
Hello! Im an artic!
Terlalu lama tinggal di rumah, Serena akhirnya memutuskan untuk bekerja di PT.Antarts.
Hanya saja sebelum bekerja di PT.Antarts beberapa hari yang lalu, dia dan Ralphie pergi ke pemakaman.
Hello! Im an artic!
Di hari itu matahari sangat terik, waktu menunjukkan pukul 3 sore, Ralphie pulang lebih awal dari pekerjaannya, setelah menempuh perjalanan selama 1 jam lebih dengan menggunakan mobil, Serena dan Ralphie sampai di pemakaman pribadi yang terletak di pinggiran kota A.
Sejak turun dari mobil hingga sekarang, Ralphie terus-menerus menggandeng tangan Serena sambil berjalan ke dalam area pemakaman.
Alhasil baru berjalan dua langkah, Serena menghentikan langkahnya.
“Ada apa?” Tanya Ralphie kepada Serena.
Hello! Im an artic!
Serena menunjuk ke arah toko yang menjual bunga, uang-uangan kertas dan lilin yang ada di bagian kanan belakang, dan berkata: “Kita beli bunga ya?”
Ralphie sama sekali tidak keberatan dengan keputusan Serena dan menjawab, “Oke.”
Mereka berdua pergi bersama ke toko itu dan membeli 1 buket bunga lily yang besar, lalu berjalan ke area pemakaman.
Akhirnya, mereka berhenti di depan sebuah makam yang besar.
Meskipun Ralphie tidak mengatakan apapun, ini adalah makam ayahnya, dengan sekali pandang Serena pun langsung mengenalinya.
Itu karena foto yang tertera di atas batu nisan, sangat mirip dengan wajah Ralphie.
Ia terlihat tampan, juga masih muda. Hanya saja bedanya kalau Ralphie itu seseorang yang berhati dingin dan terlihat dingin, orang yang ada di foto tersebut justru tersenyum, dan senyumnya pun terlihat hangat seperti matahari.
Jika ia masih hidup, ia pasti adalah orang yang mudah didekati.
Serena berpikir demikian, kemudian melihat ke arah Ralphie.
Saat itu waktu telah menunjukkan pukul 4 atau 5 sore, bayangan matahari yang miring ke barat itu seperti berlapiskan lingkaran cahaya yang berwarna emas, lembut tapi juga terlihat jauh, seolah-olah seperti sebuah bayangan yang tidak jelas, jika diraih pasti akan hancur.
Sejak Ralphie menginjakkan kakinya di pemakaman ini, suasana hatinya tidak terlalu baik, seolah-olah ia seperti masuk ke dalam alam pikirannya sendiri.
Serena tahu, Ralphie sejak dulu selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kematian ayahnya.
__ADS_1
Ralphie berkata jika ia sudah tidak apa-apa, tetapi Serena tahu itu hanyalah alasan supaya dia tidak cemas.
Hati Serena sakit melihat Ralphie yang seperti itu, dan ia pun berjalan ke arah Ralphie dan memeluknya dari belakang.
Ketika memeluknya, Serena barulah sadar, ternyata tubuh Ralphie sudah gemetar sejak tadi.
Setangguh apa sih dia! Menghadapi situasi seperti apapun, ia masih saja bisa tenang sama seperti Tuhan.
Tetapi alasan Ralphie terlihat lemah, adalah karena Serena.
Karena Serena membuka masa lalunya, dan itu membuatnya harus menghadapi luka lamanya lagi.
Serena meminta maaf sambil menangis dan berkata, “Maaf, maafkan aku……”
Ralphie tidak bersuara, ia hanya memeluk Serena dan mencium ujung kepala Serena dengan penuh kasih sayang, lalu mengusapnya pelan dengan dagunya.
Serena tetap memeluknya dengan erat, dan dengan sekuat tenaga melingkarkan tangannya ke pinggangnya.
Setelah berpelukan cukup lama, Ralphie akhirnya melepaskan Serena dari pelukannya, lalu menggandeng tangannya dan mendatangi batu nisan tersebut, mereka berdiri di depannya.
“Ayah, aku datang mengunjungimu.” Kata Ralphie dengan gagap, lalu mengangkat tangan Serena, lanjut berkata: “Ini adalah istriku, ia adalah menantumu, namanya Serena.”
Dia mematung sebentar, lalu berkata dengan sopan: “Halo, Ayah, namaku Serena. Terima kasih karena telah membesarkan anak yang hebat seperti Ralphie, dan aku merasa sangat bersyukur dapat bersama dengannya, ini adalah kebahagiaan terbesarku.” Selesai berkata demikian, Serena melihat ke arah Ralphie, yang ternyata juga sedang menatapnya.
Ralphie menggenggam erat tangan Serena, lalu kembali berbalik menghadap ke foto ayahnya.
“Ayah, anakmu ini sekarang sangat bahagia, Ayah sudah boleh merasa tenang.”
