
Hello! Im an artic!
Mendengar supir membetulkannya, Felix sangat takut Ralphie akan marah.
Tapi dia tidak menjadi marah, tapi menjawab dengan serius: “Aku salah ingat.”
Hello! Im an artic!
“Direktur Su mungkin karena tidak perlu menyiapkan kado Natal untuk orang lain, jadi salah ingat ya? Beberapa hari yang lalu, anak perempuanku sudah menyuruhku untuk membelikannya kado Natal.” Supir menjawab dengan tersenyum.
Menyiapkan kado Natal untuk orang lain? Ralphie sedikit bengong, lalu berkata: “Berhenti dipinggir jalan.”
Mendengar kata-kata Ralphie, Felix segera bertanya, “Direktur Su, anda ada masalahkah?”
“Turun jalan-jalan sebentar,” Ralphie membalas dengan datar.
Hello! Im an artic!
Felix sudah tinggal disampingnya Ralphie bertahun-tahun, mendengar katanya, langsung mengerti maksudnya.
Berjalan-jalan, sebenarnya turun mobil membeli kado.
Tentang kado diberikan kepada siapa, Felix tidak perlu menebak sudah tahu untuk siapa.
Tentu saja, Felix penuh dengan rasa percaya diri Direktur Su memberi kado ini untu orang itu, untuk mencairkan hubungan dua orang ini yang sedang sangat kaku, pas sekali.
Ralphie belum pernah berhubungan dengan perempuan, dia terhadap kesukaan seorang perempuan sama sekali tidak mengerti.
Untung ada Felix asisten yang serba bisa, memberikan dia ide.
“Direktur Su, hadiah alat make up bagaimana?” Felix bertanya pas sekali, sama sekali tidak membahas Serena, justru memilih barang kesukaan perempuan.
Alat make up? Dia juga tidak dandan. Jadi Ralphie langsung menolak ide ini. “Tidak bagus.”
Mendengar Direktur ini menolak ide alat make up, Felix langsung kebingungan.
Memangnya Direktur Su bukan memberikan kado untuk nona Luo kah?
Bukankan, Direktur Su jelas-jelas melihat barang yang berhubungan dengan perempuan..
Kalau begitu kenapa tidak pilih alat make up?
__ADS_1
Felix berpikir terus, tidak menemukan alasan. Kebetulan melewati bendera Grup Su di toko perhiasan, Felix berkata, “Direktur Su, di bawah bendera Grup Su ada toko perhiasan, mau pergi lihat?”
Seorang pria memberikan perhiasan kepada perempuan, perhiasan adalah pilihan yang cukup bagus.
Ralphie mendengar kata Felix, arah pandangnya berubah, lalu ke arah toko perhiasan itu.
Felix melihat Ralphie bergerak, diam-diam menghela napas, lalu ikut berlari kecil.
Pelayan toko melayani Felix dan Ralphie, melihat pakaian mereka berpakaian jas dengan harga yang tidak biasa, terutama Ralphie pakaian dengan desain kualitas tinggi, mengira melayani klien besar, pandangannya terus berbinar, setiap kali Ralphie mendekati satu produk berusaha setengah mati untuk merekomendasikan.
Dari Ralphie masuk ke toko langkah pertama, sampai sekarang pelayan toko berusaha setengah mati merekomendasi produk sampai lidah terbelit, tapi dia sendiri tidak mengatakan apapun dari awal.
Pelayan toko yang melihat ini, hatinya merasa berkecil hati, pada akhirnya tidak mengatakan apapun lagi, hanya sesuai dengan pekerjaan mengikuti mereka.
Ralphie melihat rak perhiasan disetiap produk dengan teliti dan seksama, perhiasan dilihat sekilas, seperti sedang mencari sesuatu, dan juga seperti dengan pandangan melihat sekilas.
Pada akhirnya pandangannya berhenti di satu cincin, jika Serena berada di sini, pasti merasa sangat aneh, dia yang mengikuti lomba desain produk perempuan itu, kenapa bisa ada di sini.
Ini sebuah cincin batu ruby diantara semua batu berlian yang lainnya, dan juga tidak menarik di mata, bahkan jika taruh di antara antar batu berlian yang lainnya, terlihat sangat biasa.
