
Hello! Im an artic!
Tempat pernikahannya di dekor begitu indah. Di lapangan yang luas terdapat pintu pernikahan kecil.
Diatas pintu itu diikat dengan banyak bunga tropis yang langka. Katanya itu ditanam oleh keluarga Isa. Dan ada satu macam bunga morning glory berwarna merah muda ditambah bunga mawar putih, yang terpasang di depan panggung dengan latar laut biru.
Hello! Im an artic!
Katanya, kalau bukan karena Claudia sedang hamil, Isa sebenarnya ingin mengadakan pernikahan di tepi pantai, pastinya itu juga baik.
Diiringi pembukaan oleh pembawa acara, acaranya menyalakan lagu pernikahan.
Didepan ada sepasang anak laki-laki dan perempuan mengangkat keranjang bunga dan melemparkan kelopak bunga masuk.
Lalu pengantin pria dan wanita masuk bersama dengan bahagia.
Hello! Im an artic!
Setelah diatas panggung, mereka bersumpah diatas ucapan selamat para hadirin.
Saya Isa berjanji, akan menerima engkau Claudia sebagai istriku yang sah.
Saya Claudia, berjanji akan menerima Isa sebagai suamiku yang sah.
Saya Berjanji baik pada waktu senang atau susah, baik pada waktu kaya atau miskin, pada waktu sehat ataupun sakit.
Saya Berjanji baik pada waktu senang atau susah, baik pada waktu kaya atau miskin, pada waktu sehat ataupun sakit.
Saya berjanji, akan mencintai, mengasihi dan selalu hidup bersama-sama dengan rukun dan damai dan hanya maut yang dapat menceraikan kita.
Saya berjanji, akan mencintai, mengasihi dan selalu hidup bersama-sama dengan rukun dan damai dan hanya maut yang dapat menceraikan kita.
Disaat Isa dan Claudia menyelesaikan sumpah mereka, Serena tidak tahan mengeluarkan air matanya.
Ralphie tahu mengapa Serena menangis, lalu mengelap air mata dari wajahnya.
Serena membiarkan Ralphie mengelap air matanya sambil bertanya, “Mereka bisa bahagia seperti kita bukan?”
Ralphie mengangguk. “Iya.”
Felix yang sendirian pun, yang hanya bisa menghadiri pernikahan ini dengan bosnya, sudah merasa sebuah kebahagiaan.
Sayangnya, baru saja ia masuk ke dalan Aula pernikahan, ia langsung diganggu orang lain.
Sedangkan orang yang menganggunya adalah Ayah dan anak keluarga Ye.
“Asisten Zhou, mohon anda berikan kami kesempatan, biar aku bawa anak ini meminta maaf kepada Tuan dan Nyonya Su.”
__ADS_1
Felix langsung menolak. “Tidak perlu. Mereka tidak punya waktu untuk bertemu denganmu.”
Tetapi Ayah dan anak keluarga Ye tidak mudah menyerah dan masih kekeh menarik tangan Felix. “Asisten Zhou, mohon kamu membantu kami. Kami hanya sebentar saja.”
Hadirin pernikahan sangat banyak, sedikit keributan dapat menyebabkan perhatian orang lain, apalagi Ayah dan anak keluarga Ye itu terus menarik tangan Felix.
Felix sedikit kesal dengan tindakan mereka, tapi ia tidak ingin menyebakan keributan pada pernikahan. “Kalian berdua ikutlah aku.”
Kedua orang itu mengira Felix setuju dengan permintaan mereka untuk bertemu dengan Ralphie dan Serena, lalu mengikuti Felix dengan senang.
Tapi siapa sangka Felix tidak membawa mereka bertemu Ralphie dan Serena, melainkan membawa mereka ke tangga darurat.
“Asisten Zhou, apa maksudmu?” Nada suara Ayah Ye sedikit kesal.
“Aku tidak bermaksud apapun. Aku hanya ingin memberi tahu kepada bapak bahwa anakmu membuat marah orang yang tidak seharusnya diganggu. Sekarang keluarga kalian harus menerima akibatnya.”
Mendengar ucapan Felix, muka kedua orang itu memucat. “Tidak…mungkin.”
