
Hello! Im an artic!
Keesokan siang hari setelah Serena kembali ke kota A, kakek menelpon ke rumah.
“Serena, kata Ralphie kamu sudah kembali ke kota A?”
Hello! Im an artic!
Serena menjawab dengan sangat patuh, “Iya, kemarin malam baru sampai.”
“Serena tidak mungkin menyalahkan kakek karena menyuruh kamu kembali dan mengganggu kesenangan kalian berdua kan?” Sahut kakek dengan nada bicara yang sedikit bercanda.
Serena terdiam seketika, baru menjawab, “Tidak kok, kek.”
“Kalau kamu bisa bilang begitu, tetapi kemarin pas kakek telepon Ralphie dia sepertinya sangat tidak senang.” Kakek berkata sambil tertawa.
Hello! Im an artic!
Serena terdiam dan tidak tau apa hang harus dia katakan, “……ituuuuuu……
Melihat Serena yang tidak bisa berkata-kata membuat kakek batuk dengan terpaksa dan berkata, “Kakek bukan lagi menertawakanmu, kakek sedang berkata hal yang serius.”
“Kakek bicaralah.” Serena dengan sopan menjawab.
“Sebenarnya kita akan kerumahmu sebelum Imlek untuk mengantar hadiah, harusnya Ralphie pergi bersamamu, tetapi masalah di Kyoto harus dia yang turun tangan, tunggu sampai dia kembali takutnya tidak sempat, jadi dengan terpaksa membiarkanmu kembali sendirian, semoga kamu tidak menyalahkannya.”
Meskipun Serena sudah mendengar hal ini dari Ralphie, tetapi dia tidak menyangka jika kakek sendiri yang menelpon dan menjelaskan kepadanya.
Sebagai kepala keluarga Su, dia tidak perlu sampai berbuat seperti ini, tetapi kakek melakukannya, itu karena kakek sangat menghormati cucu menantunya itu.
Tersadar bahwa dia bukanlah cucu menantunya, Hati kecil Serena merasa sedikit tidak karuan.
Dia mengeratkan ujung bibirnya dan berkata, “Saya tau dia sangat sibuk, saya tidak mungkin menyalahkannya kek.
“Baguslah kalau menang seperti itu.” Kakek tersenyum lebar. “Nanti sore aku akan menyuruh Theo untuk mengantar sesuatu, saat kamu kembali, kamu juga sekalin bawa sedikit.”
Serena sebenarnya ingin menolak, tetapi seketika dia teringat saat dia menolak pemberian gelang zamrud dari kakek, perkataan yang akan dia keluarkan seketika ditelannya kembali dan berkata, “Terima kasih kakek.”
“Gadis bodoh, kenapa harus berterima kasih? Saat ada waktu luang, datanglah makan bersama ke keluarga Su.” Kakek berkata sambil tertawa.
“Iya kakek.”
__ADS_1
……
Pada awalnya Serena mengira kakek hanya mengirim beberapa sesuatu saja.
Tetapi siapa sangka, Theo datang dengan membawa satu truk penuh dengan barang.
Semua barang terbungkus rapi dalam kardus, Serena juga tidak tau ap yang ada didaamnya. Tetapi dengan barang sebanyak itu benar-benar membuatnya sangat terkejut.
“Kenapa sebanyak ini?”
“Kata kakek, Nyonya pasti bakal menyukainya, dan menyuruhku mengirim lebih banyak lagi.” Theo menjawab dengan rasa hormat.
Serena tertegun, kirim sedikit lebih banyak, kalau ini namanya terlalu banyak.
“Itu…. Tuan Theo, maaf jadi merepotkanmu.”
“Nyonya tidak perlu sungkan, panggil saya Theo saja.” Theo menjawab dengan tertawa.
Serena juga tertawa, tetapi tidak benar-benar akan memanggilnya Theo begitu saja. Dia adalah orang kepercayaannya kakek, dia sangat tau diri bahwa dia bukan siapa-siapa.
Setelah Serena dan Theo selesai bercakap, kemudian membantunya memasukan semua barang yang dibawanya kedalam ruang penyimpanan, dan kemudian pergi setelah selesai.
Semua barangnya sudah ditata dengan rapi, Serena juga tidak memperdulikan sebenarnya apa yang ada didalamnya.
Dari menikah sampai sekarang, Serena tidak pernah sekalipun kembali kerumah keluarganya itu.
Saat mengingat kembali saat dia menikah pada hari itu, dia sudah bersumpah dalam hatinya akan memutuskan hubungan dengan keluarganya itu. Tidak disangka setelah sebulan berlalu dia masih kembali kesana.
Serena menghela napasnya dalam-dalam, mengangkat tanggannya membunyikan bell.
Ting… tongg…..
“Iya iya sebentar!” Dari dalam terdengar seseorang menyaut.
