I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 289 Rahasia Dalam Boneka Kayu


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Serena terus menangis dan menangis, menangis hingga suaranya serak, dan lama-kelamaan ia berhenti.


Tubuhnya sudah basah oleh hujan, dan tubuh yang baru pulih, menjadi semakin lemah karena sudah kehujanan terlalu lama.


Hello! Im an artic!


Serena menguatkan dirinya dan berdiri.


Karena Serena berdiri tepat di sisi jalan, belum lama ia berdiri, sudah ada taksi yang datang.


Sopir taksi membuka jendela dan bertanya dengan keheranan, “Nona, hujan begitu lebat, Anda sudah basah kuyup, apakah Anda butuh tumpangan?”


Serena melirik sopir taksi, lalu membuka pintu dan masuk.


Hello! Im an artic!


“Nona, keringkan rambut dan pakaianmu.” Sopir taksi menyerahkan handuk kering kepada Serena dan bertanya, “Nona, Anda mau pergi kemana?”


Kemana dia pergi? Kemana lagi dia bisa pergi?


Serena termenung selama beberapa detik dan mengatakan alamat Villa Ralphie.


Setelah tiba di rumah, Serena tidak memasuki rumah dengan kata sandi pintu seperti biasa, tetapi membunyikan bel pintu.


Pelayan itu datang untuk membuka pintu, melihat Serena yang basah kuyup di luar, ia terkejut.


“Nyonya Muda, mengapa Anda tidak memakai payung? Masuklah,” kata pelayan itu, menarik Serena ke dalam rumah.


Kemudian dia membantu Serena mengisi air bak mandi dan mempersilakan Serena mandi.


Setelah mandi, Serena berbaring di tempat tidur.


Dia menatap langit-langit sebentar, lalu mengalihkan pandangannya dan menatap ke meja.


Di sana, ada boneka kayu yang diberikan Ralphie padanya pada hari valentine.


Serena menatap boneka itu selama beberapa detik, lalu mengambil boneka itu.


Dia memeluk boneka kayu itu, membelai dengan perlahan.


Tidak lama kemudian, ada ketukan di pintu.


“Nyonya, apakah Anda sudah tidur?”


“Tidak,” jawab Serena, mengangkat selimut dari tempat tidur dan membuka pintu.


Pelayan itu berkata dengan hormat kepada Serena: “Nyonya, Tuan Zhou ada di sini, dan ingin bertemu Anda.”


Ketika mendengar Felix ingin bertemu dengannya, Serena tertegun.


Dia tidak ingin menemui Felix, dia ingin menghindarinya.


Sedangkan ia sudah membuka pintu, dia tidak punya alasan untuk bersembunyi.

__ADS_1


Sedikit kekesalan muncul di wajahnya, dan Serena mengangguk, “Aku tahu, aku akan turun setelah aku mengganti pakaianku.”


“Ya, Nyonya,” pelayan itu mengangguk dan turun.


Serena bersandar di pintu kamar selama beberapa detik sebelum kembali ke kamar untuk mengganti pakaiannya dan pergi ke bawah.


Ketika Serena turun, Felix duduk di sofa.


Melihat Serena turun, dia bangkit dari sofa.


Serena tidak berbicara, memegang boneka kayu dan duduk di sofa di seberang Felix.


Felix tidak omong kosong, langsung membuka kopernya, mengeluarkan amplop coklat tadi pagi, dan menyerahkannya kepada Serena.


“Saya datang untuk meminta tanda tangan Anda.”


“Aku sudah bilang, aku tidak akan menandatanganinya.” Serena tidak melihat amplop coklat yang ddikeluarkan Felix.


“Perlukah Anda melakukan ini? Anda dan Direktur Su memang sejak awal tidak ada hub …”


Tanpa menyelesaikan kata-kata Felix, Serena bangkit dari sofa.


“Aku tidak akan menandatanganinya, aku tidak akan pernah menandatanganinya. Jangan datang kepadaku,” Serena naik ke atas setelah dia mengatakan itu.


Felix hanya menjalani perintah, jadi dia menghentikan Serena tanpa pikir panjang. “Direktur Su berharap Anda menandatangani dokumen-dokumen ini, Beliau tidak ingin berutang pada Anda, kata Beliau, jika Anda tidak bersedia pindah dari sini, Direktur Su juga akan memberikan Villa ini untuk Anda…… ”


Ketika dia mendengar bahwa Felix mengatakan Ralphie ingin dia menandatangani dokumen-dokumen ini, dia tidak ingin berutang padanya, dan Serena tertegun.


Ralphie tidak ingin berutang padanya? Kapan dia berutang padanya?


Dia melakukan begitu banyak hal untuknya dan anaknya, sedangkan Serena bukan saja tidak melakukan apa-apa, dia juga tidak percaya pada Ralphie.


Serena menundukkan kepalanya sedikit demi sedikit, lalu berbisik, “Aku tahu, aku akan pindah dari sini besok. Mengenai hal-hal ini, itu bukan milikku, aku tidak mau.”


