I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 417 Bertemu Sarah Lagi


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Hari berikutnya Serena dan Ralphie pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Isa.


“Serena, mengapa kamu ada di sini?” Isa terkejut melihat Serena di belakang Ralphie.


Hello! Im an artic!


Padahal, Ralphie sudah menyuruhnya menyembunyikannya.


Serena menjawab, “Aku mau tahu bagaiman keadaan mu?”


“Tidak apa-apa, tidak apa-apa, hanya luka kecil,” jawab Isa dengan tangan melambai.


Serena mendengus dan menjawab, “Luka kecil, lalu mengapa Claudia tak boleh tahu?”


Hello! Im an artic!


Ketika Serena menyebut Claudia, Isa langsung diam, “Serena, jangan beri tahu Claudia.”


“Tentu saja aku tidak akan memberitahunya, aku tidak tega melihatnya cemas.” Serena melirik Isa, lalu mengalihkan pandangannya pada perban di sekitar dada dan pahanya. “Dada dan paha mu cedera?”


Isa tidak berani menyembunyikan, dan dengan patuh menjawab, “Dua tulang rusuk terluka, dan tulang paha retak.”


Serena bertanya setelah beberapa detik hening. “Patah tulang, lebih sulit disembuhkan, berapa lama kamu akan bersembunyi dari Claudia?”


Isa menghela nafas dan menjawab, “Aku meminta keluargaku untuk menyuruh anak dan istriku ke Kyoto, dan harusnya bisa untuk menyembunyikannya beberapa waktu.”


“Hm,” Serena mengangguk, dan kemudian berkata, “Aku tahu, aku akan mencoba yang terbaik untuk merahasiakannya.”


“Terima kasih, Serena,” Isa tersenyum dan berterima kasih.


“Kamu tidak perlu berterima kasih padaku, aku hanya khawatir jika Claudia tahu, ia akan mencemaskan kamu.” Serena cemberut bibirnya dan menoleh ke Ralphie. “Aku akan pergi ke kamar mandi dulu.”


“Aku akan menemanimu” jawab Ralphie tanpa berpikir.


Apakah dia pikir ini di rumah? Dia juga bergegas untuk menemaninya ke kamar mandi.


Serena tersipu dan menatap Ralphie, “Tidak perlu.”


Ralphie tidak tahu mengapa Serena memelototinya, tetapi begitu Serena mengatakan tidak, Ralphie pun tidak memaksa dan hanya mengatakan, “Hati-hati.”


“Aku mengerti,” jawab Serena kesal, dan pergi ke kamar mandi.


Segera setelah Serena memasuki kamar mandi, Isa bertanya pada Ralphie, “Bukannya kamu mengatakan kamu ingin menyembunyikan ini dari Serena? Kenapa kamu memberi tahu Serena?”

__ADS_1


“Felix keceplosan” jawab Ralphie.


Isa bertanya, “Felix keceplosan? Serena mengetahui permasalahan tentang YL International?”


“Tidak.” Ralphie terdiam dan menjelaskan, “Aku lupa berdiskusi dengan Felix tentang lukamu dan akhirnya ketahuan.”


“Baguslah.” Isa merasa lega setelah mendengar penjelasan Ralphie. “Ya, ayahku berkata, Geng YL …” Isa tidak selesai berbicara, Serena keluar dari kamar mandi, dan dia segera mengubah topiknya, “Serena, maukah kamu makan buah? Ralphie, tolong ambilkan buah di meja teh. ”


“Tidak, buat kamu aja,” Serena menggelengkan kepalanya.


“Aku bisa makan berapa banyak sih?” Isa memutar matanya, dan kemudian berkata, “Ada durian di dalam kotak kardus di bawah, sewaktu Claudia hamil dia menyukai durian. Apakah Serena menyukainya?”


“Aku tidak makan durian,” Serena menggelengkan kepalanya dengan jijik.


Isa tersenyum, “Kalau begitu biarkan Ralphie memilihkan buah untukmu.”


“Boleh, apel saja kalau begitu,” jawab Serena.


Ralphie segera mengambil sebuah apel merah besar dan mulai mengupasnya dengan pisau buah.


Bukan hanya dia mengupas kulitnya yang rata dan indah, entah bagaimana caranya memotong dan mengiris apel itu, apel sudah teriris namun masih tampak seperti satu apel utuh, sehingga Isa terheran.


