
Hello! Im an artic!
Ketika Serena menghubungi Ralphie, ia masih di perjalanan menuju kantornya.
Melihat nomor yang tidak dikenal di layarnya, Ralphie mengerutkan keningnya, lalu menekan tombol untuk menjawabnya dan tidak mengatakan apa-apa.
Hello! Im an artic!
Ketika sudah lewat tidak sampai empat detik, Serena berkata, “Halo, Direktur Su, ini saya Serena.”
Setelah mendengar suara Serena, reaksi pertama Ralphie adalah ia langsung melihat ke arah Felix.
Ternyata dia berani memberikan nomor pribadi dia kepada orang lain, dia boleh juga!
Felix merasakan suasana dingin di belakang sana, melihat Ralphie dari kaca spionnya dan menerima pandangan dingin dari Ralphie, Felix pun sedikit gemetaran.
Hello! Im an artic!
Lalu berenggangkan lehernya dan fokus membawa mobilnya.
Ralphie mengalihkan pandangannya dan dengan nada lembut menjawab, “Iya ini aku.”
Mendapat balasan dari Ralphie, Serena lanjut berbicara: “Tuan Su, aku mau berterima kasih kepadamu, kamu sekali demi sekali terus membantuku.”
Ralphie mengerutkan keningnya sebentar, dia awalnya mau berterima kasih kepadanya! Walaupun ucapan terima kasihnya sedikit dil uar dugaan, tapi tidak tahu kenapa, didalam hati Ralphie terasa sesak.
Ketika Ralphie bersiap untuk membalas ‘ Tidak apa-apa’, Serena sudah berbicara lagi.
“Itu…….malam ini Tuan Su ada waktu tidak? Aku mau mentraktirmu makan.”
Ralphie pun mengerutkan keningnya dan ketika ia bersiap untuk menolaknya, Serena berkata lagi, “Aku tahu anda sangat sibuk, kalau malam ini kamu tidak ada waktu, kamu lihat kapan kamu ada waktu……”
Serena masih belum selesai berbicara, Ralphie sudah menjawabnya ‘Baik’ dengan nada tenang.
“Kamu suka makan apa?” Makanan barat, chinese, jepang atau yang lainnya?” Suara Serena terdengar lebih ceriah dari sebelumnya.
Apakah karena senang? Bibir Ralphie pun mulai tersenyum, kalau tidak diperhatikan dengan baik-baik mungkin tidak akan kelihatan, “Chinese food.”
__ADS_1
Serena terdiam beberapa saat, lalu bertanya, “Rumah makan kota A gimana?”
Ralphie menjawab dengan nada lembut ‘Iya’, artinya dia sudah mengiyakannya.
“Kalau begitu malam ini jam 7 malam di rumah makan A yah.”
“Baik.” Selesai mengatakan kata ini Ralphie langsung menutup teleponnya.
Setelah menutup teleponnya, Ralphie bersandar ke kursinya dan memikirkan kembali apa yang dia bahas tadi dengan Serena dan mulutnya pun mulai tersenyum lagi.
“Direktur Su? Direktur Su?” Felix memanggilnya beberapa kali dengan hati-hati.
“Ada apa?” karena pemikirannya sudah dipotong pleh Felix, dia menjadi merasa tidak senang dan ekspresi wajahnya menjadi lebih dingin lagi.
Felix bergetar sebentar lalu berkata, “Direktur Su, sudah sampai……..”
Ralphie melihat keluar jendela dan langsung membuka pintu mobilnya.
Felix mengusap-ngusap hidungnya dan dengan cepat mengikutinya turun.
Jam pulang kerja 5.30 sudah tiba, Serena dengan buru-buru membereskan barang-barang yang ada di mejanya lalu mengambil tasnya dan berjalan menuju lift.