Setelah mengatakan ini, Serena tidak menunggu Felix menjawab, lalu segera naik tangga.


Akibatnya, dia baru saja naik dua langkah, tubuhnya lemas, dan dia berlutut di lantai.


Felix dan pelayan itu memandang Serena akan jatuh, berusaha menjangkau untuk membantunya, tetapi mereka tidak cukup cepat.


Ketika Serena terjatuh, boneka kayu di tangannya jatuh ke lantai.


Terdengar suara sayup-sayup, dan kepala, lengan, dan kaki boneka itu hampir sepenuhnya terlepas dari tubuh boneka itu, dan terlempar berjauhan.


“Nyonya Muda, bagaimana keadaan Anda?” Si pelayan pergi dengan cepat untuk memeluknya.


Serena tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap boneka kayu yang rusak dalam sekejap.


Lalu dia membungkuk dan mengambil boneka kayu yang terjatuh di lantai.


Ketika dia melihat bahwa boneka kayu itu tidak lengkap, dia merangkak di lantai mencarinya.


Dia mencari sambil menangis, “Mengapa aku begitu ceroboh …”


Melihat penampilan Serena, pelayan itu dengan cepat membantu menemukannya. “Nyonya Muda, jangan khawatir, saya akan membantu Anda menemukannya …”

__ADS_1


Setelah mencocokkan semua bagian dari boneka kayu, Serena meminta pelayannya untuk membantunya mengambilkan lem, ia ingin menyatukan kembali boneka kayu itu.


Lengan dan kaki disatukan, tidak ada yang aneh. Namun saat melihat kepala boneka itu, Serena tiba-tiba melihat bahwa penghubung antara tubuhnya dan kepalanya kosong, dan sepertinya ada sesuatu di dalamnya.


Serena mengerutkan kening, merogoh ke dalam bagian kosong itu dengan ujung jarinya, dan meraba ada secarik kertas di dalamnya.


Dia berhenti sejenak, dan Serena menggunakan kukunya untuk mengeluarkan kertas dari tubuh boneka itu.


Setelah membuka lipatan kertas itu, dapat terlihat bahwa kertas itu penuh dengan tulisan.


Pada pandangan pertama, dia mengenali itu adalah tulisan tangan milik Ralphie.


Apakah tulisan ini ditinggalkan oleh Ralphie? Serena hanya merasakan jantungnya berdebar kencang.


Kemudian menatap kata-kata yang tertulis di atas kertas itu.


Serena, aku mencintaimu, dapatkah kamu menyukaiku sedikit saja?


Mungkin kamu tidak akan pernah melihat surat ini, tetapi pada kertas inilah aku menitipkan sedikit harapanku.


Aku tidak tahu sejak kapan aku mencintaimu, ketika aku menyadari bahwa aku mencintaimu, cinta ini telah menjadi naluri.


Sungguh menyakitkan melihatmu menangis.


Ketika melihatmu menderita, aku ingin menenangkanmu.


Ketika melihatmu sedih, aku lebih sedih darimu.


Ketika melihatmu bahagia, aku jauh lebih bahagia.



Suasana hatiku bergantung padamu, tetapi pada awalnya aku hanya menganggapmu sebagai teman. Jadi ketika aku menyadari bahwa aku memiliki perasaan terhadapmu, aku panik dan tanpa sadar ingin menarik kita kembali ke awal lagi.


Aku memilih untuk menjauh darimu, tetapi tidak ingin meninggalkanmu sepenuhnya.


Sampai pada saat aku mendengar Flora berkata, kamu akan menikah.


Detik itu, aku tahu bahwa tanpa sadar aku telah jatuh cinta padamu.


Karena kamu akan menikah, aku khawatir waktuku tak kan cukup untuk mengejar cintamu, jadi aku pergi mencari kakek dan meminta kakek membantuku mengatur pernikahan.


Ketika ayahmu bersedia untuk menikahkan kita, aku benar-benar bahagia, tetapi aku merasa lebih malu lagi.


Aku khawatir kamu tidak bahagia ketika mengetahui bahwa akulah yang akan di nikahkan denganmu.


Kita sudah menikah, tetapi kamu memperlakukanku seperti orang asing, begitu dingin.


Hatiku teramat sedih saat kamu bertanya bahwa pernikahan ini tidak sungguh-sungguh, dan aku berbohong kepadamu bahwa kamu sudah menandatangani surat perjanjian dan tidak dapat mengubahnya lagi.


Setelah menikah aku selalu berhati-hati, hal yang paling aku takutkan adalah kamu ingin pergi.


Selama kamu tinggal bersamaku, aku bisa menahan apapun, bahkan jika aku tahu ada orang lain di hatimu, itu tidak masalah.


Hari itu saat kamu bertanya apakah aku menyukai seseorang? Aku menjawab, ya, aku mencintainya dan selalu mencintainya.

__ADS_1


Serena, apakah kamu tahu, bahwa saat itu aku mengungkapkannya padamu?


__ADS_2