“Whoa, Ralphie, kamu benar-benar dewa.”


Serena tersenyum bangga, “Kamu mau belajar?”


“Kamu tidak akan bisa,” Serena menyesap apel dan mengangguk serius,


Itu membuat Isa merasa, seperti dihantam olehnya …


Serena dan Ralphie tidak lama menjenguk Isa, lagipula itu rumah sakit, kurang baik untuk wanita hamil seperti Serena.


Setelah meninggalkan Isa, Ralphie mengajak Serena ke The Waterfront Blossom untuk makan malam.


Ternyata, Sarah, yang sudah lama tidak terlihat bertemu dengan mereka di The Waterfront Blossom.


Sarah tidak berhasil menjahati Serena pada waktu itu, Serena tidak benar-benar membiarkan Elliot memecat Sarah, tetapi Sarah mengundurkan diri.


Setelah itu, Serena tidak pernah melihat Sarah, tetapi dia tidak menyangka bahwa dia akan bertemu di sini hari ini.


Sarah sedang makan dengan seorang pria, mereka yang sedang asyik makan itu tidak lama beradu mulut, dan kemudian keduanya mulai bertengkar dan berbicara dengan nada tinggi.


Serena tidak bermaksud mencampuri urusan mereka, tetapi kemudian, lelaki itu menampar Sarah, dan dia tidak dapat menahan diri untuk berbicara.


“Seorang pria memukul seorang wanita, apa masih bisa di katakan Pria?”

__ADS_1


Pria itu tidak ingin ada seorang pun yang menasehatinya dengan sepatah kata pun, dan menjawab dengan nada yang sangat buruk, “Aku memukul wanitaku, apa urusannya dengan kamu?”


“Aku tidak ada urusan dengan mu, tetapi jika kamu memukulnya, itu menjadi urusanku” jawab Serena dengan marah.


“Oh, kamu ikut campur? Aku akan menghajarmu sekalian.” Pria itu mengancam dengan ganas.


Merasa Serena diancam, dan Ralphie yang sangat mencintai istrinya, spontan berdiri.


“Kamu ingin memukulnya?” Ralphie melirikkan mata ke mata lelaki itu dengan tatapan dingin seolah lelaki itu sudah mati.


Pria itu ketakutan, dan kemudian tiba-tiba gemetar, “Tuan … salah paham, maksudku bukan itu.”


“Bukan bermaksud begitu?” Ralphie menatap tajam pada pria itu.


“Itu … itu …” Mana berani lelaki itu mengulang perkataannya sebelumnya? Dia hanya mampu berkata ‘itu’.


Ralphie kehilangan kesabarannya dan mengucapkan dua patah kata, “Minta maaf.”


Pria itu segera menundukkan kepalanya dan meminta maaf kepada Serena, “Maaf nona, sayalah yang salah dan menyinggung Anda.”


Serena berkata dengan sopan, “Tampar dirimu dan minta maaf padanya.”


“Ini …” Pria itu tidak menyangka Serena akan memintanya begitu, tetapi sudah terlambat.


Suara muram Ralphie terdengar, “Tidak bersedia?”


“Ya, ya.” Pria itu bahkan berkata dua kali “Ya”, lalu mengangkat tangannya, menampar dirinya sendiri, dan meminta maaf kepada Sarah. “Maaf, aku seharusnya tidak memukulmu.”


Setelah permintaan maaf, pria itu menoleh ke Ralphie, “Maaf.”


Setelah Ralphie dengan dingin mengucapkan kata “Pergi sana”, pria itu pun melarikan diri.


Serena melirik Sarah, lalu menggandeng tangan Ralphie, “Ayo pergi ke meja, aku lapar.”


“Oke,” Ralphie mengangguk, membawanyake arah tangga.


Baru dua langkah kemudian, Sarah memanggilnya.


“Serena …”


Serena berhenti dan melihat ke belakang, “Apakah ada apa?”


Sarah mengerutkan bibirnya dan kemudian menjawab, “Terima kasih tadi.”


“Sama-sama. Aku akan melakukan hal yang sama untuk siapa pun,” Serena mengangguk acuh tak acuh, lalu berbalik dan meninggalkan Ralphie.

__ADS_1


Melihat kembali kepergian Serena dan Ralphie, Sarah meneteskan air mata penyesalan.


Mereka dulunya berteman tetapi dihancurkan olehnya …


__ADS_2