
Hello! Im an artic!
Mungkin karena setelah pertemuan tak sengaja dengan Lacey di Clover Plaza membuat Serena tak hentinya memikirkan Ralphie setelah kembali kerumah.
Setelah berbaring dikasur, ia menjadi susah tidur, tetapi setelah tertidur ia malah bermimpi sesuatu.
Hello! Im an artic!
Di dalam mimpi, ia dan Ralphie berargumen.
Ia berkata padanya, “Ralphie, aku menyukaimu, kamu?”
“Aku ngga suka kamu dan juga ngga akan suka perempuan lain.” Ralphie berbicara dengan sikap dingin, lalu berbalik badan dan pergi.
Ia panik dan menahannya, dengan tidak tenang bertanya, “Kalau gitu……kita masih bisa jadi teman?”
Hello! Im an artic!
Ralphie dengan jijik menyingkirkan tangannya dan sikap dingin berkata, “Aku sangat benci perempuan, apalagi perempuan seperti kamu yang menyukai aku.”
“Jadi kamu jangan pernah muncul lagi dihadapanku. Karena perempuan yang sering ngikutin itu lebih membuat orang semakin benci.”
Selesai berbicara, Ralphie berbalik badan dan berjalan pergi dengan langkah besar.
“Ralphie, kamu jangan pergi, aku ngga suka kamu, kita balik lagi seperti dulu ya……” Serena menangis sambil mengejar, tetapi ia tidak berhasil mengejarnya.
“Ralphie……” Serena berteriak lalu terbangun dari mimpinya.
Wajahnya penuh dengan air mata, nafas yang terengah-engah, wajahnya terlihat pasrah dan pahit.
Serena terdiam sesaat dan baru menyadari bahwa ini semua hanyalah sebuah mimpi.
Sejak ia memutuskan untuk lepas, ia selalu memaksakan diri untuk selalu sibuk agar tidak memikirkan orang itu.
Maka dari itu, ia tak pernah lagi memimpikannya.
Mungkin karena kemarin malam ia bertemu dengan Lacey makanya ia terus mimpi tentang dia. Terlebih lagi kehadiran orang itu didalam mimpi dengan ekspresi yang sangat jijik padanya.
Serena mengangkat tangan dan memegang wajahnya yang dingin.
Dia tertawa pahit dan segera menghapus air mata diwajah.
Kemudian mengambil ponsel disebelah tempat tidur dan melihat jam, waktu menunjukkan pukul tujuh pagi.
Jam kerja pukul setengah sembilan, naik bus dari tempat tinggal sampai toko perhiasan Man Fook memerlukan waktu dua puluh menit.
__ADS_1
Masih pagi, tetapi Serena sudah tak bisa lagi tidur, jadi dia bangun untuk gosok gigi kemudian memasak mie sebagai sarapannya.
Selesai sarapan waktu masih belum menunjukkan pukul delapan, jadi Serena membereskan kamar terlebih dahulu kemudian berangkat kerja.
Baru saja masuk kedalam lobby toko perhiasan, ia sudah mendengar beberapa orang sedang berdiskusi.
Yang katanya customer VIP designer Zhuo tidak dapat dibandingkan dengan designer baru yang bernama Nicole Wen dan bisa jadi posisinya sebagai designer pertama di toko perhiasan Man Fook Hang tidak akan bertahan lama.
Serena hanya sedikit terkejut karena Dottie adalah designer pertama di toko perhiasan Man Fook, sama sekali tidak memikirkan customer VIP.
Beberapa hari ini Dottie tidak memberikan kerjaan pada Serena, Serena juga senang karena santai dan melihat data-data training dikantor.
Setelah melihat selama dua jam, mata Serena sedikit sakit, jadi ia menyimpan datanya kemudian berdiri beranjak ke toilet untuk cuci muka.
Sesampainya Serena di toilet, ia membuka keran air dan mencuci muka, kemudian ketika ingin mengambil tisu untuk mengelap wajahnya, tiba-tiba mendengar ada orang yang berbicara padanya.
“Kamu memperlakukan wajahmu seperti ini?”
“Apa?” Serena memutarkan kepala, melihat seorang wanita yang mengenakan baju merah muda sambil memasang ekspresi wajahnya yang tak setuju padanya.
“Setelah cuci muka tidak menggunakan produk perawatan kulit untuk melindungi wajah, lalu hanya mengelapnya dengan tisu.” Perempuan itu menjelaskannya sekali lagi padanya.
Serena terdiam kemudian menjawab, “Aku selama ini tidak pernah pakai produk perawatan kulit.”
Serena juga tidak terlalu memperdulikannya, mengambil tisu untuk mengelap wajahnya yang basah, ketika ia akan keluar dari toilet, Louisa keluar dari salah satu kamar kecil dan memanggilnya, “Serena.”
