I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 65 Apakah Ingin Pergi Melihat Kyoto


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Ralphie yang mendengar Serene mengatakan lain kali menonton filmnya, harusnya ia bisa menjawab ‘Ya’, bahkan Ralphie sendiri tidak akan mengira bahwa mulutnya mengatakan, “Apa kamu ingin pergi melihat Kyoto?”


Serene terdiam sejenak, lalu bertanya, “Kamu pergi ke Kyoto untuk mengurus sesuatu, apakah aku tidak mengganggu jika ikut pergi kesana?”


Hello! Im an artic!


Ralphie terdiam beberapa saat diseberang sana, menanyakan sesuatu yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pembicaraan mereka saat ini.


“Tidak.” Ralphie mengerutkan bibirnya kemudian berkata, “Sekarang kamu ada di mana?”


“Sudah dipintu masuk Kawasan rumahmu.” Serene kemudian berpikir, kemudian berkata, “Aku tidak perlu ikut bersamamu ke Kyoto, aku takut mengganggu…”


Ralphie tidak menjawab perkataan Serene, langsung mengatakan, “Kamu tunggu disana.”, kemudian mematikan telponnya.


Hello! Im an artic!


Setelah mematikan telponnya dengan Serene, Ralphie menelpon Felix, menyuruhnya untuk membelikan 1 tiket lagi, kemudian mengambil tasnya dan meninggalkan rumahnya.


Karena Ralphie menyuruh Serene untuk menunggu, karena itu Serene tidak masuk ke Shadewoods Manor dan berdiri menunggu diluar area itu.


Serene memandang sekilas ponselnya, dalam pikirannya berputar kata-kata Ralphie. Ralphie bertanya apakah ia ingin pergi ke Kyoto bersamanya!


Dia tidak salah mendegar apa yang Ralphie katakan.


“Apa kamu ingin pergi ke Kyoto?”


Walaupun dia mengerti Ralphie tidak ada maksud lain dengan perkataannya, tapi Serene tidak bisa menahan perasaan senang dalam hatinya.


Ralphie adalah orang yang ada didalam hatinya, Ralphie adalah orang yang selangkah demi selangkah dekat dengannya.


Pandangan Serene ada pada ponselnya, bibirnya tertarik keatas sedikit dan dia tersenyum.


Ralphie mengendarai mobil keluar dari area rumahnya, hal pertama yang ia lihat ketika keluar dari Kawasan itu adalah Serene yang berdiri dipinggir jalan, satu tangan memegang makanan dan satunya lagi memegang ponsel.

__ADS_1


Serene sedang menunduk memandang ponselnya, tidak tahu apa yang ada diponselnya yang menarik perhatiannya, ia menatapnya dengan sangat serius, bulu mata lentiknya menatap kearah bawah, diwajahnya terukir senyum tipis, tidak tahu hal menyenangkan apa yang sedang dipikirkannya yang membuatnya merasa senang dan puas.


Melihat raut wajah Serene, Ralphie tersenyum. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku, sembari menelpon Serene sembari turun dari mobil. Sebelum berjalan mendekat, Ralphie sudah mendengar ponsel Serene yang berdering.


‘Tidak tahu sejak kapan, aku diam diam suka memikirkanmu. Tolong jangan tertawakan obsesiku, aku menyukaimu dari lubuk hatiku yang terdalam’


Terkejut dengan suara ponselnya yang berdering, Serene menggenggam ponselnya. Ralphie yang melihat tingkah Serene tidak bisa menahan tawanya.


Mendengar nada dering yang tidak asing, Serene mengangkat kepalanya dan menatap Ralphie yang berdiri dihadapannya yang hanya berjarak 1 meter. Karena terkejut, dia tidak sadar dan tidak mematikan panggilan yang ada diponselnya.


Kebetulan nada dering diponselnya sudah sampai di bait, “Aku tidak berani berharap untuk menghabiskan malam denganmu, hanya berharap cintaku bisa membawakanmu kebahagiaan. Aku berikan mawar dalam hatiku kepadamu, berharap kamu akan menjaganya dengan baik. Tidak pernah berharap untuk memelukmu selamanya, hanya ingin menyembunyikanmu didalam lubuk hatiku yang terdalam.


