
Hello! Im an artic!
Ralphie keluar dari toilet dan melihat Serena duduk disofa sambil membuka album gambar.
Dia duduk kembali ditempat tadi lalu berkata: “Malam nanti ada jamuan makan malam, jadi balik ke kota A nya harus agak malam, tidak jadi masalah kan?”
Hello! Im an artic!
Serena melihat dia, menganggukan kepala, “Tidak apa-apa.”
Ralphie dengan pelan berkata ‘En’ dan kembali berkata: “Nanti kamu ikut aku hadiri acaranya.”
Serena terdiam, kemudian bertanya, “Kalau aku ikut pergi, kayanya tidak terlalu baik.”
“Tidak apa-apa, ini acara pribadi kok.” Tetapi Ralphie yang secara pribadi mengundang wakil direktur Grup LM untuk makan, makanya dia berani mengajak Serena untuk pergi.
Hello! Im an artic!
Kalau acara publik, Ralphie sendiripun tidak akan hadir.
Mendengar ini adalah perjamuan pribadi, Serena akhirnya menganggukan kepala, “Ok.”
Ralphie menjawab ‘En’, kemudian mengambil sebuah kaset DVD dari dalam tas kerjanya, “Film Zero , mau nonton?”
Kaset film Zero ini bukankah ada di kota A? Kenapa dia bisa bawa sampai ke Kyoto?
Serena dengan tatapan bingung melihat kaset yang ada ditangan Ralphie, kemudian menganggukan kepala, “Nonton.”
Ralphie tak lagi berbicara, dia mengambil laptop dari dalam tas kantor, membukanya, lalu memasukkan kaset kedalam laptop dan memberikan laptopnya kepada Serena.
Serena menerima laptop, pandangannya jatuh ke beberapa berkas file yang ada diatas meja, “Aku ganggu kamu ngga? Lebih baik aku masuk ke dalam kamar untuk nonton.”
Setelah bicara Serena langsung berdiri, tetapi terhenti karena dipanggil oleh Ralphie.
“Nonton bareng.”
Nonton bareng? Bukankah dia masih banyak file yang perlu dilihat? Pandangan mata Serena melihat kearah file yang bertumpuk.
Menyadari pandagan Serena, Ralphie menjelaskan, “Ngga terlalu terburu-buru untuk baca.”
“Oh.” Serena menganggukan kepala, kemudian sambil memegang laptop duduk disamping Ralphie dengan jarak yang cukup jauh.
Takut Ralphie tidak dapat melihat jelas, Serena menggeser laptop kearah Ralphie.
Ralphie melihat sekilas ke Serena, lalu menggesar badannya agar jarak sedikit lebih dekat dengan Serena.
Awalnya berjarak cukup jauh yang kira-kira satu lengan, tapi ini jaraknya menjadi dekat kira-kira satu genggaman tangan saja.
Jarak yang dekat membuat Serena dapat melihat bulu tipis diwajah Ralphie bahkan bisa merasakan nafas Ralphie.
__ADS_1
Awalnya Serena sangat tertarik dengan film ini dan selalu menanti-nanti, tetapi hari ini dia malah nonton dengan sangat tidak fokus.
Mau gimana lagi, karena dia terlalu nervous.
Nafas Ralphie, kehangatan Ralphie, harum wangi tubuh Ralphie, semuanya membuat dia menjadi sangat nervous.
Meskipun nervous, tetapi Serena tetap melihat kearah Ralphie, melihat laki-laki yang sangat dia cintai.
Dia sangat berharap waktu dapat berhenti sampai disini, biarkan mereka berdua selamanya tetapi diwaktu ini.
Tetapi kenyataan tidak seperti itu.
Terdengar suara ketuk pintu dari luar.
Elizabeth yang datang mengingatkan Ralphie karena ada janji.
“Direktur Ralphie, janji makan dengan Tuan Yue jam setengah tujuh, sekarang sudah jam enam.”
Ralphie dengan sikap dingin menjawab ‘En’, kemudian berbalik berbicara dengan Serena, “Agak malam baru lanjutin nonton lagi?”
“En, ok.” Serena menganggukan kepala, menutup laptop lalu mengambil keluar kaset dari dalam laptop.
Setelah menutup laptop, kemudia berdiri berberes.
Karena setelah makan malam mereka akan langsung kembali ke kota A, sudah pasti tidak akan kembali ke hotel, jadi barang harus sekalian dibawa juga.
“Terima kasih.” Serena berterima kasih lalu memberikan plastik kepada Elizabeth.