“Ayah, jangan percaya dia, itu tidak mungkin terjadi.” Belum Tuan muda Ye selesai berucap, ia langsung tertampar oleh ayahnya. “Kamu diam”
Ayah Nestor Ye memandang ke arah Felix dan berkata, “Terima kasih buat peringatannya. Kami ada urusan, kami pergi dulu.”
Setelah selesai mengatakannya, Ayah Nestor langsung menarik tangan anaknya dan pergi dengan tergesa-gesa.
Setelah selesai menngusir mereka, saat Felix ingin kembali ke pernikahan, ia tiba-tiba menemukan bayangan seseorang dari tangga darurat.
Lalu berlari dengan cepat ke atas. Felix menyadari orang itu Molly dan tidak berpikir banyak, lalu kembali ke Aula pernikahan.
Setelah panggilan terputus, Felix segera kembali ke tangga darurat dan mencari Molly.
Baru saja sampai di belokan, ia langsung melihat Molly sedang berdiri di tempat tangga teratas, sambil memandang keluar jendela.
Saat ia sesang berjalan menuju kesana, Molly menangis kencang.
Felix terdiam sejenak dan menghentikan langkahnya.
Jadilah seperti itu, yang satu orang menangis, yang satunya lagi melihat orang yang menangis.
Entah berapa lama waktu lewat, Molly akhirnya berhenti menangis.
Saat ia membalikkan tubuhnya, ia melihat Felix yang berdiri di belakangnya. Ia terdiam lalu dengan kesal bertanya, “Apa yang kamu lakukan disini?”
“Tuan Su menyuruhku untuk mencari Nona.” jawab Felix.
Molly menatap terus wajah Felix dan bertanya, “Kamu melihat semuanya?”
“Iya, aku melihatnya.” Balas Felix jujur.
__ADS_1
Mendengar ucapan Felix, Molly dengan kesal berkata, “Dasar, bisakah kamu tidak begitu jujur?”
“Tidak bisa.” Balas Felix dengan tulus.
Molly dengan kesal mengatakan satu kata. “Pergilah!”
“Tuan Su menyuruhku untuk mencarimu.” Maksudnya kalau Direktur Su tidak menyuruhku pergi, ia tidak akan pergi.
“Kamu…” setelah itu Molly dengan kesal pergi ke bawah.
Felix tidak mengucapkan apapun. Ia hanya menjaga jarak dengan Molly di belakangnya.
Awalnya Molly kira setelah ia keluar dari hotel, Felix tidak akan mengikutinya lagi.
Tapi siapa sangka, kalau Felix tetap mengikutinya.
“Orang ini benar-benar…” Bahkan Molly tidan tahu harus menggunakan kata apa untuk mengusirnya, ia pun langsung naik taksi dan pergi.
Felix dengan santai juga naik taksi untuk mengikutinya.
Demi membebaskan diri dari Felix, Molly datang ke sebuah bar di kota tersebut.
Ia memasukki sebuah bar.
Suara musik yang kencang masuk ke telinga Molly, membuatnya mengerutkan dahi.
Tapi demi membebaskan diri dari Felix, ia tetap memilih masuk.
Ia datang ke tempat menari dengan banyak orang. Ia sambil menari sambil memperhatikan Felix.
Felix sedang duduk di tempat yang kosong sambil memandang ke arahnya.
Dasar, Molly dengan kesal sambil menari sambil memasukki ke tempat menari yang lebih dalam.
Ia tidak memperhatikan, di sekelilingnya banyak pria yang tidak baik.
Felix melihat keadaan seperti itu, ia segera berdiri, tetapi saat ia ingin pergi, ada dua orang wanita dengan pakaian tipis mencegahnya.
“Hai, bagaimana kalau kami traktir kamu minum?”
“Tidak perlu.” Felix segera menolak.
“Kamu jangan menolak kami, kami benar-benar menyukaimu.” Kedua orang wanita itu sambil mendekatkan tubuhnya ke Felix.
Molly melihat pemandangan seperti itu, menjadi sangat kesal.
Orang yang hanya melakukan perintah sepupunya bukan disuruh untuk mengikutinya? Mengapa sekarang sedang bersama wanita? Dan dua wanita pula?
__ADS_1
Dasar, kedua wanita itu buta ya bagaimana bisa suka dengan pria seperti itu?
Tapi Molly langsung menyadarinya. Ia salah, harusnya saat Felix sedang diganggu, ia harusnya kabur dari Felix.