
Hello! Im an artic!
Setelah sampai di Snowflake, Serena dan Ralphie pun memasuki satu-satu toko yang ada didalam mall itu.
Serena sebagai orang yang mau memilih hadiah pun berjalan didepan dan Ralphie pun mengikutinya dibelaknag, dua orang itu satu didepan dan satu dibelakang jadi ada jarah didantara mereka yang tidak begitu jauh dan tidak begitu dekat juga.
Hello! Im an artic!
Sebenarnya, Serena tidak tahu harus bagaimana menolong Ralphie memilih hadiah, sampai sekarang ia masih tidak tahu hadiah ini untuk laki-laki atau perempuan, orang ini punya hobi apa, ia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang orang itu.
Setelah berjalan beberapa saat, Serena tidak bisa menahannya lagi dan membuka mulut dan bertanya kepadanya.
“Itu…..hadiahnya mau dikasih ke orang yang seperti apa?” Setelah Serena selesai bertanya, ia juga takut kalau Ralphie merasa ia ingin mengetahui masalah privasinya, lalu ia pun menambah, “Kamu jangan salah paham, aku cuman mau tahu orang ini laki-laki atau perempuan dan kira-kira ia suka barang yang seperti apa?”
“Adik perempuan yang pendiam.” Ralphie menjawab.
Hello! Im an artic!
Dengan sedikit terkejut Serena menjawab, “Lacey?”
“Iya.” Ralphie menganggukkan kepalanya.
“Hadiah untuk dikasih ke Lacey……..” Serena melihat keliling dan lalu berkata kepada Ralphie, “Bagaimana dengan tas? Atau parfum, atau make-up, semua wanita menyukai barang seperti ini.”
Semua wanita menyukai barang seperti ini? Sepertinya kamu sendiri tidak tertarik dengan barang seperti itu!
Ralphie berpikir beberapa saat, lalu melontarkan, “Tas.”
“Tas sepertinya di lantai 3….” Sambil berbicara Serena berjalan menuju ke arah eskalator.
Ralphie pun mengikutinya dari belakang.
Setelah sampai dilantai tiga, Serena pun melihat sekilas semua toko yang ada disana dan bertanya, “Mau lihat LV atau Burberry? Atau Hermes? Atau Dior?”
Sejak hari itu ia menemani Ralphie berjalan di jalan Spaloom ia sudah tahu kalau Ralphie adalah orang kaya, hadiah ini untuk adiknya yang selalu bersama dengannya, jadi hadianya pastinya tidak boleh murahan, maka dari itu Serena langsung menanyakan merek-merek yang terkenal itu.
Ralphie hanya menjawab, “Kamu yang lihat saja.”
“Kalau gitu kita lihat semuanya saja gimana? Lihat mana yang bagus kita beli yang itu.” Selesai berbicara, Serena pun menjalan menuju ke arah toko Burberry.
Berbeda seperti biasanya, dengan penampilan Serena yang seperti ini, kalau ia masuk ke toko seperti ini biasanya tidak ada pelayan yang melayaninya. Tetapi kali ini karena ada Ralphie yang menemaninya jadi keadaannya sedikit berbeda.
Serena tidak tahu kalau baju yang dikenakan Ralphie adala jas Armani yang dibuat sesusai pesanan, tetapi buat para pelayan toko yang sudah begitu kenal dengan barang seperti apa tidak bisa mengenalinya?
__ADS_1
Jadi ketika Serena memasuki toko itu, seorang pelayan pun menghampirinya dan memperkenalkan barang favorite mereka kepadanya.
Ini adalah model terbaru, yang itu adalah model terlaris diseluruh dunia…….
Yang membuat mereka kecewa adalah Serena tidak memilih tas yang ada di Burberry, mereka hanya melihat-lihat dan pergi.
Setelah keluar dari Burberry mereka berjalan ke arah LV.
Pegawai di toko LV lebih ramah dari yang ada di toko Burberry, mereka memperkenalkan tas-tas dan mengizinkan Serena untuk mencoba tas mereka.
Setelah mencoba beberapa tas, akhirnya Serena menemukan satu tas yang bagus.
Pelayan toko itu tersenyum dan berkata: “Ini adalah produk LV yang sudah ada selama sepuluh tahun, tas ini limited edision, sangat cocok dengan anda.”
“Baik.” Serena pun menganggukkan kepalanya dengan lembut dan mengambil tas itu kearah Ralphie dan memperlihatkannya, “Bagaimana dengan yang ini?”
Jelas saja Ralphie tidak akan menolak apa yang dipilih oleh Serena, lalu ia langsung menganggukan kepalanya, “Baik.”
