I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 180 Diam-Diam Menjenguknya


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Ralphie siuman pada pertengahan malam.


Ralphie membuka matanya, tidak menghiraukan dokter dan perawat yang sedang memeriksanya, matanya hanya menatap Felix dan berkata, “Dia tidak apa-apa kan?”


Hello! Im an artic!


Felix tanpa kebingungan langsung tau bahwa “Dia” yang dimaksud Ralphie adalah Serena, kemudian menganggukan kepala dan menjawab: “Nyonya tidak apa-apa.”


Mendengar Felix berkata bahwa Serena tidak apa-apa, ekspresi muka Ralphie seketika berubah lembut. Berbisik pelan, “Emm”, dan kemudian memejamkan matanya kembali.


Felix memberi isyarat kepada dokter dan perawat, keluar kamar dengan pelan-pelan, kemudian menelpon Serena memberitahukan bahwa Ralphie sudah siuman.


Pada awalnya Felix mengira bahwa Serena begitu mendapat kabar gembira ini langsung datang kemari, lagipula Felix lah yang paling tau pada saat Ralphie sedang menjalani operasi, Serena sangat panik dan gelisah.


Hello! Im an artic!


Tidak disangka setelah dokter selesai memeriksa Ralphie pun Serena tidak kunjung datang.


Pada awalnya Felix mengira bahwa Serena ada suatu hal yang harus dikerjakan sehingga belum sampai-sampai, tetapi sampai malam pun Serena tetap tidak muncul.


Belum lagi ekspresi muka Ralphie, seperti tidak menyadari bahwa Serena tidak muncul.


Malahan Felix yang tidak tahan, sementara Ralphie terlelap, Felix pergi mencari Serena.


Tetapi Felix tidak menyadari bahwa setelah dia pergi, tidak lama kemudian dari jendela terlihat sekilas ada bayangan, yang tidak lama kemudian pintu kamar pasien terbuka pelan-pelan, dan terlihat Serena yang pelan-pelan berjalan mendekat.


Ternyata, Serena pergi meninggalkan kamar pasien dengan alasan pergi ke hotel yang sudah disiapkan Felix untuknya untuk berganti baju.


Sesampainya di dalam hotel, dia segera mandi dan berganti pakaian, dan dengan bodohnya berdiri di bawah jendela kamar dengan memandang ke arah rumah sakit di depan hotel.


Saat Felix memberitahunya bahwa Ralphie sudah siuman, hal pertama yang dia lakukan adalah berlari ke arah rumah sakit, tetapi tidak punya keberanian untuk masuk ke kamar pasien untuk menemui Ralphie, dia selalu menunggu diluar jendela, sampai ketika Felix meninggalkan rumah sakit dan memastikan bahwa Ralphie sudah terlelap, Serena baru berani diam diam masuk kedalam ruang pasien.


Lampu kamar yang redup, Ralphie yang sedang terlelap, kemudian pelan-pelan berbaring disamping kasur pasien.


Raut Muka Ralphie yang masih sedikit pucat, tetapi lebih baik dari beberapa saat yang lalu. Dengan alis yang sedikit terangkat, semakin terlihat bahwa Ralphie tertidur dengan tidak tenang.


Melihatnya membuat hati Serena sedikit sakit, dia ingin sekali mengusap muka Ralphie, tetapi tidak ada keberanian didalam dirinya dan hanya bisa meneteskan air mata sambil menggigit bagian bawah bibir agar suara tangisannya tidak terdengar.

__ADS_1


Setelah lebih dari sepuluh menit, Serena merasa bahwa Felix akan segera kembali, dia berdiri dan bersiap untuk meninggalkan ruangan.


Kemudian terdengar suara seseorang mengeram, ternyata suara itu dari Ralphie, suaranya tertahan dan sangat pelan, jika bukan karena ruangan yang sangat tenang, mungkin Serena tidak akan mendengarnya.


Tanpa disadari Serena mambalikan badan, melihat muka Ralphie yang memang sangat pucat, ditambah tubuhnya yang basah oleh keringat, dengan tangan yang menggenggam erat pinggiran selimut, dan tubuhnya yang tidak berhenti bergetar.


“Ralphie, kamu kenapa?” Serena dengan sangat cemas memencet tombol peringatan yang ada pada tembok.


Dokter dalam sekejap sudah berada di kamar pasien, setelah memeriksa kondisi Ralphie, dokter memberitahu Serena bahwa anastesi yang berlebihan menyebabkan rasa sakit muncul, suntikan pereda sakit dapat menyebabkan reaksi terhadap obat yang dapat membuat penyembuhan luka terganggu, lebih baik bagi pasien untuk menahan rasa sakit, yaitu dengan tanpa melakukan suntikan pereda sakit.


Serena meskipun tidak tega melihat kondisi Ralphie yang harus menahan rasa sakit, tetapi dia lebih memilih tidak melakukan anastesi.


Setelah mengantar dokter keluar ruangan, Serena duduk disamping ranjang pasien menjaga Ralphie.


Melihat Ralphie yang menahan sakit sampai bibirnya menjadi sangat putih, air mata yang sedari tadi ditahan Serena kembali mengalir deras.


Serena akhirnya tidak kuat lagi, segera bangkit dari kursi yang didudukinya, dan pergi mencari dokter untuk memberi Ralphie suntikan penahan rasa sakit.


