I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 152 Hubungannya Agak Membaik


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Ralphie memperhatikan Serena ada yang tidak beres, lalu berjalan ke arahnya, tapi tidak terlalu dekat dengannya, dan hanya berhenti sejauh 100 meter darinya, “Kamu kenapa?”


“Tidak apa-apa.” Serena menatapnya sambil menjauhinya, sebisa mungkin menggunakan nada bicara yang sangat tenang.


Hello! Im an artic!


Ralphie dengan pelan berkata ‘Oh’, lalu berkata: “Yuk jalan.”


Tanpa menunggu Serena menjawab, dia menambahkan lagi dengan 5 kata, “Aku antar kamu pulang ke rumah.”


Seperti seseorang yang takut ditolak oleh Serena, Ralphie selesai berbicara seperti itu, langsung berjalan ke arah mobil yang sebelumnya sedang dinaikin oleh Felix.


Serena menaikkan kepalanya dan menatap sosok Ralphie dari belakang dengan tatapan pandangan kosong, lalu melangkah maju mengikuti langkahnya.


Hello! Im an artic!


Sebenarnya Ralphie pada awalnya berencana mengantar Serena pulang lalu langsung pergi, tapi saat di jalan, dia mendengar kalau Serena menelepon pembantu yang ada di villa untuk menyiapkan beberapa makanan.


Meskipun Serena tidak mengatakannya secara langsung, tapi makanan-makanan itu semuanya adalah makanan kesukaan Ralphie.


Sebenarnya Serena dia juga sangat mempedulikannya, paling tidak mempedulikannya sama seperti seorang teman, sama seperti dulu.


Beberapa hari ini dia tinggal di perusahaan, kadang-kadang harus lembur, saat sibuk sampai malam hari, dia berdiri di depan jendela, dan selalu merindukannya.


Dia merasa takut kalau dia tidak akan mengajaknya bicara lagi, dia hanya bisa setiap hari melihatnya itu saja sudah cukup.


Atau mendengar keluhannya kepadanya karena sudah menyuruhnya untuk menikah padanya, dia juga pasti akan merasa menerima semua itu dan merasa bersalah.


Tetapi kenyataannya adalah, dia tidak ingin bertemu dengannya lagi, bersembunyi darinya.


Tapi dia benar-benar ingin lebih dekat dengannya, hanya sedikit saja……


Ralphie dengan pelan menarik nafas, lalu mengikuti dari belakang Serena masuk ke dalam villa.


Dia tidak tahu, kalau Serena yang berjalan di depannya melihatnya mengikutinya berjalan masuk ke villa sebenarnya juga sedang pelan-pelan menarik nafas lega.


“Tuan, Nona, makan malam sudah disiapkan.” pembantu rumah dengan hormat mengambil tas yang ada di tangan Ralphie dan tangan Serena dan membawanya.


Serena berbalik menatap Ralphie, dan setelah tidak melihat ada sesuatu yang tidak beres di wajahnya, dia baru menganggukan kepala, “Ya, oke.”


Mereka berdua secara bergantian masuk ke dalam kamar mandi, lalu secara bergantian juga masuk ke ruang makan.


Tempat duduknya masih sama dengan kemarin malam duduknya, hanya saja suasananya terlihat sudab lebih baik sekarang daripada kemarin.


Pada saat itu Serena juga membantu Ralphie menambahkan sup di mangkuknya, meskipun Ralphie tidak menunjukkan ekspresi apapun, tapi dia meminum sup yang ada di mangkuknya sampai habis.

__ADS_1


Terakhir Ralphie mengangkat telepon dan baru memutar badannya lalu berdiri dari depan meja makan.


Telepon Ralphie kali ini berbicara sangat panjang, sampai Serena yang sudah selesai makan dia masih saja belum menutup telepon.


“Nanti saja baru dibereskan.” Serena tidak membiarkan pembantu rumah untuk membersihkan makanan di meja, lalu berdiri di depan meja makan.


Dia berbeda dengan yang kemarin, langsung naik ke atas, dan menonton TV di ruang tamu.


Di dalam tv sedang menyiarkan apa, Serena sebenarnya memang tidak memperhatikannya, dia memfokuskan semua perhatiannya pada Ralphie yang sedang menelepon.


Menatapnya sebentar, pandangannya beralih lagi ke arah jarum yang ada di dinding.


Sudah jam sepuluh lebih tiga puluh menit, malam seperti ini, dia seharusnya tidak mungkin ke kantor lagi kan……


Setelah Ralphie selesai menelepon, dia berbalik dan pas sekali melihat pandangan Serena yang sedang melihatnya, pandangannya seketika terhenti.


Pandangan Serena yang melihat Ralphie tertangkap basah olehnya, lalu dengan cepat berpura-pura tidak terjadi apa-apa sambil memalingkan wajahnya dengan santai.


Bibir Ralphie cemberut, dia berbalik badan dan bersiap-siap naik ke atas, pada saat itu pembantu rumah keluar dari ruang makan, “Tuan, apakah makanan Anda mau dipanaskan sebentar?”


“Tidak usah.” Ralphie menggelengkan kepala dengan pelan, sorotan pandangan matanya mengarah ke Serena, lalu berkata: “Potong beberapa buah segar saja.”


