
Hello! Im an artic!
Ralphie memakaikan selimut ditubuh Serena, lalu berdiri berjalan kearah sofa, disaat dia bersiap untuk membaca file yang dia bawa pulang, dia malah salah fokus dengan kutek yang ada dimeja.
Jujur, ketika mendengar perkataan Elizabeth bahwa Serena menyukai kutek, dia benar-benar merasa bingung.
Hello! Im an artic!
Karena yang dia tahu, Serena tidak pernah menggunakan kosmetik.
Dia bahkan tidak pernah melihat Serena menggunakannya, apalagi warna kutek itu adalah merah terang.
Matanya hanya terus berkedip dengan keanehan semua ini, Ralphie memalingkan matanya kearah barang yang ada disebelah kutek.
Album gambar yang dibeli oleh Serena.
Hello! Im an artic!
Ini baru sesuai dengan kesan dia pada Serena.
Kedua sudut mulutnya menyeringai, dia lalu mengambil file dari tas kantor lalu membacanya.
Meskipun proyek dengan Grup LM sudah menemukan solusi, tetapi dia tetap mengundang wakil direktur LMYe makan malam bersama untuk menunjukan rasa hormat kepada orang tersebut.
Karena makan malam secara pribadi maka ajak Serena bersama.
Melihat sekilas kearah orang yang duduk dikursi ayunan, Ralphie mengangkat kedua sudut bibirnya.
Serena tertidur selama dua jam, selama itu Elizabeth membawa film Zero yang diminta oleh Ralphie.
Serena membuka mata, memandangi pohon besar yang didepan sebentar lalu berdiri.
Begitu dia bergerak, selimut di badannya melorot ke bawah. Serena baru menyadari ada selimut dibadannya.
Mungkin Elizabeth yang menyelimutinya! Serena menghela nafas lalu berdiri.
Baru saja berjalan dua langkah, Ia melihat ada orang yang tak terduga duduk disofa.
Dia menatap dokumen ditangannya, bulu mata yang panjang dan lentik membuat bayangannya terbentuk seperti kipas yang terbuka dengan indah.
Cahaya matahari terbenam menyinari dari jendela ke tubuh dia, membuat sosok dia terlihat seperti lukisan yang sangat indah.
__ADS_1
Dia memang tidak sempurna sepenuhnya, seolah-olah dalam sekejap dia bisa saja menghilang.
Tanpa sadar Serena dia berjalan kearah sana, seakan ingin menangkap sesuatu……
Ralphie sedang melihat file dan menyadari ada data yang salah, ketika dia sedang mengecek data, tiba-tiba munculah sebuah bayangan.
Alis dia berkerut sebentar, lalu mendongakan kepala, dan dengan pas mata dia bertatapan dengan mata Serena.
Gerakan dia membuat Serena tersadar lalu membuat Serena menjadi panik dan langsung menghindari pandangannya.
Ralphie tidak menyadari keanehan Serena, dia meletakkan file yang ada ditangannya, lalu berbicara dengan suara datar, “Sudah bangun?”
Serena menjawab dengan pelan ‘En’, kemudian menghela nafas dalam, tunggu hati sudah sedikit tenang, baru melihat Ralphie dengan biasa dan suara yang normal, “Kamu kapan pulang?”
“Baru saja.” Ralphie menjawab dengan datar.
‘Oh’ kata Serena, pandangannya tiba-tiba melihat kearah kutek yang ada diatas meja.
Kutek ini tidak akan ia gunakan, hanya saja ia beli karena bujukan Elizabeth, lebih baik dia buang saja.
Ketika Serena sedang berpikiran hal seperti itu, ia mengulurkan tangan dan mengambil kutek yang ada diatas meja, dan bersiap untuk membuangnya kedalam tong sampah.
Suara Ralphie tiba-tiba terdengar, “Kamu suka ini?”
Terakhir melihat Serena yang tidak berbicara, ia mengira Serena benar sesuai yang dibicarakan oleh Elizabeth, suka memakai kutek, tetapi tidak enak untuk menggunakannya, jadi berkata: “Mau aku bantu kutekin ?”