Maggie berdandan dengan sangat memukau,dan memakai baju merah yang sangat ketat dan memperlihatkan pinggangnya, dia memakai stocking yang sangat tipis, di cuaca musim gugur seperti ini, seperti berpakaian seperti itu pasti sangat dingin.
Melihat Serena, Maggie bertanya: “Tergesa-gesa seperti ini, mau pergi pacaran? Oh… aku lupa, orang yang kamu sukai diam-diam sudah tidak ada, bagaimana bisa pergi pacaran lagi?”
Serena melihat Maggie dari ujung kepala sampai ujung kakinya, lalu berkata: “Bzzz….. kamu ini sedang terburu-buru mau jual tubuh yah?”
“Kamu yang mau jual tubuh.” Mendengar apa yang diucapkan Serena, Maggie mulai marah.
Serena berkata, “Siapa yang mau jual tubuh, bukannya bisa dilihat dengan jelas?”
“Kamu……..” Maggie terus mernafas dengan kencang dan matanya terus melototi Serena, seolah akan memakannya.
Pada saat itu, pas lift sudah sampai, Serena melihat ke arah Maggie dan tersenyum lalau berjalan masuk kedalam lift.
Ketika keluar dari kantor, Serena tidak seperti biasanya berjalan menuju ke stasium MRT, dan ia malah memberhentikan sebuah mobil taksi, dan memesan untuk pergi ke rumah makan kota A.
__ADS_1
Jam pulang kerja adalah jam yang paling padat, jarak antara PT.Antats dengan rumah makan kota A lumayan jauh, ketika Serena sampai disana, sudah pukul 6.30.
Memasuki hall utama, ia langusng disambut oleh pelayan, “Selamat datang.”
“Boleh tanya apakah ada ruang VIP?” Serena bertanya sambil tersenyum.
Pelayan menjawabnya dengan nada bicara yang lembut, “Ada, mohon ikuti aku.”
“Terima kasih.” Serena berterima kasih dan mengikuti pelayannya ke ruang VIP yang ada dilantai 3.
Pelayan itu menuangkan secangkir teh untuk Serena, lalu dengan nada bicara yang lembut bertanya kepada Serena, “Boleh tanya nona mau pesan apa?”
Serena menggelengkan kepalanya, “Tunggu sebentar.”
“Baik.” Pelayan itu membungkuk menghormati Serena dan meninggalkan ruangan itu.
Serena melihat sekeliling ruangan itu, lalu dari dalam tasnya ia mengeluarkan handphonenya dan mengirimkan nomor ruangannya kepada Ralphie, lalu menunggu dengan tenang disana.
Jam 7 sudah tiba. Serena menebak Ralphie pasti sedang sibuk, jadi ia pun terus menunggunya dengan tenang.
Waktu berjalan dengan cepat, tidak terasa sudah jam 8, pelayan itu mengetuk pintu.
“Nona, anda mau pesan apa?”
Serena mau menyadari jarak antara waktu yang dia janjikan dengan Ralphie sudah lewat, lalau dengan sedikit canggung dia berkata: “Maaf, biar aku hubungi dia dulu.”
Selesai berbicara Serena pun langsung menghubungi nomor Ralphie, tetapi tidak ada yang menjawab.
Serena mengerutkan keningnya, allu menghubunginya lagi, tetap tidak ada yang menjawabnya.
Dengan sedikit canggung dia menghadap ke pelayannya: “Mohon tunggu sebentar.”
“Baiklah.” Pelayan itu dengan terpaksa mengiyakannya.
Satu jam sudah berlalu lagi, kali ini sikap pelayannya tidak begitu bersahabat lagi.
“Nona, kamu mau pesan sayur tidak? Kalau tidak, tolong kamu keluar dari ruang VIP, ruang VIP kita sangat banyak yang antri, kamu sudah di sini begitu lama, bisa mempengaruhi rumah makan kita.”
__ADS_1
Serena masih belum memberinya jawaban, suara yang dingin pun terdengar dari luar, “Siapa yang berani mengusirnya.”