
Hello! Im an artic!
Ralphie pun mengeluarkan makanan yang diambilkan Elizabeth dari The Sugar Empress dan memanaskannya didalam microwave beberapa menit lalu membawakannya keapada Serena biar dia bisa sambil memakannya sambil menonton.
Ketika sekitaran jam 10, Felix datang.
Hello! Im an artic!
Dia membawakan tas Serena lalu membawakan beberapa dokumen yang harus ditandatangani Ralphie.
“Nona, ini adalah tas kamu, kemarin saat Ralphie mangantar kamu pulang, ia melupakan tas kamu.”
Serena pun mengambil tas itu dari tangan Felix, lalu sambil tersenyum berkata, “Terima kasih Felix.”
“Tidak apa-apa.” Felix menggelengkan kepalanya.
Hello! Im an artic!
Mungkin karena
Ralphie memperhatikan senyuman yang diberikan Serena kepada Felix dan ia pun mengerutkan keningnya, lalu dengan nada yang dingin berkata: “Felix, ikut aku.”
Setelah menyelesaikan apa yang ia katakan, Ralphie langsung naik ke lantai dua.
“Baik, Direktur Su.” Setelah menjawab Ralphie, Felix pun meminta izin kepada Serena untuk pamit terlebih dahulu dan dengan tergesa-gesa mengejar Ralphie ke lantai dua.
Felix dan Ralphie menghabiskan wakut kira-kira setengah jam lebih di atas, setelah Felix turun dari lantai atas, ia tidak banyak berbicara dan langsung meinggalkan tempat itu.
Ralphie mengambil dokumen yang diantarkan Felix dan duduk di samping Serena sambil meenandatangani dokumen itu.
Ketika jam 11, Ralphie menutup dokumennya dan beranjak berdiri lalu mengenakan jaketnya, lalu ia mengambil kunci dari meja teh dan berjalan kearah pintu yang terkunci.
“Kamu mau pergi kemana?” Serena meletakkan bantal yang sedang ia peluk dan beranjak berdiri.
“Pergi ke supermarket.” Sambil memakai sandal, Ralphie menjawabnya.
Serena berpikir sebentar lalu menjawab, “Aku temenin kamu pergi.”
Ralphie mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Serena, lalu berkata: “Kamu pergi pakai jaket dulu.”
“Baik.” Serena menganggukkan kepalanya lalu membalikkan badannya dan pergi ke lantai dua untuk mengambil jaketnya, ketika ia baru berjalan dua langkah, ia baru ingat ia tidak tahu jaketnya ada dimana dan ia pun bertanya, “Jaket aku dimana?”
“Sudah dicuci.” Setelah berpikir sebentar, Ralphie menjawab, “Kamu pergi ke kamar yang pernah kamu tiduri, ambil salah satu jaket di kamar itu.”
Serena menjawab ‘Oh’ lalu segera naik ke atas.
__ADS_1
Setelah sampai dilantai atas, Serena langsung masuk ke kamar yang ada disebelah kamar tidur Ralphie, lalu membuka lemarinya dan melihat pakaian yang sangat familiar dengannya.
Pas sekali hari itu ketika mereka pergi ke Jalan Spaloom, Ralphie membeli beberapa pakaian ini.
Bukannya Ralphie bilang ia mau memberinya kepada adik perempuannya? Kenapa masih ada disini?
Emangnya kamar ini adalah kamar adik perempuannya? Serena berpikir sebentar dan merasa bisa jadi.
Cuman saja apa bagus kalau ia mengenakan pakaian adik perempuannya? Serena terbengong dan menatapi pakaian yang ada didalam lemari itu dan tidak tahu mau memakai jaket yang mana.
Ketika ia masih ragu-ragu, pintu kamar itu terdorong, ternyata Ralphie yang sedang menunggunya dibawah pun masuk.
Dia tidak mengatakan apa-apa dan ia langsung mengambil satu jaket yang agak tebal dan langsung memberikannya kepada Serena.
Serena membuka mulutnya seakan mau mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya ia tidak mengatakan apa-apa.
Ralphie membawa Serena ke minimarket yang kira-kira butuh waktu sepuluh menit menggunakan mobil dari rumah mereka kesana.
Setelah ia menghentikan mobilnya, kedua orang itu pun memasuki supermarket itu.
Serena bukannya tidak pernah ke supermarket, ia juga sudah pernah sekolah empat tahun di luar, setelah tamat juga ia hidup sendiri.
Tentu saja pengalamannya bukan hanya membeli makanan ringan dan peralatan rumah, kalau masalah beli bahan masakan, ia bisa dibilang sudah mahir.
Kelakuannya yang begitu membuat orang yang ada disekitar sana semua melihatnya, tidak, seharunya mereka menoleh untuk melihat Ralphie.
Hanya saja memang mereka berdua sangat berbeda dari pasangan yang biasanya.
Waalupun bisa dibilang dikehidupan yang modern sekarang ini, laki-laki atau perempuan siapa yang memasak didapur bukan lagi masalah besar.