“Heng?” Dia bicara apa? Dia mau bantu kutekin? Apakah ia sedang bermimpi? Serena terbengong lagi.
Sampai Ralphie mengambil kutek dari tangannya aja ia tidak sadar.
Ralphie membuka tutup botol kutek lalu berkata bahwa dia baru pertama kali melihat barang ini.
Dia tidak terlalu suka perempuan mendekati dirinya, tentu saja barang seperti ini tidak pernah muncul disekitar dia.
Dia membuka botol kutek dan mengeluarkan bau yang sangat menyengat dihidung, tidak terlalu enak untuk dicium.
Dia menggerutkan alisnya, ingin sekali dia membuang barang itu langsung, lalu dia menepuk tempat duduk disamping, “Sini duduk.”
Dan Serena baru benar-benar mengerti kalau dia beneran ingin membantunya mempoleskan kutek, bukan bercanda.
Serena menelan ludah dan terbata-bata: “eng……aku bikin sendiri saja.”
__ADS_1
Ralphie tidak merespon dan langsung bertanya, “Ini gimana pakainya?”
Jangan salahkan Ralphie karena dia sama sekali tidak punya pengalaman.
“Gunakan kuas kecil itu, oleskan cat kuku lalu oleskan pada kuku jari manis.” Karena Ralphie sudah sangat serius ingin membantunya, jadi dia hanya pasrah untuk mengajarinya.
Tangan kiri Ralphie memegang botol kutek, tangan kanan memegang kuas kecil yang penuh dengan cat kuku lalu dioleskannya ke kuku jari manis Serena.
Serena melirik dan menatap erat mata cantik yang indah yang ada didepannya.
Mata dia tidak berkedip, ekspresinya sangat serius seperti sedang melakukan sesuatu hal yang penting.
Mungkin dia bukan membawa perasaan dirinya menyukai Serena, tetapi Serena bisa berpura-pura, berpura-pura hati dia ada dirinya.
Dan Serena hanya bisa menyimpan perasaan ini jauh didalam lubuk hati dia, ini sudah cukup.
Sudah cukup.
Ketika Serena sedang bengong, Ralphie sudah selesai mempoleskan kutek di jari manis.
Dia mendongakan kepala dan dengan suaran berat berkata, “Yang mana lagi yang mau dikutekin?”
Serena tersadar dari lamunannya, lalu menggelengkan kepala, “Ngga, ngga perlu, ini aja cukup.”
Ralphie merasa ada yang aneh, kenapa hanya satu jari saja yang dipoleskan kutek. Diingatan dia, perempuan lain pasti akan menggunakannya dikedua tangan yang membuat orang tak tahan.
Tetapi Serena hanya mempoleskan satu jari, masih okelah.
Ralphie tak banyak berbicara, hanya menutup tutupan botol kutek, meletakkan kembali diatas meja, lalu berdiri dan bersiap untuk mencuci tangan ditoilet.
Baru saja berjalan dua langkah, dia melihat Serena membuang kuteknya ke dalam tong sampah.
Bukankah dia menyukai kutek itu? Kenapa dibuang?
Dia merasa kegunaan kutek ini seperti hanya untuk dipakaikan di jari manis sebelah kanan saja?
Ralphie menggeleng-gelengkan kepala, mungkin dia berpikiran yang berlebihan.
Yang penting dia senang, kalau ingin buang yah dibuang saja.
Serena tidak tahu pemikiran Ralphie, tetapi barang seperti kutek ini, dia memang tidak terlalu suka.
__ADS_1
Kalau bukan karena Ralphie berkata ingin membantunya mempoles kutek, sejak awal dia pasti sudah akan membuangnya.
“Tapi untung saja ngga buang, kalau ngga mana mungkin dia akan mempoleskan kutek padaku?” Serena menundukkan kepala melihat kearah kuku jari manis yang dioleskan kutek dan ujung bibirnya pelan-pelan naik keatas.