Ketika Elizabeth mengambil plastik, kebetulan melihat jari manis kanan Serena dioleskan kutek, lalu dengan semangat berkata “kutek Nona Serena bagus, pasti Direktur Ralphie yang bantu oleskan ya?”
Mendengar perkataan Elizabeth, wajah Serena memerah, lalu dengan suara berbisik berkata: “Arti dari pemakaian kuteknya, kamu jangan kasih tahu Ralphie ya.”
Serena tidak ingin Elizabeth memberitahu maksud penggunaan kutek itu kepada Ralphie karena tidak ingin Ralphie tahu perasaan dia.
Tetapi Elizabeth mengira bahwa Serena malu-malu makanya dia bersedia membantu Serena untuk menyembunyikannya.
“Ok, aku tidak akan memberitahu Direktur Ralphie.”
Setelah membereskan barang, mereka keluar dari hotel.
Didepan hotel sudah ada supir yang kala itu menjemput mereka dibandara.
Melihat Ralphie dan yang lainnya keluar, langsung turun dari mobil dan membukakan pintu mobil.
Elizabeth duduk disebelah kursi pengemudi, Ralphie dan Serena duduk dikursi belakang.
Arah mobil tidak kearah kota melainkan keluar kearah selatan barat Kyoto. Karena tidak memasuki kota maka sepanjangan jalan tidak mengalami kemacetan.
Setelah satu jam, dari jauh Serena sudah dapat melihat banyak bangunan dengan arsitektur eropa.
__ADS_1
Sekalipun serena tidak memiliki pengetahuan yang luas tetapi tempat dengan asitektur bangunan eropa seperti ini bukan tempat semua orang bisa datang.
Mobil melaju kedepan halaman dan Serena baru tahu bahwa ini tempat clubhouse.
Ini benar-benar style yang sangat berbeda dari Royal Club di kota A, disini seperti gaya taman pemandangan gunung dan peairan di daerah Jiang Nan.
“Disini bagus banget.” Serena memuji tempat ini.
Ralphie yang sedari tadi memasang mata dingin pun tersenyum, “Suka?”
“En, suka.”Serena menganggukan kepala, pandangannya mengarah ke Ralphie, “Jauh lebih bagus dari Royal Club.”
Serena tidak tahu kalau ini adalah Club pribadi miliki Keluarga Ralphie yang hanya khusus untuk menyambut tamu penting, mana mungkin bisa dibandingkan dengan Royal Club?
“Sebegitu suka?” Ralphie merasa terkejut.
Dia tahu Serena suka makan tiramisu, hobinya suka menggambar design mutiara. Keduanya sudah melampaui pemahamannya mengenai putri keluarga Luo. Hanya saja dia tak tahu kalau Serena juga menyukai lingkungan yang tenang seperti ini.
Serena menganggukan kepala, “Tentu saja.”
Ralphie hanya basa basi bertanya: “Kalau tinggal lebih lama gimana?”
“Bahagia banget pasti.” Selesai Serena berbicara, ia kembali berkata: “Hehe, sudah jangan bercanda lagi. Disini beneran ada makanan?”
Saat ini Serena hanya menganggap Ralphie bercanda, tunggu suatu hari, dia tinggal dirumah mewah Keluarga Su, baru ia tahu perkataan Ralphie itu serius tidak bercanda.
Kakek Ralphie menyukai tempat dengan suasana seperti Jiang Nan makanya rumah Keluarga Su lebih ke style seperti itu, dan Clubhouse ini juga dibangun seperti style rumah mereka. Tentu sajaj ini semua omongan belakang.
Mendengar kecurigaan Serena tentang disini apakah ada makanan membuat Ralphie tak tahan untuk tidak tertawa lepas.
“Ada makanan kok.”
“Baguslah kalau begitu, aku benar-benar lapar.” Setelah berbicara Serena sambil menjulurkan lidahnya keluar.
“Siang ngga makan?” Ralphie bingung.
Serena menjawab, “Makan KFC.”
“Elizabeth ajak kamu makan KFC? Bener-bener ya dia.” Alis Ralphie mulai berkerut.
Melihat Ralphie yang hampir marah, Serena dengan cepat menjelaskan: “Aku sendiri yang mau makan KFC, ngga ada urusannya sama Nona Song.”
Ralphie menatap Serena lalu akhirnya menganggukan kepala, “En.”
Serena masih khawatir jadi dia bicara lagi, “Kamu jangan salahkan dia.”
“Aku tahu.” Selesai Ralphie berbicara, dia berjalan kedalam.
Serena dengan nurutnya mengikuti dia dibelakang.
__ADS_1