Serena menganggukkan kepalanya, “Ayah tidak perlu khawatir, aku akan menjaga Ralphie dengan baik, aku juga akan terus menemaninya.”
Mereka berdua memberikan hormat untuk ayah Ralphie di depan batu nisan itu, Ralphie pun kembali menggandeng tangan Serena, kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.
Foto ayahnya yang sedang tersenyum dengan hangat yang berada di atas batu nisan tersebut, seolah-olah seperti sedang memberikan ucapan selamat kepada mereka.
Setelah kembali dari pemakaman, hidup Serena dan Ralphie tidak banyak berubah, tetapi hubungan mereka berdua menjadi semakin mesra.
Sehubungan dengan Selina, Ralphie memutuskan untuk meneleponnya.
Serena tidak tahu apa yang Ralphie katakan kepada Selina, yang jelas Selina sudah tidak lagi meneleponnya, ini membuat Serena sedikit tenang.
Meskipun ia sempat berjanji kepada Selina, yang akhirnya tak dapat ia tepati, Serena pun sudah mengingkari janji kepada Selina. Tetapi, Serena juga tak mungkin demi menepati janjinya kepada Selina itu, ia harus memaksa Ralphie untuk memaafkan ibunya. Ralphie sudah berhenti menyalahkan dirinya sendiri atas kematian ayahnya, itu pun sudah merupakan hal yang sangat tidak mudah. Serena tidak mungkin tega menyuruhnya melakukan hal yang dapat menambah beban pikirannya lagi.
__ADS_1
Hari kedua, Serena kembali bekerja di PT.Antarts.
Dengan jeda 1 minggu, baru kembali ke kantor, sudah terlihat banyak perubahan yang terjadi.
Setelah Kepala Departemen Kreatif keluar, Karina pun naik jabatan, ia sekarang menjadi Kepala Departemen,, suasana kantor pun juga berubah banyak.
Tentu saja, kembalinya Serena ke kantor, membuat suasana kantor menjadi mencekam.
Karena dulu semua orang memperlakukan dia dengan tidak ramah, dan juga setelah kejadian dengan Bonita dan Kepala Departemen Kreatif yang dipecat karena dia, semua orang jadi takut kalau-kalau nanti Serena tidak menyukai salah seorang di antara mereka.
Tetapi tentu saja ada orang yang tidak takut dengannya, ia adalah Sarah.
Oleh karena itu, Serena menetapkan hatinya pada Sarah, “Sarah, kelak kamu ikut aku saja.”
Setelah Serena membuat keputusan ini, ia mulai memberikan tugas-tugas kepada Sarah.
Sama seperti ketika Dottie dulu memberinya tugas, Serena setiap hari menyuruh Sarah untuk mengerjakan PR. Tentu saja dia tidak akan sama seperti Dottie yang mencuri design milik Sarah.
Tidak perlu melihat kemampuan Sarah yang Serena nilai tidak seberapa, tetapi walaupun Sarah mampu pun, dengan identitas dan posisi Serena saat ini, seharusnya ia tidak perlu sampai melakukan hal seperti ini.
Tentu ada beberapa orang yang tidak berpikir demikian.
Sarah selalu merasa dirinya tidak lebih buruk dari Serena, bahkan ia merasa dirinya lebih hebat dibandingkan dengan Serena.
Walaupun Serena bisa berbuat sesuka hatinya seperti ini di kantor, itu pun juga berkat pacarnya.
Sarah tidak menghindari Serena seperti kebanyakan orang, tetapi ia merendahkan dirinya dan mendekati Serena, ia ingin supaya ia punya posisi yang baik di kantor ini.
Tetapi tanpa ia duga, selain Serena tidak membantunya, ia malah ingin membuat Sarah menjadi bawahannya.
Apakah dia berencana ingin menjadikanku sebagai bawahannya yang dapat ia suruh-suruh? Di dalam hati Sarah, hanya tersimpan kebencian terhadap Serena yang teramat dalam.
Berkaitan dengan tugas yang diberikan Serena setiap hari kepadanya itu, ia tak merasa bahwa Serena berkeinginan untuk mengajari dia. Tetapi ia merasa Serena berencana dengan mengatasnamakan tugas itu, ia ingin merebut inspirasi designnya.
Jadi, walau ia kelihatannya menerima tawaran Serena, tetapi kenyataannya adalah dia mulai menyusun rencana diam-diam.
Ia ingin menggunakan rencana ini untuk membuat Serena kehilangan segalanya yang ia miliki.
Serena sama sekali tidak mengetahui rencana jahat Sarah, dia menggunakan segenap hatinya untuk mengajari Sarah, ia ingin membimbing Sarah menjadi kepala designer di PT.Antarts.
Karena harapan Serena yang terlalu besar kepada Sarah, jadi ketika Sarah akhirnya menunjukkan wajah aslinya kepada Serena, Serena benar-benar merasa sedih…
__ADS_1