Setelah mendapat persetujuan dari Ralphie, Serena pun memberikan tas itu kepada pelayan toko, “Ini mau dijadikan hadiah, tolong bungkus yang lebih rapi yah.”
“Baik.” Pelayan toko itu tersenyum manis dan membawa pergi tas itu.
Ralphie juga pergi untuk membayar tas itu.
Melihar-lihat dan tiba-tiba matanya tertuju pada gantungan yang ada di rak itu.
Gantungan itu terlihat sangat bagus dan Serena langsung menyukainya.
“Dipadankan sama tas tadi itu cocok.” Sambil berbicara Serena mengambilkan gantungan itu kepada pelayan yang ada di meja kasir.
Lalu tiba-tiba, ia melihat Bibi Bella.
Ia sangat berbeda dengan biasanya, ia menggunakan sebuah jaket kulit, lalu ia menggunakan kalung perhiasan yang terbuat dari permata dan rambutnya juga tertata rapi, ia kelihatan sangat anggun.
“Bibi Bella?” Serena memanggilnya dengan sedikit ragu-ragu.
Bibi Bella menoleh dan melihat Serena, ia pun sangat terkejut tetapi hanya sebentar saja ia sudah kembali ke kesadarannya.
Dengan sangat senang ia berjalan ke arahnya dan langsung menarik tangan Serena, “Kenapa kamu bisa ada disini? Mau beli tas?”
“Bukan, aku hanya membantu temanku memilih hadiah.” Serena menggelengkan kepalanya.
“Oh.” Bibi Bella menganggukkan kepalanya, lalu bertanya, “Serena, kenapa belakangan ini tidak pulang kerumah?”
__ADS_1
Serena terdiam sejenak lalu berkata: “Belakangan ini aku sedikit sibuk.”
Bibi Bella pun tersenyum dan terawa: “Jangan sampai kecapekan, Bibi sangat mengkhawatirkanmu.”
“Aku tahu, terima kasih bibi.” Serena menunduk dan menjawab.
Bibi Bella menepuk dahi Serena dan berkata: “Dasar anak bodoh, berterima kasih buat apa, kalau kamu sering-sering pulang dan melihat Bibi saja, Bibi sudah sangat senang.”
Mendengar apa yang dikatakan Bibi, Serena merasa sedikit tidak enak hati.
“Bibi, aku akan mengusahakannya.””
Bibi menjawab ‘Baik’ lalu bertanya: “Kamu sudah makan? Makan bareng bibi saja.”
“Tidak, aku datang bersama dengan teman aku.” Serena menggelengkan kepalanya.
Bibi Bella tersenyum dan bertanya, “Lebih penting dari Bibi, pacar kamu yah?”
“Bukan.” Serena pun malu dan wajahnya memerah.
Bibi Bella melihatnya dan berkata: “Melihat ekspresi kamu yang seperti ini sepertinya bibi tidak percaya kalau dia bukan pacar kamu.”
“Benar bukan.” Serena melihat ke arah kasir dan pas sekali ia melihat Ralphie sudah mengambil bugnkusannya lalu ia pun berkata kepada Bibi: “Bibi, temen aku sudah selesai membeli, aku pergi dulu.”
Bibi Bella pun melihat ke arah kasir dan melihat teman Serena.
Laki-laki itu sangat tinggi dan terlihat sangat berkharisma, dilihat begitu saja sudah tahu kalau dia itu bukan laki-laki biasa.
Dia temannya Serena? Bibi pun melihatnya dengan lebih teliti.
Lalu ia melihat ke Serena dan berkata: “Pergilah, ingat main ke rumah.”
“Baik.” Serena melambaikan tangannya dan berlari ke arah Ralphie.
Sesampainya Serena berkata, “Cepat sekali sudah selesai dibungkus? Aku tadi ada lihat gantungan yang bagus?”
“Tinggal dibungkus saja.” Ralphie pun menyuruh pelayan toko itu untuk mengambilkan gantungan itu, lalu ia bertanya kepada Serena, “Orang tadi itu siapa?”
“Bibi Bella?” Serena terdiam sebentar lalu berkata, “Dia itu ibu tiri aku.”
Ralphie mengingat Serena pernah bercerita kalau hubungan dia dengan ibu kandungnya sangat baik, mendengar Serena berkata itu adalah ibu tirinya, ia langsung meminta maaf, “Maaf, aku tidak tahu.”
“Tidak apa-apa, sebenarnya ibu tiri aku baik sekali sama aku, ia lebih baik sama ku dari pada sama kakakku yang adalah anak kandungnya. Kakak ku itu wanita cantik yang hari itu kita temui pas kita makan di The Waterfront Blossom.” Nada suara Serena penuh dengan rasa bahagia dan puas.
__ADS_1