Tetapi laki-laki seperti Ralphie yang bukan hanya ganteng tetapi juga bisa memasak itu sagat jarang ditemukan, dan wanita yang ada disampingnya cuman cantik tetapi tidak bisa melakukan apa-apa. Pasangan seperti ini sangat jarang ditemukan.
Mendengar apa yang dibicarakan orang yang ada disekitar sana, muka Serena pun mulai memerah.
Mulutnya yang tadinya sedang bertanya pun tidak berani melanjutkan pertanyaannya lagi dan terus mengikuti Ralphie disampingnya dan membantunya mendorong kereta sorongnya dengan benar lalu membantu memasukkan barang yang dipilih Ralphie kedalam trolly itu.
Ralphie tidak mendengarnya suara Serena sama sekali, lalu ia pun menoleh dan melihat apa yang sedang ia lakukan, ternyata ia baru menyadari Serena tidak ada disampingnya dan ia pun mengira Serena tersesat. Ia pun langsung melihat kesekelilingnya dan mencari Serena, lalu akhirnya ia melihat Serena yang sedang mendorong trolly dibelakangnya.
Walaupun cara seperti ini lebih bagus, tetapi Ralphie tetap lebih suka cara mereka berjalan pada awalnya.
Serena melihat Ralphie yang sedang melihatnya, lalu Serena pun bertanya, “Ada apa?”
“Tidak apa-apa.” Ralphie mengalihkan pandangannya dan mengambil barangnya.
Tidak tahu kenapa, tetapi tiba-tiba saja Ralphie juga kehilangan moodnya.
__ADS_1
Dia segera membeli semua barang keperluan mereka dan berjalan ke kasir untuk membayar semua barang belanjaan mereka dan segera pulang ke rumah.
Ternyata ketika mereka diperjalan pulang ke rumah, mereka melihat sebuah mobil yang sedang berhenti di depan rumah mereka.
Ketika Ralphie melihat mobil itu, ekspresi wajahnya sudah mulai berubah menjadi gelap.
Serena juga melihat mobil mewah yang ada didepan rumah mereka, awalnya ia berencxana untuk bertanya kepada Ralphie apakah ia mengenal pemilik mobil itu, tetapi setelah ia menoleh dan melihat wajah Ralphie yang mulai tidak enak dilihat, ia pun tidak jadi bertanya kepadanya lagi.
Ralphie masih tetap memaparkan wajhanya yang dingin itu dan berkata, “Kamu masuk duluan.”
“Baik.” Serena menganggukkan kepalanya.
Ralphie pun turun dari mobilnya lalu dengan ekspresi wajahnya yang dingin, ia melihat kearah mobil mewah itu.
Dan Serena juga mendengar apa yang disuruh Ralphie dan membawa barang belanjaan mereka masuk ke rumah mereka.
Setelah Serena masuk ke dalam rumah, Ralphie oun berjalan ke arah mobil itu.
Sebelum ia sampai di mobil itu, pintu mobil itu sudah terbuka terlebih dahulu.
Bodyguard Kakek Su pun turun dari mobil itu, lalu membungkukkan badannya dan memberi hormat kepada Ralphie, “Tuan Muda.”
Ralphie tidak mengatakan apa-apa, tatapan matanya langsung tertuju kepada Kakek Su yang masih ada didalam mobil.
“Kakek ada apa datang mencariku?”
“Cuman sekalian mampir saja.” Wajah Kakek Su juga tidak ada banyak ekspresi.
Awalnya Kakek Su sedikit penasaran kemarin malam ada apa yang terjadi sampai-sampai cucunya menggunakan kekuatan perusahaan mereka untuk menyelesaikan masalah itu, jadi pagi ini dia datang ke kantor untuk mencari cucunya, tetapi ternyata cucunya hari ini tidak masuk kerja.
Masalah ini benar-benar membuat Kakek Su sangat terkejut, jadi ia pun datang mencari Ralphie.
Sesampainya disini, ternyata ia melihat apa? Ia meliahat cucunya yang biasa bilang wanita adalah makhluk yang merepotkan dan sekarang ia malah bersama dengan seorang wanita?
Saat tadi baru melihat, Kakak Su awalnya mengira matanya sudah buram.
Lalu setelah itu ia melihat Ralphie menopang wanita itu untuk masuk ke dalam rumah mereka, saat itu Kakek Su baru merasa yakin kalau orang itu adalah seorang wanita.
Laki-laki ini masih adalah cucu dia kan?
Tentu saja ia sudah sangat kenal dengan karakter cucunya ini, jadi ia pun berpuar-oura seperti tidak ada apa-apa yang terjadi dan berbicara kepadanya.
Ralphie sama sekali tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Kakek Su, ia hanya tahu Kakek Su pasti datang mencarinya karena masalah semalam yang ia menggunakan kekuatan perusahaan mereka.
Ralphie berkata dengan tenang: “Sudah selesai lihat kan, sekarang kamu sudah boleh pulang.”
__ADS_1