Ralphie yang tadinya berada lumayan jauh dan tidak menyadari lirik lagunya, setelah mendekat, ia baru menyadari bahwa nada dering itu tidak hanya bunyi namun memiliki lirik didalamnya, dan sangat menyentuh. Baru ia hendak melihat keponsel Serene, namun Serene dengan cepat mematikan panggilan dalam ponselnya.


Sambil menyimpan ponselnya kedalam tas Serene sambil bertanya, “Kenapa tidak langsung memanggilku, malah menelpon?”


Ralphie tidak bisa memberitahu Serene bahwa ia berniat untuk mengerjai Serene. Tapi sekarang ia baru menyadari, niatnya barusan sangatlah kekanakan.


Ralphie berdehem pelan, dan berkata dengan acuh, “Haha lebih mudah.”


Ralphie dengan canggung mengalihkan pandangannya, “Naiklah ke mobil, kita mengejar pesawat.”


“Oh.” Serene mengangguk, dan tiba-tiba tersadar, “Tiket pesawatnya, aku tidak membawa paspor…”


Tujuan Serene awalnya hanyalah datang untuk menonton film bersama Ralphie, bahkan dia tidak membawa tas, bagaimana mungkin ia membawa paspor.


“Felix akan mengurusnya.” Setelah mengatakannya Ralphie berbalik masuk ke dalam mobil.


“Oh.” Serene menggosok hidungnya dan mengikuti Ralphie masuk kedalam mobil.


Setelah masuk kedalam mobil, Serene baru teringat dengan sarapan yang dibelinya, “Oh ya, bagaimana dengan sarapan yang sudah ku beli ini?”


Serene menunjuk kotak makan yang ada ditangannya dengan wajah yang sedikit kesal.


Kalau memakannya didalam mobil nanti kotor dan susah, sampai di bandara sudah harus mengejar check in, pasti tidak ada waktu untuk memakannya.

__ADS_1


Kelihatannya sarapan ini tidak akan dimakan! Serene menghela napas pelan, “Nanti akan kubuang sesampainya dibandara.”


Ralphie mengalihkan pandangannya sebentar kearah Serene kemudian berkata, “Makan didalam pesawat saja.”


“Apakah boleh?” mata Serene berbinar setelah mendengar perkataan Ralphie.


Ralphie mengangguk meng’iya’kan, kemudian setelah beberapa saat menambahkan “Boleh.”


“Baguslah kalau begitu.” Serene senang dan meletakkan kotak makan yang ia pegang.


Ralphie melihat sekilas kearah Serene dan kembali mengemudikan mobilnya.


Felix terkejut setelah mendapat telpon dari Ralphie yang mengatakan untuk memesan satu lagi tiket pesawat. Tentu saja, walaupun ia sangat terkejut, ia tetap menuruti yang dikatakan oleh Ralphie dan memesan tiket pesawatnya.


Sekali lagi ia terkejut melihat Ralphie dan Serene yang datang bersama. Didunia ini yang mampu membuat Tuan Su menelponnya untuk membeli tiket pesawat lagi hanyalah nona Luo seorang.


Felix menyimpan wajah terkejutnya dan menyapa dengan sopan kepada Ralphie dan Serene, “Tuan Su, nona Luo.”


Ralphie meng’iya’kan dengan enggan. Felix menunduk menyapa Serene, kemudian menyerahkan dua tiket pesawat kepada Ralphie.


“Tuan Su, ini tiket anda dan nona Luo.”


Ralphie mengulurkan tangannya untuk mengambil tiket itu, melihat sekilas tiketnya, kemudian mengangguk.


Felix membuka tasnya dan menyerahkan beberapa berkas kepada Ralphie.


“Tuan Su, ini adalah berkas yang anda butuhkan.”


“Ya.” Ralphie mengambil berkas itu dan memasukkannya kedalam tasnya, kemudian berjalan menuju tempat check in bersama Serene.


Setelah berjalan beberapa langkah, ia teringat sesuatu dan berhenti, kemudian berbalik melihat Felix, “Belikan tiket pulang untuk malam ini.”


Tiket pulang malam ini? Kenapa hari ini Tuan Su terburu-buru? Felix terdiam sejenak, ketika melihat Serene yang ada disamping Ralphie baru mengerti mengapa Ralphie ingin pulang mala mini.


Nona Luo besok harus bekerja, tentu saja Tuan Su harus mengantarkannya pulang ke kota A!

__ADS_1


Felix mengangguk menjawab “Baik.”


__ADS_2