
Hello! Im an artic!
Setelah keluar dari ruangan tamu keluarga Su, Ralphie duduk di mobil Mercedes yang dibawa Felix dan kembali ke kota.
Sepanjang jalan dengan wajah tanpa ekspresi terus memandang kearah luar jendela, Felix berkali-kali berusaha untuk buka suara, tetapi pada akhirnya satu katapun tidak ada yang terucapkan.
Hello! Im an artic!
Mengantarkan Ralphie kembali ke rumah, ia tidak terlalu tenang, jadi ia menunggu diluar untuk waktu yang cukup lama dan menyadari tidak ada yang aneh dari Ralphie.
Lampu ruang tamu terus menyala, bahkan dari sela-sela ia masih bisa melihat Ralphie yang sedang jalan bolak balik, jadi ia diam beberapa menit langsung pergi.
Dia tidak tahu kalau lampu diruang tamu Ralphie menyala seharian, sama sekali tidak mematikan lampu……
Hari kedua, setengah Sembilan Felix sudah sampai kantor.
Hello! Im an artic!
Awalnya ia berpikir bahwa Ralphie akan seperti sebelumnya, sudah datang sejak pagi, ternyata Ralphie tidak datang.
Felix dengan segera menelepon Ralphie tetapi telepon tidak dapat dihubungi.
Tidak mungkin terjadi apa-apa kan? Felix bergegas masuk kedalam kantor dan meminta Elizabeth mengundurkan seluruh pekerjaan kemudian bersiap pergi mencari Ralphie.
Saat ia akan keluar dari kantor, ia melihat Ralphie keluar dari lift.
Seperti biasa jas hitam, kemeja putih, dasi berwarna biru langit.
Dari luar jendela cahaya matahari pun menyinari tubuhnya, mahal, elegan, sama sekali tidak ada perasaan seperti kemarin malam dihalaman rumah keluarga Su.
Felix bengong dan tersadar, “Direktur Su, pagi.”
“En, Felix, kamu ikut aku ke dalam kantor.” Ralphie menganggukan kepala kemudian masuk ke dalam kantor.
Felix terdiam kemudian dengan langkah cepat ikut masuk kedalam.
Ralphie melihat file yang ada ditangannya sambil berbicara, “Rapat setiap departemen pagi nanti dibatalin, rapat kerjasama dengan Grup Yang nanti sore kamu yang hadirin, proyek resort sementara di tahan dulu saja……”
Felix masih belum sadar sejak ia keluar dari ruangan kantor Ralphie.
Direktur Su gila berkerja selama sebulan ini, sudah berakhir?
__ADS_1
Felix segera laporan pada Elizabeth, ketika meminta dia untuk mengaturnya, Elizabeth pun terdiam bengong sambil bertanya, yakin tidak salah?
Sebenarnya ia juga ingin bertanya, yakin tidak salah.
Tetapi kenyataannya seperti ini, Ralphie benar-benar sudah kembali bekerja normal.
Bekerja jam sembilan pagi, siang istirahat sebentar, jam setengah enam sore pulang tepat waktu.
Kantor, rumah, benar-benar seperti kehidupan normal pria rumahan.
Hari ini, Felix menerima telepon dari orang yang diminta Flora untuk mengikuti Ralphie.
“Direktur Su, Flora sudah siap untuk aksi selanjutnya.”
“Aksi apa?” Ralphie dengan datar bertanya.
“Orang itu berkata, Flora ingin dia mengambil beberapa foto dia dan Anda yang terlihat lebih mesra.” Felix merasa otak Flora sudah gila, bisa-bisanya punya pemikiran seperti ini pada Direkturnya.
Foto mesra? Apa yang ingin dilakukan Flora? Ralphie menggerutkan alisnya.
“Direktur Su, lihatlah, masalah Flora apakah perlu segera ditindak lanjuti?” Sebenarnya Felix tidak mengerti keinginan Direktur mereka, kenapa tidak segera menindak lanjuti dan masih membiarkan maa-mata itu untuk tetap berkomunikasi dengan Flora.
Felix tidak tahu kalau Ralphie tidak langsung menindaklanjuti Flora, pertama karena dia tidak ingin Flora langsung tahu begitu saja.
Setelah pendekatan dengan Serena beberapa waktu, ia tahu jelas perasaan Serena kepada Flora dan Bella He.
