
Hello! Im an artic!
Setelah selesai berbicara di telpon dengan Ralphie, Felix berlari menuju lobi utama dengan tergesa, sambil melihat jam di tangannya sambil menebarkan pandangan menantikannya.
Kira-kira setelah setengah jam dia melihat mobil Ralphie yang mendekat dari kejauhan, dia segera berlari kecil menghampirinya.
Hello! Im an artic!
Setelah mobilnya berhenti, ia segera membukakan pintu mobilnya.
“Tuan Su.”
Setelah meng ‘iya’ kan dengan enggan, Ralphie keluar dari mobil dengan menenteng sesuatu di tangannya.
Di tangan kanannya dia memegang kunci mobil yang kemudian ia berikan kepada satpam yang berdiri di samping Felix dan segera masuk menuju kantornya dengan langkah besar.
Hello! Im an artic!
Felix dengan langkah yang cepat mengejar Ralphie sembari berkata, “Tuan Su, ada kesalahan besar dalam projek bersama Grup Finansial LM dan perwakilan dari Grup FInansial LM sudah menunggu untuk menjelaskan.”
“Apa sudah menemukan dimana masalahnya?” Ralphie berbicara sambil berjalan menuju lift.
Felix berkata sembari mengulurkan tangannya untuk menekan tombol lift, “Sudah, ada masalah dengan gambar dari departemen desain, pada saat itu departemen bagian mekanik sudah menyuruh untuk menggantinya, tapi departemen desain bersikeras tidak ingin menggantinya.”
Ralphie mengerutkan kening dan bertantya, “Apakah orang yang bersangkutan sudah sampai?”
“Sedang menunggu anda.” Felix menjawab.
Ralphie meng’iya’kan dengan suara pelan, sedetik kemudian pintu lift terbuka. Dia segera masuk kedalam lift, baru saja Felix ingin mengikutinya masuk kedalam lift, tiba-tiba Ralphie mundur beberapa langkah dang keluar dari lift.
Felix bingung melihat kelakuan tuannya. Apa yang sedang dilakukan Tuan Su? Apakah dia tidak ingin mengikuti rapat?
“Tuan Su, anda…” Ralphie memotong perkataan Felix yang belum selesai.
“Apakah berkas rapat sudah disiapkan?”
Felix terdiam sejenak kemudian mengangguk, “Semua sudah ada diatas meja di ruangan anda.”
Ralphie meng’iya’kan dan kemudian berkata, “Kau tidak perlu ikut rapat.”
“Ha?” Wajah Felix terlhat bingung, dia tidak perlu ikut rapat? Lalu apa yang harus dia lakukan?
__ADS_1
“Biarkan pekerjaanmu dilakukan oleh Jurry.” Ralphie diam sejenak, lalu memberikan barang yang dari tadi di bawanya kepada Felix, “Kau antarkan barang ini ke Gallowen Manor Gedung B lantai 13 no 3.”
Gallowen Manor? Bukankah itu tempat tinggal nona Luo? Ternyata Ralphie menyuruh Felix untuk mengantarkan barang kepada nona Luo!
Tapi dia tidak tau benda apa itu?
Felix menunduk melihat barang yang diberikan Ralphie lalu mengangguk. “Baik.”
“Ya.” Ralphie mengangguk, dan diwaktu yang bersamaan dia teringat sesuatu dan berkata, “Sebelum kau kesana, kau pergi dulu urus nomor ponselnya ke gerai, nomor ponselnya adalah……”
Kali ini Felix sudah mengerti, benda yang ada didalam sana adalah ponsel yang dibeli sendiri oleh Ralphie. Ponsel ini akan diberikan kepada Serene.
“Baik.”
Ralphie dengan perasaan puas mengangguk, lalu kembali masuk kedalam lift.
Setelah Felix melihat Ralphie yang masuk kedalam lift dan lift bergerak, Felix segera meninggalkan perusahaan.
Dia pergi ke gerai nomor ponsel untuk mengurus nomor ponsel Serene yang sama dengan yang sebelumnya kemudian baru pergi ke Gallowen Manor.
Setelah selesai mengurus urusannya di kantor polisi Serene dan Claudia segera memesan taxi untuk kembali kerumah. Setelah kembali kerumah Serene kembali sibuk menggambar.
Beberapa hari ini ada lomba desain di departemen desain, atasannya memberikan tugas kepadanya, menyuruhnya untuk menggambar semua desain yang dulu pernah menang dalam perlombaan desain kedalam sebuah buku.