Ralphie mengerutkan alisnya, lalu menunjuk cincin, dengan dingin berkata, “Keluarkan cincin itu, aku ingin melihatnya.”
“Pajangan?” Ralphie mengerutkan alis, melihat ke arah Felix.
Felix menggelengkan kepala berkata, “Direktur Su, aku tidak tahu.”
Mendengar Felix tidak tahu, raut wajah Ralphie menjadi diam, “Panggil kepala bagian.”
“Baik.” Felix menganggukkan kepala, mengeluarkan ponsel dari kantong celana menelepon manager Victor Min.
Pelayan toko mendengar nama manager mereka, langsung terbelalak.
“Anda… anda…”
Ralphie mengusap matanya melihat dia sekilas, lalu dengan dingin berkata, “Keluarkan cincin ini untukku.”
“Ba, baik…” Tangan pelayan toko gemetar, mengeluarkan cincin dari rak di berikan ke Ralphie.
Ralphie memegang cincin itu, dengan seksama dia melihatnya dan menilainya, garisnya tidak rumit, justru sangat spesial.
Merah ruby yang sangat cerah, dia bawah sorotan lampu, justru membuat darah Ralphie mengalir deras.
__ADS_1
Sedangkan bentuk batu ruby juga berbeda, bukan bentuk hati, juga tidak seperti bentuk batu berlian yang diperhiasan lainnya, Ralphie justru seketika tidak bisa mengingatnya, di mana sempat melihat bentuk seperti ini.
Kira-kira sudah lewat belasan menit, manager Victor toko perhiasan lari ke tempat mereka dengan penuh keringat.
Dia tidak mengenal Ralphie, mengira dia hanya pelanggan yang datang membeli barang saja, jadi hanya memberi salam kepada Felix, “Asisten Zhou.”
Felix melihat Victor sekilas, lalu memberitahu kepada Ralphie berkata, “Direktur Su, Victor sudah datang.”
Mendengar Felix dengan sangat hormat memanggil ‘Direktur Su’, jika Victor masih tidak mengerti pria yang berumur dua puluh lima tahunan ini adalah Direktur perusahaan ini, maka dia sungguh seorang yang sangat bodoh.
Kabar burung, seorang Direktur adalah orang yang sudah berumur lima puluhan yang sudah tua? Kenapa begitu muda? Dan wajah begitu sangat tampan.
Wei… semua ini tidak begitu penting, yang penting adalah, Direktur Su kenapa tiba-tiba datang ke toko perhiasan?
Di saat Victor masih tidak tenang.
Pandangan Ralphie langsung jatuh kepada Victor, hanya berhenti satu detik saja, tapi telah mengagetkan Victor sampai berkeringat dingin.
“Direktur Su…” Victor dengan tidak tenang menyapa.
Ralphie menunduk melihat cincin yang ditangannya, dengan dingin berkata, “Ini produk pajangan, apa yang terjadi?”
Victor sambil melap keringat sambil menjawab, “Beberapa produk pajangan baru dikirim dari PT. Antars, berdasarkan perkataan kepala desain, tidak menjadikan produk, hanya dijadikan sebagai produk pajangan dalam waktu singkat.
Ralphie mengerutkan alis, lalu membalikkan kepala melihat Felix. “Felix, setelah kembali ke kota A, urus masalah ini sampai jelas.”
“Baik.” Felix menganggukkan kepala.
Ralphie mengiyakan, pandangan kembali lagi jatuh terhadap cincin yang ditangannya.
Dia lihat begitu lama, pada akhirnya setelah dia mengatakan kalimat ‘cincin ini aku bawa pergi’ membalikkan badan langsung pergi.
Felix melihat Ralphie pergi, langsung bersiap mengangkat kaki pergi, tapi justru ditahan oleh Victor.
“Asisten Zhou, anda jangan pergi, anda harus beritahu apa maksud Direktur Su.”
Raut wajah Felix mengerut, lalu berkata, “Direktur Su, tidak bermaksud apa-apa.”
Direktur Su tidak bermaksud apapun? Victor langsung kebingungan karena Felix. “Apa?”
Felix malas menghiraukan Victor, melepaskan tangannya, dengan langkah kaki yang besar melangkah mengejar Direktur Su.
__ADS_1