
Hello! Im an artic!
Saat Serena dan Ralphie sedang makan, tiba-tiba Serena teringat sesuatu: “Apakah kamu tahu pekerjaan Alfred di Grup Su?”
Ralphie terdiam sesaat mendengar nama Alfred.
Hello! Im an artic!
Setelah terdiam cukup lama, dia menjawab dengan lembut, “Aku tidak tahu.”
Serena tidak menyadari kekeliruan yang dilakukannya pada Ralphie. Saat sedang makan, Serena menceritakan tentang pertemuannya dengan Alfred di kantin. Dia berbicara beberapa kata…
“Apa ada hal yang menarik ketika berbicara dengannya?” Ralphie memotong dengan nada dingin sambil mengambil hidangan favoritnya dari Serena.
Serena terdiam, lalu memandang Ralphie sesaat sebelum ia merenungkan apa yang dimaksud oleh Ralphie.
Hello! Im an artic!
Lalu tersorot sepasang mata jernih bersinar dengan cahaya keemasan, “Ralphie, apakah kamu cemburu?”
Meskipun benar bahwa ia cemburu terhadap Alfred, bagaimanapun, Serena sudah memendam rasa pada Alfred selama empat tahun, dan wajar jika dia cemburu.
Dia tentu tidak akan memberi tahu Serena.
Ralphie menenangkan raut wajahnya, menatap Serena, dan berkata dengan nada kesal, “Apakah menurutmu itu mungkin?”
Terlihat Jelas, tetapi suasana hati Serena tidak merasa lebih baik.
Ralphie berpikir, mestinya tidak begini.
Hee hee… dia diam-diam menyeringai, namun raut wajah Serena terlihat sangat frustrasi, “Tidak cemburu kah? Sayang sekali…”
Seolah-olah sengaja, Serena menyeret kata ‘sayang sekali’ tadi.
Ralphie menjawab, “Hah?”
Serena berkedip, dan kemudian berkata, “Kamu bilang kamu tidak cemburu? Jadi sangatlah di sayangkan.”
Ralphie tidak bisa menahan tawa dan tangis ketika dia mendengar ucapan Serena.
Dia menggelengkan kepalanya, mengambil ikan dengan sumpit, menyuapi Serena, dan menjawab, “Ya, aku cemburu, apakah kamu puas?”
“Puas.” Serena mengangguk, lalu berkata, “Tapi kamu tidak perlu cemburu. Dia bahkan tidak bisa menyaingimu, dia hanya masa lalu.”
(Serena menggoda Ralphie, lalu memeluknya.)
__ADS_1
Kata-kata Serena tidak hanya menggoda Ralphie, tetapi juga memberitahu kepada Ralphie bahwa Alfred adalah masa lalu baginya, dia tidak memikirkannya, dan hanya ada Ralphie di hatinya.
Ralphie juga berhasil membuat Serena sepenuhnya melupakan Alfred.
Serena menyukai Alfred selama empat tahun.
Namun setelah empat tahun, hanya ada Ralphie dihatinya …
Mengenai memberitahu Ralphie tentang warisan ibunya, Serena belum menemukan waktu yang tepat untuk memberitahu Ralphie, tetapi persoalan itu sebenarnya telah diketahui oleh Ralphie.
Kebetulan pada hari itu, Lacey menelepon Serena dan memberitahu bahwa Molly telah datang ke Kota A. Dan bertanya pada Serena Apakah dia ingin makan siang bersama?
Karena pada pagi itu Ralphie punya janji untuk bermain golf dengan klien, Serena bosan di rumah sendirian, dan setuju untuk makan bersama mereka.
Setelah menutup telepon, Serena menyiapkan tasnya dan pergi.
Jalan yang dilalui sedikit terhambat karena ada kemacetan.
Ketika Serena menuju ke tempat yang mereka sepakati, mereka telah menantinya sejak lama.
Molly berkata dengan ekspresi kecewa, “Kakak ipar, kamu lama sekali.”
Serena menjawab dengan nada meminta maaf, “Maaf, ada sedikit kemacetan di jalan.”
Lacey melirik Molly, lalu tersenyum dan berkata, “Tidak perlu minta maaf, yang terlambat yang traktir makan.”