“Louisa, kamu disini juga.” Serena menyapa Louisa sambil tersenyum.
Louisa berjalan kearah wastafel sambil berkata: “Serena, sini deh, aku mau tanya kamu sesuatu.”
Meskipun Serena merasa ada yang aneh apa yang ingin dikatakan Louisa sampai harus memanggilnya kesana, tetapi ia tetapi berjalan kesana, “Ada apa?”
Louisa menyalakan keran air, sengaja membiarkan air terus mengalir untuk membuat suara , kemudian dengan suara kecil bertanya, “Kamu tadi sama designer Wen sedang membicarakan apa?”
Serena merasa aneh, “Designer Wen? Siapa?”
Louisa bingung melihat Serena, kemudian berkata, “Designer Wen orang yang tadi ngomong sama kamu.”
“Oh jadi itu tadi designer Wen?” Tanya Serena kaget.
Louisa hanya terus memandang Serena, setelah memastikan bahwa dia benar-benar tidak mengenal Nicole ia pun berkata: “Kamu ngga kenal dia? Kenapa kamu ngobrol sama dia? Kamu beneran tidak tahu?”
“Dia yang ngomong sama aku.” Serena terdiam sebentar kemudian bertanya, “Tahu apa?”
Louisa melihat ke arah sekitar, kemudian berbisik ditelinga Serena: “Sekarang konflik antara Designer Zhuo dan Designer Wen sangat besar.”
__ADS_1
“Karena masalah VIP?” Tanya Serena menggerutkan alis.
“Kamu tahu, kenapa kamu masih ngobrol sama Designer Wen.” Louisa memasang mimik wajah ‘Nyali kamu gede sekali’ kepada Serena.
Serena agak sedikit kurang mengerti situasi dan malah balik bertanya, “heng……diantara mereka berdua memang ada hubungan apa?”
“Kamu adalah asisten designer Zhuo, kalau kelihatan orang lain kamu dekat dengan Designer Wen, menurutmu Designer Zhuo akan berpikiran seperti apa?” Jawab Louisa sambil membalikkan bola mata.
“Aku dan Designer Wen hanya sekilas berbicara seharusnya tidak jadi masalah besar kan?” Serena merasa masalah ini tidak terlalu berat.
Louisa melihat Serena yang tidak terlalu peduli, benar-benar ingin sekali merobek otaknya dan melihat isinya seperti apa, dia terlalu berpikir sederhana tentang perasaan seseorang.
Benar juga, kalau saja Serena tidak terlalu sederhana memikirkan perasaan orang, mungkin orang juga akan menjaga jarak padanya.
Tetapi dia malah……
Louisa ada keinginan untuk mengatakan semua masalah yang terjadi, tetapi masalah sudah sampai dilangkah seperti ini, dia sudah tidak bisa menyesal. “Serena, kamu jangan berpikiran begitu simpelnya tentang seseorang, gimanapun kamu adalah orangnya Designer Zhuo, lain kali jangan ngobrol dengan Designer Wen lagi.”
Serena menganggukan kepala, “Oh, ok.”
Louisa melihat Serena yang sudah mengerti perkataan dia, dia pun tak lagi banyak berbicara.
Dia mengulurkan tangan menutup keran air kemudia bersama-sama keluar dari toilet.
Louisa pikir ia sudah mengingatkan Serena dan lagi pula pembicaraan Serena dengan Designer Wen ditoilet tadi seharusnya juga tidak ada yang perhatikan, masalah ini seharusnya sudah begini saja.
Ternyata ketika istirahat siang, Dottie sengaja mencari dia menanyakan masalah ini.
“Halo Designer Zhuo.” Sapa Louisa dengan suara rendah.
Dottie hanya ‘En’ sebentar, kemudian dengan suara rendah, “Kamu tahu masalah Serena yang sedang dekat dengan Nicole?”
Akhirnya pun ketahuan.
Tatapan mata Louisa panik kemudian berkata: “Designer Zhuo, ketika Serena dan Designer Wen sedang berbicara aku juga ada ditoilet, sebenarnya hanya saling sapa saja, selain itu tidak ada.”
“Oh iya?” Dottie menaikkan sebelah matanya sambil melihat ke arah Louisa.
Louisa menjawab, “Iya betul, saat itu aku juga di toilet, jadi pas banget aku juga mendengarnya.”
Dottie tidak berkata percaya, tak juga berkata bahwa ia tak percaya, hanya berkata: “Aku ngga mau dengar hal kaya begini lagi.”
“Ok, aku mengerti.” Louisa menganggukan kepala.
Dottie dengan puas memberikan jawaban ‘En’ kemudian membalikkan badan dan pergi.
__ADS_1