“Baik, tuan.”


Ralphie tidak berbicara apapun, menyimpan hp nya, dan naik ke atas.


Sampai saat pembantu rumah menaruh beberapa potongan buah segar dan teh di depannya, dia baru tersadar.


“Untukku?” barusan mendengar Ralphie menyuruh pembantu rumah untuk memotong beberapa buah segar, bukannya itu dia yang mau?


“Iya.” pembantu rumah menganggukkan kepala.


Serena tidak berpikir banyak, lalu menganggukkan kepala dan berkata ‘Hm’.


Setelah selesai makan buah, Serena baru kembali lagi ke atas.


Di dalam ruang belajar lampu menyala terang, dari dalam terdengar suara samar-samar Ralphie, tidak tahu sedang menelepon atau sedang melakukan apa.


Serena berdiri sebentar di depan ruang belajar Ralphie, lalu kembali ke kamarnya.


Setelah mandi, dia tidak menggambar desain lagi, tapi membuka hp dan melihat-lihat Weibo. Setelah melihat-lihat sebentar, dia dengan linglung tertidur.


Hari kedua saat Serena turun ke bawah, Ralphie sedang berada di ruang tamu untuk sarapan.


Melihatnya datang, Ralphie mengatakan, “Pagi.”


Serena agak merasa tersanjung, “Pagi……”

__ADS_1


Ralphie menjawab ‘Hm’, lalu melanjutkan sarapan dengan sikap sopan dan elegan.


Dia lebih pagi datangnya daripada Serena, namun dia setelah selesai sarapan, tidak langsung berdiri, malahan duduk di depan meja sambil bermain hp dengan acuh tak acuh.


Dia hari ini tidak bekerja? Serena melirik Ralphie sambil makan.


Hasilnya setelah dia menaruh mangkuk dan sumpitnya, Ralphie langsung berdiri.


Serena dengan tidak mengerti melirik sosok belakangnya yang meninggalkannya, lalu bergegas berlari naik ke atas mengambil tas sendiri, lalu keluar dan segera memanggil taxi untuk pergi ke kantor.


Kemarin malam mobilnya ditabrak dari belakang karena mengemudi terlalu dekat, Supir Li pasti tidak bisa mengantarnya pergi bekerja, jadi dia harus pagi-pagi untuk berangkat.


Hasilnya saat dia baru saja keluar dari gerbang depan, dia melihat Ralphie yang berada di halaman depan.


Kedua tangannya ditaruh di kantungnya dengan santai, dan badannya dengan santai berdiri bersandar ke mobil. Dia menatap pohon besar di halaman depan, tidak tahu sedang memikirkan apa.


Kira-kira sudah mendengar suara pintu yang dibuka olehnya, dia berbalik, dan melihat ke arahnya.


Serena ragu-ragu, lalu melangkah, dan dengan pelan berjalan ke sana, “Itu, aku pergi bekerja……”


Perkataan Serena belum selesai dibicarakan, Ralphie langsung memotong pembicaraannya, “Aku antar kamu.”


“Ha?” Serena tidak merespon sejenak.


Ralphie menatapnya, lalu dengan pelan menjelaskan: “Mobil baru belum dibawa pulang, Supir Li untuk sementara waktu tidak bisa mengantar jemput kamu.”


Direktur Grup Su yang bermartabat, Tuan Muda keluarga Su kekurangan mobil? Mobil baru apa yang belum dibawa pulang, jelas-jelas semua itu hanyalah alasan saja kan, jelas-jelas dirinya sendiri yang ingin mengantar jemput Serena, dan dia ingin lebih dekat dengannya……


Setelah naik mobil Serena teringat serangkaian perilaku Ralphie dari pagi ini.


Dan baru merespon, sebenarnya Ralphie sedang menunggunya untuk mengantarnya ke kantor……


Serena tidak berani mengeluarkan suara untuk menyuruh Ralphie memarkirkan mobilnya di depan taman yang dekat, tapi Ralphie juga tidak memberhentikan mobilnya di depan pintu Toko Perhiasan Man Fook, malahan berhenti di persimpangan sejauh seratus meter dari Toko Perhiasan Man Fook.


Mobilnya berhenti diparkir, Serena dengan tidak sabar mendorong pintu mobil dan turun dari mobil.


Hasilnya kakinya yang baru saja menginjakkan kaki ke lantai, tiba-tiba terdengar suara Ralphie, “Serena.”


“Hm?” Serena berbalik dan melihatnya.


Ekspresi wajah Ralphie terlihat ringan, dan dengan nada bicara dan ekspresi wajah yang sama berkata, “Pulang kerja nanti aku akan datang menjemputmu.”


“Baik.” Serena menganggukkan kepala, dan tersenyum ringan.


Sudah lama tidak melihat Serena tersenyum pada Ralphie, seketika karena disilaukan oleh senyuman Serena kepala dan seluruh otaknya langsung terasa pusing.


Lalu dia dengan cepat memalingkan pandangannya, dan menurunkan kepalanya dengan pelan, lalu menyalakan mobil dan pergi meninggalkannya.

__ADS_1


__ADS_2