Kalau dia langsung menghabiskan Flora pasti akan membuat Serena sedih.
Dia sudah menyakiti Serena, ia tidak boleh membuat Serena sedih lagi.
Jadi dia tidak akan menindaklanjuti Flora, kecuali Flora berbuat sesuatu yang sudah tak dapat ia terima……
Ralphie menghela nafas kemudian dengan datar berkata, “Tidak perlu.”
“Direktur Su, Flora dia……” Felix ingin berkata sesuatu tetapi diputuskan oleh Ralphie.
“Seperti biasa, Tidak perlu pedulikan dia.” Dibalik perkataan Ralphie seperti ada keraguan.
“Baik.”
Dua hari kemudian disore hari, Flora janjian sama Ralphie dengan mengatasnamakan nama Serena.
__ADS_1
Ralphie tahu jelas maksud Flora, tetapi ia tetap pergi. Hatinya masih berharap dapat mendapatkan informasi mengenai kondisi Serena akhir-akhir ini.
Tempat mereka janjian adalah sebuah kafe dipusat kota.
Ketika Ralphie masuk kedalam kafe, Flora sudah berada didalam. Dia mengenakan rok pendek berwarna biru muda dengan makeup halus diwajahnya.
Melihat Ralphie masuk, Flora berdiri dari tempat duduknya, dengan hak tingginya dan menyambut kedatangannya.
Tidak ada ekspresi pada wajahnya, hanya saja ketika jarak Flora dengan dia hanya satu meter, Ralphie mengeluarkan suara untuk mengingatkannya, “Kamu jauh-jauh dari aku.”
Tatapan jijik dari mata Ralphie seolah Flora adalah sampah yang menjijikan.
Awalnya inign berdiri lebih dekat dengan Ralphie, ia malah mendapatkan tatapan jijik dari Ralphie, seketikanya wajahnya menjadi keras kemudian dengan cepat kembali normal.
“Ralphie, kamu sudah datang?” Suara Flora terdengar sangat puas, akhirnya ia mendapatkan nama pria ini.
Ralphie seakan tidak mendengar Flora memanggil namanya, bahkan ia tidak melihat Flora sama sekali, lalu memilih tempat untuk duduk.
Flora juga tidak peduli, ia melirik kekiri kearah Ralphie, kemudian dengan pose elegan memutarinya dan duduk disebelah kiri Ralphie.
Ia pikir Ralphie tidak memperhatikannya, tanpa sadar sejak awal Ralphie sudah memperhatikan gerakannya, salah, lebih tepatnya perilakunya, semua dibawah kendali Ralphie.”
“Ralphie, kamu pesan dulu saja.” Flora mengambil menu makanan lalu dengan semangat memberikannya pada Ralphie.
Ralphie tidak mengambil menunya lalu dengan datar berkata: “Langsung katakan saja.”
Flora tentu saja tahu Ralphie ingin dia membicarakan masalah Serena, hanya saja, tidak gampang memanfaatkan nama Serena untuk mengajaknya keluar, tujuannya untuk mendapatkan foto mesra dengan pria ini, bagaimana mungkin sebelum mendapatkan fotonya, ia sudah memenuhi keinginan Ralphie?
Flora memasang tatapan mata genit kemudian tertawa berkata: “Ralphie, tidak usah buru-buru, aku pasti akan beritahu apa yang kamu ingin tahu.”
Ralphie tidak berbicara, hanya dengan sikap datar menahan sikap Flora.
Flora melihat Ralphie tidak membantahnya, lalu tersenyum dan memesan kopi untuk Ralphie dan dirinya.
Dari awal sampai akhir Ralphie sama sekali tidak menyentuh kopi, malahan Flora yang minum sendiri dengan senang, seakan Ralphie sedang menemaninya minum.
Setelah selesai minum kopi, ia dengan elegan meletakkan gelas.
“Ralphie, aku hari ini cari kamu, ingin memberitahumu tentang Serena.”
Ralphie yang sedari tadi bersikap dingin pada Serena akhirnya memberikan respon, “Ngomong.”
__ADS_1
Serena, dimatamu hanya ada Serena, tangan yang ada dibawah meja menggengam sangat erat tetapi wajah tetap memasang wajah tersenyum.
“Aku datang untuk memberitahumu, kamu Tidak perlu mikiran Serena lagi, Serena sudah dijodohkan, dia tidak mungkin bersama kamu.”