Alhasil Ralphie dengan pergelangan tangannya yang kuat menariknya ke tempat tidur dan tubuh Serena terbaring diatas kasur dengan posisi Ralphie berada diatasnya.


Cengkeraman tangan Ralphie membuat Serena kesakitan, tekanan tubuh Ralphie membuat serena menahan sakit, tetapi dia hanya bisa menahannya.


Ketenangan yang diberikan Serena membuat tubuh Ralphie yang gemetaran menjadi sedikit membaik, Serena juga menjadi sedikit lebih tenang, dan kemudian membuat Ralphie istirahat dengan tenang.


Rasa sakit yang dirasakan Ralphie membuat sekujur tubuhnya mengeluarkan keringat dingin, bukan hanya membuat bajunya basah, baju Serena pun ikut basah.


Meskipun Serena merasa sedikit tidak nyaman, dan ada sedikit niat untuk mendorong tubuh Ralphie dari atas tubuhnya.


Mungkin karena rasa sakit yang dirasa perlahan menghilang, Ralphie juga lama kelamaan menjadi tenang, tidak lama kemudian, Ralphie pun mulai tertidur.


Berbarengan dengan tidurnya ralphine, lengan yang menggenggam serena pun juga mulai lepas.


Serena dengan sangat hati-hati memindahkan tubuh Ralphie dari atas tubuhnya, kemudian pelan-pelan turun dari ranjang.


Sebenarnya Serena ingin mengganti baju Ralphie yang basah oleh keringat, tetapi takut membuat lukanya terasa sakit, dan kemudian diurungkan niatnya itu.


Serena dengan cekatan menyelimuti tubuh Ralphie, dengan tenang memandangi Ralphie yang sudah terlelap, dan kemudian berjalan amat hati-hati meninggalkan kamar pasien.


Tidak lama setelah Serena pergi, Ralphie mulai siuman.

__ADS_1


Dia memandangi ruangan yang kosong, dan merasa ada sesuatu yang salah, bahwa ada sesuatu yang kurang.


Tanpa sempat berpikir lebih jauh lagi, fokus pikiran dia teralihkan oleh rasa lengket dan basah pada tubuhnya.


Ralphie adalah penggila kebersiham, bagaimana mungkin dia dapat menahan tubuh yang basah dan lengket? Dia dengan menahan rasa sakit pada lukanya, berusaha mengangkat kepalanya, mengambil handphone yang berada di meja samping rajang untuk menelpon Felix.


Tidak sampai sepuluh menit, Felix dengan keringat yang bercucuran sampai di ruang pasien, sorot matanya menunjukkan rasa bersalah.


Dia tidak hanya tidak menemukan Serena, tetapi juga meninggalkan Ralphie sendirian di dalam kamar, benar-benar asisten pribadi yang tidak kompeten.


Ralphine tidak bertanya kepada Felix dia pergi kemana, hanya menyuruh Felix mengambil baju untuk ia pakai.


Felix mengusap hidungnya, kemudian dengan patuh mengambil baju dan membantu Ralphie mengenakannya.


Setelah selesai, Felix dengan segala hormat berdiri disamping ranjang dan memberitahu Ralphie keadaan yang sebenarnya.


“Direktur, keluarga Tuan Wang ada sedikit pergerakan, ada kemungkinan mereka menggunakan perjanjian yang telah anda tanda tangani untuk memaksa kita meninggalkan Kyoto.


Ralphie merapatkan bibir, menghela napas dan berkata: “Baru begini saja sudah tidak sabar.”


Bagaimana tidak dibilang tidak sabaran, penjanjian baru saja di tanda tangani sudah mau memulai pergerakan, Keluarga Tuan Wang benar-benar mengira Direktur gampang dibodohi? Mengingat Direktur sudah mempunyai rencana dari awal, jadi Felix sudah dapat meramalkan akhir tragis dari keluarga Wang.


Felix sedikit pun tidak berbelas kasihan, siapa suruh keluarga Tuan Wang berani menculik nyonya Serena, ditambah lagi berani menusuk punggung Direktur Ralphie.


“Saya sudah mengampaikan perintah Direktur kepada Isa, beliau berkata besok akan kembali ke Kyoto


Ralphie mengangguk mengiyakan dan kemudian berkata: “kebetulan besok aku juga keluar rumah sakit.”


Mendengar bahwa ralphie akan keluar dari rumah sakit, Felix mendadak cemas, “Direktur, keadaan anda yang seperti ini tidak memungkinkan anda untuk keluar dari rumah sakit.


Ralphie tidak merespon perkataan Felix, dia hanya berkata: “Pindah ke perumahan Pavilion Phoenix.”


Perumahan Pavilion Phoenix? Felix tertegun, kemudian bertanya, “Apakah nyonya juga akan pindah kesana?”


“Serena…” Ralphie menghentikan perkataannya, kemudian melanjutkannya: “Dia akan tetap tinggal di Royal Club”.


Biarkan Serena tinggal disana saja, dia juga menyukai suasana di Royal Club, dan juga, Serena juga tidak suka tinggal bersama Ralphie.


Felix dengan sedikit gelisah menatap Ralphie, yang akhirnya disusul dengan sautan “Baik”.

__ADS_1


__ADS_2