya dia berencana untuk meletakkan barang itu di dekat pintu masuk. Tetapi ketika ia baru meletakkan barang itu, ia malah balik dan mengambil bungkusan itu lagi dan membawanya ke dalam kamarnya.


Setelah ia meletakkan bungkusan itu diatas mejanya, ia pun langsung masuk ke dalam toilet.


Dia mandi dengan air panas, lalu Ralphie memakai baju tidurnya dan membawa sebuah handuk di tangannya, sambil mengelap kepalanya sambil berjalan menuju kamarnya.


Ketika ia melewati meja kamarnya, langkah kakinya terhentikan dan pandangannya tertuju pada bungkusan itu.


Ralphie tahu, jika membuka barangnya tanpa persetujuan dari Serena, itu adalah tanda tidak menghargainya.


Tetapi ia benar-benar sangat penasaran, sebenarnya apa yang dibeli oleh Serena.


Ralphie terus menatap bungkusan itu, dan pada akhirnya ia pun menjulurkan tangannya dan mengambil bungkusan itu.


Ketika bungkusan itu terbuka, yang ada didalamnya bukanlah baju, tas, sepatu atau makeup, tapi malah adalah sebuah lukisan.


Mata Ralphie menunjukkan ekspresi sedikit terkejut dan matanya pun terus tertuju pada lukisan itu, lalu Ralphie pun mengembalikan lukisan itu kedalam bungkusannya.

__ADS_1


__ADS_2