Ia memeluk lutut diatas tempat duduknya sedikitpun tidak ada niat untuk bergerak. Dari luar terdengar bunyi bel, Serene hanya menengok dan melirik kearah luar pintu kamarnya tanpa bergerak.
Dia tahu Claudia sedang berada diluar, tidak perlu dia keluar. Tangannya mengelus buku yang ia gambar dan melihat keluar jendela, rasanya tidak rela melihat matahari yang sudah akan tenggelam.
Tidak berapa lama terdengar suara Claudia, “Serene ada orang yang mencarimu.”
Ada orang mencarinya? Tidak ada orang yang tahu bahwa ia tinggal dengan Claudia! Kecuali…
Apakah dia datang mencarinya? Serene terkejut, kemudian ia turun dari bangku dan tergesa mengenakan sendalnya keluar kamar.
Ketika keluar dari kamar, ia melihat seseorang yang tidak sesuai dengan harapannya Ralphie melainkan Felix, kemudian Serene tersenyum.
Melihat Serene keluar kamar, Claudia menunjuk Felix dan berkata, “Serene, tuan ini mencarimu, apakah kau mengenalnya?”
Serene mengangguk, “Aku kenal.”
“Kalau begitu aku masuk duluan.” Claudia menatap sekilas Felix yang ada didepan pintu kemudian berbalik masuk.
__ADS_1
Setelah Claudia masuk, Serene baru berbicara kepada Felix, “Felix, silahkan masuk.”
“Tidak usah, Nona Luo.” Felix menggelengkan kepalanya. Lalu memberikan plastik yang dibawanya kepada Serene, “Nona Luo, Tuan Su memerintahkan ku untuk memberikan ini kepada anda.”
“Apa ini?” Serene mengambil plastiknya dan mengeluarkan isinya. Setelah ia melihat didalamnya ada kotak ponsel, ia terkejut, lalu melihat kearah Felix dan berkata, “Ini…”
Felix menjelaskan, “Nona Luo, ini adalah ponsel yang di beli sendiri oleh Tuan Su, nomor ponselmu juga sudah selesai, nomornya masih sama dengan nomor ponselmu yang dulu.
Tangan Serene bergetar ketika memegang kotak ponsel itu. Ralphie membeli ponsel ini sendiri untuknya? Mengapa ia menyuruh Felix yang mengantarnya kesini? Kemana dia?
“Ke mana dia?”
Felix terpaku sebentar dan baru mengerti ‘dia’ yang dimaksud oleh Serene adalah Ralphie.
“Tuan Su sekarang ini sedang menghadiri rapat yang sangat penting, tidak bisa kesini.”
Serene mengangguk dan berkata ‘Oh’ dan melihat kotak ponsel yang ada ditangannya tanpa mengatakan apapun.
Felix melihat sekilas kearah Serene, lalu berkata, “Rapatnya kira-kira akan selesai jam 5, nanti nona Luo bisa menghubungi Tuan Su.”
Mendengar perkataan Felix, Serene langsung mengangkat kepalanya dan berkata, “Baiklah, Terima kasih.”
“Tidak perlu sungkan.” Felix terdiam sebentar, lalu berkata lagi, “Nona Luo, aku masih ada urusan, aku pergi dulu.”
“Baik.” Serene tersenyum tipis menatap Felix yang beranjak pergi.
Setelah menutup pintu, Serene duduk di sofa, lalu membuka kotak ponsel itu, didalamnya ada sebuah ponsel berwarna putih.
“Wow, ponsel keluaran terbaru dari AL.”
Tak tahu sejak kapan Claudia sudah berdiri disampingnya, wajah Claudia terkejut melihat ponsel yang ada ditangan Serene.
“Tampilan dan fungsi yang paling baik didunia, harganya juga sesuai dengan kualitasnya! Serene, siapa yang memberikannya kepadamu? Ibumu?”
Serene menggelengkan kepalanya, “Bukan.”
“Ayahmu? Yang barusan itu adalah bawahan ayahmu?” Claudia menaikkan alisnya bertanya.
Serene kembali menggelengkan keapalanya, “Bukan.”
“Bukan ibumu, juga bukan ayahmu, tidak mungkin dari kakak tirimukan?” Claudia mengatakan dengan wajah yang tidak percaya.
__ADS_1
Serene menjawab dengan nada yang sangat rendah, “Ralphie.”
“Ralphie orang ini benar-benar rela menghabiskan uang….” Claudia menyadari ada yang tidak beres setelah berkata seperti itu, bukankah Ralphie adalah pujaan hari Serene? Claudia membelalakan matanya dan menatap kearah Serene, “Pujaan hatimu?”