I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 360 Ralphie Sedikit Memutarbalikkan Fakta


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Mendengar permintaan maaf dari Ralphie, Serena berkedip dengan lembut dan bertanya, “Ralphie, mengapa kamu minta maaf padaku?”


Ralphie langsung menjawab Serena dengan menciumnya.


Hello! Im an artic!


Dia tahu itu adalah ruang tamu, bahkan ia tahu di dalam rumah ada beberapa pelayan yang diam-diam melihat mereka.


Tapi dia tidak peduli, dan tidak ingin peduli dengan apapun, saat ini dia hanya ingin mencium Serena untuk meredakan rasa takut di dalam hatinya.


Rasa takut ketika saat itu dia benar-benar pergi, dan meninggalkan Serena menghadapi semuanya sendirian.


Mata Ralphie basah dengan air mata.


Hello! Im an artic!


Serena, aku berjanji, akan baik-baik menjagamu dan anak kita, kita sekeluarga bertiga akan hidup bahagia…


Ralphie dan Serena terus berciuman tanpa peduli sekelilingnya, sehingga para pelayan di ruang tamu tidak tahu apakah mereka harus pergi atau tetap tinggal di sana.


Jika mereka pergi, pasti akan mengganggu mereka. Tapi ketika tetap di sana, juga kurang baik…


Saat itu juga, ada suara buka pintu dari luar.


Bersamaan dengan itu terdengar suara Isa yang berkata, “Kenapa bisa pintu tidak ditutup….”


Suaranya tiba-tiba berhenti ketika dia melihat Serena dan Ralphie sedang berciuman di atas sofa.


Saat mendengar suara Isa, Ralphie merangkul Serena dalam pelukannya, dan melihat Isa dengan canggung.


Tentu saja, para pelayan yang berada di ruang tamu juga tidak luput dari keadaan canggung ini.


Isa terbatuk pelan, “Uhuk…Itu, aku bukan sengaja ingin mengganggu kalian.”


Serena merasa sungkan ketika mendengar Isa berbicara, dan menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Ralphie.


“Paman Lu berkata, jika dalam waktu tiga hari, kamu tidak kembali ke Kyoto, dia akan langsung datang ke kota A untuk menemuimu.” Setelah selesai mengucapkan ini, dia menggendong Serena ke atas, meninggalkan Isa di bawah seorang diri.


“Ralphie, kenapa kamu memberitahu ayahku tentang keberadaanku di sini…”


Mendengar Isa berbicara dengan nada marah, Serena bertanya kepada Ralphie dengan sedikit penasaran, “Ayah Isa datang mencari dia, kenapa dia langsung seperti itu?”

__ADS_1


“Dia pikir ayahnya ke sini untuk menyuruhnya kencan buta.” jawab Ralphie santai.


“Kencan buta?” Serena terkejut, lalu bertanya, “Isa kencan buta, bagaimana dengan Claudia? Tidak bisa, aku harus memberitahu Claudia…”


Begitu Serena menentang, dia langsung ingin turun ke bawah.


Ralphie langsung memegang pinggangnya dengan erat, tidak membiarkannya pergi.


Serena menepuk tangan Ralphie dan berkata, “Ralphie, lepaskan aku, aku akan mencari Claudia.”


“Ayahnya datang kemari untuk bertemu dengan Claudia…” setelah selesai berbicara, tanpa menunggu jawaban Serena, Ralphie langsung menggendong Serena dan membawanya ke kamar.


Mengenai Isa yang yang mengira ayahnya datang untuk menyuruhnya pulang ke Kyoto untuk kencan buta, sudah membuatnya salah paham! Siapa suruh dia tiba-tiba datang mengganggu Ralphie dan Serena yang sedang berciuman? Jangan salahkan dia kalau agak memutarbalikkan fakta.


Mengetahui bahwa Serena sedang hamil, Ralphie otomatis tidak mengizinkannya pergi kerja, lagipula ingatan Ralphie mengenai Bibi Bella yang menggugurkan kandungan Serena masih terbesit jelas.


Meski Serena ingin pergi kerja seperti biasanya, tapi mengingat kekhawatiran Ralphie, ia memutuskan untuk berhenti bekerja, ia hanya menggambar desain untuk AL.


Tentunya karena ada Claudia yang sama-sama sedang hamil juga bisa menemaninya, Serena menjadi merasa lebih baik dia tinggal di rumah.


Tapi beberapa hari yang lalu, ketika ayah Isa datang ke kota A, setelah berhari-hari gemetar ketakutan, ia akhirnya mengerti, tujuan ayahnya datang ke kota A ternyata untuk bertemu dengan Claudia.