Tidak lama kemudian, pelayan keluarga Luo, Bibi Liu membukakan pintu untuknya.
Bibi Liu yang melihat Serena seketika terdiam, kemudian berteriak kedalam berkata, “Nona telah kembali.”
Serena tidak berkata apapapun, membawa barang yang dibelinya masuk.
Leonard yang sedang duduk diruang tamu mengerutkan kedua alisnya saat melihat Serena datang sendirian.
__ADS_1
“Kenapa cuma kamu sendiri yang kembali? Ralphie mana?”
Leonard demi Grup Luo yang karena masalah rencananya yang akan membuka pasar diluar negeri pergi ke Grup Su menemui Ralphie beberapa kali, tetapi Felix selalu berkata bahwa Ralphie sedang tidak berada di kota A.
Karena tidak dapat menemui Ralphie, dia kemudian berencana, ketika Serena dan Ralphie kembali kerumah pada waktu imlek nanti, dia akan kembali membicarakan rencananya ini kepada menantunya itu. Kemarin malam dia mengetahui dari Bibi Bella bahwa Serena akan kembali ke rumah hari ini, dia hari ini menunggunya seharian, tetapi tidak disangka bahwa dia tidak kembali bersama Ralphie.
Serena merapatkan bibirnya dan samar-samar menjawab, “Dia tidak datang.”
Leonard yang mendengar Serena berkata “Tidak datang”, raut mulanya berubah menjadi serius, tetapi melihat Ralphie yang sangat peduli dengan Serena, dia mengurungkan niat untuk melepskan amarahnya.
Kemudian dia berdehem tanpa berkata apapun.
Tepat pada saatu itu bibi Bella turun dari lantai dua dan melihat kedatangan Serena segera terhuyun-huyun mendekat menyambut Serena. “Serena, kamu kembali? Bibi sudah menunggu seharian.”
“Maaf bibi, siang tadi ada sedikit urusan, jadi sekarang baru datang.” Serena mengangkat bibirnya tersenyum.
“Tidak apa-apa, kamu kembali saja sudah cukup.” Bibi Bella tersenyum lembut, sorot matanya tralihkan pada sesuatu yang dibawa Serena ditangannya, kemudian menunjuk ke arah Bibi Liu dan berkata: “Bibi Liu kamu tuh gimana sih? Serena sudah masuk kedalam tapi masih tidak membantunya membawa barang bawaannya?”
“Maafkan saya nona.” Bibi Liu meminta maaf sambil mendekat ke arah Serena dan membawakan barang yang dibawanya.
Ternyata Leonard tidak memperhatikan sesuatu yang dibawa Serena, Bibi Bella memarahi Bibi Liu karena inilah yang membuatnya tersadar akan apa yang Serena bawa.
Setelah melihat barang yang dibawa Serena adalah barang yang dibeli dari Supermarket membuat raut mukanya terlihat menyiut.
“Ini barang yang kamu bawa dari rumah keluarga Su?”
Serena seketika mengerti apa yang dimaksud oleh ayahnya itu, dia seketika mengerutkan bibirnya dan menjawab, “Iya, kenapa memangnya?”
Melihat senyuman dari raut muka Serena, Leonard marah sejadi-jadinya, “Kenapa? Kamu tanya kenapa? Keluarga Su yang kaya raya, kamu hanya membawa sesuatu seperti ini untuk bikin malu?”
“Kenapa? Kamu ingin aku datang membawa apa? Serena tersenyum sinis, kemudian bertanya, apa aku harus membawa seluruh keluarga Su kemari?”
Leonard yang mengetahui Serena sengaja berkata seperti itu menarik napas dalam-dalam dan berteriak kepadanya, “Kamu sengaja kan?”
Serena dengan tegas menganggukkan kepalanya, “Iya, aku memang sengaja.”
“Kamu…..” Leonard tidak mengira bahwa Serena akan mengakuinya begitu saja, dia marah sampai tidak bisa berkata-kata lagi.
Kebetulan terdengar suara bel berbunyi, tetapi orang dalam ruang tamu sedang sibuk saling beradu mulut, sama sekali tidak menyadari suara bel dari luar, Bibi Liu yang dengan khawatir mendengar suara bell berbunyi, dengan segera seakan merasa terselamatkan segera berlari membuka pintu.
Raut wajah Serena yang sangat halus dengan sedikit senyum mengejek berkata, “Bukankah aku sudah pernah mengatakan bahwa jangan pernah berpikir untuk melibatkan keluarga Su lagi?”
__ADS_1
“Dasar anak tidak tau diuntung.” Mendengar kata-kata Serena membuat Leonard mengayunkan tangannya, ketika akan menempar Serena tiba-tiba…..
Seketika, satu suara serak basah yang terdengar sangat seksi menghentikan Leonard yang akan memukul Serena, “Ayah mertua kenapa harus memukul Serena?”