Lacey tertawa terbahak-bahak, “Hanya bercanda. Kamu kok serius sekali. Kan sudahku bilang, Molly yang traktir hari ini!”
Serena menjawab ‘Oh’ dan kemudian bertanya, “Apakah kalian sudah memesan?”
“Sudah, aku akan panggil pelayan.” Lacey sedang menanggil pelayan, namun di hentikan Molly.
“Siapa lagi yang belum datang?” Lacey bertanya dengan aneh.
Molly menjawab, “Kak Ryan.”
Ketika dia mendengar ucapan Molly, Lacey sangat terkejut, “Apakah kakakku juga akan datang?”
“Yah, ketika aku datang ke Kota A, aku mengobrol dengannya melalui WeChat. Dia bilang dia akan datang,” Molly mengangguk.
“Oh begitu,” Lacey mengangguk, lalu tiba-tiba bertanya pada Serena, “Oh, Serena, kamu punya WeChat? Aku akan menambakhan kontakmu, dan kita akan lebih mudah berkomunikasi nanti.”
“Ya, tapi jarang di gunakan,” jawab Serena.
Lacey bertanya dengan heran, “Jarang di gunakan? Apakah kamu dan Ralphie tidak menggunakan WeChat?” Setelah berbicara, Lacey teringat sesuatu: “Aku lupa, Ralphie tidak pernah mengirim WeChat.”
__ADS_1
(Direktur Su bilang, bukan karena dia tidak punya WeChat, tapi dia tidak punya waktu untuk bermain WeChat… )
“Yah, kami biasanya menelepon dan mengirim SMS,” Serena mengangguk.
“Oh,” Lacey mengangguk, lalu membuka telepon dan menambahkan kontak Serena ke WeChat. Setelah menambahkan Serena, dia berkata lagi, “Aku akan menambahkanmu ke dalam grup.”
“Grup? Grup apa?” Serena mengangkat alis.
“Aku yang membuatnya. Disitu ada kakakku, Isa, dan Ralphie. Namun, Ralphie tidak pernah mengirim pesan,” kata Lacey sambil tersenyum.
“Oke, kamu boleh tambahkan aku,” Serena mengangguk.
Molly berkata, “Lacey, kamu juga bisa menambahkan aku.”
“Kamu?” Lacey melirik Molly, lalu mengangguk. “Tunggu, aku akan menambahkan Serena dulu.”
Ada kilatan cahaya di mata Molly, dia mengangguk dan berkata ‘Baiklah’.
Beberapa menit kemudian, Kak Ryan datang.
“Kak Ryan.” Mata Molly bersinar ketika dia melihat Kak Ryan di depan pintu.
Ryan mengangguk dan kemudian tersenyum dengan lembut, “Kalian semua sudah di sini. Sepertinya aku terlambat?”
“Tidak terlalu.” wajah Molly sedikit memerah sambil menjawab.
Lacey di sana meliriknya, lalu berkata dengan pelan, “Kakakku, duduk dan segera pesanlah, kami hampir mati kelaparan.”
“Baiklah.” Dia berjalan ke arah tempat Serena dan duduk, lalu bertanya, “Serena, mengapa Ralphie tidak datang?”
Serena menjawab, “Dia bermain golf bersama klien.”
Ryan terdiam dan bertanya, “Kenapa kamu tidak pergi bersamanya?”
Serena mengangkat bahu dan menjawab, “Dia akan berbicara dengan klien tentang pekerjaan, dan aku akan mengganggunya jika aku ikut pergi.”
Di matanya, Ryan adalah teman Ralphie, dan tentu saja bersahabat. Namun, dia tidak tahu bahwa di mata orang lain, mereka sangat dekat.
Dia adalah Molly.
Molly menyukai Ryan, tetapi di mata Ryan, Molly adalah saudara perempuan Lacey, sepupu Ralphie, dan dia harus selalu menjaga wibawa dan sopan santunnya.
Molly hanya bisa memilih menyukainya diam-diam.
Saat memesan, dia melihat bahwa Ryan memperlakukan Serena dengan berbeda, dan sikapnya terhadap Serena pun berubah.
__ADS_1
Sambil mengepal keras telapak tangannya, hati Molly pun sudah memutuskan…