Dan tidak tahu bagaimana ceritanya setelah dia membawa Claudia menemui ayahnya, Claudia pun ikut dengannya pergi ke Kyoto.


Serena tidak membujuk Claudia untuk kembali ke kota A karena dia pikir Claudia senang berada di Kyoto.


Tapi seiring dengan kepergian Claudia dan Isa, vila itu menjadi tampak sangat sepi.


Serena menguap karena bosan, kemudian ia bangkit dan pergi ke dapur.


“Nyonya, ada yang bisa dibantu?” melihat Serena masuk ke dapur, pelayan pun langsung bertanya.


“Oh…” jawab Serena, dia sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukan, setelah pikir-pikir, dia memerintahkan, “Tolong minta supir Li untuk mempersiapkan mobil, aku akan pergi main-main ke kantor Grup Su.”


Pelayan itu sambil tersenyum berkata, “Aku baru saja memasak sup untuk nyonya dan tuan, bagaimana kalau nyonya membawakan sedikit untuk tuan?”


Serena tentu tidak menolak, ia mengangguk dan berkata ‘Ok’.


Setelah mobil sampai di depan kantor Grup Su, supir Li segera keluar dari mobil, mengangkat termos makanan dan membukakan pintu penumpang untuk Serena.


Serena turun dari mobil, mengambil termos makanan dan melihat ke atas gedung kantor Grup Su yang tingginya puluhan lantai, kemudian berjalan ke arah pintu masuk.


Meskipun status Serena dalam Grup Su masih tidak jelas, tapi semua orang tahu dia datang untuk menemui Direktur.

__ADS_1


Jadi ketika dia masuk ke lobi, satu per satu karyawan di sana menyambutnya.


Staff wanita di bagian resepsionis yang pertama kali menyambutnya, “Nona Serena.”


Serena mengangguk, dengan lancar memasukkan kata sandi untuk masuk ke lift direksi.


Ketika tiba di lantai kantor direksi, Felix yang sebelumnya sudah dikabari mengenai kedatangan Serena langsung menyambutnya, “Nyonya, Anda sudah datang!”


“Apakah Ralphie ada di ruangannya?” Serena langsung bertanya.


Felix mengangguk dan menjawab, “Ralphie sedang bertemu dengan kepala departemen perencanaan di dalam ruangannya.”


Serena melirik ke arah ruangan Ralphie dan melihat beberapa orang di dalam. Dia mengangguk, lalu duduk di kursi dengan termos makanan. “Karena dia masih sibuk, aku menunggunya di sini saja.”


Felix tahu bahwa Serena adalah orang penting bagi Ralphie, dia menyarankan, “Nyonya, sebaiknya Anda tunggu di dalam ruangan Direktur saja.”


“Tidak perlu.” Serena menggelengkan kepala.


Melihat Serena yang tetap ingin menunggu di luar, Felix meminta sekretarisnya untuk menyiapkan susu dan buah-buahan untuk Serena, sementara dia tetap di sana untuk menemani Serena.


Setelah beberapa saat, sekretaris itu belum kembali, dari dalam ruangan Ralphie terdengar suara Ralphie seperti sedang marah.


Tiba-tiba terdengar suara dingin Ralphie membentak, “Inikah proposal perencanaanmu?”


Serena mengintip ke arah ruangan Ralphie dan bertanya, “Ada apa?”


Felix melirik ke arah ruangan Ralphie dan menjawab, “Mungkin kepala departemen perencanaan membuat Ralphie marah.”


Ralphie tidak mudah marah, tapi saat Ralphie benar-benar marah, orang yang memprovokasinya pasti dalam masalah besar.


Tapi hari ini, kepala departemen perencanaan kemungkinan besar akan kena marah.


Serena mengenal karakter Ralphie, setelah memikirkannya, ia bangkit dan berjalan masuk ke ruangan Ralphie.


Melihat inisiatif Serena, Felix menghela nafas ke kepala departemen perencanaan kali ini selamat, ia pun ikut ke atas….


Di dalam kantor, Ralphie hanya diam, memandang kepala departemen perencanaan yang menundukkan muka.


Kepala departemen perencanaan ketakutan melihat Ralphie yang sedang marah, ia tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun.


“Apa yang kamu lakukan selama ini? Kerja proyek seperti ini saja tidak becus…” Sebelum Ralphie menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara ketukan pintu dari luar.


“Ada apa?” Ralphie menjawab dengan agak marah.

__ADS_1


“Ralphie, nyonya datang…”


__ADS_2