I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 25 Bukan Pacar


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Suasana dalam mobil sangat tenang, Serena membuka mulut seorang ingin mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya tidak mengatakan apapun, pandangan matanya tertuju pada lampu-lampu di luar jendela.


Setengah jam kemudian, Ralphie mengantar Serena sampai ke gerbang utama Gallowen Manor.


Hello! Im an artic!


Saat mobil sudah berhenti total, Serena melepaskan sabuk pengaman, kemudian berkata sambil berterima kasih kepada Ralphie, “Terima kasih sudah mengantarku pulang.”


Ralphie menganggukkan kepala artinya mengiyakan.


Serena mengambil tas dan membuka pintu mobil. Saat akan menutup kembali pintu mobil, dia tidak tahan dan memberi pesan, “Hati-hati bawa mobilnya.”


Ralphie menjawab “Ya”, kemudian menambahkan, “Selamat malam.”


Hello! Im an artic!


“Selamat malam!” Serena menutup pintu dan berbalik badan.


Ralphie menoleh melihatnya sejenak, setelah itu baru pergi meninggalkannya.


Serena melihat kepergian Ralphie dan hilangnya mobil dari penglihatan, setelah itu baru berbalik dan masuk ke dalam kawasan tempat tinggalnya.


Saat sampai di kediamannya, Claudia sudah tertidur, karena takut membangunkannya, Serena tidak mandi lagi, karena tadi dia sudah mandi di kamar hotel.


Dia hanya sikat gigi dan ganti pakaian, kemudian baring di tempat tidur.


Meski sudah sangat malam, tetapi Serena malah tidak bisa tidur sama sekali.


Dia berbalik-balik di dalam tempat tidur, memikirkan kembali kejadian malam ini.


Dia basah kuyup, Ralphie menariknya dan membuka kamar hotel, dan juga meminta orang mengantarkan pakaian baru.


Dia memanfaatkan Ralphie untuk membohongi orang-orang, tetapi Ralphie tidak hanya tidak marah, dan malah membelanya di tengah hujatan orang-orang.


Ralphie membantunya mengalahkan Maggie dan Alfred, menjatuhkan nama baiknya…


Ralphie menghapuskan air matanya…


Sambil berpikir, Serena juga teringat ciuman Ralphie saat itu, ciuman itu membuat wajahnya bertambah merah, panas, dan jantung berdebar, membuat sekujur tubuh bergetar.

__ADS_1


Serena tidak punya pengalaman tentang ciuman, ini adalah ciuman pertamanya, dan dia tidak tahu bagaimana caranya berciuman dengan baik dan benar.


Serena secara tidak sadar mengangkat tangannya dan memegangi bibir sendiri.


Meski ciuman Ralphie sudah lama berlalu, tetapi di bibirnya seperti masih tertinggal rasa dan kehangatan Ralphie.


Serena tiba-tiba seperti kepanasan, dengan cepat dia memindahkan tangannya.


“Serena, kamu sedang memikirkan apa? Orang hanya berpura-pura membela kamu, buat apa memikirkan hal yang tidak-tidak seperti ini?”


Serena membuang jauh-jauh pemikirannya, kemudian duduk di ranjang, bermain handphone hingga waktu menunjukkan pukul 12.30, pas sekali dengan waktu tibanya Ralphie ke villa.


Serena dengan refleks mengetik “Kamu sudah sampai rumah belum?” dan akan segera mengirimkannya untuk Ralphie, tetapi malah kepikiran, di mobil tadi Ralphie mengatakan akan pergi ke suatu tempat.


Serena menghentikan gerakan jarinya, menghapus pesan yang sudah diketik dan menggantinya dengan “Ingat pulang awal untuk istirahat”, setelah pesan singkat dikirim, Serena meletakkan handphone ke lemari dan kembali berbaring di tempat tidur, dia menutup mata dan dengan cepat sekali langsung tertidur.


Saat Ralphie sampai ke Royal Club, waktu sudah menunjukkan pukul 12, dalam kamar hanya ada Isa sendiri.


“Direktur Ralphie, agak malamnya kamu sungguh malam ya!” Isa memancing Ralphie.


Ralphie tidak berkata apa-apa, hanya memberikan jaket kepada pelayan dan duduk di atas sofa.


Melihat dia tidak berkata-kata, Isa tidak bisa terima, “Ralphie, siapakah perempuan cantik yang terdengar di telepon tadi?”


“Ralphie, jangan berpura-pura bodoh, katakanlah.” Isa tetap tidak menyerah.


“Seorang teman.” Ralphie menjawab dengan nada datar.


Isa berkata seolah menemukan penemuan besar: “Ralphie, kamu berpacaran?”


Pacar? Ralphie terkejut, mengerutkan kening dan menggelengkan kepala, “Bukan.”


Isa menatap Ralphie beberapa saat, “Benaran bukan?”


Ralphie hanya melihat Isa tanpa berbicara.


Isa mengedipkan mata, kemudian berkata dengan nada bercanda: “Saya dengar dari telepon suaranya bagus sekali, kalau memang bukan pacarmu, kenalin untuk saya saja…”


Isa belum selesai berbicara, Ralphie memotongnya dengan suara keras, “Tidak boleh.”


Isa sudah kenal dengan Ralphie bertahun-tahun, dari dulu belum pernah melihatnya merespon dengan nada nyaring, Isa mengedipkan mata berkali-kali, dan baru sadar dari bengongnya, “Kenapa tidak boleh? Gini gini saya juga tampan dan kaya!”

__ADS_1


Isa bukannya terlalu percaya diri, wajahnya memang tidak setampan Ralphie, tetapi bagaimanapun tetap setingkat lebih tinggi dari orang biasa, cocok untuk dipasangkan dengan Serena, tetapi saat Ralphie membayangkan Isa berdiri di samping Serena, dia merasa sangat tidak senang.


Ralphie tidak punya waktu untuk memikirkan apa alasannya, hanya berkata kepala Isa: “Kamu adalah laki-laki playboy, jangan pergi mengganggunya.”


Mendengar Ralphie berkata seperti itu, Isa langsung tidak senang, “Eh, eh, apa-apaan playboy, saya hanya sedang mencari perempuan yang cocok dengan saya…..” Isa belum selesai berbicara, Ralphie memandangnya dengan mata dingin dan tajam.


Dalam tatapan itu terlihat amarah dan hawa-hawa yang mematikan.


Isa dengan cepat menutup mulut, tatapan Ralphie sungguh terlalu mengerikan! Dan juga membawa hawa-hawa mematikan!


Meski sudah memperingatkan Isa, dan tahu Isa tidak akan merencanakan pertemuan dengan Serena lagi, tetapi Ralphie tetap kelihatan tidak senang.


Dia menarik-narik dasi dengan tidak jelas, seperti tidak berguna apa-apa, lalu dia mengambil buku menu minuman di atas meja dan melihatnya.


Isa bertanya dengan kaget, “Ralphie, kamu mau minum bir?”


Ralphie kembali tidak menjawabnya, dia mengangkat telepon dan meminta pelayan datang ke tempat mereka.


Isa melihat Ralphie memesan segala jenis minuman bir dan arak, terakhir memesan anggur impor, dan ekspresi Isa dari awal hingga akhir hanyalah tercengang.


Ralphie tidak peduli dia kaget atau melongo, saat minuman sudah datang, tanpa melihat jenis birnya, dia langsung melemparkan sebotol kepada Isa dan mulai minum.


Isa melihat dia minum sebotol demi sebotol, menasehatinya “Kamu jangan minum terlalu banyak, jangan sampai mabuk!”


Tanpa berbicara, Ralphie mengangkat tinggi gelas di depan Isa dan meneguk semuanya tanpa tersisa.


Isa melihat botol bir di tangannya, kemudian melihat Ralphie sekilas, terakhir hanya bisa memaksakan diri menemaninya.


Tentunya Isa tidak gila minum seperti Ralphie, diantara dua orang pasti ada satu yang mempertahankan kesadaran!


Ralphie habis meneguk satu botol, kembali mengambil satu botol lagi, sampai di botol ketiga, bunyi notifikasi di handphonenya berbunyi, Ralphie langsung menghentikan gerakannya.


Setelah itu Isa melihatnya meletakkan botol bir disana dan sesegera mungkin mengambil handphone dari dalam saku celananya.


Entah pemberitahuan apa yang baru Ralphie lihat, dia langsung berdiri dan mengambil jaket dari gantungannya, dan melangkah cepat keluar dari kamar restoran.


Isa ikut berdiri dan bertanya, “Hei hei… Ralphie, kamu mau kemana?”


“Pulang……” Ralphie mengatakan satu kata dengan samar-samar.


“Kamu sudah mabuk seperti ini, bagaimana pulangnya? Saya cari orang mengantarmu saja.”

__ADS_1


Isa mengantar Ralphie sampai ke mobil, baru sadar Ralphie pergi setelah melihat sebuah pesan singkat di handphone.


Wadaw, siapakah orang yang hebat ini, sebuah pesan singkat bisa membuat Ralphie yang sedang mabuk pulang dengan patuh?


__ADS_2